Bab 5. Buat Dia Jatuh Cinta

1177 Words
Rhea dan Deva saling beradu pandang. Muka mereka berjarak sekitar sepuluh sentimeter. Detik berikutnya gadis itu membenturkan kepala dengan keras, sehingga kepala sang tuan muda terdorong dan bagian belakangnya membentur lantai beralaskan karpet. "Aaaaaaa! Apa yang kau lakukan?" teriak Deva kesakitan di bagian kening dan tempurung kepala belakang. Dia merasa kepalanya berdenyut-denyut sakit. "Dasar wanita gila! Kau selalu saja mencelakai aku setiap bertemu," racau Deva sambil memegang kepala yang sakit. "Karena kamu mau mencium aku," balas Rhea yang beranjak dari perut Deva. "Siapa yang mau mencium kamu?" "Barusan muka kamu terus mendekat." "Hah? Aku nggak nafsu cium kamu!" Deva berdiri sambil memegang pinggang yang juga terasa sakit. Dia meringis ketika merasa sekujur tubuhnya sakit. "Sudah jelas-jelas tadi menarik aku sampai muka kita hampir bersentuhan. Tetap tidak mau mengaku," batin Rhea. Deva masuk ke kamar mandi sambil menggerutu. Dia sempat protes kepada kakeknya melalui telepon, tetapi malah diberi ceramah panjang. Baginya Rhea adalah wanita barbar yang suka berbuat kasar dan bisa saja melukai dirinya. Seorang pelayan perempuan masuk untuk membereskan kamar Deva. Sementara Rhea, menyiapkan segala keperluan laki-laki itu untuk pergi ke kantor, mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. "Deva, semua keperluan ka–" Rhea membalikan badan ketika mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Dia hendak memberi tahu laki-laki itu kalau pakai dan segala aksesorisnya sudah disiapkan. Namun, ucapannya terhenti ketika melihat penampilan Deva. "Dasar m***m! Kenapa cuma memakai handuk saja, hah!" teriak Rhea secara spontan. Dia sering bicara seperti itu jika melihat Bhumi dan Erlangga cuma pakai handuk ketika keluar kamar mandi. Padahal dia mendidik mereka harus membawa baju ganti di kamar mandi biar langsung dipakai. Maklum di rumah mereka hanya ada satu kamar mandi yang dipakai secara bergantian. Deva melongo mendapatkan teriakan dari sang asisten. Karena dia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Selain itu, tidak ada yang berani berteriak kepadanya seperti barusan, kecuali Opa Jaya. Menyadari kesalahannya, Rhea pun meminta maaf. Lalu, dia membalikkan badan dan menjauh karena merasa risih dengan penampilan Deva yang bertelanjang d**a juga memperlihatkan perutnya yang kotak-kotak, seperti roti sobek kesukaan gadis itu. "Ini pakaikan!" Deva menyerahkan dasi agar Rhea memasangkannya setelah dia selesai memakai baju. Karena perbedaan tinggi badan mereka, pemuda itu harus menunduk. Dengan cekatan Rhea memasangkan dasi sambil bertanya, "Apa asisten sebelumnya juga selalu memasang dasi untuk kamu?" Ditanya seperti itu membuat tubuh Deva merinding. Bagaimana bisa dia membayangkan Satria memasangkan dasi kepadanya dengan posisi saling berhadapan seperti saat ini bersama Rhea. "Jangan banyak bicara. Ini sudah tugas kamu, 'kan?" Deva menatap tajam kepada Rhea. "Lalu, satu hal lagi yang harus ingat." "Apa itu?" tanya Rhea. "Sekarang ini aku adalah tuanmu dan kamu adalah karyawanku. Jadi, bersikap sopan lah!" "Baik, Tuan Deva," ucap Rhea. "Panggil aku tuan muda," kata Deva menahan senyum karena berhasil menjalankan rencananya untuk menjahili Rhea. "Baik, Tuan Muda Deva," balas Rhea menahan rasa enek ketika melihat senyum laki-laki itu. Keduanya berjalan menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada Opa Jaya dan Oma Sartika. Pasangan lansia itu tersenyum menyambut kedatangan mereka. "Pagi ... Omaku tersayang! Pagi ... Opa!" Deva mencium pipi neneknya, lalu duduk di kursi samping Opa Jaya. "Pagi, Deva," balas Oma Sartika dengan nada yang lembut penuh kasih sayang. Rhea bingung harus melakukan apa sekarang, karena sudah ada beberapa pelayan yang menyajikan makanan di atas meja makan. Jadi, dia memilih berdiri di belakang kursi Deva. "Rhea, kenapa kamu malah berdiri di situ? Ayo, duduk ikut sarapan bersama kami!" perintah Opa Jaya. Rhea pun duduk di kursi samping Deva. Matanya tertuju