“Aku enggan melihat kamu, tapi kenapa kamu selalu terlihat?”
***
Matahari menembus masuk melalui celah tirai jendela kamar dan menjatuhi sebagian wajah Sakura. Silau cahaya itu seolah memaksa matanya untuk terbuka. Sejenak tubuhnya berputar seperti engsel ke arah lain, lalu menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Namun alarm dari ponselnya berbunyi pukul enam pagi dan memaksanya untuk beranjak dari kenyamanannya.
“Ya Tuhan, makasih karena pagi ini aku bisa masih bernapas bebas,” ucapnya sambil membuka kedua matanya lebar-lebar meski masih berat.
Mengalahkan rasa malasnya, Sakura menyingkapkan selimutnya dan duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur ke atas dan ia mulai meregangkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Diambilnya segelas penuh air mineral yang selalu ia sediakan di atas nakas sebelah ranjangnya lalu diteguk perlahan-lahan sampai habis. Setelah merasa lebih segar, ia bangkit dan membereskan ranjangnya sampai rapi kembali. Inilah ritualnya di pagi hari yang sudah dibangunnya sejak bertahun-tahun lalu.
Proyek ilustrasi terbarunya untuk seorang musisi indie harus diselesaikan hari ini juga. Selain itu, ia juga perlu membawa mobilnya ke bengkel seperti yang disarankan oleh mamang montir semalam. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang tidak baik pada mobil pertamanya. Demi mendapatkan kesegaran maksimal, Sakura mandi dalam waktu singkat dan sarapan dengan sandwich yang mudah dibuat juga.
“Sa, kemarin malam pulang jam berapa sih? Kok Mami nggak lihat?” Itulah kalimat sapaan Liana ketika muncul di ruang makan. Ia sudah tampak rapi dengan rambut tertata dan dandanan tipis.
Sakura mengernyit melihat penampilan maminya. “Mami mau kemana udah rapi pagi-pagi gini?” Bukannya menjawab, ia balik bertanya.
Liana mengambil gelas di atas meja dan menuangkan air mineral dari teko sampai setengah penuh. “Mau ke rumah tante kamu. Katanya kangen sama Mami,” jawabnya sembari duduk di seberang putrinya. “Eh, tapi pertanyaan Mami belum dijawab loh tadi.”
“Oh iya. Sampai rumah kira-kira jam delapan sih, Mi,” jawabnya.
“Terus kenapa mobil kamu? Kok bisa mogok?” Liana menyinggung mengenai masalah semalam. “Gara-gara mobilmu udah agak tua ya?”
Ujung bibir kanan Sakura naik. “Tahu aja, Mi,” sahutnya geli. “Kata mamangnya harus dibawa ke bengkel hari ini biar nggak kenapa-kenapa. Karena sebenernya mobil ini masih bagus kok.”
“Terus nanti kamu naik ojek ke kantor gitu?”
Sakura mengangguk. “Tapi paling yang car. Soalnya kan panas kalo siang.” Ia memasukkan gigitan terakhirnya ke dalam mulut.
“Betewe.” Liana kembali menggunakan istilah yang seringkali dipakai oleh kaum muda hingga terkadang membuat Sakura tertawa geli jika pengucapannya salah. “Kemarin ketemu laki-laki yang kira-kira bisa jadi jodohmu nggak?”
Sakura melipat tangannya dan menutup mata, bertingkah seolah berdoa. “Ya Tuhan, kapan Mami bisa berhenti tanya pertanyaan ini tiap pagi?” Ia membuka mata kembali dan melemparkan pandangan kesal sembari meneguk s**u coklat. “Yang ada tuh ya, Mi, kemarin itu aku ketemu orang tua murid yang ngeselin banget. Bapak-bapak gitu. Duh, pokoknya kacau deh.”
“Terus, kamu marah-marah sama dia?”
“Ya nggak terang-terangan. Cuma sarkastik aja. Habisnya dia ngeselin banget.” Sakura membela dirinya.
Namun Liana justru kurang setuju dan menyahut, “Seharusnya jangan gitu. Siapa tahu dia punya adik yang ganteng dan sukses, terus dikenalin sama kamu. Biar nggak jomblo menahun gitu. Mami kanㅡ”
“Kepingin punya cucu.” Sakura menyahut, melengkapi kalimat yang seperti rapalan mantra tiap hari. "Iya, Mi. Aku tuh juga kepingin ketemu jodohku segera. Tapi juga nggak mau salah. Resiko seumur hidup gitu loh, Mi."
