Freya tersenyum melihat Gabriel kini berseragam TK yang membuatnya sangat mengemaskan dan tampan, ia bersyukur anaknya tumbuh dengan baik. Saat ini mereka di taman samping sekolah, karena Gabriel sedang menunggu ayahnya untuk menjemputnya. Untungnya sang ibu lebih dahulu datang dan menemaninya, ia duduk di pangkuan sang ibu di bangku taman sepi itu, taman yang dikelilingi pepohonan yang rindang hingga sangat nyaman baginya.
"Apa kau punya teman di sekolah?" Tanya Freya mengelus rambut halus putranya.
"Aku punya banyak teman, Mama jangan khawatir. Teman-temanku semuanya baik" senyum polos Gabriel.
***
Haikal melirik jam tangannya berkali-kali, hari pertama sekolah saja ia sudah terlambat menjemput anaknya. Ia bahkan lupa bahwa Gabriel sudah masuk sekolah. Ia mempercepat laju mobilnya hingga sampai di gedung sekolah Gabriel. Namun sekolah itu sudah sepi, tentu saja, ia lambat setegah jam lamanya. Ia mulai mencari di sekeliling sekolah, Haikal tau bahwa Gabriel tak mungkin pergi jauh dari sana.
Hingga Haikal melihat Gabriel di taman samping sekolah dari jarak yang cukup jauh, ia juga melihat Gabriel dipangku seseorang di bangku taman, namun karena jaraknya cukup jauh ia tak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas "Apa itu ibu Gabriel?" Tanyanya dan mulai berjalan cepat ke arah mereka.
Freya yang tersadar akan kehadiran Haikal membuatnya menurunkan Gabriel, dan berlari dari sana. Membuat Haikal gagal menahannya dan melihat wajahnya. Haikal menghela nafas kecewa, Gabriel juga memasang wajah kecewa pada ayahnya.
"Gara-gara Papa, Mama pergi lagi" cemberut Gabriel.
"Apa kau Mama Gabriel?" Tanya Haikal ke arah sebuah pohon besar di sudut taman, ia yakin seseorang itu bersembunyi dibalik pohon besar di sana. Haikal juga tak memaksa sebuah pertemuan jadi dia tak akan membuat sosok itu tak nyaman padanya. Tak ada jawaban, suasana malah hening dan hanya semilir angin siang yang menerpa wajah tampannya.
"Bila itu kau, aku tak tau mengapa kau tak menunjukkan wajahmu. Aku tak tau mengapa kau tak ingin menemui ku secara langsung. Mungkin kau marah dan dendam padaku yang membuatmu harus mengandung dan melahirkan Gabriel sendirian, mungkin pula karena aku tak mengingat pernah melakukan sebuah dosa besar padamu. Tetapi aku benar-benar meminta maaf atas semua yang aku lakukan dan atas semua ketidaktahuanku" ucap Haikal.
Freya yang bersembunyi dibalik pohon hanya bisa memejamkan matanya sedangkan air matanya terus mengalir di pipi mulusnya, ia mengigit bibir bawahnya agar suara isakannya tak akan terdengar.
"Aku sungguh meminta maaf dan aku akan menebus semuanya. Aku juga tau kau ibu yang baik hingga selalu menemui Gabriel. Aku mohon kau tak perlu bersembunyi lagi seperti ini, kau bisa menemuinya sepajang waktu. Kita bisa menjadi orang tua untuknya" ucap Haikal lagi berharap sebuah jawaban, namun tak ada tanggapan apapun.
"Dan kau tak perlu khawatir. Bagaimanapun dirimu, kau adalah ibu anakku, dan aku akan selalu menerimamu. Aku berjanji" lanjut Haikal.
Freya menutup mulutnya dengan satu tangan, matanya terpejam erat saat dadanya makin terasa sesak. Tubuhnya bergetar hebat karena menangis tertahan. Bagaimana ia bisa muncul di hadapan Haikal, saat dia adalah seorang buronan yang harus Haikal bunuh. Bagaimana Haikal bisa menerima bahwa ibu dari anaknya adalah seorang pembunuh, penjahat, bahkan berasal dari lingkungan yang begitu gelap. Bagaimana bisa ia tiba-tiba muncul dan menghancurkan hubungan Haikal dengan kekasihnya?
