Suasana di room private sebuah restoran yang didatangi oleh Rhea dan Deva, terasa mencekam. Gadis itu melirik secara bergantian kepada atasannya dan rekan bisnis mereka.
"Aku tidak menyangka kalau kamu yang akan turun langsung menangani kerjasama ini. Biasanya si Satria. Ke mana dia?" tanya seorang laki-laki yang memiliki wajah campuran Indonesia-Italia.
"Sudah, jangan baca bicara. Kita bahas saja proyek kerjasama perusahaan, Daniel. Karena aku masih punya banyak pekerjaan," jawab Deva dengan ekspresi wajah dingin.
Sekretaris Daniel yang berpenampilan seksi, beberapa kali kepergok menatap ke arah Deva. Tentu saja hal ini membuat Rhea kesal. Seakan wanita itu tidak bersungguh-sungguh ketika menjalankan tugasnya.
Kerjasama kedua perusahaan ini bergerak di bidang perkebunan. Perusahaan milik keluarga Daniel memiliki banyak sekali perkebunan sawit dan karet. Mereka memasok karet dalam jumlah banyak ke salah satu anak perusahaan milik Perusahaan DARMA JAYA COMPANY. Kebetulan saat ini kontrak kerjasama mereka akan diperpanjang lagi.
Seharusnya tugas ini dikerjakan oleh tim produksi. Namun, di waktu yang bersamaan mereka juga harus mencari pemasok bahan baku lain, ada juga yang harus memperpanjang kontrak kerjasama juga, seperti yang dilakukan oleh Deva saat ini.
Kemampuan Deva yang multitalenta dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata, bisa melakukan pekerjaan di banyak bidang. Dia akan ikut mengatasi sesuatu yang terjadi di perusahaan keluarganya. Bukan hanya perusahaan yang ada di dalam negeri, yang di luar negeri pun akan dia kerjakan jika sangat dibutuhkan.
"Jangan lupa kami datang ke acara ulang tahunku," ucap Daniel setelah mereka melakukan tanda tangan kerjasama.
"Aku tidak bisa janji. Kalau mau aku datang. Tapi, jika malas, maka aku nggak akan datang," balas Deva.
"Kamu masih marah sama aku atas menghilangnya Rebecca?" tanya Daniel. "Aku sendiri tidak tahu ke mana dia pergi. Jika tahu pastinya aku akan memberi tahu kamu."
Wajah Deva mengeras mendengar nama wanita yang secara tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya tanpa memberi tahu apa-apa di hari pentingnya. Kabar terakhir yang dia tahu, kalah Daniel pergi dengan Rebecca. Setelah itu sang kekasih menghilang bak ditelan bumi.
"Rebecca? Siapa dia?" batin Rhea penasaran. "Apakah Rebecca itu kekasih Deva? Atau sahabat baik Deva?"
"Rhea, sedang apa kamu dia mematung di sana? Cepat kita pergi!"
Suara bentakan Deva membuat lamunan Rhea buyar. Dia tidak tahu atasannya sudah di dekat pintu, hendak ke luar ruangan.
"Kamu yang nyupir!" titah Deva sambil melemparkan kunci kepada Rhea.
"Apa?" Rhea terkejut. "Hei, Tuan Muda! Aku belum pernah mengemudikan mobil sport seperti itu."
Deva berdecak. Karena selama ini dia yang selalu menjadi supir. Biasanya Sakti yang akan menjadi supir Deva ke mana pun mereka pergi. Dia juga merasa tidak percaya Rhea bisa menjalankan kendaraan dengan baik, makanya dia selalu bawa sendiri mobilnya. Namun, saat ini mood laki-laki itu sedang tidak baik. Jadi, daripada nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka lebih baik menyuruh Rhea untuk membawa mobilnya.
Sekarang mau tidak mau Deva mengemudi sendiri mobilnya, daripada nyawa yang jadi taruhan. Dia menggerutu sepanjang jalan ketika kembali ke kantor.
"Sebenarnya yang majikan itu aku apa dia?" gerutu Deva. "Kenapa aku yang nyetir dan dia yang duduk manis."
Rhea pura-pura tidak mendengar ucapan Deva. Dia tahu seharusnya bisa menyetir kendaraan jenis ini. Bagaimana lagi, karena selama ini dirinya terbiasa mengendarai motor. Kalau mobilnya jenis matik yang sejuta umat itu, baru mau bawa. Karena dia sesekali tukaran mengemudi dengan Papa Rajasa ketika pulang kampung.
