bc

My First Love

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
HE
neighbor
sweet
small town
like
intro-logo
Blurb

Kata orang tak ada yang bisa mengantikan indahnya cinta pertama, benarkah? Hati Anindya Bimbang ketika masa lalu masih menghantui dan masa depan merangkak masuk. Akankah dia kembali pada indahnya kenangan masa lalu atau ....

chap-preview
Free preview
Masa Putih Biru
“Kata mereka tak ada yang bisa mengantikan indahnya cinta pertama, benarkah?” “Mbak Na, boleh nggak aku ikut ke rumahmu?”  “Kamu nggak pulang ya? Nungguin ektra pramuka?” “Iya, kalua pulang capek dijalan.” “Ya wes ikut aja ke rumahku. Bisa istirahat sambal tidur lah daripada di sekolahan sepi juga.” “Makasih Mbak Na.” Siang itu selepas sholat jum’at berjama’ah di sekolahan akupun ikut ke rumah Mirna temanku sekelas.  Setiap Jum’at sore di sekolah kami mengadakan ektrakurikuler Pramuka yang wajib diikuti, anak kelas satu dan Dua. Nggak tiap minggu karena harus gantian sama anak kelas lain. Berhubung rumahku jaraknya lumayan jauh dari sekolah dan memakan waktu yang lumayan lama jika di tempuh dengan sepeda kayuh jadi kadang kami sering nggak pulang dan lebih memilih tinggal disekolahan atau ikut main ke rumah teman yang kebetulan dekat dengan sekolahan.  “Dah, istirahat dulu sana. Ntar kalau kurang 30 menit baru kita berangkat aku bangunin deh.” Begitu sampai dirumah Mirna dan masuk kamarnya aku sudah disuruh tidur saja sama dia. Dan aku turuti saja.  Kalau boelh jujur aku tuh nggak suka banget kegiatan gini, menghabiskan waktu dan capek banget. Tapi ya gimana lagi udah kewajiban jadi mau nggak mau ya harus di ikuti.  Jarak rumahku kesekolahan itu paling 5KM dan kita tiap hari berangkat dan pulang sekolah dengan mengayuh sepeda, bukan Cuma satu atau dua orang saja yang bersepeda tapi ratusan jadi tiap pagi dan tiap jam pulang sekolah jalanan pasti di penuhi sama anak-anak SMP kayak kita. Mulai dari kelas satu sampai kelas tiga udah kayak parade tiap hari nya.  “Yuk, Nin siap – siap berangkat yuk. Tapi kita mampir kerumahnya Mela dulu. Dia tadi pesan minta bareng tuh.” Dengan sedikit malas aku segera bangun dan bersiap berangkat ke sekolahan lagi.  Aku dan Mirna tiba di rumah Mela, Mela itu juga teman sekelasku, aku juga baru tahu kalau dia rumahnya dekat sini. Kami berdua nggak turun dari sepeda masih tetap diatas sedal sambal menunggu Mela keluar rumahnya.  “Oi, tunggu ya aku pakai sepatu dulu.”Mela yang melihat kami langsung nonggol dan segera memakai sepatunya. “Santai aja, nggak usah keburu. Masih lama kok masuknya.” Sahut Mirna. “Eh, nggak masuk dulu Mbak Na sama Anin?”  “Nggak kita tunggu disini aja dah. Kamu cepetan aja.” Tanpa sengaja aku melihat ke belakang rumah Mela, di sana aku melihat ana laki-laki dengan seragam sama kayak aku tiba-tiba lewat dan masuk rumahnya. Siapa ya? “Udah siap nih, yuk berangkat!” Mela yang sudah berada di tengah-tengah kami mengejutkan dan membuatku tersadar.  “Yuk, dah.” Tanpa banyak cakap lagi kami segera berangkat kesekolah.  Keesokan harinya waktu kelas lagi senggang aku samperin Mela di mejanya. Gara-gara rasa penasaranku kemarin.  “Mel, anak cowok di rumahmu kemarin siapa. Kok kayak pernah lihat?”tanyaku  “Oh itu kakak sepupuku. Kelas sebelah kok.” Jawabnya. “Ooo....” aku tak lagi bertanya ke Mela dan kami malah membahas acara TV.  Lagi asyik-asyiknya bahas acara TV si Linda dating dan menyerobot pembicaraan.  “Eh, pada asyik aja nih ngobrol gimana tuh hapalan asmaul husna? Dah hapal belom? Lumayan loh hapal asmaul husna nilai agama langsung 8 enakkan.” “Hmmm siapa juga yang nggak mau nilai agama dapat 8 tapi boro-boro hapal, aku baru juga hapal separuh udah lupa lagi lupa lagi.” “Sama aja nih, aku juga jangankan separuh 20 aja juga susah nggak tahu tuh apa otakku kotor ya banyak dosa jadi nggak bisa hapal-hapal.” “Hahahah... sama kayaknya. Kira-kira siapa ya yang hapal?” “ya nggak tahulah, lihat aja besok.”  