Laki-laki yang dianggap baik dan sholeh oleh keluarga Titan di Semarang tidak lebih dari manusia bermuka dua. Kini dia sedang menunjukkan sisi lain dari dirinya di depan orang tua Titania. Setelah Ihsan memberikan peringatan pada Rafli agar menjauhi Putrinya. Laki-laki itu langsung bicara lantang dan tidak sopan pada pemilik rumah yang dia kunjungi. “Pak Ihsan ini hanya seorang Ayah yang tidak bisa mendidik Putrinya dengan baik! Jadi, tidak usah ikut campur dengan keputusan Eyang Uti yang akan menikahkan Titan denganku.” Ihsan menarik sudut bibirnya. Dia sudah hafal tabiat manusia sejenis Rafli. “Seperti apa Ayah yang baik menurutmu?” Rafli tidak menjawab. Dia justru melihat sekeliling ruangan mencari-cari keberadaan gadis yang terus saja mengabaikannya. “Titan dimana?” Ihsan membuka

