Part 1
Beatrice POV
“Trice, bangun.”
Sebuah suara yang lembut samar-samar menembusi genderang telingaku, mengganggu tidurku yang sangat nyenyak.
“Bangun, Trice, sudah pukul tujuh.”
Lagi-lagi suara itu …. Aku makin menarik selimut menutupi hingga ke ujung kepala, tapi kembali disingkap olehnya.
Dengan malas-malasan aku membuka mata dan melihat satu sosok yang sangat kukenal, yang akhir-akhir ini mengisi siang dan malamku.
“Bentar lagi.” Aku kembali menarik selimut dan memejamkan mata.
“Trice ….”
Akhirnya dengan kesal aku menyibak selimut dan membuka mata. Kupandang wajah tampan yang sedang berdiri di samping ranjang yang menatapku dengan sorot lembut itu.
“Ada apa? Baru pukul tujuh!” kataku kesal. Bibirku langsung mengerucut dengan wajah bertekuk sepuluh.
“Aku harus ke kantor lebih pagi hari ini, ada rapat jam delapan nanti. Ayo bangun, bikinkan sarapan.”
Aku makin cemberut. Dengan malas-malasan aku bangun. Sudah tiga bulan aku menjadi istri Elvan Madava, anak sahabat papa. Pria tampan berumur 33 tahun itu berkulit bersih dengan rambut hitam pekat dan hidung mancung.
Seumur hidup, aku tidak pernah berkhayal akan menikah dengan pria seperti Elvan. Walau dia sangat tampan dan kaya-raya, tapi menurutku, dia terlalu lembut untuk ukuran seorang pria. Oke, dia tidak kemayu, tapi dia selalu lembut …, tidak pernah marah-marah, tapi malah sangat murah senyum dan dan penyabar.
Ah …, Elvan bukan pria idamanku. Meski begitu, aku terpaksa menerima Elvan karena Papa.
Dengan setengah hati, aku turun dari ranjang. Sekilas, aku masih bisa melihat Elvan sedang memakai dasinya. Dia terlihat tampan seperti biasa. Sayang, sikapnya yang kurang manly, membuatku tidak tertarik.
Dengan langkah berat, aku menuju kamar mandi. Tidak sampai sepuluh menit, aku sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit sebatas d**a, dan mendapat kernyitan dahi Elvan, tanda dia heran karena aku mandi terlalu cepat.
Tanpa memedulikan Elvan, aku meraih pakaian dalam, baju kaus tanpa lengan dan celan jins pendek setengah paha, lalu kembali ke kamar mandi.
Lima menit kemudian, aku sudah selesai berganti pakaian dan menuruni anak tangga ke lantai dasar. Kulihat Elvan duduk di depan meja makan sambil memainkan ponsel.
Dengan gerak cepat, aku membuatkan kopi dan mengeluarkan cake lapis legit dari lemari—cake kesukaan Elvan.
“Mau ikut ke kantor?” tanya Elvan sambil meniup kopi yang masih mengepulkan uap.
Aku menggeleng. Aku tak pernah suka ke kantor Elvan. Aktivitas di sana terlalu sibuk. Stafnya mondar-mandir dengan langkah cepat dan membuatku pusing.
Elvan memiliki usaha di bidang distributor alat tulis yang berjalan sukses, yang sudah menggaet relasi hampir semua toko buku dan alat tulis di kota Batam.
Sudah berpuluh kali Papa menyuruh Elvan memaksaku bekerja di kantornya, tapi aku selalu berhasil menolak bila Elvan mulai membahas tentang itu.
Selama ini aku terbiasa hidup santai. Aktivitasku hanya berkumpul bersama teman-teman yang notabene juga anak orang kaya sepertiku.
Aku tak pernah pusing memikirkan pekerjaan atau uang. Setiap bulan, lima puluh juta siap masuk ke rekeningku dari Papa. Bahkan, sudah menikah pun, papa masih mengirim uang, dan membuat rekeningku makin gendut karena Elvan juga memberi uang saku yang tak kalah besar dari Papa.
Dari segi kebebasan, memang tidak bisa seperti dulu lagi. Aku sudah tidak bisa pulang larut malam, atau telingaku harus siap memerah diomeli Elvan dengan segudang ceramah tentang adab seorang istri.
Ah, Elvan, baik tapi cerewet. Dan mungkin karena itulah papa menikahkanku dengannya, supaya aku bisa menurut dan tidak seenaknya seperti dulu.
“Van, aku minta izin ya ..., nanti malam aku mau ke pesta ulang tahun Nadia,” kataku sambil mengambil satu potong cake lapis legit dan menyuap ke mulut.
Papa memang hebat. Lihat saja. Elvan berhasil menjinakkanku. Bahkan untuk ke pesta ulang tahun salah satu temanku saja, aku harus meminta izin darinya.
“Acaranya pukul berapa?” Elvan meraih sepotong cake, lalu menatapku.
Seketika dadaku berdebar. Sejujurnya aku benci bila harus merasakan debar ini saat ditatap olehnya. Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya, kan?
“Delapan …,” jawabku malas-malasan. Aku sudah tahu arti pertanyaan Elvan. Pasti dia mau menemaniku ke pesta itu, padahal aku tak ingin mengajaknya. Aku sangat tidak suka melihat teman-temanku yang berjenis kelamin wanita, mengerubunginya. Heran, mereka justru sangat kepincut pada Elvan yang lembut dan murah senyum. Bahkan, sampai ada yang bilang, senyum Elvan bisa meruntuhkan hati setiap wanita. Uff ….
“Oke. Nanti aku temani.” Elvan berdiri.
Tanpa menunggu responsku, Elvan mencium keningku dan berpamitan. Aku hanya bisa termangu dan membeku di kursiku. Debar-debar masih terus menyapa dadaku.
Elvan ….
***
bersambung ...
Follow i********:: Evathink