bc

Hang In There

book_age16+
2
FOLLOW
1K
READ
sweet
spiritual
like
intro-logo
Blurb

Nadira Alisa Hakim, seorang gadis berumur 20 tahun yang rela memutuskan pacarnya demi meraih cinta yang suci di kemudian hari. Nadira berani mengambil keputusan setelah menonton video ceramah dan berdiskusi dengan hatinya. Ia merasa bodoh akan agama yang dianutnya, dan kesempatan kali ini ia akan memperbaiki segalanya.

Merelakan bukan berarti meninggalkan, itulah prinsip Nadira atau Dira saat ini. Ia akan terus berusaha menjaga kesucian cintanya dengan menunggu tanpa terikat sesuatu. Meskipun sang kekasih tidak mendukung, tapi Dira akan tetap berjalan pada keputusannya.

chap-preview
Free preview
Keputusan Dira
Kafe yang sangat bersejarah, di situlah cinta Dira dan Bara bersemi. Ketika pulang sekolah mereka selalu datang dan menghabiskan waktu di kafe Dear, hingga sekarang. Bara tak pernah melupakan kebersamaannya bersama Dira, begitupun Dira yang tidak akan pernah melupakan kebersamaan mereka. Bagi Dira, siang ini adalah siang yang sangat berharga, di mana ini kali terakhirnya ia bertemu dengan Bara. Tentu Bara tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Dira, ia berbicara dan bercanda seperti biasa kepada Dira. “Kamu kenapa sih? Ko kaya yang canggung gitu, lagian kita udah lama kan bercanda terus ketawa-ketiwi bareng. Kamu sakit?” tanya Bara yang mulai merasakan sikap aneh Dira. "Enggak papa ko, biasa aja.” Jawaban Dira sangat simple. Bara tak bisa memaksakan Dira untuk menjawab jujur apa yang sedang terjadi, ia takut kalau Dira tidak nyaman jika Bara memaksa meminta jawaban yang benar. Dira pun meminum juice alpukat kesukaannya, ia sudah sangat bingung harus berbicara seperti apa kepada Bara. Ia takut jika Bara tidak menerimanya dan bahkan timbul kesalah pahaman. Dira berusaha mencari ide agar Bara siap menerima keputusan Dira dalam hubungan mereka, ia sudah tidak fokus ketika Bara melawak di hadapannya. Tawa yang Dira tunjukkan pun sangat beda dari biasanya, Dira tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. “Kamu kenapa sih Dir? Ada masalah? Coba bilang, siapa tau aku bisa bantu.” ujar Bara dengan lembut. “Emmmh.... Bara, kayaknya kita udahan deh.” akhirnya Dira mengungkapkan apa yang selama dua jam ini ia ingin katakan, sejak awal masuk kafe hingga beberapa detik yang lalu. “Hah udahan? Udahan nongkrong di kafe maksudnya? Ayo, bokong aku juga udah sakit nih duduk terus. Terus habis ini aku ada janjian sama anak kampus yang lain,” Jawab Bara masih seperti biasanya, ia belum tau maksud dari ucapan Dira. Dira semakin bingung penggunaan bahasa yang tepat, ia terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bara menghabiskan minuman yang ia pesan, ia juga menghabiskan sisa makanan yang sudah dingin. Mengingat Dira mengajak udahan, Bara pun pergi ke kasir untuk membayar. Dira masih menggoyangkan jari-jarinya sambil memikirkan bahasa yang tepat untuk menghentikan hubungannya bersama Bara. “Ayo kita pulang, aku udah selesai bayarnya.” ajak Bara, tapi Dira masih tetap berada di posisinya tak bergerak sedikit pun. “Dira, tadi kamu ngajak udahan nongkrongnya. Tapi pas mau pulang, kamu gak gerak. Mau lanjut lagi nongkrong? Kalau lanjut, aku pesen lagi nih makanan sama minumannya.” Bara kembali duduk, tatapannya membuat Dira mengurungkan niatnya sesaat. Dira mengumpulkan keberanian, tidak mau tahu hari ini ia menekankan harus menyudahi hubungannya bersama Bara. Dira pun menatap Bara dan tersenyum manis, lalu memanggil namanya. “Maaf banget, bukan apa-apa dan bukan kenapa-napa. Aku mau bilang sesutu ke kamu, tapi plis jangan salah paham dulu dengan keputusan yang aku buat ini. Oke?” Dira meminta persetujuan terlebih dahulu, ditakutkan Bara malah salah paham dengan keputusan Dira. “Mau bilang apa sih Dira?” “Gimana dengan persetujuannya? Oke apa enggak?” Dira memastikan, Bara pun menyetujui dan ia mengatakan kalau dirinya tidak akan salah paham. "Aku mau hubungan kita udahan, jadi kita gak usah jalani hubungan ini lagi.” ungkap Dira dengan kondisi hati yang terus membuncah. Duarrrr..... Sudah sangat jelas keputusan Dira menjadi Boomerang bagi Bara. Menurutnya hubungan mereka baik-baik saja, tapi kenapa Dira bisa memutuskan hubungan yang sudah dibangun dan dijaga selama bertahun-tahun ini? Hal ini tentu menjadi pertanyaan yang sangat besar bagi Bara. “Bentar, bentar, aku gak paham apa maksud kamu. Udahan?!” Bara memastikan lagi, ia berharap pendengarannya sedang error. Tapi ternyata, itu benar-benar keputusan dari Dira. Setelah Dira mengangguk, Bara semakin yakin kalau Dira tidak sedang bercanda. Bara pun memijat keningnya yang mendadak pusing, pusing dengan jalan yang Dira pilih. Rambut yang rapi pun terus diacak-acak, seperti ingin nangis tapi tertahan oleh seorang wanita yang ada di hadapannya. Dira pun hanya menggigit bibir bagian bawahnya, ia takut kalau Bara tak menerimanya dan malah marah besar kepadanya. “Kayaknya kamu lagi kecapean deh, mending sekarang kita pulang aja. Besok setelah kuliah, kita bicara lagi. Ayo,” Bara menarik tangan Dira untuk pulang, Dira tidak bisa komplain apa-apa karena ia sudah yakin kalau Bara pasti tidak bisa menerima keputusannya itu. Tapi perlahan Bara akan menerimanya, asalkan Dira terus berusaha. Bara dan Dira masuk ke dalam mobil bersamaan, tak ada perbincangan diantaranya. Dira menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, ia memandang Bara dari samping. Sebenarnya ia juga berat untuk mengakhiri hubungan mereka, tapi ia pun tak mau mendapat dosa sebagaimana yang telah dijelaskan dalam agamanya. “Bara, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini sekarang juga.” ucap Dira dengan melawan ketakutannya, Bara yang mendengar itu langsung mengerem mobilnya cepat. Membuat pengendara yang ada di belakang ikut ngerem mendadak, banyak suara klakson juga yang ditujukan untuk Bara sebagai pengendara paling depan. Tapi Bara bersikap bodo amat dan langsung memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan. Bara mematikan mobilnya dan menyandarkan punggungnya di jok mobil, buangan nafas yang kasar sangat terdengar jelas di telinga Dira. Membuat jantung Dira berdegup kencang karena takut, takut Bara marah dan menjadi monster di hadapannya. “Maumu seperti itu?” tanya Bara, memang pertanyaan yang sangat simple tapi bagi Dira pertanyaan ini bagaikan ombak yang menguburnya dan membuat nafasnya sesak. Dengan penuh ketakutan, Dira mengangguk membenarkan. "Tapi kenapa? Kenapa harus sekarang? Kenapa tidak dari awal saja, mungkin rasa sakitnya akan lebih minim. Kita pacaran dari lulus SMP loh Dir, bertahun-tahun itu.” komplain Bara tanpa melihat ke arah Dira sedetik pun. Dira tahu Bara sedang marah, ia harus berbicara lebih lembut agar emosinya tidak terlalu naik. “Karena aku baru tau sekarang Bara,” “Tau apa?” tanya Bara dengan cepat, membuat nafas Dira sedikit tertahan. “Kalau yang kita lakukan ini enggak benar. Aku udah dapet tamparan dari agamaku Bar, beberapa video ceramah yang aku tonton menyatakan kalau pacaran itu dilarang. Aku ini wanita, dan aku beragama Islam. Selama ini aku merasa buta dengan agamaku sendiri, hubungan yang kita jalani ini terlarang Bara. Kita gak bisa terus-terusan merangkai dosa, ini bukan kebahagiaan yang sebenarnya.” tanpa terasa Dira meneteskan air mata, sangat sulit mengatakan semua itu, tapi harus ia lakukan. Nafas Bara semakin tidak beraturan, beberapa kali ia memukul ringan setirnya mencoba untuk menghilangkan kesedihan yang mendera tiba-tiba. “Tapi kan kita juga gak ngelakuin apa-apa, gak pelukan, ciuman, atau lebih dari itu. Aku juga tau batasan, selama ini aku selalu mengontrol nafsuku jika berpikiran hal yang negatif. Kita gak ngelakuin apa-apa loh Dir, masa ia kita ngerangkai dosa.” Bara masih tidak bisa menerima keinginan Dira, menurutnya keinginannya itu aneh. Dira masih menangis tanpa suara, benar-benar sulit baginya melepaskan seseorang yang sangat dicintainya. Memang Dira mengakui kalau Bara adalah seorang pria yang tidak pernah macam-macam, ia selalu menjaga batasan dan bisa menghormati Dira sebagai wanita. Tapi bukan itu poin yang digaris bawahi oleh Dira, Dira sudah meyakini kalau hubungan mereka tidak benar jika terus seperti itu. “Tapi maaf Bara, aku gak bisa lagi ngelanjutin hubungan ini. Aku pamit,” Dira turun dari mobil tanpa menunggu persetujuan Bara.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Lone Alpha

read
125.5K
bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
10.5K
bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
35.8K
bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
613.5K
bc

Claimed by my Brother’s Best Friends

read
819.9K
bc

Bad Boy Biker

read
8.7K
bc

The CEO'S Plaything

read
19.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook