Nyūwa

1595 Words
“Apa yang bisa melunakkan batu kalau bukan air?” *** "Hai, Hana. Maaf ya kalau lama." Sakura mendaratkan pantatnya di atas kursi. Aroma menggoda dari sup hisitnya menyambut. "Ayo kita makan." Hana mengangguk-angguk senang. "Seharusnya sih ya, jangan bikin anak kecil nahan laper," tukas Andrew ketus dengan volume suara rendah. Ia mulai memotong fuyunghai-nya menjadi beberapa bagian kecil. "Saya anggap saya nggak denger ucapan itu." Sakura membalas dengan lirih tetapi tetap bisa didengar tanpa memandang Andrew sama sekali. Ia merasa terlalu lapar untuk berdebat sehingga ia mengabaikannya dan langsung menyantap makanannya yang menggiurkan. Setelah sekian menit mereka tidak berbincang dan hanya menikmati hidangan masing-masing, Hana menyentuh lengan Sakura. "Sensei, itu apa?" Ia menunjuk pada mangkuk milik gurunya. Sakura menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Hana. "Ini namanya sup hisit," jawabnya. "Hana belum pernah makan ya?" Hana menggeleng. "Enak?" Ia mendongak pada Sakura. "Enak. Tapi nggak tahu menurut Hana gimana." Gadis itu kembali mengamati mangkuk Sakura. "Hana mau coba." "Hana." Andrew langsung bersuara, memperingatkan putrinya. "Itu supnya juga belum habis. Kenapa mau coba yang lain?" Hana tertunduk dengan tatapan lesu. Alhasil, ia hanya memainkan sendoknya dan tidak melanjutkan makannya. Melihat perubahan mood si gadis kecil, Sakura mengerti apa yang harus ia lakukan. Menurutnya, pengalamannya mengajar anak-anak cukup membantu memahami kemauan mereka. "Kalau Hana bisa habisin sup itu, Sensei bakalan pesenin sup hisit untuk Hana. Nanti Hana bisa makan sepuasnya di rumah." Hana menggeleng. "Hana maunya disini sama Sensei. Nggak mau di rumah," ucapnya mulai merajuk. Sakura berpaling pada Andrew. "Saya nggak penyakitan sih. Kalau diijinin, saya bisa bagi sedikit sup ini ke Hana." Ia mengusulkan sekaligus meminta persetujuan lebih dulu meskipun hatinya masih mendongkol karena pria itu. Hana yang kurang mengerti apa yang Sakura katakan turut memandang Daddy-nya dengan tatapan penuh harap. Ketika melihat anggukan Andrew, ia bersorak girang. "Sini. Sensei pakai sendoknya Hana ya." Sakura mengambil sendok di mangkuk Hana dan menyendok sedikit sup hisit. "Buka mulutnya." Ia memberikan satu suapan pada gadis kecil itu. Hana menjilat bibirnya lalu tersenyum. “Enak,” katanya. “Mau lagi?” Sakura bertanya dengan geli dan dijawab dengan anggukan. Karena itu ia menyuapi Hana lagi dan melupakan perut laparnya. Sementara itu, Andrew hanya memperhatikan dalam diam putrinya disuapi oleh seseorang yang belum lama ia kenal. Namun ketika melihat mangkuk Sakura semakin lama semakin berkurang isinya, ia pun angkat bicara. “Kamu pesan sup hisit yang baru lagi aja. Saya yang traktir sebagai pengganti yang dimakan Hana.” Sakura menoleh pada Andrew dan menggeleng. “Nggak usah kayanya, Pak. Ini supnya Hana juga belum habis. Saya bisa tukeran aja sama dia,” ucapnya tak ambil pusing. “Hana nggak mau sup jagungnya kan?” Hana menggeleng. “Lebih enak sup hisitnya,” sahutnya begitu polos. “Boleh buat Sensei kan?” “Ya!” Gadis itu mengangguk-angguk dengan kakinya berayun maju mundur menandakan hatinya sedang riang. Setelah menyuapi Hana sampai sup hisitnya habis tak bersisa, Sakura pun akhirnya memakan sup jagung milik gadis kecil yang kini mengelus-elus perut kenyangnya. Ia tersenyum geli melihat muridnya dan ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan meskipun benar rasa sup miliknya lebih enak ketimbang yang ia makan sekarang. “Sensei, arigatou gozaimasu[1].” Hana menatap Sakura dengan matanya yang menyipit. Sakura membelai kepala Hana dan mengangguk dengan senyuman lebar. “Dōitashimashite[2].” Hana menguap dan kemudian terkejut sendiri hingga menutup mulutnya. Ia menatap Andrew seolah dengan perasaan bersalah. “Maaf, Dad,” ucapnya. Tidak mengerti kenapa Hana meminta maaf, Sakura pun bertanya, “Hana udah ngantuk ya?” Gadis itu mengangguk. Sakura berpaling pada Andrew. “Silakan pulang aja, Pak. Nggak papa.” Ia memberitahu. “Ngusir nih ceritanya?” Balasan Andrew langsung membuat Sakura kesal. Ini sup jagung bisa-bisa aku lempar aja ke dia. “Anaknya-kasihan-Pak-Andrew.” Sakura memberi penekanan pada setiap kata yang diucapkannya. Tampak Andrew menahan tawa melihat Sakura. “Eh?” Kedua alis Sakura berkerut mendekat satu sama lain menunjukkan keheranannya. Andrew bangkit dari tempatnya lalu mendekat pada Hana. “Yuk, sayang. Kita pulang,” katanya. Dengan mata lima watt, Hana menyerahkan diri pada Daddy-nya yang kemudian menggendongnya. “Jaa matane, Sensei.” Ia masih sempat memberi salam perpisahan. Berbanding terbalik dengan ekspresi yang ia berikan pada Andrew, Sakura melambai pada Hana diiringi senyuman lebar. “Jaa matane[3].” Ia memandang ayah dan anak itu pergi menjauh menuju kasir. Lagi-lagi di pikiran Sakura timbul sebuah imajinasi mengenai bagaimana rasanya jika suatu kali nanti ia pergi makan bersama bersama suami dan anaknya. Namun ia menepis pikiran itu karena sup jagungnya yang sudah mulai dingin itu belum juga habis. Sakura buru-buru menghabiskan semuanya agar selesai sebelum mamang montir juga selesai. Kira-kira sekitar dua puluh menit totalnya ia berada di restoran semenjak kembali lagi. Kini ia sudah memuaskan perutnya. Selesai memeriksa mejanya agar tidak meninggalkan sesuatupun, Sakura pergi menuju ke kasir. Kebetulan tidak ada pelanggan yang mengantri sehingga ia langsung berhadapan dengan kasir untuk membayar. "Nomor 34." Sakura menyebutkan nomor mejanya. "Baik, mohon ditunggu." Wanita paruh baya di depannya segera memeriksa sesuatu di layar komputernya. "Oh, sudah dibayar, Bu." "Hah? Udah dibayar?" Sakura mengernyit. Apa Pak Andrew yang bayarin sekalian tadi? Baik juga orang itu. Baguslah, nggak keluar duit. "Oke, makasih." Ia segera meninggalkan area kasir dan berjalan menuju keluar restoran. Ponsel Sakura berbunyi saat ia hampir dekat dengan mobilnya. Tulisan 'Mami' tertera di layar dan ia sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan oleh wanita kesayangannya itu. "Iya, Mi. Ini mobil mogok. Tapi masih di depan kantor kok. Dan ada restoran deket sini, jadi sekalian makan malem. Nggak lama lagi pulang kok." Sakura meringkas jawaban dari pertanyaan yang belum diajukan oleh maminya. "Oke, baguslah." Sesingkat itulah Liana menanggapi jawaban putrinya dan merasa puas mendengar apa yang perlu didengarnya. Tanpa berbasa basi, ia mengakhiri panggilannya. "Mami, Mami." Sakura bergumam memandangi layar ponselnya sebelum melanjutkan perjalanannya dan menyapa mamang montir yang baru saja menutup kap mobilnya. Sementara itu, Pak Yoto justru tampak menutup matanya dalam posisi duduk tegak dan mulut terbuka. "Mang, sejak kapan Pak Yoto begitu?" Sakura bertanya keheranan. "Saya nggak inget pastinya, Neng. Soalnya tadi saya fokus banget cek mesin." Pria itu mengaku. "Dan ini udah beres. Ternyata ada selang yang lepas. Ini mobil keluaran tahun berapa? Kayanya di bawah 2005 ya? Soalnya ada bagian lain yang juga kurang bagus. Udah tua gitu." Sakura menyeringai sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Iya, Mang. Tahun 2003. Maklum mobil pertama pakai tabungan seadanya." Ia tidak menyembunyikan fakta. Dalam segala sesuatu, Sakura tidak pernah ingin menggunakan uang pinjaman. Jika ia menginginkan sesuatu, ia pasti mengumpulkan uang sampai cukup. Bahkan sampai sekarang ia tidak memiliki kartu kredit karena baginya itu sama saja dengan berhutang. "Totalnya berapa, Mang? Ini saya bayar ke Mamang atau langsung ke Pak Dendi ya?" Ia merujuk pada pemilik bengkel. "Sama Pak Dendi aja, neng. Sistemnya sudah begitu." Montir itu menjawab. "Ya sudah, saya pulang dulu ya, Neng. Tapi saya sarankan besok mobilnya dibawa ke bengkel. Karena takutnya bermasalah lagi di jalan." Sakura mengangguk. "Makasih ya, Mang," katanya. Namun melihat bagaimana pria itu sudah berlelah-lelah datang dan membantu, ada dorongan dalam hatinya untuk tidak membiarkannya pergi begitu saja. "Mang, Mang. Tunggu." Pria itu menoleh pada Sakura saat ia sudah ada di atas sepeda motornya. "Ada apa, Neng?" tanyanya. Sakura masuk ke dalam mobilnya dan mengambil sebuah amplop di dalam dasbor. Ia memasukkan dua lembar uang berwarna biru ke dalam amplop dan kembali pada montir itu. "Mang, ini ada uang bensin." Sakura memberikan amplop tersebut ke tangan pria itu. "Jangan ditolak. Rejeki nggak boleh ditolak kan?" Senyuman penuh ucapan syukur tampak di wajah pria itu. "Makasih. Makasih banyak ya, Neng," ucapnya. Sakura ganti tersenyum. "Hati-hati, Mang," katanya lalu berbalik pada Pak Yoto. Ia mengguncang pelan tubuh satpam kantornya. "Pak. Pak Yoto, bangun." Dengan mata berat terbuka, akhirnya Pak Yoto terbangun. Ia langsung berdiri dan menampilkan sebuah ekspresi bersalah. "Maaf, Sensei. Saya minta maaf sekali karena ketiduran," katanya. "Loh? Mamangnya?" Ia menyadari ketidakberadaan montir tadi. "Udah pulang, Pak," jawab Sakura. "Jangan sampai ketiduran ya nanti waktu jaga malam. Atau, Pak Yoto sakit?" Pak Yoto menggeleng. "Cuma kecapekan, Sensei. Anak saya sepanjang hari sakit. Jadi saya nggak tidur," ia menjawab. "Saya nggak akan ketiduran lagi, Sensei." Sakura mengangguk. "Itu ada warung di depan. Mungkin bisa ngopi supaya nggak ngantuk, Pak. Saya pesenin ya?" Ia merasa iba akan pria yang selama ini sudah sangat setia mengabdi pada tempatnya bekerja dan percaya bahwa ia tidak pernah lalai. "Jangan, Sensei. Lagian saya juga sudah ada kopi di dalam," ucapnya. "Silakan pulang saja. Terima kasih untuk perhatiannya." Lagi-lagi dorongan dalam hati Sakura tidak bisa membiarkan dirinya pergi begitu saja. Ia langsung mengeluarkan selembar uang bergambar presiden pertama Indonesia. "Untuk obat anak Bapak ya. Tolong jangan ditolak. Rejeki nggak boleh ditolak. Pamali." Ia mengucapkan perkataan andalannya. Genangan air terkumpul di mata Pak Yoto yang cepat-cepat diusap. "Terima kasih. Terima kasih banyak, Sensei," ucap seolah tanpa henti. "Moga-moga Allah kembalikan berkali-kali lipat untuk Sensei." "Amin." Sakura menyahut. "Ya udah, saya pulang dulu ya, Pak Yoto." "Iya, Sensei. Hati-hati di jalan." Pak Yoto membungkuk pada Sakura. Sakura berbalik dan masuk ke dalam mobilnya. Ia menyalakan mesin mobilnya yang kini menyala kembali. Ia memundurkan mobilnya perlahan dan melakukan manuver kecil sebelum melaju meninggalkan area kantornya. Tuhan, meskipun hari ini aku ngerasa apes ketemu si Andrew nyebelin itu, aku bisa ngebantu dua orang di waktu yang sama. Makasih ya untuk hari ini. Ah, juga karena aku bisa nikmatin gimana gemesinnya Hana. Sambil tersenyum, Sakura memanjatkan syukurnya satu demi satu seperti kebiasaannya setiap hari. Baginya, selalu ada hal yang bisa disyukuri seberat apapun hari itu. [T-MSD] Keterangan: [1] Guru, terima kasih. [2] Sama-sama. [3] Sampai jumpa lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD