09. Memasang CCTV

1542 Words
"Rum, memang sih kalau di lihat-lihat mukanya Raina memang mirip sih dengan wanita itu, coba kamu perhatikan deh, lihat senyuman punya lesung pipit pula, garis alis hidung dan bibirnya juga," ucap Ibu. "Ah, Ibu kagetin aja," jawabku. "Makanya jangan melamun." Itu loh Ibu bilang Raina itu memang mirip dengan wanita yang ada di foto itu." "Mau mirip kek, nggak kek, yang penting bagi Arum dia tetap anak kesayangan Arum, dari umur satu bulan Arum yang mengasuhnya." "Yang Arum masih bingung kok, bisa dikatakan anaknya Mba Sukma, sedangkan waktu itu dia hamil juga loh,Bu," ucapku. "Berarti banyak teka teki yang harus dipecahkan ini," sahut Ibu. "Kamu tenang aja Rum, Ibu juga sudah menyuruh anak buah Ibu mencari asal usul wanita itu, yang penting kamu bersikap seperti biasanya jangan sampai ada kesalahan kalau kamu sudah tau semuanya tinggal kita cari bukti otentik untuk memperkuat argumen kita." "Mereka pikir kita ini orang kampungan yang tidak berpendidikan, nol besar dia mah," jelas Ibu lagi. "Makanya kalau di suruh kuliah, ya kuliah jangan main melulu di atas genteng orang," ledek Ibu dengan tertawa. "Ibu apaan sih, anaknya lagi ada masalah malah diketawain." "Supaya kamu itu nggak terlalu stres mengahadapi masalahmu, kamu yang sedih suamimu yang enak-enakkan, rugi dong," jawab ibu sedikit sewot. Selang beberapa menit saat kami sedang mengobrol ibu menerima telpon dari seseorang. Terlihat ibu dengan ekspresi semyuman yang merekah, itu berarti suruhan ibu ada yang berhasil melaksanakan tugas. Ibu langsung mematikan telponnya. "Kamu tahu siapa yang menelpon tadi?" tanya Ibu dengan senyuman manis. "Pasti anak buah Ibu 'kan, bagaimana apa Arum sekarang pulang ke rumah?" jawabku dengan bahagia. "Bukan lah." "Terus siapa Bu, Arum pikir tadi manggut-manggut itu telpon dari anak buah ibu buat misi kita," jawabku dengan kesal. "Ini loh ada pesanan kue untuk minggu depan, banyak lagi, cuma si Kiran cuti lagi, mudahan dia bisa ibu panggil balik bantuin ibu di sini." "Kenapa harus dia sih Bu, kasihan toh Bu, orang cuti di suruh balik bantuin Ibu, memang nggak ada yang lain apa selain dia?" "Ada sih, cuma kalau Kiran anaknya cepat selesai dan bagus kerjanya, cepat tanggap kalau di suruh. Ibu suka dengannya." "Coba Ibu telpon dia dulu siapa tahu dia mau, biar tak kasih bonus lah sebagai konpensasi cutinya," ucap Ibu dengan mantap. "Sebentar ya, Ibu mau nelpon orangnya dulu, tak speaker aja deh." Tut! Tut! { Hallo, Assalamualaikum! } { Walaikumsalam, nak Kiran } { Iya, Bu ada apa? } { Maaf banget ganggu liburannya, cuma Ibu mau minta tolong nih, nak Kiran minggu depan bisa balik ke sini nggak ya, soalnya Ibu ada pesanan kue minggu depan banyak banget, saya nanti kwalahan, sedangkan yang lain masih belum mengerti, Nak Kiran jangan khawatir nanti saya kasih bonus deh sebagai ganti cutinya } { Walah dikirain apa, Bu. Kalau itu ya nggak apa-apa kok, lagian 'kan minggu depan, saya kira hari ini hahhaa ...} { Jadi bisa ya, Alhamdulillah makasih ya Kiran, kamu memamg pegawai saya yang paling baik, pokoknya kamu tenang saja saya akan lebihkan bonus buat mu ya anggap saja rezeki buat Andri, anakmu } { Nggak usah Bu, saya ikhlas, dulu saja kalau ngggak bertemu Ibu, mungkin hidup saya dan anak saya ada di jalanan. Saya yang harus berterima kasih ke Ibu.