***
Rhea pulang ke rumah menjelang petang. Dia jadi sering berendam air hangat untuk melemaskan otot-otot yang terasa pegal dan kaku.
"Rhea, ada telepon dari Deva!" teriak Mama Rinjani membuat Rhea harus mengakhiri kesenangannya saat ini.
"Mau apa lagi, sih, dia?" Rhea merasa kesal karena sedang menikmati waktu istirahatnya setelah seharian bekerja.
"Halo, ada apa?" tanya Rhea dengan malas.
"Sherlok posisi kamu saat ini di mana? Aku jemput," jawab Deva.
"Hah, mau apa?" tanya gadis pemilik rambut panjang itu tidak mengerti maksud tunangannya.
"Temani aku ke acara ulang tahun Daniel malam ini," jawab Deva.
"Aku capek sekali. Seharian ini kamu suruh aku mengerjakan ini itu tidak ada henti-hentinya. Aku butuh istirahat," ucap Rhea menolak secara halus.
"Tidak mau tahu! Pokoknya kamu harus menemani aku pergi ke sana malam ini. Titik!" balas Deva meniru ucapan Rhea yang suka bilang, "Titik!", jika dia membantah ucapannya.
"Hei, saat ini bukan jam kerja!" pekik Rhea yang sangat kesal.
"Iya. Makanya aku minta sama kamu datang sebagai tunangan Radeva. Bukan asisten pribadi Deva."
"Nggak mau! Aku capek, mending istirahat," tukas Rhea.
"Aku bayar kamu 20 juta."
Rhea yang sudah membuka mulut hendak membalas ucapan Deva, dia sampai diam mematung karena mendengar nominal yang sangat besar untuk menemani tunangannya datang ke acara ulang tahun.
"Oke. Aku kirim alamat rumah." Dengan cepat Rhea mengetik alamat rumahnya.
Rupanya Deva datang setelah 15 menit mereka teleponan tadi. Laki-laki itu buru-buru membawa Rhea pergi. Karena mereka harus ke butik untuk mencari gaun pesta. Lalu, ke salon untuk merias wajahnya agar berubah menjadi seorang wanita yang cantik, anggun, dan elegan.
Rhea mematung melihat penampilannya saat ini. Dia sampai tidak percaya kalau bayangan yang terpantul di cermin adalah dirinya.
"Cantik sekali!" ucap penata rias dengan penuh kekaguman dengan hasil riasannya.
Deva pun terdiam menatap Rhea yang memakai gaun berwarna hitam dengan taburan swarovski dan wajahnya memakai full make up. Biasanya wajah gadis itu terlihat natural walau memakai sedikit make up. Rambut panjang yang biasa diikat, kini digerai dan dihiasi dengan jepitan cantik.
Dia tidak menyangka kalau asistennya bisa secantik itu. Tidak kalah cantik dari artis-artis yang sering bertemu dengannya pada suatu acara.
"Deva ... apa tidak ada baju yang lain? Aku tidak nyaman memakai baju ini." Rhea terlihat kikuk sambil menurunkan gaun bagian bawah. Dia terbiasa memakai celana panjang atau traning. Setelan kerja juga semua celana kain.
"Itu sudah bagus," ucap Deva agar Rhea tidak perlu mengganti lagi bajunya.
Gaun Rhea buatan desainer terkenal di negeri ini. Modelnya sederhana dan cukup tertutup. Namun, gadis itu merasa kedinginan.
"Kalau tidak merasa nyaman, bisa menggunakan stoking," ucap wanita paruh baya yang sejak tadi diam memerhatikan Rhea. Dia adalah orang yang sudah merancang gaun yang saat ini dipakai oleh sang gadis.
Akhirnya Rhea menggunakan stoking warna hitam. Setidaknya dengan ini dia merasa lebih nyaman. Sepatu yang digunakan juga haknya tidak terlalu tinggi, hanya tujuh sentimeter.
Seperti biasa Rhea berjalan cepat di samping Deva. Sebenarnya kaki dia terasa pegal karena tidak terbiasa menggunakan sepatu yang memakai hak.
Kedatangan Deva dan Rhea mencuri perhatian semua orang yang ada di sana.