Ketika Jingga terbangun esoknya, dia tak menemukan Biru di mana pun. Pemuda itu benar-benar pergi, menghilang bagai asap. Seolah dia memang tidak pernah muncul sejak awal. Jingga tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tidak bisa meratapi kepergian Biru seharian di kamar. Neneknya pasti khawatir jika dia mengaku sakit. Lebih dari itu, dia bisa kena teguran jika dengan sengaja bolos kerja. Akhirnya dengan segala gundah, gadis itu tetap pergi ke pabrik seperti biasa. "Apa kamu sakit? Wajahmu terlihat pucat," tegur Bu Riska, atasannya. Jingga hanya tersenyum kecil sembari menggeleng. Dia berusaha fokus pada pekerjaan untuk melupakan semua rasa sakitnya, tetapi kenangan tentang Biru masih tertinggal juga di ruang kerjanya itu. Pemuda itu selalu duduk sambil menyeringai di sebelah Jingg

