"Dani tewas, aku penasaran mengapa dia bisa tewas seperti itu," ucap pimpinan mafia yang duduk di kursinya dengan ekspresi kesal. Dani termasuk anggota yang cukup kuat di kelompoknya.
"Dia sudah mati, tak penting mencari tahu," timpal yang lain dengan sinis dan Freya hanya tersenyum miring, sang ketua melihat penampilan Freya yang terlihat sangat pucat.
"Kau sakit? Kau seperti dalam keadaan kritis," tanyanya, hingga seluruh rekannya yang ada di dalam sana semua memandang ke arah Freya.
"Kau masih bertanya? Aku tidak tidur dua hari demi menjaga narkoba yang disimpan di gudang dari para polisi dan musuh," dusta Freya.
"Kau bukan type orang yang suka melakukan penjagaan barang seperti itu," sang ketua menatapnya seolah mengintrogasi Freya.
"Barang haram itu juga adalah sumber uangku, jadi aku akan memastikan semuanya tak hilang satupun," balas Freya menantangnya.
Sang ketua hilang kata-kata, apa yang dikatakan Freya benar.
"Dari pada mengintrogasi kegiatanku, mending kau mengurus binis kita dengan baik," jengah Freya pada sang ketua.
"Di sini menyebalkan," gumam Freya dan berlalu dari sana.
"Mau kemana kau?" tanya salah satu rekan menghentikan langkah Freya.
"Tidur," jawab Freya datar lalu melanjutkan jalannya untuk pergi.
Freya memasuki ruangannya, ia langsung terduduk menahan rasa sakit, berpura-pura bersikap normal itu sulit saat sisa sakit setelah melahirkannya terasa teriris perih. Tangan putihnya membuka laci mengambil obat penghilang rasa nyeri.
***
Setelah dua minggu, Haikal kembali ke rumah sakit dan duduk di ruang tunggu, Gabriel digendong oleh baby sitter yang Haikal siapkan untuk membantunya. Bagaimanapun ia tak punya pengalaman merawat bayi baru lahir, apa lagi menjaganya saat ia ada dalam misi. Haikal berdiri saat seorang dokter kenalannya menyapanya dengan hangat.
"Tes DNA nya sudah keluar," ucapnya. Jantung Haikal berdegup kencang. Bukan apa-apa, sekalipun bayi itu bukan anaknya maka ia akan tetap merawat, dia bukan orang seperti itu. Hanya saja ia sangat penasaran karena seingatnya ia tak tidur dengan siapapun. Bahkan rasanya pun ia tak ingat.
Haikal membuka kertas hasil tes, dan ia cukup kaget mengetahui bahwa itu adalah anak kandungnya.
"Bagaimana bisa ...."
***
Haikal kembali memasuki kamarnya, ia melihat barang-barang Gabriel yang ditinggalkan sang ibu dalam keranjang bayi, dari surat keterangan lahir sampai foto-foto USG setiap bulannya. Bila benar ia pernah meniduri seseorang hingga melahirkan Gabriel maka ia akan sangat merasa bersalah karena membuat dirinya menanggung kehamilannya sendirian.
"Siapa? Dia siapa?" Haikal terus bertanya-tanya sambil melihat foto-foto USG itu.
***
Freya mengendap-endap ke area rumah Haikal, ia menghindari arah cctv sebisanya. Ia hanya ingin melihat bayinya. Saat ia mengintip dibalik jendela ia bisa melihat Gabriel yang tertidur dalam tempat tidur bayi. Haikal benar-benar merawat Gabriel dengan baik bahkan memberikan semua fasilitas untuknya. Kamar bayi yang bagus, semua pakaian mahal, s**u, dan mainan walau Gabriel belum bisa bermain. Freya tersenyum senang. Setidaknya Gabriel akan selalu aman bersama ayahnya.