kepada banyak makanan mewah yang sangat jarang sekali dia cicipi. "Kamu ambilkan makanan yang ingin dimakan oleh Deva!" perintah Oma Sartika. "Kamu juga harus tahu makanan dan minuman apa saja yang disukai oleh Deva dan makanan apa yang tidak disukainya." "Baik, Oma." Lalu, Rhea bertanya kepada Deva makanan apa yang ingin dimakan olehnya. Dia pun mengambilkan untuk sang majikan. Bagi perut Rhea, jika tidak makan nasi maka terasa belum makan. Sementara di atas meja tidak ada sebutir nasi pun. Mau nambah croissant yang ada di depan matanya, dia merasa malu. "Kenapa, sih orang kaya makannya sedikit? Seharusnya kita sarapan makan nasi, jadinya kenyang dan siap bekerja," batin Rhea. *** Rhea memegang sebuah tab untuk memudahkan pekerjaannya. Dia mencatat jadwal kerja Deva dan memberikan laporan hasil kerjanya kepada Opa Jaya. Saat ini Deva bekerja di bagian direktur pemasaran. Kemampuan berbicaranya membuat dia dengan mudah menjual berbagai jenis produk dari semua pabrik yang dimiliki oleh Perusahaan DARMA JAYA COMPANY. Walaupun Deva merupakan salah satu ahli waris keluarga Darmawangsa, Opa Jaya menempatkan cucunya di kantor perusahaan itu dari bawah dan terus naik sampai saat ini menempati posisi yang penting. Di kantor posisi sekretaris yang biasa di handle oleh Satria, kini ditempati oleh Andini. Sekretaris yang sebelumnya berada di bagian divisi keuangan. Deva paling tidak suka mempekerjakan orang yang lelet dan tidak paham dengan ucapannya. Jadi, pastinya dia memilih para pekerja yang cekatan dan cerdas. "Pak Deva, ada beberapa proposal pengajuan produk baru," ucap Andini sambil menyerahkan sebuah map berwarna merah. "Berikan kepadanya!" titah Deva agar map itu diberikan kepada Rhea. Dengan sigap Rhea menerima itu, lalu mengikuti Deva masuk ke dalam ruang kerjanya. Di sana ada dua meja kerja. Salah satunya sengaja ditempatkan di sana untuk sang asisten baru. Rhea memberi tahu jadwal apa saja yang harus dilakukan oleh Deva seharian ini. Kebetulan ada tiga pertemuan dengan rekan bisnis mereka di luar. Baru saja sehari bekerja bersama Deva, Rhea merasa lelah minta ampun. Laki-laki itu juga banyak maunya menyuruh ini itu, buatkan kopi yang sampai beberapa kali karena tidak cocok di lidahnya. Setidaknya ada satu bagian yang membuatnya senang di hari itu. Yaitu ketika mereka makan siang bersama rekan bisnis, Rhea bebas makan apa pun yang dia mau. Kebetulan mereka membuat janji di restoran mewah yang terkenal enak semua menu makanannya dan pastinya berharga mahal. Tentu saja perusahaan yang membayar itu semua. *** Begitu pulang ke rumah Rhea langsung tepar. Dia merasa tubuhnya berat dan kaku. "Bagaimana hari pertama kamu bekerja di sana, Rhea?" tanya Mama Rinjani ketika masuk ke kamar putrinya. "Capek sekali, Ma! Seluruh persendian aku rasanya mau copot. Ini lebih melelahkan daripada bekerja di restoran," jawab Rhea yang masih berbaring merilekskan tubuhnya. Melihat putri sulungnya seperti itu, Mama Rinjani memijat kaki dan badannya. Dia mendengarkan apa saja yang dilakukan seharian itu oleh Rhea bersama dengan Deva. "Kamu itu harus bisa mencuri hati Deva. Buat dia jatuh cinta sama kamu," ucap Mama Rinjani. Rhea yang sedang berbaring langsung terduduk begitu mendengar ucapan ibunya. Dia terkejut mendengar saran itu. "Maksud, Mama, aku harus menggoda Deva, gitu?" tanya Rhea. "Iya. Buat dia cinta sama kamu, agar kedepannya mudah bagi kamu menjalani hidup bersama dengannya," jawab Mama Rinjani. "Laki-laki, jika sudah cinta sama wanita, akan melakukan apa pun untuknya!" Rhea terdiam. Tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk membuat Deva jatuh cinta kepadanya. Karena dia sendiri merasa sulit menyukai laki-laki itu. "Memangnya kamu mau menjalani kehidupan rumah tangga bagai dalam neraka? Sering bertengkar dan tidak ada cinta di dalamnya," ujar Mama Rinjani dan itu membuat Rhea semakin takut untuk menikah. "Apa aku harus melakukan itu?" batin Rhea dan merasa merinding membayangkan dirinya menggoda Deva.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD