Meski jemari Rangga yang kini bermain dengan payyudaranya membuat getaran nikmat Namun Aira tak ingin menunggu lebih lama, setelah mengangkangkan kakinya dengan lebar, wanita itu memegang pinggul Rangga dan menekannya ke bawah berharap pennis yang menggantung di depan kemalluannya kembali mengayuh vaggina yang terus berdenyut minta diisi. “Uuugghhh, yaaa,yaaa,” tanpa melepaskan pandangan mata yang saling bertaut Aira begitu menikmati setiap dentuman penuh birrahi yang menghentak keras. Rangga sendiri dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah cantik berkacamata itu melotot meredam hentakan Rangga yang semakin cepat. Sesekali mulutnya melenguh ketika hujaman Rangga mengenai daerah paling dalam. “Ugghhhh,” Kedua bibir mahluk berlainan jenis itu terus mendesis bersahutan, sesekali saling b