"Iya, Mami tahu. Tapi jangan terlalu pemilih. Siapa tahu ternyata dari antara sekian orang yang pernah deketin kamu itu jodoh kamu. Jangan sampai kelewatan. Momen pertemuan sama jodoh itu biasanya nggak terulang dua kali." Liana masih kekeh dengan pendapatnya. Ia terkadang merasa bahwa putrinya terlalu menerapkan standar yang tinggi.
Sakura menghela napas panjang. Mungkin memang saatnya ia lebih terbuka mengenai pendapat dan harapan pribadinya mengenai jodohnya. “Gini, Mi. Aku tuh bukan tipe yang pemilih banget kok. Tapi dari sekian temen-temen aku yang udah menikah, cuma segelintir yang bilang kalau mereka bener-bener bahagia menikah sama pasangannya. Sisanya ngerasa kalau mereka kecepetan mutusin untuk nikah dan sekarang menyesal, tapi nggak bisa mundur gitu aja dari pernikahannya.” Inilah kali pertama ia menjelaskan sepanjang ini kepada maminya dan ia merasa puas mengutarakannya.
Liana tidak membantah. Ia menganggap apa yang putrinya katakan itu benar. “Mami setuju. Cuma ya, sekali lagi Mami ingetin aja. Jangan asal menilai orang sebelum ngerti bener-bener karakter orang itu ya. Karena mungkin dari orang itu kamu bisa ketemu sama jodohmu.” Ia meneguk air di gelasnya yang sedari tadi belum diminum. “Oke, Mami mau berangkat dulu ya. Papi udah di luar duluan soalnya dari tadi. Manasin mobil.”
Sakura mengangguk lalu berdiri dari kursinya, bersamaan dengan Liana. Mereka saling memberikan ciuman di pipi. “Hati-hati ya, Mi. Sampein juga sama Papi,” katanya lalu melambai pada Liana yang berjalan menuju pintu keluar rumah.
[ T-MSD ]
Bengkel langganannya terletak di arah yang berbeda dengan tempat Sakura bekerja. Namun jarak yang ditempuh lebih dekat ketimbang dari rumahnya ke lokasi kursus bahasa. Ia berangkat dua jam sebelum kelas pertamanya dimulai karena perlu berbicara dengan pemilik bengkel mengenai masalah dengan mobilnya. Sesampainya di tempat kerja, ia mengurus semua hal yang perlu dipersiapkan untuk lima kelas hari ini.
Empat kelas berturut-turut yang ia ajar sangat menyenangkan. Semua muridnya antusias belajar bahasa Jepang, bahkan termasuk orang tua masing-masing mereka yang turut belajar gratis. Lucunya, beberapa dari antara mereka pada akhirnya juga mengambil kelas dewasa demi membantu anaknya belajar di rumah.
Sayang sekali kesenangan itu harus terganggu ketika melihat Andrew, pria jutek nan menyebalkan masuk ke dalam kelas terakhirnya bersama dengan Hana. Tentu saja sebagai seorang pekerja profesional, ia tidak akan mencampur kejadian yang menyangkut kehidupan pribadinya dengan pekerjaannya. Ia memulai kelasnya dengan riang seperti biasanya.
Seusai menjelaskan materi, Sakura memberikan selembar kertas dan beberapa puzzle untuk murid-muridnya. Dengan dibantu orang tua masing-masing, mereka berlatih dengan menjawab pertanyaan yang tertera di layar proyektor.
“Sensei.” Seorang wanita berambut merah panjang mengacungkan tangan. “Ini puzzle-nya ada yang kurang sepertinya.”
Dari tempatnya berdiri, Sakura berpindah beberapa langkah menghampiri wanita tersebut. “Iya kah, Bu Mela? Coba saya cek.” Ia memperhatikan potongan demi potongan puzzle yang ada di meja. Ditemukannya dua potongan menempel satu sama lain sehingga hanya terlihat satu potongan saja. “Ah, ternyata ini disini.”