Freya menyentuh jendela kaca, ia sangat ingin mengendong bayinya. Sedih sekali ia tak bisa memeluknya saat ini. Ia merindukannya, namun ia hanya bisa menyentuh kaca jendela dan memandangnya dari jauh.
"Anda siapa?"
Deg
Jantung Freya terasa terhenti, ia tak boleh ketahuan namun baby sitter anaknya menemukannya. Freya baru saja akan berlari saat baby sitter putranya itu menghentikannya.
"Jangan lari, apakah bayi ini anakmu?" tanyanya menghentikan Freya, sejujurnya ia melihat Freya menangis tadi sambil menatap sedih Gabriel. Walau sang baby sitter tak tau apa yang terjadi, namun di lubuk hatinya merasa bahwa orang yang di hadapannya ini sangat menyayangi sang bayi.
"Aku tak tahu apa masalahmu, tapi seorang ibu sepertimu tak mungkin meninggalkan anaknya tanpa sebab. Kau bisa menemuinya, kau bisa menggendongnya, kau juga bisa memeluknya. Tenang saja, aku akan menjaga rahasia ini dengan baik. Tak akan kuberi tahu siapapun sekalipun ayahnya," jelasnya.
"Kau bisa mempercayaiku, aku tak setega itu membiarkan seorang ibu tak bisa memeluk anaknya," lanjutnya lagi, membuat Freya menangis tapi kali ini ia menangis lega.
"Terima kasih," ucapnya dengan suara bergetar.
Sang baby sitter mengambil Gabriel dan memberikannya pada Freya agar ia bisa memeluknya.
"Gabriel, Mama sangat merindukanmu," tangis Freya.
"Sering-seringlah ke sini, toh letnan sedang banyak misi dan tugas di markasnya," ucap sang baby sitter.
***
Haikal melamun dan mencoba mengingat-ingat siapa yang sudah ia hamili namun ia tak bisa mengingat apapun.
"Bayu," panggil Haikal dari meja kerjanya pada Bayu yang sibuk menyusun setiap foto hasil penyelidikan.
"Humm."
"Bisakah kau menyelidiki siapa yang sudah aku hamili?" tanya Haikal membuat Bayu mengentikan pekerjaannya dan menatap Haikal malas.
"Kal, tugas kita untuk mengurus misi negara, tentang mafia, gangster, teroris, dan apapun yang menyusup ke negara kita. Bukan menangani kasus pribadi, apa lagi tentang siapa yang sudah kau perkosa, berikan saja kasusmu pada polisi yang seharusnya, bukan polisi militer seperti kita, agar sekalian kau ditangkap sudah memperkosa orang," jengah Bayu.
"Bukannya memberi solusi kau malah memakiku," murung Haikal dan Bayu kembali pada pekerjaannya.
***
5 Tahun Kemudian ....
Gabriel keluar dari pintu belakang dan menuju halaman belakang rumah, kemudian ibunya keluar dari balik pohon tersenyum ke arahnya.
"Mama!" senang Gabriel berlari dan memeluknya
"Apa kau sudah mandi?" tanya Freya melihat anaknya yang tumbuh dengan tampan.
Sejak dulu ia tak pernah meninggalkan Gabriel dan diam-diam menemuinya, tentu dengan bantuan sang baby sitter.
"Mama, kenapa tidak tinggal di sini bersama Papa?" tanya anak itu polos membuat Freya bingung untuk menjawabnya.
"Gabriel, untuk saat ini Mama belum bisa, tapi suatu hari nanti Mama akan tinggal bersamamu," senyum pilu Freya walau sebenarnya ia sendiri tak yakin.
"Ini, Mama memasakkan makanan kesukaan Gabriel. Pokoknya harus tetap makan dan jangan kebanyakan main, jangan makan makanan jajanan di luar," ujar Freya memberikan sekotak bekal ke tangan kecil anaknya.
"Jangan nakal kalau Gabriel masuk TK nanti," lanjutnya.
