“Kenapa? Apakah ada masalah?” Leo dengan santai menanyakan hal itu.
“Apa tidak terlalu cepat?”
“Tidak. Toh, cepat atau lambat, kamu juga akan tetap menjadi istriku. Lalu, apa bedanya?” tanya Leo sambil lalu.
“Tapi ….”
“Kenapa? Apa kamu berubah pikiran?”
Adeline terdiam sejenak. Memikirkan perkataan Leo yang benar. Mau cepat atau lambat, mereka akan tetap menikah dan menjadi sepasang suami istri.
“Tidak.”
“Bagus.” Entah itu sebuah pujian atau bukan. Adeline hanya bisa menurut dan ikut bersama dengan designer itu.
Ketika sudah selesai mengukur tubuh Adeline untuk membuat gaun pernikahan, Leo langsung membawa Adeline menuju sebuah studio foto. Untuk yang satu ini, tentu saja Adeline sudah tahu tujuan pria itu. Berfoto sebelum mereka menikah. Menyimpan kenangan yang seharusnya menjadi kenangan paling indah namun untuk yang satu ini malah sebaliknya.
“Mempelai wanita, lebih dekat lagi,” ucap sang fotografer ketika Adeline terlihat sangat kaku berdiri di dekat Leo.
Ini adalah pertama kalinya bagi mereka berdiri dengan jarak yang sangat dekat. Adeline tentu saja merasa canggung, dan harusnya Leo juga merasakan hal yang sama.
Namun, Adeline merasa pria itu malah bersikap biasa saja. Tidak merasakan apapun seperti seorang pria yang sudah biasa berpelukan dengan seorang wanita.
“Mohoh maaf, Nona. Bisakah Anda memeluk Tuan Kane dengan benar? Karena sejak tadi kita belum mendapat foto yang cantik,” ucap fotografer tersebut.
Adeline menjadi merasa bersalah dan tidak nyaman di saat bersamaan. Dengan ragu-ragu, dia merangkul pinggang Leo dan tersenyum ke arah kamera. Namun, sang fotografer tetap saja tampak tidak puas dengan usaha yang Adeline kerahkan.
Tiba-tiba Leo menarik Adeline dengan sebelah tangan yang merangkul erat pinggang calon istrinya itu. Menatap Adeline dengan tatapan yang dalam dan mampu membuat wanita itu hanya menlihat ke arahnya.
Dalam sekejap Adeline tidak bisa bergerak. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang efek, dia sampai menahan napas supaya Leo tidak mendengar debarannya. Kemudian tanpa basa-basi, Leo memajukan wajahnya dan membuat kedua bibir mereka saling menempel. Mata Valerie terbuka lebar namun tubuhnya tidak bisa bergerak.
Sang fotografer pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mengambil gambar beberapa kali untuk dipilah lagi di sesi akhir.
Sesaat Leo hanya membiarkan bibir mereka menempel tanpa melakukan gerakan apapun. Dia membiarkan Adeline beradaptasi supaya wanita itu tidak takut dengannya di kemudian hari.
Akhirnya sesi foto pra wedding itu selesai dengan hasil yang memuaskan. Tidak perlu waktu yang panjang untuk mereka mengambil foto. Karena Leo selalu punya cara untuk membuat foto memiliki hasil akhir yang memuaskan.
Setelah berfoto, Leo mengajak Adeline untuk makan malam di sebuah restaurant. Mengisi perut sebelum akhirnya mengantar wanita itu pulang.
“Kamu tidak menyukai makananmu?” tanya Leo ketika dilihat Adeline hanya mengaduk sup di depannya.
Malam ini terasa sangat dingin bagi Adeline. Suhu di luar sudah mencapai sepuluh derajat. Mungkin karena bulan ini sudah mulai memasuki musim gugur. Jadi, dia memilih semangkuk sup untuk menghangatkan tubuh.
“Ah? Ti-tidak. Aku hanya ….” Adeline tidak mungkin bercerita bahwa dia masih mengingat bibir mereka yang saling bersentuhan. Untuk pertama kalinya bibir mereka menempel.
“Kamu lelah?” tanya Leo lagi.
Adeline menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dia tidak bohong. Tubuhnya memang sedikit lelah hari ini.
“Habiskan makananmu, nanti ku antarkan pulang.”
Adeline menurut, dia menghabiskan makanannya sampai tak bersisa. Hari yang melelahkan dan membuat lapar.
Setelah selesai makan, Leo benar-benar mengantar Adeline pulang ke rumah. Bukan rumah Dalton, melainkan ke mewah yang berada di pinggiran ibu kota.
“Leo, kenapa kita ke sini? Ini rumah siapa?”
“Rumahku.”
“Apa?” Pikiran Adeline langsung tertuju pada kejadian tadi siang. Ketika bibir mereka saling menempel dan bahkan bibirnya hampir dilahap pria itu. Dia langsung membuat Gerakan menyilang di depan d**a.
Tak!
“Aww!” Leo tiba-tiba menyentil keningnya.
“Kenapa kamu menyentil keningku?” tanya Adeline, suara yang agak meninggi.
“Pikiranmu terlalu jauh! Untuk apa kedua tanganmu menyilang di depan seperti itu? kamu pasti sedang memikirkan sesuatu yang tidak-tidak!”
Adeline tidak bisa membantah karena hal itu memang benar. Dia mengira Leo sengaja mengajaknya ke rumah pria itu supaya mereka bisa melakukan hubungan yang seperti itu.
“Lalu, kenapa kamu mengajakku kemari?” tanya Adeline dengan perasaan yang masih kesal.
“Tentu saja supaya kamu bisa beristirahat.” Leo membuka pintu mobil dan mengajak Adeline untuk turun.
“Tidak mau! Pulangkan aku ke rumah Pak Dalton!” serunya dengan posisi masih duduk di kursi mobil.
“Tidak akan! Aku tidak mau kamu tinggal satu atap dengan seorang pria.”
“Dia itu Pak Dalton. Orang kepercayaan mendiang ayahku!” Adeline memalingkan wajah.
“Tapi dia tetap seorang pria. Aku tidak mau kamu tinggal berdua dengan pria,” ucap Leo. Mencoba untuk bersikap sabar.
Adeline melihatnya, tersenyum kemudian berkata, “Oh, ya? Tapi kamu juga seorang pria.
Perkataan Adeline membuat wajah Leo menjadi masam. Pria itu segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Adeline.
“Turun dan ikuti aku!” ujar Leo dengan nada suara yang masih tenang.
“Tidak mau!” balasnya keras kepala.
“Adeline Rothwell! Kubilang, turun!” Leo benar-benar menahan amarahnya kali ini. Tidak pernah ada seorang pun yang membantahnya. Tapi wanita bernama Adeline ini, malah berani membantah perintahnya di depan semua penjaga rumah.
“Sudah kubilang bahwa aku tidak mau! Lebih baik kamu kembalikan aku ke rumah Pak Dalton. Dia pasti khawatir dan sedang mencariku saat ini,” balasnya memohon.
Leo memejamkan mata dan memijit pelipisnya. Kali ini dia sadar bahwa pekerjaan yang paling melelahkan bukanlah pekerjaan sehari-hari dengan laptop dan beberapa berkas penting di meja kerjanya. Tapi, pekerjaan yang paling melelahkan adalah membujuk Adeline untuk mau menuruti perintahnya.
“Selagi aku masih berbicara secara baik-baik, lebih baik kamu turun dan menuruti perkataanku,” ucap Leo dengan nada penuh penekanan.
Saat ini Adeline sudah mulai terintimidasi. Namun, ia tidak ingin kalah dari pria itu. Dia akan tetap dengan pendiriannya dan meminta untuk dipulangkan.
“Aku tidak mau! Aku tidak peduli dengan kemarahanmu. Yang aku pedulikan adalah, kamu harus kembali memulangkanku ke rumah Pak Dalton. Lagi pula kamu juga seorang pria. Dan aku jauh lebih khawatir jika aku bermalam di rumahmu,” balas Adeline, tangannya bersedekap, senyum kecil menghiasi bibirnya.
Leo mengusap wajahnya gusar. Sepertinya Adeline tidak akan pernah menurutinya. Jadi, mungkin dia harus sedikit melakukan kekerasan supaya wanita itu mau menurut.
Leo menundukkan tubuhnya dan sedikit memajukan kepala. Adeline menahan napas, posisi mereka sangat dekat!
“Ka-kamu mau apa?” tanya Adeline gugup.
Leo hanya diam saja dan tidak menjawab.
Ceklek!
Seatbelt yang dikenakan Adeline sudah terbuka kemudian ….
Bersambung~~