Tak ada jawaban, Haikal mengenggam jemari kecil Gabriel dan pergi dari sana, ia tau mungkin ibu anaknya itu belum bisa bertemu dengannya dan ia tak ingin membuatnya tertekan. Ia mengalah dari rasa penasarannya.
Mendengar langkah Haikal dan Gabriel yang telah pergi dari sana membuat tangis Freya yang sedari tadi ia tahan kini meledak dan menangis sejadi-jadinya hingga ia memukul dadanya yang terasa sesak dan menyakitkan.
"Maafkan aku Haikal, bukan kau yang salah tapi akulah penyebab semua ini, seharusnya aku tak pernah jatuh cinta pada seorang polisi sepertimu, harusnya aku tak membiarkan dirimu menyentuhku, harusnya aku cukup sadar diri. Dan harusnya aku yang memohon maafmu karena membuat hidupmu seperti ini"
Freya memasuki kamar apartemen pribadinya, ia berjalan lesu menatap wajah sembabnya di cermin. Masih terlihat jelas matanya yang masih berair, ia lalu menunduk melihat kedua tangannya, ia kembali menangis, bukannya ia lemah namun rasa sakit ini berbeda dari rasa sakit terkena peluru. Ini benar-benar menyakitkan baginya. Ia selalu merasa seorang pembunuh dan penjahat sepertinya tak pantas menjadi seorang ibu, namun ia tak bisa tanpa melihat anaknya.
Bahkan manusia sekejam dirinya saja, masih lemah dan mati-matian demi melindungi juga menyembunyikan anaknya. Ia jadi berfikir bagaimana seorang ibu seperti ibunya dahulu tega meninggalkan anaknya seorang diri. Apa hatinya lebih kejam dari seorang mafia berdarah dingin sepertinya?
"Apa aku pantas menjadi Mamamu Gabriel?"
***
Freya menatap beberpa jenis narkoba dan persenjataan yang diamankan oleh beberapa rekannya, mereka lagi-lagi harus berpindah markas karena para polisi Intel itu sudah mengetahui keberadaan mereka. Mereka bukan saja berbisnis narkoba dan persenjataan ilegal, namun bisnis perjual beli minyak ilegal, penyelundupan minuman beralkohol, bisnis dengan segala merek pemalsuan barang hingga uang, hingga perjudian online. Tak heran mereka bisa menghasilkan uang milliaran sekali bisnis mereka berjalan, Namun hal itu dapat merugikan tiap Negera di mana mereka melakukan bisnis, karenanya sekelompok mafia sepertinya adalah buronan yang paling dikejar oleh para polisi militer dan Intel.
Sekelompok mafia sepertinya juga memiliki pimpinan tertinggi yang tentu jauh lebih kuat dan pintar mengelola setiap binis, sang ketua bertugas mengelola, mengatur, mengendalikan, menugaskan dan memanfaatkan teknologi hingga segala informasi untuk bisnis mereka. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai pembunuh tanpa perasaan, karena siapapun yang berkhianat dalam bisnis mereka dan menghalangi maka mereka akan membunuh dan menyiksa tanpa peduli hukum yang ada.
Mereka juga dibekali dengan bela diri dan pelatihan yang ketat dan kuat, sehingga mampu melindungi diri dan menyerang setiap musuhnya. Bila gagal dalam pelatihan maka nyawa adalah taruhan yang harus dibayar. Hanya anggota-anggota yang berbakat yang akan lolos dari sana. Selain itu mereka harus pintar dalam mengelabui polisi, bahkan mengatur strategi hingga tak mudah ditangkap. Bila tertangkap, sebelum polisi mengintrogasi untuk sebuah informasi kelompok mereka, maka ia akan terlebih dahulu dibunuh oleh rekan mafianya sendiri.
Itulah mengapa bisnis mafia tak pernah gagal dalam mendapatkan banyak kekayaan.
"Freya" panggil satu rekannya membuat Freya menoleh dari kegiatannya mengawas anggota lain di dalam gudang mereka "Apa? Kau tak liat aku sedang mengawasi mereka disini" dingin Freya.
"Aku akan mengantikanmu, kau dipanggil ketua kita di ruangnya, sekarang. Mungkin kau akan diberi misi baru" ucapnya membuat Freya memasang wajah malasnya, namun ia tetap pergi dari sana dan menemui ketuanya itu.
Freya masuki gedung menemui sang ketua di ruangannya namun hanya asistennya di sana "Mana Alex?" Tanya Freya menyebut nama asli ketuanya tanpa embel-embel sopan santun seperti yang lain.
"Dia menunggumu di kamar pribadinya" ucap sang asisten, membuat Freya menganggkat sebelah alisnya curiga, ia tau ini mulai tak beres. Bukannya dia terlalu percaya diri, tapi ia tau bahwa ketuanya itu selalu terobsesi padanya. Untungnya dia adalah orang yang akan melakukan perlawaan habis-habisan sekalipun yang mencoba menyentuhnya itu adalah ketua mafia.
Freya berjalan dan membuka pintu kamar Alex, dan melihat pria itu hanya mengenakan celana hitam panjang tanpa atasan hingga otot dan ABSnya terlihat jelas, serta ukiran tatto juga menghias sebagian tubuhnya. Pria itu duduk bersandar di atas tempat tidur mewahnya sambil tersenyum ke arah Freya.
"Kenapa kau memanggilku kesini?" Tanya Freya
"Jangan buru-buru aku sedang ingin bersantai denganmu, minumlah dulu" tawarnya bangun dan berjalan kearah Freya sambil membawa segelas minuman beralkohol kadar tinggi.
"Aku sedang tidak mood untuk minum, jadi bila tak ada urusannya dengan bisnis kita maka aku akan pergi" jengah Freya.
"Minum! Kenapa? Kau tak minum alkohol sekarang hum?" Paksanya.
"Sudah kubilang aku sedang tidak mood"
"Aku tak akan menunggu lagi, aku tidak bisa" ucapnya menyentuh pipi Freya yang halus "Kau terlalu cantik untuk tidak kusentuh" tangannya turun mengelus lengan Freya.
"Hentikan ini" ucap Freya kesal namun sang ketua yang hilang kesabaran mendorongnya ke atas tempat tidur dan memaksanya. Freya memberontak, ia menahan pria itu agar tak menindihnya.
Buakk
Ia menendang pria di atasnya itu dengan keras, ia bukan orang yang mudah diperlakukan seperti itu. Sang ketua terhuyung mundur, ia bisa memperkosa orang yang tak menurutinya namun hal itu sulit ia lakukan pada Freya sekalipun kini ia bernafsu padanya. Apakah ia memakai hati sekarang?
"Hentikan!" Teriak Freya, persetan bila dihadapannya ini seorang pemimpin mafia "Aku bekerja disini untuk bisnis kelompok kita bukan menjadi gadis penghibur malam-malammu!" Ucapnya kesal, ia akan berlalu pergi namun tangannya ditahan oleh sang ketua.
"Kalau begitu minumlah minuman yang aku berikan" ucapnya, hatinya terasa menyesakkan hanya karena ditolak. Ia belum pernah seperti ini. Freya mengambil gelas berisi minuman beralkohol itu dengan kesal, agar semua selasai ia meminumnya sekali tegukan dan menghempaskan tangannya. Ia membanting gelas yang sudah kosong itu hingga pecah, melampiaskan rasa bencinya dan keluar dari sana.
Freya berjalan sempoyongan, kadar alkohol itu terlalu tinggi dan sepertinya ditambah sesuatu di dalamnya. Tubuhnya panas dan mulai tak fokus "Alex b******k!!" Makinya.
***
Haikal pulang kerumah saat hari sudah larut malam tentu Gabriel sudah tidur bersama baby sitternya, ia berjalan menuju dapur tanpa menyalakan lampu saking malasnya, toh masih remang-remang dari lampu halaman belakang dan area kolam. Ia membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri.
Namun, baru saja ia akan melakukannya seseorang memukul dengan keras leher bagian belakangnya hingga ia tersungkur tak sadarkan diri.