Bab 8. Perubahan Deva

1084 Words
Beberapa pasangan mata menatap penuh selidik kepada Rhea. Mereka semua merasa asing kepadanya. "Deva, siapa dia?" tanya Bram salah seorang teman Deva sejak sekolah sampai kuliah. "Dia adalah Rhea," jawab Deva dengan datar. Apa yang dikatakan oleh Deva itu tidak salah. Akan tetapi, Rhea berharap dikenalkan kepada mereka sebagai tunangan atau calon istrinya. Dengan begitu, para lelaki yang menatap kepadanya seperti orang kelaparan, bisa menghentikan perbuatannya. "Hei, kamu asisten yang datang sewaktu kita melakukan tanda tangan kontrak, 'kan?" Daniel selaku pemilik acara datang menghampiri mereka. Tatapan Daniel tidak lepas dari Rhea. Laki-laki itu mengamati penampilan sang gadis yang jauh berbeda ketika saat mereka pertama kali bertemu. Dia sampai tidak bisa mengenalinya jika tidak mengamati dengan seksama. "Oh, asisten pribadi Deva! Aku kira kekasih baru kamu," ucap Bram tertawa kecil. Teman-teman Deva pun mengajak Rhea berkenalan. Tentu saja Rhea menyambut baik. Saat ini dia sedang merasa marah, kecewa, sakit hati kepada Deva yang tidak mau menjelaskan hubungan mereka yang sebenarnya saat ini. Malam itu semua orang bersenang-senang. Rhea kehilangan jejak Deva. Laki-laki itu pergi entah ke mana. Di telepon juga tidak diangkat. "Rhea, kita menari ke bawah, yuk!" ajak Daniel. "Maaf. Aku sedang tidak ingin melakukan apa pun," balas Rhea menolak ajakan pemilik acara. "Hei, sombong sekali kamu! Berani menolak ajakan Daniel," ujar Melisa yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Aku datang ke sini bukan sebagai tamu undangan Daniel. Tetapi, sebagai asisten pribadi Deva. Jadi, tidak ada keharusan aku menerima ajakannya," balas Rhea dengan ketus. Suasana hatinya semakin buruk. Mungkin orang-orang akan bilang Rhea itu sombong atau tidak tahu etika menolak ajakan orang yang punya acara. Namun, gadis itu tidak perduli. "Oke. Maaf, jika aku sudah mengganggu kamu," kata Daniel dengan tatapan kecewa. Beberapa pasangan mata wanita yang merupakan tamu undangan terlihat menatap sinis kepada Rhea. Hal ini membuat sang gadis merasa tidak nyaman. "Deva ke mana, sih?" Pandangan Rhea mengedar mencari keberadaan tunangannya. Dia pun mencari ke berkeliling di lantai dua, lalu lanjut mencari di lantai satu. Namun, sosok pemuda itu tidak kelihatan sama sekali. Rhea yang merasa lelah dan pusing mencari keberadaan Deva, memutuskan untuk keluar dari sana. Dia lebih baik menunggu di parkiran. Kepalanya terasa pusing mencium bau minuman beralkohol dan rokok. Betapa terkejutnya Rhea ketika tidak melihat mobil milik Deva di parkiran. Untuk memastikan, dia berkeliling area itu dan bertanya kepada penjaga pintu depan. "Oh, Tuan Muda Deva pergi sekitar satu jam yang lalu," ucap salah seorang penjaga pintu. Mendengar itu mendidih lah darah di sekujur tubuh Rhea. Dia menggeram, "Sialan kau, Deva! Berani-beraninya meninggalkan aku sendirian di sini." Akhirnya Rhea pulang naik taksi karena sudah tengah malam. Sepanjang perjalanan di dalam hatinya dia mengumpat kepada Deva. "Kedepannya lagi, aku tidak akan mau lagi ikut bersama dengannya!" batin Rhea. *** Sejak kejadian di acara ulang tahun Daniel, Rhea tidak pernah lagi menemani Deva menghadiri suatu acara. Dia hanya akan menjalankan tugas sebagai asisten pribadi ketika di jam kerja saja. Tidak ada kata maaf atau penjelasan dari mulut Deva kepada Rhea atas kejadian di klub malam Asarehe. Laki-laki itu seakan lupa sudah membuat calon istrinya tersakiti dengan meninggalkannya seorang diri di tempat berbahaya baginya. Rhea juga sering ketus atau menyindir Deva ketika berbicara dengannya. Apalagi jika melakukan kesalahan. Tidak perduli kalau laki-laki itu adalah atasannya. Walau Rhea dan Deva sudah bersama-sama selama dua bulan ini, hubungan