Waktu berjalan dengan cepat nggak kerasa aku sekarang udah kelas dua, dan aku sudah nggak sekelas lagi sama Mela ataupun Mirna kita beda kelas, tapi ya tetap berteman baik. Masih sering ketemu pas di parkiran sepeda atau juga pas istirahat.  “Oke anak-anak sekarang buka buku paketnya ya, halaman tiga puluh lima, bab pekerjaan. Nah sekarang kalau udah dibuka bukunya, tugas kalian adalah buat percakapan tentang pekerjaan orang yang ada di gambar. Oke ya. Tiga puluh menit waktunya, nanti kalau sudah kalian kedepan buat peragain percakapan yang udah kalian buat.” Pak Amar yang guru Bahasa Inggris juga merangkap wali kelas kami anak kelas 2C mulai memberikan perintah.  Dengan gerak cepat, kami segera mengerjakan tugas yang diberikan. Tiga puluh menit akhirnya kelas sudah ramai Kembali karena anak-anak sudah selesai mengerjakan dan malah ngobrol sendiri-sendiri.  “Wah, udah pada rame ya berarti sudah selesai semua siap buat maju kedepan ya.”  “Siap pak.” “Siapa yang mau maju duluan?” Hening! Nggak ada yang bersuara. Ya jelas lah mana ada yang mau suka rela maju duluan. Kau aja juga nggak mau.  “Lho nggak ada yang mau maju duluan ini. Minta di panggil ta?”tanyanya beliau “Iya Pak”serempak kami menjawab “Ya udah kalau maunya di panggil Arga sama Candra, bisa maju ke depan sekarang!” “Nah sekarang coba Arga sama Candra peragain percakapan yang udah kalian buat ya. Anak-anak yang lain disimak jangan ramai dan tunggu giliran.” “Arga, do know mike Tyson?” Candra mulai percakapannya. “Yes, I know He is a boxer” “Candra Do you kenow Susi susanti?” “Arga bukan kenow tapi know. Kalau kenoer itu benang buat main layangan.”  “hahahhahaha...” meledaklah suara tawa satu kelas.  “Bapak tahu Arga suka main layangan tapi kenornya nggak usah dibawa-bawa sampai sekolahan ya.” Belum sempat tawa reda kami lagi-lagi ketawa dengan celetukan Pak Amar. Sementara di depan sana Arga mukanya sudah merah seperti udang rebus, mau kasihan tapi lucu jadi gimana dong.  Akhirnya sampai pelajaran selesai kami masih saja sibuk ngodain Arga dengan Do you kenownya.  Hari Jum’at lagi, Pramuka lagi. Sudah tahukan aku tuh anaknya nggak suka sama kegiatan-kegiatan beginian. Akhir-akhir ini karena temanku sekelas banyak yang nggak pulang waktu pramuka jadi aku biasanya ya cuma main di kelas aja, cuma kebetulan kali ini aku mau ikut lagi kerumahnya Mirna.  Dan pas mau balik ke sekolahan seperti biasanya kita jemput dulu Mela. Dan lagi-lagi saat kita nungguin Mela aku ngelihat anak cowok yang masuk kerumah dia lewat pintu samping, dan sepertinya aku ingat sekarang siapa anak itu. Dia kan temen sekelasku, si Arga, do you kenow. Jadi ternyata Arga saudaranya Mela. Wah, wah.  “Eh Mbak Na, ternyata Arga temenku sekelas itu saudara sepupunya Mela ya? Tadi aku lihat dia masuk rumah nya Mela tuh. “ “Arga? Saudara sepupu Mela? Kata siapa?”  “Nah ya kata Mela lah Mbak Na. Kan aku pernah tanyain dia dulu. Pas aku lihat dia ada dirumahnya Mela.” “Hahhaha,, di boongin kamu tuh sama Mela.”Mirna ketawa dengan mata yang nyaris tertutup. “Di boongin? Di boongin gimana?” tanyaku heran “Ya Ampun nin, tahu nggak Arga itu kakak kandunganya Mela. Jadi mereka itu kakak adik. Saudara kandung, bukan sepupu.”jelas Mbak Na “Hah, saudara kandung? Terus kenapa Mela bilangnya saudara sepupu?” “Mela aja tuh emang resek, malu dia kali ah.” “Malu kenapa emang? Mereka itu kembar ta?” “Bukanlah. Bukan kembar. Mela sama Arga itu beda setahun aja, cuma Arga dulu nggak mau sekolah kalau nggak bareng adiknya, jadilah mereka sekolahnya barengan, gitu deh ceritanya.” “Oalah,, terus kenapa juga harus malu, kan gak pa pa lagi.” “Tahu tuh Mela ada-ada aja. Udah kamu pura-pura nggak tahu aja kalau mereka itu saudara kandung. “ Ternyata oh ternyata si Arga do you know itu kakaknya Mela, Duh Mela-mela ada aja pakai nggak mau ngakuin kakak sendiri.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
202.8K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
16.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.0K
bc

Kali kedua

read
222.6K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook