Berhubung hari ini hari Minggu, aku pun bersantai ria, segera ku aktifkan HP -ku yang terhubung langsung dengan CCTV. Aku tertawa geli melihat wajah mereka yangg sok menasehati orang lain tetapi tidak diterapkan pada dirinya sendiri.
Karena belum puas dengan jawabanku, akhirnya Mas Ariel datang menemuiku di dalam kamar.
"Apa-apaan kamu Dek, kenapa kamuu menjadi seperti ini?" tanyanya dengan penasaran.
"Apa maksudnya, Mas?"
"Iya kamu, kok sekarang kamu susah di kasih tahu, apa salahnya sih tinggal pindah aja, toh di rumah ini banyak kamar, kamu tinggal pilih saja, nggak ribet 'kan?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Nah itu tahu banyak kamar, ya tinggal pilih saja, nggak ribet 'kan?" aku balik bertanya.
"Sekarang kamu berani menjawab, sejak kapan kayak gini, hah?"
"Sejak kapan juga Mas, menjadi seperti ini, ngapain juga Arum harus pindah kamar, ini bukan masalah kamarnya Mas, tetapi etikanya, adabnya, apa salah Arum mempertahankan kamar ini yang selamai 5 tahun Arum tempati sekarang dengan seenaknya kamu nyuruh Arum pergi ke kamar lain hanya karena permintaan sepupumu itu," terangku denganya.
"Kenapa Mas, atau jangan-jangan dia bukan sepupumu tetapi selingkuhanmu iya?" tanyaku dengan mata memerah.
"Ka ...kamu ngomong apa sih nggak jelas banget, ya ndak lah bukan begitu maksudnya dia 'kan habis di tinggal suaminya, jadi dia memang sedikit manja" kilahnya.
"Kamu itu Mas, masalah kamar di rebutin, lagian kenapa Mas nggak kasih tahu kalau kita kedatangan tamu malah suruh tinggal menetap lagi, apa maksudnya coba?" selidikku
"Itu ... itu karena ... anu eh gini,"
"Jawab Mas, kok jadi gugup hayo ada apa?" godaku.
"Gini ya Mas, selama dia tinggal di sini harus mengikuti aturan rumah di sini, kamu tahu 'kan Mas, Arum paling nggak suka namanya kebohongan, kepalsuan sekali Mas berbuat jangan harap bisa mereda."
Kulihat Mas Ariel sedikit gugup, terlihat keringat sudah bercucuran seperti mandi keringat, rasain emang enak loh di kerjain balik, kamu suka 'kan yag beginian, main kucing-kucingan ... hihihi," tawaku dalam hati.
"Rum, Arum ke sini bentar dong!" teriak Mbak Sukma yang melengking.
"Tuh, Arum di panggil, udah mau keluar dulu."
Akupun keluar di ikuti Mas Ariel yang mengekori aku dari belakang.
"Ada apa sih Mba, teriak-teriak?" sungutku.
Terlihat mereka masih duduk dengan santai sambil menonton tv dan tentu saja koper besar milik Lira masih berada di luar, dia enggan masuk ke kamar yang lain, tetapi aku tak perduli sampai kapan dia bertahan.
"Bikinin minum dong haus banget, sirup aja kali ya dingin enak banget terus tambahin dengan cemilan ya, sana buruan cepat," titahnya lagi.
"Maaf Mba kalau haus ya ambil sendiri, soalnya Arum mau masak dulu, tuh 'kan ada Lira suruh dia aja, katanya sepupu jauh ya minta tolong aja sama dia."
"Sekarang kamu berani ya membantah," tanyanya sengan emosi.
"Loh Mba ini, gimana sih tanganku cuma dua Mba, mana mungkin semua ku kerjakan sendirian."
"Biasanya juga selesai semua toh Rum?" tanya Mamah dengan lembut.
"Iya sih Mah, cuma akhir-akhir ini Arum kecapean pegal semua badan rasanya Mah."
Tiba-tiba terdengar suara bel dari luar rumah, segera ku hampiri tempat sumber suara itu.
Segera ku buka dan mempersilahkan mereka masuk, seketika itu juga mereka melonjak kaget dan hampir tidak percaya bahwa aku mengontrak 3 pembantu sekaligus, satu untuk baby sister, dan duanya untuk kebutuhan rumah tangga.
Sengaja kupilih ibu-ibu yang sudah tua berumur 40 tahun ke atas, buat jaga-jaga siapa tahu Mas Ariel hobi mengeloksi asisten rumah tangga juga.
"Apa-apaan nih Rum, siapa mereka?" tanya Mamah mertua dengan emosi.
"Sudah Mamah tenang dulu, mereka ke sini untuk menjadi asisten rumah tangga di sini, mereka sudah terampil loh, Mah?" jawabku dengan tersenyum.
"Kamu gila ya Rum, Mamah 'kan nggak suka kalau ada orang asing yang masuk ke rumah ini, apa kamu nggak kasihan lihat Mamah jantungan.
Mereka pun terkesima atau lebih tepatnya terkejut.
"Makanya Mah, rumah ini kan luas, Arum nggak sanggup lagi membersihkannya lebih baik ada yang bantu Arum di rumah," kilahku.
"Kamu sekarang kok jadi keras kepala gini sih, susah di atur sekarang, mengapa Rum?"tanya Mamah dengan heran.
"Loh, sekarang Mamah pikir dong, rumah seluas ini Arum yang kerjakan sendiri ya cape Mah, tuh lihat tangan Arum kapalan semua, lagian kata Lira waktu di mobil jadi perempuan itu jangan taunya di sumur, di dapur dan di kasur tetapi harus merawat diri sendiri juga supaya suami kita nggak jajan di luar lagi, iya kan Lira kamu ngomong gitu'kan, kasih tahu dong ke Mamah jangan diam aja kaya patung," sahutku.
Kulihat Mamah memandang Lira, dan dia pun hanya diam dan diam.
"Maaf, ada sedikit masalah biasalah namanya juga menantu kesayangan, ledekku.
"Silahkan duduk dulu."
"Jadi gini Mah, mereka ini sistem kontrak selama 2 tahun, dan selama itu mereka tidak bisa seenaknya keluar tanpa keterangan yang jelas dan bila mereka keluar sebelum batas waktu yang di inginkan maka mereka akan terkena sanksi yaitu membayar denda 20%."
"Bentar saya ambilkan dulu dokumennya.
Akunpun berlalu untuk mengambil surat perjanjian itu. Sudah lama aku persiapkan tetapi belum waktunya aku keluarkan dan inilah saat yang tepat untuk itu.
Ini Bu, silahkan di baca dulu kalau sudah baru tanda tangan," ucapku kepada 3 ART itu.
"Kami mengerti semuanya dan siap untuk tanda tangan, Bu."
"Mereka pun tanda tangan dan aku mengabadikannya di ponsel kameraku.
Setelah itu copy annnya mereka pegang dan aslinya aku pegang.
"Terima kasih, sudah mau bergabung di kekuarga kami."
"Apa, kamu anggap keluarga, baru kenal hari ini sudah dianggap keluarga, gesrek otak istrimu nih Mas," sahut Lira dengan sombongnya.
"Apa bedanya sama kamu, baru juga kita kenal sudah di anggap sepupu, apa sepupu ketemu gede,?" ledekku.
Mas Ariel hanya terdiam, entah apa yang ada di pikirannya sekarang.
"Perkenalkan nama kalian kepada mereka."
"Baik Neng, nama saya Mbok Darmi saya yang bertugas membantu mengurus keperluan Non Raina."
"Saya Mbok Sarmi dan Mbok Tini kami berdua bertugas membantu Neng Arum mengurus rumah."
"Terserah kalian saja, yang penting rumah harus selalu bersih dan rapih," sahut Mamah mertua.
"Mari Mbok, Arum antar ke kamar kalian."
Aku pun berlalu menigggalkan mereka dan mengantarkan ke kamar mereka masing-masing.
"Duh Rum gede banget rumahmu nduk, pantes aja tanganmu kapalan kaya tukang panggul di pasar ... hahaha ..." ucap Mbok Darmi.
"Kenapa nggak dari dulu cari pembantu, mau-maunya kamu maksa kerjain ini semuanya?" sahut Mbok Sarmi.
"Pantesan saja ibumu marah, jangan juga terlalu polos Rum, kamu itu di manfaatin sama mereka, uuhhh ... gregetan aku, pengen cepat-cepat tak kerjain mereka," timpal Mbok Tini.
"Sudah-sudah sekarang kita sudah di sini, jadi sudah waktunya beraksi, sekarang apa yang kami lakukan neng, tenang aja selama kami di sini semua akan beres terkendali," jawab Mbok Darmi.
"Makasih ya Mbok, kalian memang pengasuhku yang setia dan baik, kalian sudah Arum anggap sebagai keluarga sendiri," jawabku dengan memeluk mereka.
"Sama-sama Neng, kami juga membalas kebaikan keluarga Neng Arum berkat kalian keluarga kami terangkat dan berhasil menggapai cita-cita anak-anak kami, jadi sepantasnya kami menolong Neng Arum beginian kecil kami mah," jelas mereka dengan tersenyum.
"Ya sudah, sekarang seperti biasa aja dulu, bersih-bersih santai, untuk selanjutnya nanti kita pikirkan rencana selanjunya," ucapku dengan senyuman.
Setelah menagntarkan mereka ke kamar, aku kembali ke ruang tengah melihat ekspresi Mamah mertua dan lainnya yang masih duduk sambil melanjutkan acara nonton TV tentunya dengan Lira yang bergelayut manja di samping suamiku.
"Rum, buatkan kopi ya," terdengar teriakan suamiku padahal aku belum sampai di ruang tengah, terpaksa belok ke dapur dulu sekalian membuatkan kopi kesukaannya, dengan tambahan s**u cream 2 sendok, gula setengah sendok teh, di tambah kayu manis sedikit menambah citra rasa yang harum dan manis.
Setelah selesai membuat kopi untuk Mas Ariel, langsung kubawa ke ruang tengah.
"Ini Mas, kopinya," ucapku singkat.
"Makasih ya Rum kopinya, kamu memang pintar membuat kopi," puji suamiku.
"Terus aku nggak di buatkan minum Rum, masa Mas Ariel aja?" tanya Lira yamg masih duduk berdekatan di samping suamiku.
"Nggak buat aja sendiri," jawabku menyelonong pergi ke kamar Raina.
"Eh, tunggu mau kemana kamu, buatkan dulu minumku?" teriaknya dengan emosi.
Kubuka percakapan mereka melalui HP-ku setelah di pasang juga perekam suara di ruang tengah yang biasa mereka melakukan percakapan atau bersantai ria di sana. Jadi sekarang aku tidak susah-susah menguping pembicaraaan mereka lagi.
"Mas, gimana sih katanya istrimu itu nurut sama kamu, lugu, polos, nggak membangkang, buktinya apa dari kita di rumah mertuamu yang sok kaya itu sampai pulang nggak ada tuh lemah lembutnya, malah bertingkah kaya preman, bar-bar gitu sikapnya, kalau kaya gini aku bisa stres dong Mas, aku nggak mau ya kecantikkan luntur gara-gara selalu berantem sama dia?" sungutnya dengan kesal.
"Iya nih, Mamah juga lihatnya begitu kok nggak mau nurut dianya, apa ramuan itu sudah habis stocknya," tanya Mamahnya.
"Bukan stocknya habis Mah, cuma seharian kan kita nggak ketemu Arum lagian dia nginap di rumah Ibunya, otomatis dia nggak minum ramuan itu," sahut Mbak Sukma.
"Berarti kita kasih lagi di minumnya, sebelum dia bertindak yang aneh-aneh lagi, Mamah ogah ya jika kartu kredit Mamah di blokkir sama dia," jawab Mamah dengan ketus.
"Apa, selama ini berarti aku di guna-guna, wah nggak benar ini, berarti aku harus kasih tahu Ibu dengan cepat."