“Pertolongan itu kadang datang dari sesuatu yang nggak terduga.”
***
"Yang mana?" Andrew menyetir lebih pelan saat memasuki kompleks perumahan Taman Sakura Indah sesuai dengan instruksi Sakura. Ia memperhatikan daerah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
"Itu gang ke kanan kedua," tunjuk Sakura dengan posisi tubuh agak maju, memasuki celah di antara jok kanan dan kiri bagian depan.
"Yang ini?"
"Iya. Eh, hati-hati, bagian kiri jalan masih diperbaiki. Ambil agak ke kanan aja." Sakura memperingatkan. Mobilnya sempat hampir melewati lobang tepat di belokan itu saat seminggu lalu mampir ke Kenza. Keahliannya menyetir membuatnya melakukan manuver cepat dan menghindarkan mobilnya dari kejadian yang tak diinginkan.
Mengikuti arahan Sakura, Andrew membawa mobil memasuki gang tersebut dengan hati-hati. “Rumahnya?”
Tangan kanan Sakura terulur ke depan, menunjuk ke suatu arah. “Gerbang warna putih yang itu,” beritahunya.
Jarak dari posisi mobil berada dengan rumah yang dimaksud tidak terlalu jauh. Andrew menjalankan mobilnya perlahan sampai tiba di tujuan. Ia memarkirkannya di depan pagar.
“Oke. Makasih ya, Pak Andrew. Kalau mau pergi nggak masalah.” Sakura membuka pintu dan melangkah keluar. Ia menengok ke arah Hana untuk berpamitan tetapi gadis itu tertidur. “Sekali lagi terima kasih dan maaf merepotkan.” Ia membungkuk sedikit lalu menutup pintu setelah mendapat anggukan dari yang diajak bicara.
Dengan gerakan super cepat, Sakura membuka gerbang yang tidak terkunci itu dan menyelonong masuk seperti rumahnya sendiri. “Kenza!” Ia mengetuk pintu rumah yang ternyata dikunci. “Kenza, kenapa harus kunci pintu sih? Kenza!”
“Kenapa, Sensei?” Andrew muncul di samping Sakura dan membuatnya terkejut.
“Kok … masih disini?” tanya Sakura heran, tetapi ia menepisnya. Bukan ini yang menjadi fokusnya. “Sahabat saya itu hamil tua. Saya takutnya dia udah waktunya melahirkan.” Ia menjelaskan sesingkat mungkin.
“Tenang dulu. Coba aja ditelepon.” Andrew mengusulkan.
Dahi Sakura berkerut. “Diteriakin aja nggak jawab. Gimana ditelepon, Pak? Rumahnya nggak gede-gede amat sampai nggak denger suara saya.” Tanpa sadar ia menyahut dengan ketus dan merasa menyesal telah melakukannya tapi tak cukup motivasi untuk meminta maaf.
“Coba dulu.” Berbeda dengan Sakura yang begitu panik, Andrew justru bersikap tenang.
Mengetahui bahwa tidak ada pilihan lain setelah tidak mendapat jawaban sama sekali dari sahabatnya, Sakura menelepon ponsel Kenza untuk memastikan. Ia berharap-harap cemas bahwa semua baik-baik saja.
“Sa!”
Itu suara Kenza! Sakura celingukan ke segala arah rumah itu. Ia menengok ke dalam jendela tetapi tidak melihat siapapun. “Kenza! Kamu dimana?” Ia berteriak panik, tak sabar untuk mengetahui dimana sahabatnya berada.
“Sakura Suganda!”
Tunggu. Kenapa suaranya nggak kedengeran kaya dari dalam rumah ya? Oh, iya! Bola lampu tak kasat mata seolah muncul seketika di sebelah kepalanya. Sakura menekan kedua sisi bibirnya satu sama lain karena menyadari kesalahan yang baru dibuatnya. Namun malu rasanya jika ia harus menyatakan alasan di balik kejadian memalukan ini.
“Suaranya bukan dari dalam rumah ini deh.” Andrew berpaling ke arah mana ia yakin suara itu berasal.
Tentu saja Sakura tahu dimana tepatnya Kenza berada. Ia baru pindah rumah dua minggu lalu ke rumah yang baru dan lokasinya tidak jauh dari yang sebelumnya. Gengsi rasanya jika sampai musuhnya ini mengetahui kelalaiannya yang memalukan.
“Ah! Sahabat saya pasti minta tolong ke tetangga.” Sakura menggunakan sembarang ide yang muncul di otaknya untuk dikatakan. “Ya udah, saya kesana dulu.”
Andrew yang tak tahu menahu kebenarannya langsung percaya dengan perkataan wanita yang kini berjalan meninggalkannya lagi. Ia mengekor di belakangnya dan berhenti di samping mobilnya. “Saya tunggu disini, barangkali perlu ke rumah sakit,” ucapnya.
Sakura sekali lagi tak menyangka mendapatkan tawaran bantuan dari pria yang baginya sangat menyebalkan. “Sebenernya nggak perlu repㅡ”
“Saya tunggu disini.” Pernyataan Andrew terdengar seperti pendapat seorang juri yang tidak bisa diganggu gugat.
‘Serah lah. “Oke. Saya ke tempat sahabat saya dulu.” Sakura tidak mau berdebat. Ia membalikkan badan dan berjalan cepat menuju ke rumah baru Kenza.
Sosok wanita berambut pendek dengan perut membesar tampak tengah mencoba untuk duduk duduk kembali di sebuah kursi. Kenza melirik sambil berdecak menyambut kedatangan sahabatnya. “Kebiasaan ya,” ucapnya. “Kalau udah panik, semuuuuaaaa kacau. Untung itu rumah belum ada pemilik barunya.”
Seringai bodoh dipertontonkan oleh Sakura ketika ia duduk menyebelahi Kenza. “Ya habisnya kamu teriak-teriak di telepon tadi. Aku pikir ketubannya udah pecah, terus udah waktunya kamu lahiran.” Ia membela diri.
“Itu siapa?” tanya Kenza menunjuk dengan lirikan matanya ke arah Andrew yang kini duduk di dalam mobilnya.
“Orang tua murid, tapi ahㅡitu nggak penting. Sekarang kamu gimana kondisinya?” Sakura mengembalikan topik pada sahabatnya sebelum diinterogasi.
Kenza mengelus-elus perutnya. “Lebih enakan sih sekarang. Aku coba-coba olahraga dikit kaya yang aku udah pelajarin. Tadi pas kontraksi biasa aja kali. Cuman emang udah sakit banget sih.” Ia menjelaskan situasinya. “Terus itu kenapa masih disitu? Nungguin kamu? Mau dianter pulang atau gimana?”
Tuh kan. Kebiasaan suka tanya-tanya. “Eh, jangan alihin topik melulu dong, Kenz. Jangan biarin kedatanganku kesini sia-sia. Nggak tahu kan pengorbananku untuk sampai disini kaya gimana?” Sakura mengeluh sedikit, mengingat ia harus membuang gengsinya untuk diantar ke tempat sahabatnya dengan cepat.
“Ih, kan udah aku bilang kalau aku tuh baiㅡaaah! Aduh!” Kenza mengerang tiba-tiba sambil memegangi perut membesarnya.
“Kontraksi lagi ya?!” Sakura setengah berteriak karena terkejut. Ia melihat lantai dan mendapati tetesan air mengalir. “Loh? Ketuban kamu, Kenz!”
Kenza menghela napas cepat dan pendek berkali-kali. “Kayanya kita beneran perlu ke rumah sakit,” katanya.
Sakura tidak menyahut tetapi berlari meninggalkannya untuk menuju kemana mobil Andrew berada. Ia mengetuk jendela dekat bagian setir dimana pria itu sedang mengerjakan sesuatu dengan tabletnya.
Terkejut dengan kedatangan Sakura yang tampak panik, Andrew menurunkan kaca jendela mobilnya dan langsung mendapat permintaan tolong. “Oke, Sensei tolong tuntun sahabatnya. Saya deketin mobil kesana.”
Sakura menyetujui lalu berlari kembali kepada Kenza yang sudah tampak sedikit pucat. Dengan kekuatan seadanya, ia menuntun sahabatnya yang sedari awal perawakannya lebih besar darinya menuju ke mobil Andrew yang sudah diparkir tepat di depan gerbang rumah.
Pintu mobil dibukakan oleh Andrew dan sandaran jok tengah agak diturunkan ke belakang sebelum Kenza masuk ke dalam mobil. Meskipun agak kesulitan, akhirnya wanita yang hamil tua itu bisa membuat dirinya sedikit nyaman dalam perjalanannya menuju ke rumah sakit.
Seusai pintu ditutup, Sakura masuk melalui ke sisi mobil yang satu dan Andrew ke sisi setir. Dengan kondisi Kenza yang kritis, mobil berjalan dengan cepat menuju ke rumah sakit terdekat.
Di sepanjang perjalanan yang menjadi terasa lebih panjang karena kepanikan, Sakura memegangi tangan Kenza ketika ia kesakitan menahan kontraksi. Ini adalah kehamilan pertama yang berhasil setelah mengalami keguguran sebelumnya. Oleh sebab itu sebagai sahabat, Sakura tidak menginginkan sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi lagi.
“Sa.” Dengan napas terengah-engah dan energi seolah hampir habis, Kenza berbisik.
“Kenapa, Kenz?” Sakura cemas melihat kondisi tak berdaya wanita di depannya. Ia mendekatkan telinganya ke mulut Kenza karena suaranya yang terlalu lirih.
Menarik napas dalam-dalam, Kenza memberitahu, “Tolong telepon Juan sekarang. Jemuran masih di luar, takutnya kalau hujan.”
Suara tawa tertahan terdengar dari sisi kemudi. Andrew berdehem dan sempat melihat ke arah belakang melalui kaca spion tengah. Matanya bertemu dengan mata Sakura yang sudah mendelik akibat merasa dipermalukan secara tidak sengajaㅡatau sengaja karena kebiasaan usil Kenza.
“Makanya jadi orang jangan terlalu tegang. Yang sakit aku, bukan kamu kan? Kenapa yang panik berlebih kamu?” celetuk Kenza yang kemudian menahan sakit kembali.
Jika tidak dalam keadaan kritis seperti ini, sudah pasti Sakura akan membalas ucapan Kenza. Meskipun rasanya sangat mendongkol, ini bukan saat yang tepat sehingga ia hanya menghiraukannya. Ia merelakan diri untuk diolok-olok sahabatnya demi mengalihkan rasa sakit yang dirasakannya.
Suara menguap diperdengarkan oleh Hana yang akhirnya terbangun akibat kebisingan kecil di jok tengah. Ia menoleh ke belakang, tersenyum mendapati sensei-nya tetapi kemudian mengerutkan dahi melihat sosok yang tak dikenalnya. “Siapa?” Ia menoleh kepada Daddy-nya, meminta penjelasan.
“Sahabatnya Sensei,” jawab Andrew sambil tetap fokus menyetir.
Setelah mengetahui siapa orang asing di mobilnya, Hana tersenyum pada Kenza yang tengah menahan sakit. “Tante, kenapa?” Ekspresinya berubah menjadi iba. “Daddy, tante kenapa?”
“Tante nggak papa, sayang. Tante cuma mau punya adik. Dulu kamu juga dari sini.” Kenza memberikan jawaban yang mudah dimengerti, dengan tangan menunjuk pada perutnya.
“Kok bisa adik masuk situ? Dimakan? Semua yang masuk perut kan lewat mulut.” Hana pun melemparkan sebuah pertanyaan tipikal yang ditanyakan oleh seorang anak ketika berhubungan dengan sistem reproduksi manusia. Namun untuk gadis kecil seusianya, ia terbukti memiliki intelegensi di atas rata-rata dengan pertanyaan semacam itu.
Kini giliran Sakura yang terkekeh diam-diam, karena Hana mewakilinya untuk membalas keusilan Kenza sebelumnya. Dalam hati ia merasa sangat puas meskipun masih cemas melihat sahabatnya benar-benar menahan sakit.
Hana menjadi pengalihan yang cukup baik di sepanjang perjalanan. Sepuluh menit pun akhirnya terlewati dan mereka sampai di rumah sakit terdekat. Mobil berhenti di depan pintu gawat darurat.
Sakura membuka pintu dan berlari ke sisi lainnya untuk menolong Kenza turun, sementara Andrew berlari mencari tim medis untuk membawakan kursi roda. Seorang staf medis turun tangan untuk membantu.
“Saya nanti menyusul,” kata Andrew ketika Sakura hendak mengatakan sesuatu. Ia tahu bahwa wanita itu akan mempersilakannya untuk pergi tetapi ia bersikeras untuk tinggal.
Ini adalah kesekian kalinya Sakura menuruti perkataan Andrew hari ini. Namun ia memang tidak memiliki pilihan lainnya. Setidaknya yang pria itu lakukan adalah sebuah hal yang baik dan tidak ada salahnya untuk dituruti. Meskipun masih gengsi untuk mengakui, ia tahu bahwa Kenza mungkin akan mengalami kesulitan tanpa bantuan Andrew.
[T-MSD]