Bab 2

1117 Words
Ketua mafia itu menatap satu persatu anggotanya, lalu meletakkan koper di atas meja. Itu LSD, jumlah yang cukup banyak untuk menghasilkan uang yang banyak, Freya dan lima anggotanya akan melakukan transaksi malam ini. "Di bar yang sudah disepakati," jelas sang ketua tersenyum senang. Freya mengambil barang ilegal itu dalam koper kecil. "Aku sudah memesan ruangan khusus di bar, untuk transaksi tepat di lantai 4. Kalian hanya perlu mengantar dan membereskan para polisi bila ada yang menganggu pekerjaan kalian," ucapnya. Freya mengangguk setuju. *** Bayu, salah satu anggota kepolisian, melemparkan map coklat kearah Haikal yang duduk dalam ruangannya. "Apa ini?" tanya Haikal membuka map. "Itu hasil penyelidikan anggotaku, dari hasil interogasi mata-mata yang ku miliki, malam ini anggota mafia yang kemarin akan melakukan transaksi narkoba sejenis ganja di bar Pelita Kencana, bar ini cukup elit dan dimasuki orang-orang elit juga, tidak semua orang bisa masuk ke bar mewah ini," jelas Bayu. "Luar biasa, kau bisa diandalkan letnan Bayu," senyum Haikal, memang sebenarnya bagian timnya lah yang harus mengurus para mafia ini tapi syukurnya Bayu dan timnya selalu membantunya sampai sejauh ini. "Sebenarnya soal mafia seperti ini tak bisa diselesaikan hanya dengan satu kelompok tim milliter saja, kau butuh banyak tim," jelas Bayu. "Tidak apa-apa, tim lain juga memiliki banyak kasus besar yang harus diselesaikan," senyum Haikal. "Aku harus menyiapkan timku untuk malam ini," lanjut Haikal dan Bayu mengangguk pelan. *** Malam ini Haikal harus menyamar sebagai tamu VIP di bar, bila ia ketahuan sebagai polisi maka para mafia bisa lolos darinya dan kemungkinan besar pemilik bar yang sudah disuap oleh mereka akan melaporkan keberadaannya. Karena ini adalah bar elit maka ia harus berpenampilan layaknya orang-orang kalangan atas yang ber-image selalu berfoya-foya juga playboy. Haikal memasuki bar begitupun anggota timnya yang lain yang kini berpencar seolah-olah tak saling mengenal. Mereka mengawasi setiap pengunjung yang masuk ke dalam bar. Haikal sebagai pengunjung memesan minuman agar semua terlihat normal walau dia tak akan meminumnya, tak lucu bila bertugas dan harus mabuk. Beberapa wanita cantik bertubuh seksi mendekatinya, mengelus pahanya dan Haikal hanya tersenyum walau ia cukup risih diraba-raba seperti ini. Ia tak mau membuat keributan sebelum menemukan targetnya. Mata Haikal tetap mengamati setiap pengunjung berusaha menahan cobaan yang kini mengelus tubuhnya, sampai ia melihat sesosok remaja walau remaja itu menutup setegah wajahnya dengan topi besar namun masih terlihat jelas bahwa dia masih anak-anak. "Anak jaman sekarang, pergaulannya luar biasa. Bisa-bisanya ia berani masuk ke tempat seperti ini," gumam Haikal tersenyum miris lalu menghembuskan asap rokok elektrik dari mulutnya. Haikal memperhatikan anak itu, entah mengapa ia tertarik melihatnya, kulit pipinya yang mulus dan bibir yang berbentuk indah. Haikal jadi penasaran dengan mata yang tertutup topinya. Haikal bisa menerka-nerka bawa dia pastinya sangat menarik walau ia tak bisa melihat seluruh wajahnya. Freya merasa ada yang memperhatikannya namun ia tak boleh menoleh karena bisa jadi itu polisi, ia harus waspada sekarang. "Waspada, sepertinya ada beberapa polisi di sini," bisik Freya pelan pada penghubung suara ke seluruh timnya tepat di telinga kirinya itu. Freya berjalan menaiki tangga lalu sembunyi di balik dinding lantai dua untuk melihat siapa yang mengawasinya di bawah sana. "Haikal? Letnan polisi itu di sini?" batin Freya cukup terkejut mengetahui yang memperhatikannya tadi adalah Haikal Dewangga. Dahi Freya mengerut melihat dua wanita penghibur mengelus paha dan d**a bidang Haikal dan Haikal malah tak menghindar. Pria itu malah senyum seolah menikmatinya. "Dia di sini karena mengetahui transaksi kelompokku atau memang dia selalu bersenang-senang di tempat ini?" batin Freya kesal sendiri. "Dari penampilannya dia seperti terniat di sini, sangat tampan. Ah ... beruntung sekali yang bisa menjadi kekasihnya bisa memandang wajah tampan itu setiap saat," Freya malah sibuk dengan pemikirannya sendiri. "Freya kau di mana? Kami semua sudah di ruangan," suara rekan di penghubung telinga kirinya menyadarkan Freya. "Aku ke sana," jawab Freya lalu berbalik cepat menuju lantai empat sesuai perjanjian. "Letnan! Mereka sudah berada di lantai empat dan sedang melakukan transaksi," lapor salah satu anggota tim Haikal melalui penghubung suara yang ada di telinganya. Haikal dengan cepat menyingkirkan kedua wanita yang meraba-raba tubuhnya. "Sial! Bisa-bisanya aku tak melihat mafia itu masuk," batin Haikal kesal, ia langsung berdiri dari tempatnya dan naik ke lantai empat untuk mengepung para mafia itu. Sesampainya di sana, para anggota Haikal sudah berdiri dan mengepung di depan pintu bahkan di setiap jendela. Haikal mengeluarkan senjata apinya mengarah ke pintu, lalu ia menendang keras pintu itu agar terbuka lebar namun kosong, di dalam sana sudah tak ada siapapun. "Apa kita terlambat?" kaget Haikal ia yakin tak salah ruangan, Haikal tetap waspada dan masuk ke dalam ruangan itu. "Geledah ruangan ini," perintahnya. Brak! Baru saja memberi perintah, Freya keluar dari lemari minuman keras yang ada tepat di sebelah Haikal dimana ia bersembunyi lalu menendang keras tangan Haikal yang memegang senjata hingga senjata itu lepas. Haikal cukup kaget mengetahui itu adalah anak yang ia lihat tadi, tapi kini anak itu memakai penutup wajah. Ia benar-benar tak menyangka hal ini. Sialnya tadi ia hanya sempat melihat bibirnya karena tertutup topi. Anggota tim Haikal akan membantu namun terlebih dulu para anggota mafia yang lain keluar dari persembunyian dan menyerang mereka, hingga keluar ruangan meninggalkan Freya yang harus melawan letnan itu. "b******k! Kenapa mereka malah memberikanku lawan yang pangkatnya letnan! Sendrian lagi," batin Freya mengumpat, namun ia berusaha berekspresi normal di balik penutup wajahnya. Haikal berusaha mengambil senjatanya lagi namun Freya berusaha mencegah dengan menendangnya, tetapi Haikal mudah menangkis setiap serangan dan pukulan Freya. Hingga Freya sedikit terhuyung ke belakang dan terjatuh, untungnya itu tak cukup keras karena ia mengunakan kedua tangannya terlebih dahulu sebagai penopang. Haikal mengunakan kesempatan ini untuk melayangkan tendangan dan melumpuhkan gerakannya membuat Freya refleks melindungi wajahnya dengan kedua tangan, entah mengapa tendangan Haikal terhenti, harusnya ia tak boleh punya rasa belas kasihan dengan musuhnya bagaimanapun jenis musuh itu. Tapi mengapa hati dan tubuhnya seolah tak bisa menyakiti anak yang kini berusaha melindungi tubuhnya dengan kedua tangan itu? Melihat ada kesempatan dan Haikal lengah, Freya menurunkan tangannya dan menarik kaki Haikal yang berdiri dihadapannya membuat Haikal juga jatuh di lantai dingin itu. Brak! "Arg!" Freya menendang kaki Haikal bermaksud agar tak bisa mengejarnya. Freya akan kabur tapi entah mengapa ingatannya tadi pada saat Haikal diraba-raba oleh dua wanita di lantai satu membuatnya kesal dan kembali lagi ke arah Haikal. Bug! Dengan kesal Freya meninju wajah Haikal "Akh!" ringis Haikal saat Freya memukul wajahnya dengan sadis. "b******k!" maki Freya dalam hati, ia berbalik lagi bermaksud keluar dari sana, tapi hatinya masih kesal mengingat Haikal malah menikmati sentuhan wanita itu tadi, membuat Freya kembali lagi. Freya menamparnya dengan sadis dan penuh dendam. "Akh! Sial!" umpat Haikal kini pipi kanan kirinya panas dan nyeri karena pukulan dan tamparan Freya. "Rasakan!" maki Freya dalam hati lalu kini ia benar-benar kabur sebelum letnan itu bisa mengejarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD