Anton melirik Alia yang kini sedang menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan tawa yang ingin lolos. Anton meraih sendok, berniat menyentil kening Alia dengan sendok tersebut, tapi Alia yang sudah membaca gelagat Anton sontak menghindar dibarengi derai tawanya yang lolos begitu melihat raut wajah Anton yang merah padam menahan amarah. Melihat Alia tertawa dengan lepas membuat rasa kesal Anton semakin menjadi, tapi ia tak bisa melakukan apapun karena itulah sifat Alia sejak dulu. Jahil. "Loe buat Sein badmood Al," dengusnya. "Sorry," sahut Alia di sela tawanya yang tidak kunjung berhenti. Anton menatap sinis Alia sambil melambaikan tangan kanannya pada pelayan. "Saya minta bonnya," ujarnya saat pelayan yang tadi ia panggil sudah berdiri di sampingnya. "Baik Pak."