mereka tidak ada kemajuan sama sekali. Justru malah semakin dingin, karena Rhea cuma berhubung dengan Deva ketika bekerja saja. Tidak ada acara kencan atau kumpul dengan keluarga calon pasangan. Persiapan pernikahan pun sudah mencapai 30%. Pakaian pengantin juga belum dirancang karena Deva selalu saja punya alasan sibuk ketika disuruh pergi ke butik untuk melakukan pengukuran baju. Kartu undangan sudah di pesan. Semua itu dalam pengawasan Opa Jaya. Hari ini kebetulan hari Minggu, Rhea memilih tidur dan bermalas-malasan. Terlebih lagi kejadian kemarin membuat mood-nya buruk. Tidak ada pesan atau panggilan dari Deva untuk menjelaskan kenapa dia ditinggalkan begitu saja, ketika mereka pergi ke kantor perusahaan untuk mengadakan pertemuan dengan rekan bisnis. Ini kedua kalinya Deva melakukan hal yang sama kepada Rhea. Pergi secara diam-diam dan meninggalkannya, tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu. "Rhea, apa kalian sudah memesan pakaian pernikahan?" tanya Mama Rinjani. "Belum, Ma," jawab Rhea dengan tidak semangat. Kini dia jadi ragu akan pernikahan itu dengan Deva. Selama ini tidak terlihat keseriusan dari laki-laki itu dalam mempersiapkan pernikahan mereka. Memilih model kartu undangan pun dilakukan sendiri, calon suaminya hanya bisa memasrahkan semua kepadanya. "Loh, kok, belum? Merancang pakaian pengantin itu membutuhkan waktu yang lama. Kecuali pakaian pengantin yang sudah jadi dan terpajang di etalase, baru bisa dilakukan kapan saja," kata Mama Rinjani merasa heran. "Ya, mungkin nanti baju pengantin yang seperti itu yang akan kita pakai," balas Rhea. "Masa seorang Radeva dari keluarga Darmawangsa memakai pakaian pernikahan biasa saja, tidak merancang spesial?" Mama Rinjani merasa kurang setuju. Karena wanita paruh baya itu tahu mulut para wanita golongan kelas atas itu seperti apa. Mama Rinjani tidak mau Rhea menjadi korban kejulidan mereka. Bagaimanapun juga anaknya masih terbilang polos di dunia mereka. "Lalu, foto prewedding-nya?" tanya Mama Rinjani lagi. "Kayaknya kita nggak akan melakukan itu," jawab Rhea asal karena baru sadar kalau mereka belum melakukan banyak hal dalam mengurusi pernikahannya. "Apa?" Lagi-lagi Mama Rinjani dibuat terkejut. "Kenapa, sih, Ma? Lagian itu bukan hal yang penting." Rhea memasang wajah cemberut. "Sebenarnya kalian ini serius tidak untuk menikah?" tanya Mama Rinjani. Ditanya seperti ini membuat Rhea bingung. Sejak awal dia tidak mau menikah dengan Deva. Laki-laki itu yang menginginkan, tetapi tidak mau disibukkan dengan urusannya. "Ya ... serius lah, Ma! Masa pernikahan dipermainkan. Bisa-bisa kena karma," jawab Rhea sambil menyeringai nakal. Mama Rinjani terdiam. Sebagai seorang ibu, dia bisa merasakan kalau Rhea sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Terlihat dari raut wajahnya yang sering terlihat lelah dan tidak bersemangat. Seperti bukan diri Rhea. *** Deva menuruni anak tangga dengan cepat. Namun, di mulut anak tangga bawah ada Opa Jaya yang menatapnya tajam. "Opa, ada apa?" tanya Deva. "Apa kamu dan Rhea sudah melakukan pengukuran pakaian pengantin?" Opa Jaya balik bertanya. Deva terdiam. Dia sudah menyerahkan segala urusan pernikahan mereka kepada wedding organizer seperti saran maminya. Jadi, dia tidak perlu melakukan apa pun lagi, karena sudah diurus sama mereka. "Opa dengar kalian belum melakukan pengukuran baju pengantin, bahkan untuk foto prewedding dan foto untuk di kartu undangan juga belum kalian lakukan." Opa Jaya bicara dengan nada tegas dan tatapan tajam. "Itu bisa kita lakukan setelah semua urusan aku selesai Opa," balas Deva. "Aku pergi dulu, Opa!" Deva pergi dengan terburu-buru. Ini membuat Opa Jaya merasa heran dengan kelakuan sang cucu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD