Sore itu Jingga hadir di makam Biru. Dia berangkat bersama Vio, Rosa dan Biru kecil dengan menunggangi mobil Vio. Mereka tiba pukul empat tepat. Jingga melihat dua kendaraan yang dikenalinya terparkir di depan makam. Motor milik Seta dan mobil milik Kak Juna. Mereka lalu menyusuri jalan setapak menuju makam. Di salah satu makam, Jingga melihat tiga sosok pria. Kak Juna, Seta dan Erwin berdiri di depan sebuah batu nisan. Ketiga orang itu tersenyum ramah melihat kehadiran rombongan wanita. Erwin tampak mengerutkan kening menatap Jingga. Cowok itu tidak banyak berubah dari penampilannya yang dulu. Celana jeans yang lututnya sobek-sobek dan kaos oblong. Yang membedakan hanya jambang yang menghiasi dagunya. "Jingga?" sapa pria itu tak percaya. Jingga mengangguk dan tersenyum kecil. "Apa kab

