“Hei! Kamu mau apa?” tanya Adeline emosi. Ada sedikit ketakutan dalam hati. Namun, wanita itu tidak terlalu memperlihatkannya karena merasa jika ia terlihat takut, Leo akan semakin senang mempermainkannya.
Hap!
Dengan satu gerakan, Leo mengangkat Adeline seperti sedang memanggul sekarung beras. Seakan wanita itu adalah sebuah benda dan bukannya manusia.
“Hei! Turunkan aku!” Adeline hanya bisa berteriak dan memukul punggung Leo.
Namun, semakin dipukul, cengkraman pria itu di kedua kakinya malah semakin erat. Membuat Adeline berhenti untuk memukul pria itu.
“Hei! Turun—”
Brakk!
Leo menurunkan Adeline dengan kasar ke atas ranjang. Membuat tubuh mungil wanita itu agak terantuk dan sedikit memantul.
Adeline segera bangun hendak memberi perhitungan dengan pria itu. Namun, terhenti ketika melihat wajah Leo yang sudah memerah dan terlihat sangat menakutkan.
“Berhenti membantah dan lakukan saja seperti yang aku perintahkan! Jika kamu berani padaku, aku tidak akan segan untuk membuat perusahaanmu hancur sampai tidak ada seorang pun yang bisa menolongmu!” setelah mengucapkan kalimat ancaman seperti itu, Leo segera pergi dari kamar itu.
Setelah pintu tertutup dengan sempurna, barulah Adeline bisa bernapas dengan lega. Mengingat wajah Leo tadi, sepertinya dia sudah mulai harus belajar untuk menerima kenyataan bahwa boss di sini bukan dia lagi. Melainkan pria aneh yang selalu memaksakan kehendak.
Adeline mengambil ponsel dalam tas kemudian menekan nomor milik Dalton. Setidaknya dia harus memberitahu pria paruh baya itu supaya tidak khawatir mengenai keberadaannya.
“Halo, Pak Dalton?”
“Iya, Nona.”
“Saya akan menginap di rumah Leo malam ini.”
“Oh, iya. Tidak apa-apa.”
“Oke, saya hanya ingin mengabari hal itu.”
Setelah mengucapkan beberapa kata, Adeline memutuskan sambungan telfon dan menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. Namun, dia teringat sesuatu.
“Kenapa Pak Dalton bersikap biasa saja? Padahal ‘kan dia tahu aku dan Leo baru saja berkenalan,” ucapnya bermonolog.
Adeline terus berpikir kenapa Dalton dengan mudah mengiyakan. Padahal biasanya pria itu yang paling protective dengannya setelah mendiang sang ayah.
“Apa Pak Dalton mengenal Leo sebelumnya?”
Adeline menggelengkan kepala. Menyadari bahwa tidak akan mendapat jawaban jika dia hanya berpikir keras seperti ini. Biarlah besok ia tanyakan lagi pada Dalton. Sekarang dia harus tidur dan beristirahat setelah hari panjang yang melelahkan.
Setelah selesai membersihkan diri, Adeline membuka pintu lemari yang berada di kamar itu. Melihat isinya yang ternyata lengkap dengan pakaian wanita. Ada juga beberapa mantel bulu dengan brand ternama di dunia.
“Ya Tuhan! Pakaiannya banyak sekali! Apa pria itu memang menyiapkan ini untukku?” tanya Adeline agak sedikit percaya diri.
Dia mengambil setelan piyama berwarna biru muda. Memakainya dan melihat bahwa piyama tersebut ternyata terlalu besar untuknya. Seketika dia menyadari bahwa pakaian-pakaian yang ada di lemari, bukan disiapkan khusus untuknya.
“Aku lupa kalau kami baru saja bertemu dua kali. Pria itu pasti memiliki wanita lain yang juga tinggal di rumahnya. Mungkin sekarang mereka sedang tidur bersama karena aku menginap malam ini.”
Adeline berjalan menuju ranjang kamar itu dan baru menyadari kalau ternyata kakinya sedikit sakit. Dia berhenti sejenak untuk melihat keadaan kakinya. Di saat itulah dia menyadari ada sedikit memar di paha belakang.
"Dasar pria menyebalkan! Dia pikir aku itu apa? Seenaknya saja membawaku dengan posisi seperti sedang memanggul beras!"
Mengingat cara Leo membawanya masuk, membuat hati Adeline menjdi panas. Ingin sekali dia melayangkan cakaran ke wajah tampan pria itu.
Namun, melihat betapa menyeramkan pria itu ketika marah, membuat Adeline mengurungkan niat untuk melakukan hal itu.
"Pria kurang ajar! Aku pasti akan membalasmu!"
Ceklek!
"Bicara apa kamu?"
Suara pintu yang dibuka ditambah dengan suara pria yang sudah mulai Adeline kenal membuatnya terjingkat terkejut. Wanita itu membalikkan tubuh dan melihat Leo sedang berjalan santai ke arahnya.
"Aku tidak berkata apapun!" Adeline berkilah. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya bahwa dia sudah mengumpat pria itu di belakang.
Leo hanya diam sembari menaruh sebuah kotak bewarna putih di atas ranjang. Mengeluarkan salep dan duduk di bibir ranjang.
"Kemarilah!" perintahnya dengan ekspresi datar dan nada suara yang dingin.
"Tidak mau!" Lagi-lagi Adeline dengan berani membantah perintaha Leo.
"Adeline ... kemari," geramnya dengan penuh penekanan.
Adeline menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia tidak bisa membantah lagi dan memilih menurutinya.
"Berbaring telungkup!" perintahnya lagi.
"Dasar Tuan Perintah!" Adeline menggerutu.
"Aku mendengarnya," ucap Leo membuat Adeline menunduk takut.
Adeline menuruti perintah Leo. Dia berbaring di ranjang dengan posisi telungkup. Tiba-tiba Leo melakukan gerakan yang membuatnya terkejut. Reflek dia bangkit dan memelototi pria itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Adeline sedikit berteriak. "Kamu pikir, aku wanita seperti itu?!"
"Memang kamu wanita seperti apa?" tanya Leo dengan santai.
"Isshhhh .... Kamu itu sangat menyebalkan! Kenapa kamu menyingkap celana ku?"
Leo memerlihatkan sebuah salep di tangan. "Aku ingin mengobati luka memar di pahamu," ucapnya santai.
Deg!
Adeline terdiam. Sejak tadi pikirannya selalu saja mengarah ke hal yang seperti itu.
"Otak kotor!" ujar Leo.
Mulut Adeline terbuka lebar karena terkejut mendengar perkataan yang Leo ucapkan untuknya. Mengatai dirinya memiliki otak yang kotor karena sejak tadi berpikir ke hal yang seperti itu.
"Berbaring dengan benar supaya aku bisa mengobati memar di pahamu. Memang kamu mau memiliki bekas luka memar di tubuh yang kamu banggakan itu?" ucapan Leo berhasil membuat Adeline menurut. Wanita itu kembali berbaring menelungkup dengan dagu yang bertopang pada sebuah bantal.
Adeline merasakan jemari Leo yang besar mulai menyingkap celana pendek yang dia kenakan. Membuat kulit putih yang selalu dia rawat terlihat di depan mata pria itu.
Sesaat tidak ada yang Adeline rasakan. Hanya embusan angin dari penghangat ruangan yang dirasakan kulitnya yang lembut.
"Hei! Kamu jadi mengobatiku tidak?" tanya Adeline ketika Leo tak kunjung mengoleskan obat memar di pahanya.
Beberapa saat setelah itu, barulah Adeline merasakan jemari panjang Leo di paha belakangnya.
Dengan lembut Leo mengoleskan salep di paha Adeline yang halus. Membuat wanita itu terbuai merasakan kelembutan yang Leo berikan.
Cukup lama Leo mengoleskan obat sampai secara tidak sadar pria itu pun juga menikmati menyentuh kaki Adeline.
Leo menggelengkan kepala,menepis segala pikiran kotor yang tiba-tiba hadir di kepala. Dia bukan pria tidak berpendidikan yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Dia tidak akan berbuat hal seperti itu pada seorang wanita.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara dengkuran halus. Leo bangkit dan melihat Adeline yang sudah tertidur.
Tersenyum kemudian dia membereskan kotak obat dan menaruhnya di atas nakas. Membenarkan posisi tidur Adeline dan melihat wajahnya yang polos ketika sedang tertidur.
Sesaat Leo terdiam, dia menggelengkan kepala dan menepis segala pikiran kotor. Leo memilih untuk bangkit dan pergi dari sana sebelum terjadi sesuatu yang memang sangat diinginkan.
Bersambung~~