Pagi itu Adeline bangun seperti biasa. Tidak ada yang spesial karena bagi Adeline kehidupan sudah tidak seindah ketika dia masih bersama dengan sang ayah dan hidup bahagia dengan mantan suami.
Adeline membersihkan diri dan menggunakan pakaian yang dia pakai semalam. Wanita itu merasa sungkan jika dia mengenakan pakaian yang berada di dalam lemari. Berpikir bahwa pakaian-pakaian itu bukanlah miliknya dan milik wanita lain.
“Selamat pagi, Nona Rothwell,” sapa seorang pelayan yang sudah berdiri di depan pintu kamar Adeline.
Adeline tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“Tuan Kane sudah menunggu Anda di ruang makan,” ucapnya lagi, kemudian mengantarkan Adeline ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, Adeline hanya menemukan Leo. Tidak ada siapapun termasuk wanita yang dikira Adeline tinggal bersama pria itu. Adeline mengedarkan pandangan untuk mencari keberaadaan wanita itu yang mungkin saja sedang berada di sudut ruangan yang lain, namun tetap saja dia tidak menemukan sosok wanita itu.
Adeline menggelengkan kepala. Seketika ia terkejut dengan jiwa penasaran yang tiba-tiba hadir di hatinya. Dia tidak boleh ikut campur dengan urusan pria itu. Tidak peduli Leo sudah memiliki wanita lain atau belum, Adeline sama sekali tidak berhak untuk mencampurinya.
“Kanu sedang apa?” pertanyaan Leo membuat Adeline terkejut dan menolehkan kepala ke arah pria itu.
“Ti-tidak apa-apa,” jawab Adeline tergugup.
Leo hanya diam melihatnya, itu membuat Adeline semakin gugup karena ditatap seperti itu.
“Kenapa kamu memakai pakaian yang semalam kamu pakai?” tanya Leo.
“Aku tidak mau mengenakan pakaian wanitamu. Cukup semalam ketika aku akan tidur,” ucap Adeline dengan santai. Dia duduk, bergabung bersama Leo.
“Wanita?” Leo bergumam.
Namun, Adeline sama sekali tidak mendengar. Dia sudah sibuk dengan sarapan yang disiapkan oleh pelayan. Pagi itu, Adeline menjadi sangat lapar. Hingga dia menghabiskan seluruh makanan yang dihidangkan untuknya.
“Apa kamu sudah selesai?” tanya Leo.
Adeline tidak menjawab. Dia merasakan sebuah dorongan lain di tubuhnya. Hingga terdengar suara sendawa yang sangat besar dari celah bibir Adeline. Dia langsung menutup wajah dengan kedua tangan karena malu.
“Maafkan aku,” ucapnya dengan kedua tangan yang masih berada di depan wajah.
Leo menundukkan kepala. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Hal itu tak lepas dari pandangan seorang pria yang mengarah padanya. Seorang pria yang sudah menjadi kaki tangannya sejak tujuh tahun lalu.
Leo tidak mengucapkan satu kalimat pun untuk menanggapi Adeline. Pria itu malah bangkit dan berjalan keluar dari ruang makan. Ketika langkah kakinya sudah sampai di ambang pintu yang memisahkan antara ruang makan dan ruang keluarga, pria itu berbalik dan melihat Adeline yang masih tetap pada posisi duduk.
“Apa yang kamu lakukan? Ayo!”
“Hah?” Adeline tidak menyangka bahwa Leo akan mengajaknya pergi. Dia pikir pria itu akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya pulang.
Ketika mereka sudah berada di dalam mobil, tak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Leo sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Adeline tidak tahu harus melakukan apa.
Perusahaan yang sejak enam bulan lalu dia perjuangkan, kini sudah tidak bersisa. Bahkan rumah pun dia juga sudah tidak memilikinya. Meski diantar pulang, Adeline tidak tahu harus kemana. Dia hilang arah dan tidak memiliki tujuan.
Adeline memalingkan wajah dan melihat Leo yang masih sibuk dengan sebuah tab di tangannya. Dia ingin menanyakan sesuatu mengenai perusahaannya. Tapi, Adeline merasa takut untuk bertanya.