} { Nggak usah diingat lagi, sekarang kamu bisa kembali ke suamimu karena sudah resmi lagi menjadi suami istri toh? } { Ngomong-ngomong kalian libur kemana, bisa dong nanti titip oleh-oleh } { Nggak jauh-jauh Bu, cuma ke Bali, biasa si Fatir kepengen ke sana, nanti saya bawakan oleh-oleh khas Bali, ya... } { Ya udah, selamat liburan, nanti sambung lagi ceritanya, soalnya ada telpon masuk, Assalamualaikum } { Walaikumsalam, Bu } { Gimana, ada kabar? } { Oke, terima kasih } "Siapa Bu,?" "Nah kalau ini anak buah Ibu, Pak Yadi namanya, Oke langsung ke TKP." "Oke apanya, Bu?" "Lah piye toh nduk, kita pergi ke rumahmu toh buat masang cctv, sudah ibu siapkan semuanya dengan bagian teknisi, pokoknya kita tinggal lihat mereka di HP kita kan?" "Weh, hebat Ibunya Arum ini, tambah love deh sama Ibu," ucapku sambil mencium pipi beliau. "Selama kamu di jalan yang benar Ibu akan selalu mendukung, tapi kalau salah harus di betulkan supaya nggak menyimpang lagi," sahut Ibu. "Arum kasih tau Raina dulu, kalau mau pergi sebentar sama Ibu." "Iya, cepat nanti keburu mereka datang, panjang lagi ceritanya." Aku pun bergegas menemui Raina di dalam kamar, tetapi kulihat Raina tertidur pulas, tak tega jika harus membangunkannya. "Bagaimana ini jika dia terbangun dan aku tidak ada, tetapi mengingat hal ini penting juga terpaksa kutinggalkan sementara Raina bersama Mba Diah." Mba Diah adalah pembantu di sini, tetapi sudah aku anggap sebagai kakakku, maklumlah aku anak semata wayang Ibu setelah ayah meninggal 3 tahun yang lalu. "Mba Diah, minta tolong titip sebentar Raina, Arum sama Ibu mau keluar ada perlu sebentar, nanti kalau Raina tanyain bilang saja lagi ke supermaket. Kalau ada apa-apa segera hubungi Arum atau Ibu ya, Mba?" "Tenang saja Non Arum, siap laksanakan!" jawabnya dengan semangat. "Sudah Rum?" "Rainanya tidur, Bu, jadi Arum titip mbak Diah saja yang jagain, mudah-mudahan sudah selesai sebelum Raina bangun." "Ayo, Bu!" "Oke, .... kalian tolong perketat penjagaannya jangan sampai lengah, saya hanya sebentar keluar titip cucu saya ya tolong di jagain." "Baik, Bu!" Kami pun mengendari mobil menuju ke rumahku yang elit dengan bangunan yang sangat luas. Semua sudah dipersiapkan bahkan suruhan ibu sudah mengamati lingkungan sekitarnya bahwa malam ini sudah tidak banyak warga uang keluyuran ke luar rumah. Jalanan tampak lengang, saatnya mulai beraksi untung aku membawa kunci serep untuk membuka pintu depan. Saat kami tiba sudah di tunggu beberapa orang suruhan ibu, dan mulailah kami bekerja. Aku dan ibu lansung turun dari mobil dan mempercepat langkah kami, segera aku membuka pintu depan di iikuti mereka dan aku pun memberikan insruksi di tempat mana saja yang akan di pasang cctv. "Semua sudah di pasang sesuai perintah ibu, bahkan mereka tidak bisa mengetahui bahwa tempat itu telah dipasang cctv." "Tinggal menginstal ke HP Bu Arum dan Bu Aini," jelas orang itu. "Terima kasih banyak, Pak! "Sama-sama, Bu." Aku dan ibu menyerahkan HP kami, untuk bisa di instal dan kami bisa melihat langsung gerak gerik mereka selama mereka di dalam rumah. "Bu, ini tinggal di mobil saja yang belum di pasang, ibu mau pasang sendiri atau nanti saya pasangkan?" tanya orang itu. "Saya pasang sendiri saja, Pak!" "Baiklah, Bu saya jelaskan cara memasang dan menyambungkannya sampai bisa terlihat di HP Ibu," jelasnya lagi. Setelah selesai semua dan dirasa sudah sesuai keinginanku, aku pun tersenyum lega, satu misi sudah dilakukan dengan baik. Hanya memakan waktu 30 menit mereka mengerjakannya dan terlihat sempurna di mataku. Kami pun segera membersihkan dan meninggalkan rumah itu secepat mungkin, agar nampak seperti semula. Di dalam mobil ... "Alhamdulillah ya, Bu sudah selesai, tinggal di mobil yang belum di pasang, gimana caranya ya bu?" tanyaku dengan bingung. "Tenang jangan khawatir, bisa diatur, makanya Ibu mau ke rumahmu masih ada waktu seminggu sebelum Ibu sibuk ngurusin pesanan kue. Kita harus gerak cepat siapa tahu mereka sudah merencakan sesuatu di belakang kita." "Terus gimana dengan orang suruhan Ibu itu, sudah ada infomarsi atau belum?" tanyaku. "Ya belum dong Rum, baru juga di suruh, butuh waktu mencari informasinya paling lambat besok pagi kamu pasti terima pesan dari ibu." "Oh ya, Bu lupa tanya tadi, siapa sih Kiran itu, Arum nggak pernah tau orangnya, karyawan Ibu yang mana setau Arum nggak ada yang namanya Kiran, orang baru ya?" tanyaku penasaran. "Iya, dia baru setahun yang lalu bekerja sama Ibu, kasihan banget hidupnya, ketemu juga saat dia tidur di pinggir jalan dan waktu itu anaknya sedang sakit demam dan menggigil. Ibu nggak tega lihatnya, ya Ibu bawa ke rumah sakit terus karena nggak punya tempat tinggal jadi Ibu kontrakan dia di .. sebentar Rum ada telpon masuk, Ibu angkat dulu ya ... { Hallo, Assalamualaikum, Jeng? } { Oh, bisa-bisa, nanti saya kabarin lagi, oke } { Walaikumsalam, Jeng } "Siapa, Bu?" "Oh biasa teman Ibu, jeng Riska nawarin tanah, cuma Ibu masih piki-pikir dulu soalnya masih dalam sengketa, nanti malah Ibu yang kena 'kan?" "Ya udah sampai mana tadi Ibu cerita ya?" "Oh ya si Kiran itu masih muda sih beda 4 tahun sama kamu Rum, orangnya utu sudah cantik, baik, sholehah dan pintar lagi, cuma aneh saja dengan cerita masa lalunya, tapi ... "Kenapa, Bu?" "Katanya sih suaminya keluar kota nggak balik-balik, terus itu dia lagi hamil anak pertamanya, nah baru 3 bulan yang lalu suaminya kembali dan minta rujuk gitu deh, ya akhirnya Kiran terima kembali itu suaminya." "Makanya sekarang mereka liburan ke Bali ya anggaplah bulan madu kedua," jelas Ibu. "Kamu tau 'kan Rum, Ibu ini bisa melihat karakter orang itu baik atau nggak, tapi filling Ibu sih mengatakan Kiran ini memang baik, cuma nggak sregh aja sama suaminya, nggak tau kenapa." "Emang Ibu tau orangnya, ada fotonya gitu atau namanya siapa sih?" "Nah, itu dia Rum, dia nggak punya foto suaminya, katanya sih HP-nya hilang, trus nama suaminya siapa ya, aduh lupa ibu, eh?" Semua serba kebetulan, tadi Raina mengatakan wanita itu adalah ibu kandungnya bukan mbak Sukma, dan ini ada karyawan baru setahun kerja dengan ibu tapi aku tidak tahu, siapa itu Kiran, bahkan asal usulnya pun Ibu tidak tahu, ada apa ini, mengapa hari ini banyak kejadian serba kebetulan ya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD