Haikal mengerutkan dahinya, ia mencoba membuka mata namun tak bisa, sampai akhirnya ia sadar bahwa matanya tertutup oleh sebuah kain di atas tempat tidur dan tangannya terikat "Apa-apaan ini!!!" Maki Haikal kesal saat sulit melepaskan ikatan tangannya, ikatan itu terbuat dari simpul yang sulit terbuka baginya, seperti orang yang sangat profesional soal ikat mengikat. Ia yakin yang meningkatnya ini bukan orang biasa. Haikal bisa merasakan jemari halus menelusuri wajahnya "Aku tidak sedang main-main, lepaskan aku atau aku akan berusaha melepaskan diri sendiri dan menghajarmu" kesal Haikal, ia adalah pasukan khusus yang bisa membuka ikatan walau itu simpul yang sulit meski membutuhkan waktu beberapa saat, dan sang penculik a.k.a Freya mengetahui itu.
"Tenanglah, aku bukan orang yang berniat jahat padamu, aku hanya jahat pada orang lain, bukan kau" suara halus bisa terdengar di pendengaran Haikal "Siapa kau?" Tanya Haikal.
"Aku, Mama Gabriel"
Deg
Haikal berhenti berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya, jemari Freya masih menelusuri rahang tegas Haikal lalu turun ke d**a telanjang letnan yang memang sudah tak memakai baju atasan lagi, ia menelusuri setiap otot itu dengan jemarinya.
"Aku ini ibu anakmu, kau tak perlu memberontak atau berusaha melepaskan diri karena kita pernah melakukannya bahkan lebih panas dari apa yang akan aku lakukan padamu nanti" senyum Freya, entah mengapa jantung Haikal berdegup kencang, ia yang kuat di dalam medan pertempuran jadi tak berdaya begini mengetahui bahwa yang mengikat dan menutup matanya adalah ibu putranya.
"Aku datang tidak untuk meminta pertanggung jawaban atau merusak hubungan bahagiamu, aku hanya merindukanmu" ucap Freya hingga Haikal merasa setetes air mata jatuh ke wajah tampannya, ia yakin orang yang membekapnya ini sedang menangis.
"Itu sungguh kau?" Tanya Haikal.
"Ini aku, tak ada untungnya aku berbohong padamu"
"Kalau begitu kenapa kau sembunyi dariku? Kenapa kau tak pernah muncul?" Tanya Haikal
"Karena aku tak pantas disisimu, dan semua ini bukanlah salahmu jadi kau tak perlu minta maaf atau merasa bersalah lagi, karena semua ini juga adalah kesalahanku"ucap Freya yang berada di atas Haikal yang masih terbaring dengan tangan terikat dan mata tertutup "Lebih baik seperti ini, aku hanya akan hadir di dalam gelap dimana kau tak perlu melihatku" lanjutnya.
"Tapi, aku ingin melihatmu. Kita bisa menjadi orang tua Gabriel tanpa harus bersembunyi, aku janji padamu" ucap Haikal membuat Freya terdiam dan tersenyum perih. Ia menghapus air matanya dan mengecup bibir Haikal singkat, membuat Haikal cukup shock akan hal itu
"Malam ini aku tak ingin bersedih, aku datang hanya untuk bisa menyentuhmu walau hanya malam ini saja" Freya menunduk mengecup leher Haikal.
"Kita bermain lagi, kau mau bermain denganku? Walau dalam gelap?" Tanya Freya.
"Maksudmu tanpa melihatmu? Mana bisa seperti itu?" Haikal tak terima.
"Tapi kau tak bisa melihatku"
"Kau serius memperkosaku dengan cara seperti ini?" Tanya Haikal lagi.
"Memangnya kenapa?"
"Kalau kau hamil lagi bagaimana?" Pertanyaan Haikal membuat Freya tertawa pelan hingga Haikal merasakan bungkusan kecil menepuk-nepuk pipi kanannya.
"Pakai pengaman"
"Sial! Kau nekat bawa kondom segala" Haikal tak percaya.
"Ayo kita main"
"Lebih tepatnya hanya kau yang bermain, tangan ku terikat dan mataku tertutup"
"Kalau begitu nikmati permainanku, ngomong-ngomong permainanku tidak mudah loh"
Jantung Haikal berdegup kencang, mengapa ia mau-mau saja, padahal ia belum pernah berbicara pada orang ini sebelumnya, mengapa hatinya malah menginginkan malam ini? Mengapa ia menikmati setiap sentuhan tangan orang itu pada tubuhnya?
Freya mencium bibir Haikal yang dimana Haikal terdiam karena cukup kaget akan sikap Freya. Ia menikmati bibir halus dan lembut itu. Ia membalas ciuman Freya yang menindihnya dengan tak kalah panasnya, ciuman itu berlangsung cukup lama bagikan candu bagi Haikal. Bahkan ia lupa bahwa ia sebenarnya memiliki kekasih.
Hanya deru nafas berat dan bunyi ciuman yang terdengar di dalam kamar Haikal, ciuman yang makin lama membuat gairah Haikal naik, Freya menarik wajahnya dan membiarkan mereka bernafas dengan normal sejenak "Berikan aku dadamu" pinta Haikal karena kedua tangannya terikat ia tak bisa menyentuh tubuh indah itu, dan dengan mata tertutup ia juga tak bisa melihat. Freya sedikit merangkak ke atas Haikal hingga dadanya tepat di hadapan pria tampan itu. Freya meremas bantal di atas kepala Haikal saat mulut Haikal mulai menghisap dan mencium n****e di dadanya.
"ahhhh...."
Haikal bisa mendengar desahan indah itu, desahan yang terdengar merdu saat lidahnya sesekali bermain dengan n****e yang berada di dalam mulutnya.
"Ahhhhh... Kak ...."
Desah Freya tanpa sadar membuat Haikal refleks berhenti, ketika mendapat satu fakta tentang ibu anaknya.
"Kak? Kau lebih muda dariku?"
"Umm bisa dibilang aku jauh lebih muda darimu, aku suka memanggilmu Letnan Haikal, tapi yang lebih tua sepertinya tidak sopan" senyum Freya.
"Berapa usiamu saat melahirkan Gabriel?" tanya Haikal penasaran.
"Baru akan beranjak 16 tahun"
"Apa?!!" Kaget Haikal tak menyangka ia meniduri anak di bawah umur saat lima tahun lalu.
"Jangan khawatir, usiaku sekarang sudah legal kok untuk permainan ini hehe" tawa kecil Freya.
"Jangan membicarakan ini, nanti saja" bujuk Freya mencium bibir Haikal lalu ciumannya makin turun mengecup perut berotot letnan itu. Jantung Haikal berdetak makin cepat saat tangan Freya melepas celananya sekaligus.
Jemari Freya mengelus kejantanan Haikal yang mulai mengeras, Haikal mengigit bibir bawahnya, belum apa-apa miliknya sudah bangun begini, mungkin karena sensasi yang dibuat Freya padanya.
Haikal mendesah pelan saat Freya memasukan kejantanannya kedalam mulut, menghisapnya layaknya permen atau menjilatinya seperti memakan eskrim, Freya sangat tau bahwa Haikal suka bermain dengan mulutnya.
"Aahhhh....." desah berat Haikal saat Freya memasukan miliknya itu makin dalam. Deru nafas Haikal mulai makin tak teratur, ia juga mendesah dengan suara beratnya saat Freya dengan lihainya bermain dengan miliknya itu.
Freya senang mendengar desahan Haikal yang menikmati mulut dan jemarinya "Aahhh..." Haikal mendongakkan kepalanya saat rangsangan itu makin menggelitiknya sedangkan Freya enggan untuk berhenti menghisap.
"Shh ahhh....." Freya melepas kejantanan Haikal saat pria itu merasa akan sampai, membuat Haikal mendesah kecewa. Freya tersenyum melihat milik Haikal kini makin keras dan menentang sempurna karena gagal sampai.
"Sudah kubilang, permainanku tidak mudah loh" ucap Freya tertawa pelan melihat wajah kecewa Haikal.
Merasa Haikal mulai tenang, Freya mengunakan jemarinya untuk bermain dengan kejantanan Haikal lagi membuat sang empunya kembali mendesah dan makin sensitif, namun saat ia akan kembali mencapai puncaknya Freya kembali berhenti.
"Ahhhh....shit! Sampai kapan kau akan menyiksaku seperti ini" Haikal mulai tak tahan, rasanya segala sensasi ini sudah sampai seluruh tubuhnya.
"Itu pemanasan" bisik Freya, ia mengambil pelicin dan mengoles ke bagian bawah tubuhnya sendiri sebelum memasukkan milik Haikal, ia juga mengoles di seluruh permukaan milik Haikal yang menegang sempurna karena ulahnya, Freya naik ke atas tubuh Haikal dan menuka kakinya lebar diantara pahan Haikal. Ia mengarahkan milik Haikal ke arah miliknya dan memasukkannya perlahan, terasa perih karena sudah lama ia tak melakukannya.
"Akkhh" Haikal bisa mendengar suara rasa sakit Freya.
"Sepertinya kau kesakitan" ucap Haikal.
"Ini sudah lama terakhir kali kau memasukiku, rasa sakitnya sama" ucap Freya sedikit meringis menahan sakit.
"Tapi seperti yang dulu, setelahnya kau membuatnya jadi nikmat" lanjut Freya frontal membuat Haikal tertawa pelan.
"Nikmat?" Tanya Haikal.
"Tentu saja, kau sudah lupa rasanya kan? Aku akan mengingatkanmu kembali" goda Freya, dan perlahan kejantanan Haikal masuk sempurna dalam tubuhnya membuat Haikal mendesah merasa miliknya diremas lembut di sana.
Freya bergerak pelan untuk menyesuaikan dirinya, lalu perlahan-lahan bergerak cepat. Kini hanya desahan mereka yang terdengar dalam kamar itu. Seperti yang Freya katakan rasa sakit yang ada di awal hanya sementara dan kini bahkan membuatnya bisa mendesah tak karuan.
"Ahh Letnan...." Freya memejamkan erat matanya, tubuhnya bergetar hebat saat ia akan sampai, Haikal mengerakkan pinggulnya dengan cepat saat ia juga akan mencapai batasnya, desahan berat Haikal menandakan ia mencapai puncaknya dan menikmatinya hingga benar-benar membuatnya melayang sesaat.
Freya mengatur nafasnya, tubuhnya terasa lemas setelah keluar. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Haikal dan memeluk pria yang masih terikat itu "Apa aku juga akan tidur sambil terikat?" Tanya Haikal sambil mengatur nafasnya.
"Humm, terus seperti itu" jawab Freya.
"Lepaskan ikatanku dari tempat tidur sialan ini" pinta Haikal.
"Kau akan melihatku"
"Tidak, aku tak akan membuka penutup mata, kau boleh mengikatku tapi jangan dengan tempat tidur ini! Aku tak bisa bergerak bebas" mohon Haikal.
"Jangan melawan" pinta Freya.
"Aku janji" Haikal meyakinkan, dan Freya melepas ikatan tangan Haikal dari tempat tidur dan Haikal benar-benar pasrah saat Freya mengikat tangannya ke belakang saja hingga kini Haikal bisa duduk di atas tempat tidur dengan leluasa walau masih dengan mata tertutup kain.
"Kau mau apa sekarang?" Tanya Freya
"Menungging, dan arahkan milikku pada tubuhmu" pinta Haikal.
"Apa ini? Kau masih mau lanjut?" Shock Freya.
"Kau yang memulai kan?" Tanya balik Haikal.
"Ta....ta...tapi" sekarang Freya yang panik
"Ayo cepat" pinta Haikal membuat Freya menurut saja, dan Freya yakin ini akan berlangsung lama.