10. Pulang Ke Rumah

1368 Words
Setelah sampai di rumah ibu, kurebahkan tubuh ini yang lelah, tapi jangan tanya bagaimana dengan hati, terlalu sakit untuk di tata kembali seperti cermin yang hancur tidak bisa kembali utuh. Tidur sambil menatap Raina yang tertidur pulas di sampingku, merasa diri ini tenang sejenak sebagai pelipur lara. Aku bangun seperti biasa, setelah solat subuh, bergegas pergi ke dapur. "Lagi buat apa, Bu?" "Oh ini ada pesanan kue bolu pisang dari Bu Widya katanya pengen buat cemilan sore. Kalau mau makan sudah Ibu siapkan tuh di meja makan," sahut ibu yang sedang sibuk menyusun bahan kue itu. "Iya bu." "Jam berapa Rum, Suamimu jemput?" "Nggak ngasih tau jamnya, paling jam sembilan nan." Selesai makan, aku pergi ke kamar dan ternyata Raina pun sudah bangun, segera kumandikan dengan air hangat, dan makan. Tampak sekali keceriaan Raina gadis cilik itu terpancar dari wajahnya. "Mah Ayum, Yaina udah cantik belum?" tanyanya dengan polos. "Udah cantik dong Sayang, udah wangi lagi kan udah mandi, udah sarapan, sekarang kita tinggal tunggu papah jemput ya." "Ngggak ah, Yaina mau di cini aja enak di perhatiin teyus ama Mamah Ayum, kalau di cana Mamah Ayum cibuk teyus," jawabnya yang buat aku tambah gemes. "Nggak boleh gitu dong Sayang, bagaimanapun juga kita harus pulang, Mamah Arum janji deh akan lebih perhatikan Raina," ucapku sambil mencubit pipinya yang tembem. "Belum ada kabar Bu?" tanyaku. "Kalau ada Ibu langsung kasih tau kamu Rum, tunggu bentar lagi," jawab Ibu. Tak lama kemudian terdengar bunyi telpon dari ponsel Ibu saat sedang memanggang bolu. {Bagaimana, udah ada ... hemmm ....ok makasih, tetap kamu awasi mereka} {Ok, makasih, cek rekeningmu sudah saya tranfer sebagian, sisanya nanti setelah selesai} Telpon pun diputus oleh Ibu, dan menatapku sebentar, tampak ada guratan wajah kekecewaan. "Gimana Bu?" "Udah bentar 15 menit lagi ada paket datang tunggu saja." "Setelah menunggu 15 menit, akhirnya paket itu datang. Seorang kurir memberikan sebuah amplop coklat, segera kubayar dan kulihat pengirimnya pun tidak ada nama tercamtum. "Sudah datang Rum?" "Sudah Bu, ini barusan Arum terima." "Ya udah mumpung Raina sedang main sama mba Diah, kita buka apa yang dikirim oleh anak buah Ibu." Aku pun membuka sebuah amplop yang ternyata berisikan compact disk dan beberapa lembar kertas. Aku membuka CD itu, dengan seksama aku memperhatikan setiap adegan itu. Ternyata isi dari CD adalah perselingkuhan suamiku yang asyik b******u dengan wanita lain dan wanita itu adalah Lira Anggraini yang sekarang berstatus istri kedua dari suamiku. Video itu diambil saat mereka sedang berada di hotel tempat mereka menginap, tertera tanggal dibuatnya, tetapi jangan tanya kok bisa di dapat, dari mana? Satu kecerobohan yang dibuat sendiri malah akan menjadi malapetaka yang besar. Ternyata aku pikir dia adalah sosok laki-laki yang alim, soleh bahkan selalu menasehatiku kalau aku kurang dalam pemahaman agama. Tak aku pungkiri mengapa aku sangat mencintai Mas Ariel, karena berkat dia juga aku bisa menjadi wanita seutuhnya yang dulu kata orang aku seperti kebanyakan laki-laki, dengan rambut cepak, tomboy dan sering manjat genteng orang kalau ada yang membutuhkan tenagaku untuk memperbaikinya, bahkan aku di kenal sebagai anak jalanan seperti preman kampung. Di situ tertulis bahwa Lira menikah dengan Mas Ariel 3 tahun lalu secara sah di mata hukum dan agama.Mereka menikah satu hari setelah kematian kedua laki-laki yang aku sayangi yaitu Ayah dan papah mertua, mereka terlibat dalam kecelakaan beruntun saat sedang kembali ke Bandung. Mereka mempunyai seorang anak perempuan yang di beri nama Raina Putri Anggraini Sadewa, terlampir copy akta kelahiran. Lira dulu satu kuliah dengan Mas Ariel dan selama itu pula mereka pacaran, hingga Mas Ariel mengambil S2 di luar negri, benih cinta itu masih ada sampai akhirnya Mas Ariel menyelesaikan study di sana dan menetap kembali di Indonesia untuk menjalankan bisnis keluarga. Lira Anggaraini anak dari pengusaha terkenal di Solo, ayahnya mempunyai banyak bisnis di bidang properti. Maka tak heran Lira sangat di manja dengan gemerlapnya harta sehingga di kehidupannya bergaya glamor. Lira membuka butik di Solo, dan sekarang sudah ada 2 cabang butik yang ia kelola. Bersama dengan sepupunya Shakira ini yang ketiga baru di resmikan seminggu yang lalu. Setiap 2 minggu sekali Mas Ariel pergi ke luar kota, dan bodohnya aku tidak pernah bertanya ke kota mana, karena aku pikir urusan bisnis soalnya Mbak Sukma selalu ikut bersama Mas Ariel. "Ini baru sebagian Rum, yang jelas suamimu telah membagi hatinya untuk yang lain. Sekarang ini waktunya kamu bangkit, tunjukkan kalau kamu bisa melakukan yang orang pikirkan tidak bisa." "Untuk sementara bukti-bukti ini biar Ibu yang simpan, kita akan jalankan rencana kita, kamu tenang aja Rum, pasti semua akan berjalan dengan lancar," terang ibu. "Makasih ya Bu, sudah mau bantu Arum." "Sama-sama, Sayang." Tiga jam kemudian kudengar ada suara mobil memasuki halaman rumah, kusibak gorden ruang tamu dan alangkah terkejutnya aku Mas Ariel membawa seorang wanita cantik. Ya, dia adalah wanita yang aku lihat di foto itu, Lira Anggraini sepupunya temanku Shakira. "Dasar nggak tau malu, ternyata dia terang-terangan membawa wanita lain di hadapanku. Namun aku harus tenang tidak boleh bertindak konyol apalagi melihat mereka sangat intens." Kupanggil Ibu yang dari tadi sibuk di dapur dan mata melotot melihat apa yang mereka lakukan di depan rumah. "Bukankah itu ..." "Shut ... jangan keras-keras nanti kedengaran," jawabku dengan panik. "Iya itu loh yang di foto itu kan, siapa lagi namanya Ibu lupa?" "Lira Anggraini, Bu!" "Terus ngapain dia ikut juga ke sini, wah ini kita harus bertindak cepat, jangan sampai kamu dibodohi lagi sama mereka." "Ibu tenang aja, Arum dulu yang bucin sekarang tidak ada lagi, melainkan Arum si preman kampung yang bertindak," jawabku dengan tersenyum sinis. "Mereka main kucing-kucingan ternyata samaku, baiklah kita lihat bagaimana kamu akan membuatmu bersujud di kakiku meminta belas kasihan," batinku. Tok! Tok! Tok! "Assalamualaikum!" "Walaikumsalam!" "Eh, nak Ariel udah datang toh, mari masuk, loh ini siapa ya?" tanya Ibu dengan seramah mungkin. "Oh maaf, ini sepupu saya Bu, kebetulan baru pulang dari Solo, katanya mau liburan dulu di sini, jadi daripada tinggal di hotel lebih baik tinggal di rumah saja." Wanita itu hanya tersenyum kecut, tanpa mengeluarkan suaranya. Tiba-tiba Raina datang dan segera memeluk papahnya. "Papah ...!" teriak Raina dari dalam kamar. "Halo, Sayang, Raina nggak nakalkan selama di sini?" "Nggak lah Pah, Yaina sangat suka tinggal di sini," ucapnya dengan polos. Raina pun tidak menyadari akan kehadiran Lira ibu kandungnya. "Halo Sayang apa kabar?" ucapnya dengan tersenyum. "Kenapa Tante ada di sini, katanya nggak bicsa datang, Yaina nggak cuka ketemu Tante, Yaina benci," jawabnya. Raina Sayang, nggak baik ngomong gitu sama orang lain, emang Raina kenal sama Tante ini?" tanyaku dengan lembut. "Mmm, dia kan ... ," omongannya langsung di putus oleh Mas Ariel. "Dia 'kan Tantenya Raina Rum, masa nggak kenal?" jawabnya dengan santai. "Kok, Arum nggak pernah lihat, bahkan waktu kita nikah ndak ada tuh, sepupumu dari mana?" selidikku. "Dari mamah, memang waktu nikah dia nggak datang soalnya lagi di luar negri, sekarang dia menetap dan bekerja di sini," kilahnya. "Hem ... dibohongi lagi aku Mas, Mas kamu tuh aneh bin ajaib, untung saja Raina pintar dan berjanji kepadaku tidak akan memberitahukan kalau aku sudah tau siapa ibu kandungnya." "Ya udah kenalin namaku Arum, dan kamu siapa?" tanyaku pura-pura polos. "Saya Lira, sepupunya Mas Ariel," jawabnya dengan jutek. "Ayo Mas, keburu siang nih, aku udah nggak betah lama-lama di sini, kampungan banget iyuuuh," sahut Lira yang manja sambil menggandeng tangan Mas Ariel. Melihat tatapan sinisku, buru-buru Mas Ariel melepaskan tangannya. "Sudah tau kampungan di sini, kenapa ikut?" tanyaku dengan jutek juga. "Eh saya nggak bicara sama kamu ya, kamu itu hanya status saja sebagai istri, bahkan sampai sekarang aja kamu belum memberikan keturunan keluarga ini," celanya padaku. "Kok kamu tahu semua masalahku, apa Mas Ariel yang memberitahumu?" tanyaku. "Apa-apaan ini Mas, dia ini sepupumu atau selingkuhanmu sih, ngomongnya aneh?" "Aneh gimana, sudah-sudah jangan di perpanjang, ayo kita pulang," jawab suamiku yang salah tingkah. "Bu, kalau gitu Ariel mohon pamit ya," ucap Mas Ariel dengan sopan. "Mau pulang sekarang, ya udah hati-hati di jalan. Oh ya Nak Ariel ibu mohon tolong jagain Arum jangan sampai jadi singa betina lagi, nanti kamu bisa diterkam," gombal ibu pada menantunya. "Iya bu ... jawab suamiku yang nampak bingung. "Maksudnya apa Dek, jadi singa betina, orang kamu ini kemayu, lemah lembut,mana mungkin, hahaha," jawabnya dengan tertawa. "Wah, kebangetan nih Mas Ariel, baiklah ayo kita bermain" gumamku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD