Bab 6. Kepergok Oma Sartika

1166 Words
Sebelum pergi ke rumah Opa Jaya, Rhea sarapan nasi dulu dan juga minum jamu, agar tubuhnya kuat saat harus mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dia selalu bekerja keras untuk membuktikan kalau dirinya bersungguh-sungguh saat bekerja. Sama seperti kemarin, Deva masih tidur ketika Rhea datang. Dia pun membangunkannya sampai laki-laki itu benar-benar sadar, lalu pergi ke kamar mandi. "Mentang-mentang orang kaya, semuanya sampai menyuruh orang. Padahal apa sulitnya bangun tidur, mandi, dan memilih pakaiannya sendiri," batin Rhea menggerutu ketika mengambil pakaian milik Deva di walk in closet, tidak lupa dengan aksesoris lainya yang akan digunakan oleh sang majikan. "Deva, eh, Tuan Muda Deva bisa tidak pakai kimono handuk kalau keluar dari kamar mandi?" ucap Rhea sambil membalikkan badan karena tidak nyaman melihat tubuh setengah telanjang laki-laki. "Ya, suka-suka aku, lah!" balas Deva. "Mau telanjang sekali pun, tidak ada yang melarang. Apalagi kita, kan, sudah tunangan." Deva berjalan mendekati ranjang di mana Rhea masih berdiri sambil memegangi pakaiannya. Sekarang dia berdiri di belakang gadis itu dan hendak mengambil bajunya. "Setidaknya kamu punya adab!" ujar Rhea yang kini mukanya merah padam merasa malu dan jengkel. Gadis itu bicara dengan nada tegas sambil membalikkan badannya. Siapa sangka gerakan Rhea yang tiba-tiba itu membuat sikutnya menusuk ulu hati Deva. Pemuda itu mengerang kesakitan sambil memegangi bagian perut atas. "Aaaa! Sialan kau, Rhea!" teriak Deva. "Kamu mau membunuh aku, hah!" Siapa yang tidak akan kesakitan jika terkena serangan mendadak dan tepat sasaran seperti barusan, apalagi dengan kekuatan yang cukup besar. Deva sampai merasa dirinya akan pingsan karena sangat sakit. "Hah, mana ada orang mati yang hanya terkena sentuhan seperti itu," balas Rhea yang tidak terima di marahi Deva karena dirinya merasa tidak bersalah. Menurutnya, laki-laki itu, lah, yang bersalah. Tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya. "Kau ... berani melawanku?" Deva melotot kepada Rhea. "Tidak, Tuan Muda Deva," balas Rhea. "Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya saja." "Lihat, sampai memerah seperti ini! Kamu harus bertanggung jawab, obati!" perintah Deva dengan nada tinggi. "Baik, Tuan Muda Deva," balas Rhea. Dia pun mencari kotak P3K. Beruntung ada salep untuk memar. Deva duduk di tepi ranjang dan Rhea berjongkok di depan saling berhadapan agar mudah ketika mengobatinya. Dia meringis ketika melihat luka memar berwarna merah ungu kebiruan yang ada pada tubuh calon suaminya. "Aku tidak menyangka sampai seperti ini?" batin Rhea yang kini mengoleskan salep sambil meniupnya. Deva merasa merinding ketika Rhea meniup perutnya. Tiba-tiba saja muka dia berubah merah ketika menyadari posisi mereka saat ini. Terlalu berbahaya dan bisa mengundang orang salah paham. "Deva, kenapa kamu belum–" Oma Sartika masuk ke dalam kamar Deva. Betapa terkejut dia ketika melihat cucu kesayangannya dengan Rhea dalam posisi itu. Dia sudah salah paham atas apa yang sedang mereka lakukan. "Oma?" Deva terkejut karena neneknya tiba-tiba saja masuk. "Oma Sartika?" Kepala Rhea menyembul dari balik tubuh Deva. "Oh. Lanjutkan saja ... Oma pergi!" Oma Sartika buru-buru keluar kamar itu. Rhea dan Deva mengangakan mulut karena tidak paham dengan kelakuan wanita tua itu. Namun, ketika mereka saling menatap, tiba-tiba saja pikiran mereka berdua sama-sama terkoneksi dan memikirkan hal yang sama. "Jangan-jangan Oma sudah salah paham!" teriak Deva. "Aduh, bagaimana ini? Bisa-bisa aku di cap wanita tidak benar sama Oma Sartika," batin Rhea. "Ini semua gara-gara kamu!" tuding Deva sambil memakai kemeja putihnya. "Enak saja! Semua ini tidak akan terjadi jika kamu mau mendengarkan aku," balas Rhea. Deva yang sedang mengancingkan pakainya sampai terdiam, lalu melotot kepada Rhea. "Apa? Kenapa aku yang harus mendengarkan kamu? Di mana-mana pelayan yang mendengarkan perintah majikan!" Inilah yang tidak disukai oleh Rhea terhadap Deva. Laki-laki itu selalu merasa dirinya lebih mulia dan berkedudukan tinggi, sehingga dia bisa seenaknya memandang rendah orang lain. "Kan, aku cuma meminta Anda untuk memakai kimono handuk, jangan cuma handuk diikat pinggang seperti itu!" Rhea menunjuk ke arah handuk yang masih melingkar pada pinggang Deva. Pagi itu kembali terjadi perdebatan di kamar mewah milik sang tuan muda. Karena keduanya sama-sama merasa tidak salah. Oma Santika memerhatikan Deva dan Rhea yang sedang sarapan, secara bergantian. Dia tidak pernah berpikir macam-macam dengan gaya berpacaran Deva. Karena dia percaya cucunya tidak akan berbuat sesuatu yang akan merugikan dirinya atau menjadi biang masalah di masa depannya. "Jangan-jangan Rhea yang menggoda Deva duluan. Kan, sekarang sering terjadi wanita yang menggoda duluan," batin Oma Sartika. Berbeda dengan Opa Jaya yang melihat Rhea dengan perasaan puas. Dia suka dengan cara kerja Rhea. Kemarin, gadis itu memberikan laporan dengan sangat detail setiap pekerjaan Deva. "Ternyata memang harus orang yang memiliki prinsip dan pekerjaan keras yang bisa menjadi partner kerja Deva," batin Opa Jaya. *** Hari ini Deva harus melakukan kunjungan ke sebuah mall besar dan terkenal. Dia akan melakukan sidak terhadap produk-produk hasil produksi pabrik mereka. Dia juga akan memeriksa produk mana yang diminati konsumen dan produk mana yang kurang diminati oleh konsumen, untuk evaluasi membuat produk baru. Rhea berjalan cepat mengikuti langkah lebar Deva. Hal ini tidak sulit baginya yang sudah terbiasa harus bergerak cepat ketika melakukan pekerjaan di restoran. "Deva!" teriak seorang wanita ketika Deva dan Rhea memeriksa produk-produk produksi perusahaannya yang ada di display. Deva dan Rhea spontan menoleh ke arah sumber suara. Terlihat ada seorang wanita cantik dengan penampilan anggun yang memakai barang branded semua dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Ck, dia lagi!" gumam Deva terlihat tidak senang. "Deva, aku rindu sama kamu." Seorang wanita hendak memeluk Deva, tetapi Rhea dengan sigap berdiri di depan calon suaminya sehingga tidak bisa dipeluk. Melisa menatap tajam kepada Rhea karena kesal tidak bisa memeluk Deva. Sama halnya dengan Rhea yang menatap balik Melisa dengan perasaan tidak suka. "Kenapa sekarang kamu sulit sekali ditemui?" tanya wanita itu dengan suaranya yang cempreng agak serak dan membuat Rhea tercengang. Karena jauh dari bayangannya, jika melihat penampilan wanita itu. "Aku sedang sibuk, Melisa," ucap Deva dengan wajah cuek. "Nanti malam anak-anak Borjuis akan mengadakan party di Klub Asarehe, Daniel ulang tahun. Kamu akan datang, 'kan?" tanya Melisa dengan penuh harap laki-laki itu akan datang. "Entahlah. Aku tidak mendapat undangan darinya," jawab Deva berbohong. Dia sebenarnya malas untuk datang ke acara seperti itu. "Masa kamu tidak dapat undangan dari Daniel. Kalian, kan, sudah menjadi sahabat baik sejak kecil?" ucap Melisa merasa heran. "Apa hubungan kalian berdua belum baikan lagi?" "Pak Deva, kita harus segera menyelesaikan pekerjaan kita ini karena masih ada jadwal lainnya," ucap Rhea memotong pembicaraan dua orang itu. Dia bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah Deva. Gadis itu menduga kalau calon suaminya ini merasa tidak suka dengan pembahasan mereka. "Aku masih punya banyak pekerjaan," ujar Deva kepada Melisa, sebelum dia pergi bersama Rhea. "Sekarang kita ke mana?" tanya Deva ketika masuk ke dalam mobil. "Bertemu dengan perwakilan Perusahaan Makmur Jaya," jawab Rhea. Mendengar nama perusahaan itu, membuat Deva ingin meng-cancel pertemuan selanjutnya. Semakin kusut saja ekspresi wajah sang tuan muda. "Apa ada masalah?" tanya Rhea karena atasannya diam saja, biasanya ada respon. Mana mungkin Deva mau cerita yang sebenarnya kepada Rhea. Sebenarnya dia bukan orang yang suka mencari gara-gara duluan. Namun, jika orang itu sudah mengusik dirinya terlebih dahulu, tidak sudah dipastikan tidak akan lolos begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD