COPY RIGHT:
Express Wedding
©Evathink
Sumber gambar sampul: Flower photo created by freepic.diller - www.freepik.com
Cerita ini adalah fiktif.
Bila ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Penulis tidak ada niat untuk menyinggung siapapun.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun (seperti cetakan, fotokopi, mikrofilm, VCD, CD - Rom, dan rekaman suara) tanpa izin penulis.
Hak Cipta dilindungi undang-undang
All right reserved
-----------------------
-----------------------
Prolog
“Beatrice!”
Langkah kakiku yang sedang menyusuri anak tangga menuju lantai dua, terhenti. Rumah yang sepi tiba-tiba bergema oleh suara Papa. Aku tidak menyangka kalau Papa belum tidur.
Aku menoleh, dan melihat Papa sedang berdiri di ujung tangga dengan wajah serius. Aku menahan helaan napas kesal. Jangan bilang kalau Papa marah atau ingin bicara padaku sekarang. Ini sudah hampir pukul dua belas malam. Setelah berpesta ria di acara ulang tahun Dania, sahabatku, aku hanya ingin meluruskan badan dan memejamkan mata.
“Papa ingin bicara!”
Suara Papa kembali menggema di rumah yang besar dan megah ini.
Aku mengerucutkan bibir, agar Papa tahu kalau aku sedang tidak ingin bicara. Apa yang sangat penting hingga harus dibicarakan pada waktu selarut ini? Paling-paling Papa mau menegurku lagi karena pulang larut malam.
Sebenarnya aku tidak seliar mana, aku hanya menikmati hidup bersama teman-teman. Aku bosan di rumah sendirian. Seharian Papa sibuk mengurusi bisnisnya. Mama sudah lama tiada. Belum lagi aku anak tunggal.
Dengan malas-malasan aku turun dan melangkah mengikuti Papa ke ruang keluarga. Sambil menguap, aku duduk di sofa berhadapan dengan Papa.
“Besok kamu harus menikah dengan Elvan.”
“Apa??” Apa aku tidak salah dengar? Tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba Papa menyuruhku menikah dengan Elvan. Siapa Elvan, aku juga tidak kenal.
“Papa sudah tidak bisa mengontrolmu. Biar suamimu saja yang melakukannya!”
“Tapi, Pa ….” Oh, please! Aku tidak berbuat aneh-aneh. Aku tidak konsumsi n*****a, tidak freesex. Just having fun with my best friends, harusnya tidak salah, kan?
“Papa …, aku masih muda …,” rayuku, berharap Papa membatalkan niatnya. Tidak mungkin aku menikah ekspres dengan pria yang sama sekali tak kukenal. Lagi pula umurku baru 22 tahun, masih terlalu muda untuk mengemban status istri.
“Pokoknya Papa tidak mau tahu, sekarang kamu tidur, besok bangun pagi-pagi, acara pernikahannya pukul sepuluh.”
Tidak! Aku tidak mau menikah. Ini gila. Tidak mungkin dalam sehari aku sudah harus menikah dan menjadi istri pria tak dikenal. Ini benar-benar gila!
“Papa, aku tidak mau!”
Namun Papa seperti tuli. Beliau terus melangkah tanpa menoleh. Aku berdiri dan mengentakkan kaki dengan kesal. Apa sebaiknya aku kabur saja untuk menghindari pernikahan ini?
***
Love,
Evathink
(i********:/Youtube/Play buku/k*********a: evathink)
*jangan lupa Follow juga akun Dreame & Innovel saya, ya teman2, agar kalian mendapat notif dari saya.
btw, please sentuh love dan komennya, teman2. Love dan komen dari kalian, sangat berarti untuk saya. Terima kasih.