"Krisna gimana, ya?" tanya Jingga. Sore itu, dia berkumpul dengan Vio, Rosa dan Biru kecil. Mereka makan es cendol langganan mereka dulu di dekat sekolah. Satu kegiatan yang sudah lama tidak pernah mereka lakukan selama sepuluh tahun lamanya, girls talk. Berkumpul dengan teman seperti ini sedikit mengobati perasaannya akan kehilangan Biru. "Apanya yang gimana?" jawab Rosa tak acuh sambil mengusap lelehan es dari mulut putranya dengan tisu. Vio mengamati Rosa dan Jingga lalu meletakkan sendoknya. "Aku rasa sudah saatnya kamu maafin dia, Ros. Bagaimanapun dia ayah dari Biru." Wanita itu membetulkan letak kacamata dan ikut berkomentar. Si kecil Biru menatapnya dengan mata beningnya yang ingin tahu. "Ayah?" "Biru, kamu bisa bilang ke Pak penjualnya, Ibu pesan satu lagi? Kamu tunggu di sa