Wanita tersebut terkekeh. “Maaf, Sensei. Saya yang nggak teliti,” ucapnya meminta maaf lalu menyerahkan dua potongan tersebut kepada putranya.
“Gimana Gerry? Dia bisa menangkap dengan baik, Bu?” Fokus Sakura tertuju pada anak laki-laki berkebutuhan khusus di depannya yang memiliki otak jenius.
Senyuman mengembang di bibir Bu Mela. “Hari ini dia lebih tenang, Sensei. Kayanya dia suka banget sama aktivitas hari ini,” ungkapnya. “Memang nggak salah saya kursusin dia sama Sakura Sensei.”
Giliran Sakura yang tersenyum lebar. “Syukurlah kalau gitu. Silakan dilanjutkan.” Ia pun berjalan ke sisi lainnya untuk memeriksa pekerjaan murid-muridnya yang lain.
“Sensei.” Suara lembut nan menggemaskan terdengar memanggilnya.
Sakura tahu milik siapa suara itu. Ia berbalik memandang Hana yang sudah melambai-lambai agar gurunya mendekat. Langkahnya cukup berat ketika ia menghampiri gadis berwajah blasteran itu. Kalau Daddy-nya Hana ini biasa aja, aku bakalan seneng ngeladenin anaknya terus.
Demi tidak memandang Andrew, Sakura mengarahkan matanya pada Hana. “Ada apa, Hana?” tanyanya.
“Dekimashita[1],” tangan mungil milik Hana menunjuk pada susunan puzzle.
“Waa, sugoi![2]” Sakura mengacungkan kedua ibu jarinya pada Hana sambil mengulum senyum.
“Siapa dulu dong, Daddy-nya.” Andrew meletakkan siku tangan kanannya di atas meja dan menopang kepalanya pada bagian pipi. Ia memandang pada Hana yang kemudian tersenyum lebar.
Sok-sokan. Yang pinter anaknya, dia yang ikutan eksis. Tanpa sengaja Sakura memberikan pandangan malas sebagai tanggapan dan tertangkap basah oleh Andrew.
“Nggak percaya kalau kepintaran Hana turun dari saya ya, Sensei?” Ujung kanan bibir Andrew tersungging, seolah memberikan senyuman meledek. “Skeptis amat sama saya.”
Tidak ingin citra dirinya dilihat jelek di depan orang tua murid yang lain, Sakura memberikan senyuman palsu pada Andrew. “Skeptis? Ah, Bapak hanya salah mengira saja.” Ia menyanggah pernyataan pria itu. “Maaf ya kalau saya sampai membuat Anda seperti itu.”
Suara kikikan terdengar lirih. Awalnya dari sebelah kiri ia berdiri kemudian menyebar ke seluruh ruangan. Sakura menengok kepada para orang tua murid yang kini tampak geli tanpa diketahui alasannya.
“Maaf, ada apa ya? Kok Bapak dan Ibu tertawa?” Sakura langsung bertanya heran.
“Sensei.” Seorang ibu muda mengangkat tangan. “Tadi itu kaya adegan film pasangan lagi bertengkar.” Perkataan itu didukung dengan anggukan dan kata ‘iya’ dari orang tua murid yang lainnya.
Sakura menelan ludah, merasa bingung mengapa situasinya menjadi seperti ini. Ia tidak tahu bagaimana menanggapinya, tetapi akhirnya terselamatkan karena suara dentingan bel yang menandakan selesainya kelas itu. Diam-diam, ia menghela napas lega sambil berjalan ke depan kelas. “Hai, minasan. Jugyō ga owarimashita. Mata ashita ne[3].” Ia memberi hormat satu kali kepada semuanya.
Baik para orang tua maupun murid-muridnya memberi salam dan hormat balik kepada Sakura sebelum mereka berberes dan meninggalkan kelas. Sementara itu, ia sendiri kembali ke mejanya dan membereskan perlengkapan mengajarnya serta alat-alat yang digunakan selama kelas berlangsung.
“Untung aja ngepasin kelas selesai. Ampun deh. Next time aku nggak mau deket-deket sama si Andrew itu lah. Bawa masalah.” Sakura berkata-kata pada dirinya sendiri saat duduk dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi yang empuk itu. Ia menutup matanya sejenak dan membiarkan kilasan kejadian terakhir tadi terulang. “Kalau diinget-inget, kayanya aku sama Andrew lebih tepat dibilang kaya kucing dan anjing ketimbang pasangan deh. Ada-ada aja nih orang tua murid yang lain.”
Getaran-getaran kecil terasa di dekat Sakura hingga ia membuka matanya kembali. Didapatinya getaran itu berasal dari tasnya. Saat tangannya meraih ponsel berlapis silikon bermotif bunga sakura, getaran itu sudah berhenti. Sebagai gantinya, layar ponselnya menampilkan sepuluh missed calls dari Kenza.
“Duh! Apa nih?” Sakura menegakkan tubuhnya seketika karena terkejut. Ia segera memanggil Kenza kembali. “Kenz, ada apa?”
“Cepetan kesini! Juan lagi nggak ada di rumah dan nggak bisa dihubungin. Ini perutku rasanya sakit banget.” Kenza tidak berbasa-basi dan mengutarakan permintaannya yang terdengar sangat putus asa. “Cepet, Sa. Aku nggak kuat.”
“Ya, ya! Tunggu. Ini aku langsung kesana.” Sakura memutuskan panggilan dan terburu-buru menyambar tasnya dan berlari keluar dari kelas.
Sambil berjalan cepat, tangan Sakura sibuk menyentuh layar ponselnya demi memesan taksi online. Ia berhenti di depan pintu keluar gedung dan menunggu dengan tidak sabar. Kekhawatirannya akan sahabatnya terlalu mendominasi sehingga ia mengetuk-ngetukkan tangan dan kakinya. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengerti ada sesuatu yang tidak beres dengannya.
Andrew adalah salah satunya. Ia muncul dari dalam gedung sambil menggandeng Hana. “Sensei, ada apa?” tanyanya.
Melihat keberadaan musuhnya, Sakura menjadi malas. “Nggak papa, Pak. Ada yang urgent aja,” katanya cuek.
Andrew menengok ke sekeliling tempat parkir, lalu menjatuhkan pandangan kembali pada Sakura. “Lagi nggak naik mobil?”
“Masuk bengkel. Tapi ini udah pesen taksi online,” sahut Sakura. Ia kini benar-benar tidak bisa tersenyum meskipun melihat betapa menggemaskannya Hana.
“Udah sampai mana taksinya?”
Sakura menengok aplikasi taksi online di ponselnya dan mendapati jarak yang tidak dekat antara posisinya dengan taksi tersebut. Mengetahui hal ini, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Andrew tetapi menelepon supir taksi itu. “Pak, ini sampai mana ya?”
“Maaf, Bu.” Suara dengan volume yang cukup keras mengejutkannya hingga tangannya reflek menjauhkan ponsel dari telinganya. “Ini terhalang macet. Mau menunggu atau di-cancel aja?”
“Kalau gitu maaf ya, Pak. Saya buru-buru, jadi saya cancel aja.” Sakura menjawab dan memutuskan panggilan segera.
“Sensei harus kemana? Sama saya aja.” Andrew menawarkan sebuah kebaikan yang tidak disangka Sakura akan diberikan padanya.
“Uh ….” Mendadak Sakura agak lupa karena kegugupannya. “Taman Sakura Indah.”
“Oke. Ayo masuk ke mobil saya.” Andrew mengajak lalu berjalan lebih dulu.
Demi keselamatan sahabatnya, Sakura mengesampingkan gengsi dan masalah pribadinya dengan Andrew sehingga ia menyambut ajakan itu. Ia mengekor pria itu menuju sebuah mobil bertipe SUV.
Andrew membuka pintu depan sebelah kiri dan meletakkan Hana disana. “Masuk aja duluan,” ucapnya ketika mendapati Sakura masih berdiri menunggu di belakangnya.
Karena dipersilakan, Sakura langsung masuk melalui pintu tengah sebelah kiri dan memasang sabuk pengaman.
Setelah mengamankan Hana di dudukan balita pada jok depan, Andrew pun masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Ia mengemudikan mobilnya meninggalkan area kursus bahasa.
[T-MSD]
Keterangan:
[1] Sudah selesai.
[2] Wow, hebat!
[3] Baik, semuanya. Kelas sudah selesai. Sampai besok.