"Siap Mama," senyum Gabriel, bahkan senyuman itu adalah duplikat Haikal.
"Gabriel!"
"Gabriel!!!" panggil sang ayah, membuat Freya perlahan mundur setelah memeluk anaknya, ia kembali pergi sebelum Haikal melihatnya.
"Apa sih Papa? Papa membuat Mamaku pergi," cemberut Gabriel.
"Dia datang lagi? kenapa dia tak pernah menemui ku?" kesal Haikal melihat kotak bekal di tangan Gabriel.
Awalnya Haikal merasa Gabriel berhalusinasi menginginkan seorang ibu, tetapi kenyataannya anaknya itu berkata jujur. Ia pernah mencoba memasang cctv namun Gabriel mengamuk padanya karena ibunya tak pernah mengunjunginya setelah ia memasang cctv itu. Mau tak mau Haikal melepas cctv di halaman belakang demi Gabriel. Haikal sangat penasaran bagaimana dan seperti apa ibu Gabriel.
Haikal mengangkat Gabriel dan menggendongnya ke dalam rumah.
"Seperti apa Mamamu itu?" tanya Haikal mengambil sendok dan menyuapi Gabriel makanan yang dibawa ibunya tadi.
"Um, dia sangat cantik," bangga Gabriel.
"Semua anak mengatakan ibunya cantik," gumam Haikal yang malah ikut-ikutan makan, dia akui masakan ibu Gabriel enak.
"Tapi kali ini aku sungguh menyatakan bahwa Mama cantik sekali, hidungnya mancung, matanya bulat jernih, bibirnya cantik," ucap Gabriel semangat.
"Kau berlebihan," tawa Haikal tak percaya dan kembali menyuap Gabriel.
"Kasian sekali Papa," ejek Gabriel.
"Kenapa?"
"Papa tidak pernah melihat wajah cantik Mama," ucap Gabriel meledek ayahnya.
"Papa juga akan melihatnya nanti," jawab Haikal sambil menatap kotak makan Freya.
"Ya mungkin," batinnya.
"Papa, nanti sore jadi jalan-jalan sama Mama Yaina?" tanya Gabriel membuyarkan lamunan Haikal, ia mengingat janjinya pada seseorang yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun ini.
Yaina Sadila, seseorang yang bekerja di dunia industri perfilman dan sudah membintangi banyak film layar lebar. Bisa dibilang seorang selebriti yang populer di setiap tahunnya. Mungkin ia lelaki yang beruntung yang bisa mendapatkan gadis manis itu. Selain menarik, Yaina juga sosok yang baik hati yang selalu menerima Gabriel, hingga Gabriel selalu nyaman padanya.
"Oh iya kita akan menjemput Mama Yaina nanti dan jalan-jalan bersama" senyum Haikal membuat Gabriel senang, sebagai anak-anak seusianya tentu ia ingin jalan-jalan dan bermain di banyak wahana mainan.
***
"Berani-beraninya dia menipuku!!!" Kesal ketua mafia itu menembak kepala anggota sendiri karena gagal mendapatkan bayaran yang seharusnya, Freya dan yang lain hanya diam melihat ketuanya mengamuk seperti itu
"Bawakan aku uangnya kembali, dengan cara apapun! Barang yang sudah ia terima harus dibayar" kesalnya.
"Kau tak perlu semarah ini, ini masalah kecil. Aku akan mendapatkan uangnya" santai Freya merasa jengah akan situasi yang ada di sana.
"Kalau begitu dapatkan uangnya!!"
Freya mengambil mobil keluaran terbaru yang baru saja jadi miliknya sebagai hadiah dari ketua karena berhasil menjual persenjataan ilegal, ia tau banyak anggota lainnya yang selalu iri padanya karena ia selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan dari sang ketua. Ia menjalankan mobil itu dengan kecepatan tinggi untuk sampai di tujuannya. Sampai akhirnya ia sampai di rumah mewah bak istana milik seorang pengusaha kaya raya yang membeli barang sejenis narkotika dari mereka namun enggan membayar dan berusaha menipu. Freya sudah tau bahwa rumah bak istana itu memiliki banyak penjaga.
Freya menerobos masuk, saat para penjaga itu mengarahkan senjata padanya, maka ia terlebih dahulu menarik senjata api dari balik sweaternya dan mengeluarkan peluru-pelurunya pada orang-orang yang menghalanginya. Sesekali ia juga menghindari peluru yang akan mengenainya dengan sangat mudah. Bodyguard bayaran seperti mereka bukanlah lawannya, ia sudah melewati banyak rasa sakit dan pelatihan yang mengerikan untuk menjadi sekuat ini.
Ia melewati penjagaan depan dengan mudah, dan masuk ke dalam rumah mewah itu hingga sang empunya mau tak mau keluar dan menghadapi Freya "Apa yang kau lakukan dirumahku!!" Bentaknya dan Freya tersenyum miring menghinanya.
"Aku akan memberimu pilihan, ingin membayar barang yang kau ambil dengan baik-baik atau ku potong jarimu untuk membuka brangkas uangmu" tawar Freya, ia melepas pelurunya sekali lagi pada bodyguard yang berusaha menyerangnya dari arah belakang yang dengan mudah ia ketahui. Pria didepannya kini berdiri takut melihat hampir semua bodyguardnya terluka parah akibat tembakan, mereka semua tak mampu berdiri lagi untuk membantunya.
"Aku tak punya banyak waktu" kesal Freya ia menarik pisau lipat dari dalam saku celananya, membuat pria itu mundur dengan rasa takut yang luar biasa.
"Katakan jari yang mana yang menjadi password brangkas uangmu, atau aku akan memotong semua jarimu untuk mencobanya" Freya terus berjalan mendekat menyudutkannya.
Buakkkk
Freya menendangnya hingga tersungkur di lantai dan menginjak tangan kanannya.
"Kita mulai dengan jari di tangan kanan" Freya menganggkat pisaunya tanpa ragu untuk memotong jari itu
"Aku akan memberikannya padamu!!" Ucap pria itu cepat membuat Freya tersenyum "Cepat, aku jijik lama-lama berada di tempat ini" jengah Freya, dan pria itu memerintahkan satu asistennya untuk membawakan Freya uang cash, Freya mengambil koper itu dan memastikan semua uangnya asli.
Freya menendang wajah pria itu lagi dengan kesal karena menbuang-buang waktunya.
Freya melirik koper berisi uang di jok sampingnya, mereka memang harus dibayar cash, melalui bank atau sejenisnya akan membuat mereka tertangkap. Ia kembali fokus pada jalanan dan menyetir. Kini ia lebih tenang.
Freya tersenyum melihat area lapangan di mana banyak wahana anak-anak dan jajanan, tiba-tiba saja ia mengingat Gabriel, ia ingin sekali ke sana bersamanya, yah bersama Haikal juga. Itu mimpinya. Namun itu mustahil bagi Freya.
Freya refleks menghentikan mobilnya saat melihat Haikal bersama Gabriel ada di sana, dan bersama sosok gadis manis berkulit putih. Tentu Freya tau itu adalah kekasih Haikal, ia juga tau bahwa dia gadis baik yang menyayangi Gabriel dengan tulus. Senyuman Freya luntur, ia juga tau ia tak berhak cemburu padanya. Ia bukan siapa-siapa bagi Haikal. Sepertinya ia akan mengubur semua khayalannya untuk berjalan bersama, karena ia tak akan menghancurkan keluarga indah itu.
Harusnya ia bahagia Gabriel memiliki ayah seorang letnan dan calon ibu yang baik tak seperti dirinya, tapi rasanya terlalu sakit. Ia menggenggam erat stir mobilnya menahan rasa sesak di dadanya. Air mata mengalir begitu saja tanpa ia sadari.