11. Salah Sasaran

1441 Words
"Bu, Arum pulang dulu, Assalamualaikum! "Walaikumsalam, hati-hati di jalan ya.... "Iya, Bu." Kami pun pergi meninggalkan rumah ibu, dan tiba-tiba Lira ingin duduk di depan bersama Mas Ariel di dalam mobil itu. "Arum, kamu duduk di belakang ya, biar aku duduk di depan sama Mas Ariel," ucap Lira dengan menyunggingkan senyuman sinisnya. "Minggir, eh dengar ya situ cuma sepupu, saya loh istrinya jadi yang duduk di depan otomatis ya saya toh!" sahutku nggak kalah sinisnya. "Aughh, sakit tahu kurang ajar banget sih nginjak kaki ku, nggak lihat apa kamu?" tanyanya dengan emosi. "Enggak lihat maaf, makanya jadi orang tau diri dong," sahutku sambil menaruh bokongku duduk di depan bersama Raina tentu saja di samping Mas Ariel. "Mas, tuh lihat Arum kata kamu dia lemah lembut mana, kaya bar-bar gitu orangnya?" ucapnya dengan manja. Lalu Mas Ariel menatapku dengan dingin. "Kamu tuh kenapa sih Rum, nggak baik berantem gitu, biar Lira duduk di depan saja," bentak suamiku dengan nada tinggi. "Oh gitu ya, kamu lebih pentingin sepupumu daripada aku, Mas? sejak kapan kamu ngomong dengan nada tinggi kaya gitu." "Kamu ndak lihat apa Raina mau duduk di samping Papahnya, iya kan Sayang?" jawabku. "Iya Mah, tentunya cama Mamah Ayum juga dong," jawabnya dengan gembira. "Tuh, dengar sendiri 'kan, anaknya yang mau, bukan Arum, masuk sudah duduk di belakang dengan tenang jangan banyak protes." "Ayo Mas, katanya mau pulang, jadi nggak nih?" Kulihat Lira mencak-mencak nggak jelas dari kaca spion. Bibirnya manyun dan tentu saja sekilas Mas Ariel bemain mata dengannya. Akhirnya drama pun selesai, mau tak mau Lira duduk di belakang dengan muka cemberut. Di dalam perjalanan pulang aku pun berbasa-basi mengajak ngobrol dengan Lira istri kedua suamiku itu. "Lira, kalau di lihat-lihat kamu cantik banget sih, sering perawatan ya," tanyaku sekenanya saja. "Ya iyalah, jadi perempuan itu jangan pintar cuma di dapur, di kasur aja dong, penampilan itu nomor satu, kalau kita selalu bau bawang siapa yang mau lirik, walaupun kita sudah menikah kita tetap harus perawatan biar suami kita nggak lari ke wanita lain," jelasnya dengan senyuman yang tersungging di bibirnya sambil melirik Mas Ariel. Mas Ariel pun membalas dengan senyuman termanisnya dan sekilas mengedipkan matanya. "Tuh, dengar Mas berarti mulai sekarang Arum harus berpenampilan menarik dong, supaya Mas Ariel nggak jajan di luar sana, iya kan Mas?" tanyaku dengannya. "Aduh, nggak usah lah Rum, ngapain coba habisin duit aja lebih di tabung buat keperluan yang lain. Lagian jika sudah berstatus istri tidak boleh mempertontonkan ke orang lain aurat istrinya hanya suaminya yang boleh lihat," jawab suamiku. "Nah, itu dengar kamu Lira, nggak baik mempertontonkan aurat kita di sembarang tempat apalagi bukan muhrimnya, iya 'kan Mas?" Terlihat Mas Ariel sungkan atau tidak mau menanggapi pertanyaanku, saat si Lira menampakkan wajahnya yang merah padam dan tidak bersahabat denganku. "Mas, dengar Arum nggak, gimana pendapatnya kok nggak di jawab sih?" tanyaku yang tidak sabar mendengar jawaban dari suamiku itu. "Udah nggak usah di bahas, ada anak kecil nggak baik ngomongin masalah kaya gituan," kilah suamiku. Raina melihatku dengan tertawa dan memeluk seakan-akan tahu apa yang kami bicarakan. "Aku pancing lagi ah, hihihi," tawaku dalam hati. "Ngomong-ngomong kamu sudah nikah atau belum nih?" tanyaku lagi. "Emmh ... sudah ... cuma orangnya sudah meninggal satu tahun yang lalu," jawabnya santai sambil memainkan gawainya. Tiba-tiba mobil berhenti mendadak membuat kami kaget dan terhentak. "Kenapa Mas, kok rem mendadak, untung jalanan sepi kalau nggak gimana?" Ada apa sih Mas, kaya nggak konsen gitu nyetirnya?" tanyaku yang beruntun. "Sebentar, Mas mau beli minum di depan haus, tenggorakkan rasanya terbakar," jawabnya sambil turun ingin membeli minum di depan jalan itu. "Aku juga mau turun mau beli minum, kalian berdua nggak usah ikut tetap di sini saja," titahnya seakan-akan dialah nyonyanya aku pembantunya. Mereka pun dengan asyik membeli minuman dan sambil mengobrol entah itu apa, tetapi terlihat Mas Ariel sangat kesal, mungkin si Lira bilang suaminya sudah meninggal tetapi orangnya masih hidup, heheh ... aku tersenyum getir. "Wah kesempatan ini pasang kamera di mobilnya Mas Ariel. Namun ada Raina, gimana nih atau nanti aja ya, jadi bingung, ide dong Rum, kamu kan terkenal dengan ide cemerlangmu, ting ... dapat hahaha .... "Arum Sayang mau nggak tolong Mamah?" "Tolong apa Mah?" "Gini Raina berdiri tutup mata, terus Mamah hitung sampai sepuluh baru buka ya?" "Buat apa Mah?" "Ada deh, kalau di kasih tau namanya bukan rahasia, cepatan tutupnya," pintaku pada Raina. "Ok lah, Yaina hitung mulai cekayang ya," jawabnya dengan tersenyum. Akupun mulai memasang kamera kecil dan tersembunyi, untungnya sudah dirakit tinggal di pasang. Hitungan Raina hampir mendekati sepuluh, ku putar otak dengan cepat hadiah apa yang akan kuberikan pada Raina tapi masih bingung. "Mah udah campai cepuluh, Yaina buka mata ya, loh teyus mana hadianya kok nggak ada Mamah Ayum bohong?" tanyanya dengan muka cemberut. "Ih Anak Mamah ini kok cemberut, ini hadiahnya yaitu kasih sayang Mamah untuk kamu." "Raina Sayang, tidak semua hadiah itu berupa materi atau barang atau benda sekalipun, dengan menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang itu adalah kado terindah menurut Mamah Arum. Jika kamu sudah dewasa kelak yang pasti kamu harus selalu menyayangi keluargamu," ucapku sambil memeluk Raina. Raina pun membalas pelukkanku dengan hangat. Kami asyik memeluk, tetapi dua orang itu lama sekali membeli minuman. Entah apa yang mereka berdebatkan. Terpaksa kubuyikan klakson mobil sebanyak 3 kali, agar segera meluncur ke rumah, mereka pun tersentak melihatku dengan tatapan nyalang ...ow seremm .... "Sudah beli minumnya atau ada lagi yang diobrolin serius banget kelihatannya?" selidikku. "Nggak ada, buruan masuk!" perintahnya terhadap Lira. Begitu juga dengan Lira yang nampak pasrah mengikuti Mas Ariel. Aku pun tersenyum bahagia, melihat mereka bertengkar kecil dan mobil Mas Ariel berhasil kusisipkan kamera pengintai itu. Sampailah kami di rumah yang luas dan megah dan di sambut tentu saja oleh mertuaku yang sok baik dan kakak ipar yang sok bijaksana dua perpaduan yang komplit bukan. Sampai di teras rumah, bukan aku yang di sambut sebagai menantu, tetapi Mamah dan Mba Sukma malah memeluk si Lira itu. "Duh, panasnya udah di ubun-ubun, tetapi ingat perkataan ibu harus tenang. Ok lah olahraga mulut dulu. "Apa kabar Sayang, gini dong ngumpul jadi seperti keluarga kecil bahagia," jawabnya dengan senyuman. Aku yang mendengarkan omongan mereka, seketika tersenyum kecut. "Eh, ada Arum, sekalian ya minta tolong bawakan barang-barangnya Lira, karena mulai sekarang dia tinggal di sini," suruh mamah mertua dengan kelembutan. "Maaf Mah, itukan barang-barangnya Lira, otomatis bawa sendiri aja lah, hitung-hitung olahraga supaya tetap langsing sedikit, ayo Sayang kita masuk," jawabku sambil membawa Raina ke dalam. "Iya Mah," jawab Raina yang membalas menggandeng tanganku. "Loh Arum, terus yang angkat nanti siapa kalah bukan kamu?" timpal Mba Sukma sambil aku berlalu pergi di hadapannya. "Kan ada Mas Ariel, Mah, masa tega Arum yang angkat tuh koper, banyak sekali pula nanti kalau Arum ambien siapa yang repot kalian juga 'kan?" jawabku seketika. Mereka kutinggalkan dengan banyak pertanyaan, pasti mereka pikir mengapa si Arum sekarang nggak mau disuruh-suruh lagi ... hihihi ... Akhirnya Mas Ariel lah yang membawa koper Lira itu masuk ke dalam rumah. Setelah kusuruh Raina masuk ke kamar duluan, aku pun memasang tatapan yang aneh pula ke Mas Ariel. "Ngapain kamu lihatin Mas sebegitunya kaya lihat hantu aja?" tanyanya sambil membawa koper besar sebanyak 3 koper entah apa yang ada di dalamnya, kelihatan sekali Mas Ariel bersusah payah membawanya. "Oh ya Mas, sampai kapan Lira tinggal di rumah ini?" tanyaku. "Terserah dia lah, mau tinggal sampai kapan, ini kan rumah dia juga," jawabnya dengan santai. "Siapa bilang rumah ini dia juga, maksud Mas apa?" kubalik bertanya. "Maaf-maaf, bukan gitu maksudnya, cuma bercanda kok, dia 'kan sepupu jauhnya mamah, jadi terserah dia mau tinggal di sini," jawabnya sedikit gugup. "Oh ya Riel, bawa aja ke kamar sebelah kamu aja ya di situ 'kan luas," jawab Mamah. "Aku nggak mau di situ, aku mau di kamarnya Arum, biar dia yang keluar dari kamar itu, boleh ya Mas?" tanyanya dengan manja. "Gimana Rum, boleh nggak Lira di kamarmu itu, nanti Mas janji deh buatkan kamar lagi yang bagus dari kamar itu sebelumnya," bujuk suamiku. "Iya toh Rum, kasihan si Lira ini, anaknya memang manja, jadi kalau nggak di turuti nanti dia bisa nekatan orangnya, kamu mau aja ya?" timpal mamah mertua yang baik. "Emm ... pasti giliran Mbak Sukma dengan ceramahnya yang bijaksana. "Iya loh Rum, sesama saudara harus saling tenggang rasa apalagi satu rumah nggak baik kita berselisih paham dosa itu mah!" "Terus Mas Ariel nggak apa-apa di kamar sebelah sama Arum?" tanyaku dengan pura-pura lugu. "Iya," jawab mereka serentak. "Maksudnya nggak apa-apa kok," jawab suamiku yang terlihat senang. "Kalau Arum sih No alias tidak sama dengan nggak mau la yau ..." "Aku pergi masuk ke kamarku dan bersantai ria di dalamnya, dan mereka masih melongo dengan jawabanku barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD