Bab 3

1091 Words
Malam ini Freya duduk malas-malasan di luar markas persembunyian mereka. Anggota lain sibuk dengan diri mereka sendiri, ada yang membersihkan senjata sniper, ada yang menghitung persenjataan yang akan dijual dengan ilegal, dan beberapa menghitung berbagai jenis narkoba yang diperjual belikan. "Penghasilan dalam bulan ini sangat fantastis," senang sang pemimpin. Freya tak menanggapi dan membiarkan yang lain menanggapi ucapan sang pimpinan. Semakin banyak penghasilan, maka upah mereka juga makin banyak. Bahkan bisa sampai ratusan juta per-anggota setiap bulannya yang mereka gunakan untuk berfoya-foya atau membeli apartemen juga rumah-rumah mewah. Ya, tentu saja uang itu uang haram. Kalau Freya, dia terjebak di organisasi gelap itu karena ibunya sendiri. Orang-orang memang bilang kasih sayang ibu sepanjang masa, tapi itu tak berlaku bagi Freya Anastasya yang diserahkan begitu saja dalam sekelompok mafia buronan polisi saat ia masih berusia 10 tahun. Saat itu juga ia dilatih menjadi seorang pembunuh. Sekali masuk dalam organisasi gelap ini, maka tak mudah untuk lepas dari sana. Mau tak mau ia harus menjadi kuat untuk bertahan hidup. "Ada apa denganmu? Kau terlihat pucat dan sakit belakang ini," tanya salah satu rekannya memperhatikan Freya yang sedari tadi hanya duduk diam. Freya berdiri dari duduknya, "Aku akan istrahat di dalam," bukannya menjawab, Freya malah menghindar dan masuk ke dalam gedung persembunyian mereka yang terletak di pinggiran kota, tempat strategis di ketinggian untuk melihat seluruh kota Jakarta. Freya duduk pada sofa yang ada di dalam ruang sepi itu. Ia menyentuh kepalanya yang terasa pening. Ia adalah bagian medis di kelompok itu. Jadi jelas ia sangat tahu apa yang terjadi padanya dua bulan belakangan ini. "Padahal hanya satu malam, tapi bisa sampai hamil begini." *** "Hahahahhahahahaha," ledakan tawa Jaya dan Bayu mendominasi ruang markas kepolisian itu, sedangkan Haikal memasang wajah masam saat diejek habis-habisan oleh kedua sahabatnya. "Serius! Dia ditampar mafia," tawa Jaya mulai reda. Ia menghapus air matanya karena terlalu lama menertawakan Haikal. "Kau seperti suami yang ketahuan selingkuh di bar, baru kali ini ada polisi yang ditampar sekonyol itu," ejek Bayu. "Biasanya langsung dibunuh, kau malah ditampar. Aku penasaran dengan anggota mafia itu," komentar Jaya. "Ini terdengar konyol, walau aku tak bisa melihat seluruh wajahnya tapi ia terlihat masih sangat anak-anak, um ... sekitar usia 15 atau 16 tahun," jelas Haikal. "Haikal, jangan bicara yang tak masuk akal. Bagaimana bisa anak seusia itu ahli mengunakan senjata api hingga sniper. Itu tak masuk akal," timpal Bayu mulai membuka kertas demi kertas di atas mejanya untuk bekerja kembali. "Mungkin kau mabuk," lanjut Jaya. "Aku tak minum di sana sama sekali mana mungkin aku mabuk," kesal Haikal. "Tapi ngomong-ngomong tamparan anggota mafia itu keras juga hingga pipimu sampai ada bekas tangannya," ucap Bayu berusaha menahan tawa. Bagimana tidak? Mereka ini polisi militer elit rahasia negara, biasanya kalau lawan mafia itu minimal main peluru atau benda tajam sampai mati, tapi Haikal? malah ditampar. Image-nya langsung runtuh sebagai seorang letnan. *** Freya menatap tubuhnya di cermin panjang dalam kamar markasnya. Ia melihat dari ujung kaki sampai ujung kepalanya lalu menghembuskan nafas berat. "Bagaimana aku bisa menyembunyikan bentuk tubuhku untuk beberapa bulan ke depan?" batinnya kalut, karena bila ketahuan ia bisa dianggap berkhianat pada kelompok. Apa lagi kalau sampai mereka tahu bahwa ia hamil anak seorang letnan yang ditugaskan menangkap dan membunuh mereka. Tak sedikitpun terbersit di pikiran Freya untuk mengugurkan kandungannya, malahan dalam lubuk hatinya, ia merasa bahagia memiliki anak dari letnan tampan itu. Dan harus ia pertahankan bagaimanapun keadaan yang harus ia hadapi. Freya tersenyum melihat bayangan dirinya di cermin, senyuman yang begitu manis dan tulus melihat ke arah perutnya. Cklek! "Freya!" Panggil rekannya yang masuk begitu saja membuat Freya kembali memasang wajah datarnya dan menoleh menatap anggota itu. "Ada apa? Apa kau tak tahu sopan santun? Ini ruanganku, kau harus mengetuknya lebih dulu!" kesalnya. "Persetan dengan itu! Jihan membutuhkanmu, dia baru saja terkena peluru," jelasnya. "Bawa saja ke ruang medis, aku akan ke sana mengeluarkan pelurunya," jawab Freya dan rekannya berlalu pergi. Ya, begitulah tugasnya di tim. Bukan hanya memiliki kekuatan untuk membunuh tetapi juga sebagai tenaga medis untuk merawat semua anggota bila terluka. Usianya memang masih terlalu muda untuk bisa lolos di sebuah universitas kedokteran, walau ia masih mahasiswa saat ini tapi otaknya bisa diandalkan. Saat anak seusianya masih harus duduk di bangku SMA dan bermain, ia malah sudah harus membunuh dan terus belajar hingga mampu lulus sekolah terlebih dahulu dari usianya. Mendapatkan kesempatan menjadi mahasiswa kedokteran di universitas unggulan tak akan pernah ia sia-siakan. Freya masuk ke dalam ruangan yang disediakan ketua mafia itu untuknya sebagai ruang bedah, dimana semua alat yang ia butuhkan dan obat-obatan ada di sana. Ia memakai surgical gloves di kedua tangannya agar semuanya steril, lalu ia membersihkan luka dengan alkohol dengan memastikan semua bersih, setelahnya ia mengambil spuit (jarum suntik) dan Lidocaine (bius) lalu menyuntikkannya pada area luka rekannya. Ia perlahan mengeluarkan peluru itu dalam diam dan berusaha untuk fokus agar semua cepat selesai. Tak butuh waktu yang lama, Freya berhasil mengeluarkan pelurunya dan memerban lukanya. Tetapi saat semua hampir selesai, pandangannya serasa mengabur dan kepalanya makin terasa pusing. Ia mencoba agar tetap seimbang dan berusaha untuk tenang, bila ia sampai terlihat mencurigakan ia bisa saja ketahuan bahwa dia dalam keadaan hamil. Freya kembali menyelesaikan semuanya hingga benar-benar selesai lalu dengan cepat meninggalkan ruangan, sisanya akan diurus rekan lainnya. *** Freya memakai sweater rajut besar untuk menutupi tubuhnya, ia menyentuh perutnya, ini sudah bulannya dan ia harus bersiap atas kemungkinan yang akan terjadi. Untungnya perutnya tak terlihat besar dan bisa ia tutupi. "Kau makin gemuk saja, harusnya kau rajin ikut misi agar berat badanmu turun," ucap sang ketua melihat Freya yang makin menarik di matanya. Sebenarnya ia sangat tertarik akan wajah dan tubuh gadis cantik itu sejak lama, hanya saja Freya selalu menghindar darinya. Walaupun dia ketua, ia tak ingin gegabah untuk bertindak, bagaimana pun, Freya satu-satunya medis dalam kelompok mereka. "Kenapa kau mengkritik tubuhku? Itu bukan urusanmu, yang terpenting semua pekerjaanku dalam misi berjalan dengan baik," jawab Freya datar. Ketuanya hanya tersenyum. Sifat dingin Freya makin membuatnya ingin menggapai gadis cantik itu. "Seperti biasa kau makin menarik Freya," senyumnya membuat Freya merasa jijik. Ketua mafia itu kemudian memerintahkan satu anggotanya membawa beberapa kotak berisi senjata ilegal yang akan mereka perjual belikan. "Ini adalah pistol revolver jenis M1873, jangan sampai jatuh ke tangan polisi, barang ini cukup sulit ditemukan dan harganya fantastis. Tim Freya dan tim Leana yang akan membawa barang-barang ini. Pastikan kalian membawa anggota yang cukup," ucapnya. Leana mengambil kotak-kotak itu dan memberikan pada anggota timnya. "Timku akan mengawasi dari jarak jauh," ucap Freya, ia menghindari pertarungan jarak dekat karena kondisinya saat ini "Tidak masalah," jawab Leana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD