"Jadi ke rumah Ferril?" Ia mengangguk. Setelah lama menunda karena kesibukan dan rasa tak enak hati takut menganggu jika terlalu sering ke sana, ia akhirnya mulai bergerak. Dua hari yang lalu ia sudah sempat mendatangi kantor Ferril. Tapi sang sekretaris malah mengatakan kalau Ferril tak ada. Ada rapat penting lah, harus bertemu kolega lah, dan yaah berbagai kesibukan yang ia juga bisa mengerti. Sebagai penerus perusahaan keluarga, wajar rasanya kalau Ferril teramat sibuk. Ia memaklumi hal itu. Meski yaa pasti ada rasa dongkol lah. Padahal saat ia datang itu, Ferril ada. Sang sekretaris sempat mengiriminya pesan untuk bertanya karena Ferril memang sempat mengatakan kalau ia tak mau diganggu siapapun. Ferril kan sibuk dengan pekerjaan dan juga mengurusi urusan Fatih. Jadi ia ingin fokus