Tiba-tiba bayangan tentang mendiang sang ayah hadir di benaknya. Membuat Adeline merasa gagal sebagai seorang anak yang seharusnya menjaga harta warisan sang ayah.
“Leo,” panggil Adeline memberanikan diri.
“Hmm.”
“Ishh ....” Adeline berdesis mendengar respon singkat yang Leo berikan.
“Kenapa?” tanya Leo lagi dengan pandangan yang masih tertuju pada tab.
“Aku ingin bertanya sesuatu,” ujar Adeline.
“Silakan,” balasnya singkat, dan dengan pandangan yang sama. Mengarah ke tab dan berbagai pekerjaan di dalam benda kecil itu.
Adeline tidak akan berbasa-basi lagi. Dia menyadari bahwa sifat pria itu memang seperti ini. Cuek dan cenderung tidak bisa mengalihkan perhatian ketika sedang bekerja. Persis seperti sang ayah ketika dia masih kecil.
“Bagaimana dengan janji yang kamu berikan untuk perusahaanku?” tanya Adeline.
Adeline menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia mengangkat kepala dan melihat Adeline yang berharap cemas.
“Kamu tenang saja. Aku pasti akan memberikan uangku untuk perusahaanmu. Tapi, nanti. Ketika kita sudah menikah,” setelah mengatakan hal itu, Leo kembali ke dunianya. Berkutat dengan tab dan memulai melakukan panggilan telfon dengan seseorang.
Adeline mendengar itu menjadi tidak puas. Itu artinya dia masih tidak memiliki rumah sebagai tempat tinggal. Dia juga belum berhasil mendapatkan kembali perusahaan.
Adeline melihat Leo sudah selesai dengan kegiatannya. Tiba-tiba Leo juga menolehkan kepala dan melihat ke arahnya. Saat itulah kedua mata mereka saling bertemu.
Adeline melihat kedua mata Leo yang berwarna agak kecoklatan. Seketika dia teringat dengan sosok anak kecil yang dulu pernah dia temui.
Adeline menggelengkan kepala. Tidak mungkin pikiran benar. Ada banyak orang dengan mata seperti itu. Dan Leo pasti adalah salah satu dari orang yang memiliki iris berwarna kecoklatan.
"Tapi ... bagaimana nasib—"
Drrrtttt... Drrrtttt...
Drrrtttt... Drrrtttt...
Ponsel Adeline bergetar, membuat ucapannya terhenti. Dia segera mengambil ponsel dan melihat nama yang tertera di layar.
Seketika sudut bibirnya terangkat. Untuk pertama kalinya, setelah diceraikan oleh pria b******k itu, Adeline bisa tersenyum dengan sangat cerah. Membuat pria yang duduk di sampingnya, mengerutkan dahi tidak suka.
"Halo?" sapa Adeline pada seseorang di sebrang sana. Dia mendengarkan orang itu berceloteh sebelum akhirnya membalas.
"Aku janji akan menceritakannya ketika kita bertemu nanti," ucap Adeline dengan senyum yang masih terkembang.
Leo berusaha keras mendengarkan ucapan seseorang yang melakukan sambungan telfon dengan calon istrinya. Namun, dia sama sekali tidak bisa mendengar apapun. Membuat hatinya semakin dipenuhi rasa penasaran.
"Baiklah! Kita bertemu ketika makan siang nanti di tempat biasa. Oke!" Setelah mengucapkan beberapa kalimat, Adeline menutup sambungan telfon tersebut.
Wajahnya masih dipenuhi senyuman bahagia karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan orang yang paling dia rindukan. Bahkan saking bahagianya, sepanjang perjalanan Adeline hanya tersenyum dan melupakan bahwa saat ini dia sedang berada di mobil seorang pria yang sejak tadi melihatnya dengan pandangan kesal.
"Kamu ada acara apa hari ini?" tanya Leo, seketika Adeline menyadari kehadiran pria itu.
"Ah? Nanti siang aku—"
"Kosongkan jadwalmu! Nanti kujemput ketika makan siang."
Whatt?? Tapi dia sudah ada janji. Adeline juga tidak mungkin membatalkannya.
"Jika kamj tidak mau, jangan harap aku mau membantu perusahaanmu!" seru Leo tidak peduli dengan janji yang sudah Adeline buat.
Bersambung~~