Bab 4

1397 Words
Freya berjalan menuju ruangannya yang remang-remang dalam markas persenjataan kelompoknya. Wajah cantiknya menatap datar senjata sniper Barrett M82 dimana senjata sniper jenis ini hanya dikhususkan untuk menjadi miliknya. Hanya dia yang bisa mengendalikan sniper berbahaya itu di dalam kelompok mafia ini. Sniper yang dimana pelurunya bisa menembus dinding beton persembunyian musuh ataupun rompi peluru dengan jarak jauh. Sebenarnya Freya jarang mengunakan senapan sniper itu, tapi demi melindungi dirinya dan nyawa yang kini bersamanya maka ia akan mengunakannya kembali. Ia tahu, polisi tak akan membiarkan transaksi persenjataan begitu saja. Freya mengganti sweater rajut putihnya dengan sweater hitam gelap dan menyembunyikan senjata sniper itu di balik sweater besarnya. Ia juga memakai penutup wajah yang menutupi mulut dan hidungnya hingga hanya mata indahnya yang terlihat. Malam makin larut dan menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Seperti perjanjian, Freya mengawasi dari jarak jauh bersama timnya. Mereka akan melakukan transaksi di sebuah pabrik kayu, di pinggiran kota untuk menghindari kecurigaan polisi. Mereka juga mengatur waktu di larut malam begini. Freya berjaga di lantai dua dan beberapa anggotanya berpencar. Ia berdiri dengan tegap dan menggenggam erat senjata snipernya. Ia mengawasi transaksi Leana dengan seorang pengusaha yang membeli persenjataan ilegal mereka di bawah sana. Sesekali Freya juga mengawasi sekitarnya, bisa saja polisi atau musuh mereka yang lain ada di sekitar sana. Sebenarnya yang paling menakutkan baginya adalah jangan sampai tiba-tiba mau lahiran di sini, bagaimanapun ini sudah bulan lahir bayinya. Tidak lucu kalau dia malah lahiran saat dalam misi. Freya berusaha tenang dan bersikap senormal mungkin. Ia masih terus mengawasi sekelilingnya. Suara tembakan tiba-tiba terdengar dari arah balik susunan kayu dalam pabrik itu dan peluru mengenai lengan Leana di bawah sana hingga Leana dengan cepat menghindar. Freya yakin rekannya itu akan baik-baik saja walau sedikit cidera pada lengannya. Beberapa anggota kepolisian Milliter keluar dari persembunyian mereka di balik setiap tumpukan papan dan kayu di dalam pabrik itu. Mereka dikepung. Sepertinya mereka sedang dijebak. "Sial!" batin Freya, ini semua trik polisi yang bekerja sama dengan pembeli barang mereka. Bisa-bisanya para polisi itu bersembunyi dengan sempurna. Freya mengarahkan snipernya dari lantai dua, ia mengeluarkan peluru-pelurunya untuk mengejar musuh-musuhnya di bawah sana. Ia tak bisa berkelahi sekarang, itu sangat berisiko untuknya. Freya membidik setiap musuh yang mulai mendekat ke arahnya, sesekali ia bersembunyi dari peluru polisi-polisi itu. Mata bulat Freya bisa melihat Haikal Dewangga memimpin pasukannya dengan sempurna. Bila seperti ini, ia bisa terbunuh. Ia berfikir cepat untuk kabur dari sana, tapi ternyata mereka sudah dikepung oleh rencana luar biasa sang letnan itu. Beberapa anggota mafia sepertinya terkena tembakan dan Freya yakin mereka tewas. Semakin lama jumlah mereka makin berkurang. "Freya! Mundur!" teriak Leana memperlihatkan bom di tangannya, sepertinya itu rencana darurat Leana. "Bom?!" shock Freya. Bagaimana ia bisa melompat dari jendela seperti rekannya itu saat keadaannya seperti ini? Di sisi lain, Freya mengkhawatirkan Haikal. Namun sepertinya Haikal sadar bahwa ada bom yang mereka miliki hingga letnan itu juga memerintahkan pasukannya keluar. Leana melemparkan Bom itu dan melompati jendela. "Dasar rekan sinting!!" Maki Freya dan sekuat yang ia bisa ia menyelamatkan dirinya. Ia berhasil keluar tepat waktu walau ia merasa nyeri pada perutnya karena memanjat turun dan melompat, untungnya itu tak terlalu tinggi. Hanya beberapa detik ia keluar, pabrik itu meledak dengan api yang membakar semuanya dalam sekejap. Freya melihat para polisi menjauh dan hampir semuanya selamat. Sebaliknya beberapa rekan Freya yang malah terjebak dan terbakar di dalam sana karena ulah gegabah Leana. "Awww," Freya meringis menahan sakit pada perutnya, ia berusaha mengatur nafas. Ia yakin ia baik-baik saja. Matanya terus mencari arah Haikal namun ia tak melihat letnan itu di antara para polisi. Sepertinya Haikal terlambat keluar dari sana karena menyelamatkan semua anggota timnya terlebih dahulu. *** "Haikal?" Jaya memasuki ruang medis markas kepolisian mereka. Ia melihat semua anggota polisi tim Haikal selamat walau memiliki beberapa luka. Tapi Jaya tak melihat Haikal di sana, itu membuatnya sangat khawatir. "Mana letnan Haikal Dewangga?!" tanya Jaya pada salah satu anggota yang selamat. "Kami tak menemukannya di sana, dia terlambat keluar demi menyelamatkan kami semua," jelasnya sendu, membuat Jaya merasa lemas seketika mengingat sahabatnya. *** Haikal berusaha bernafas, ia terlempar cukup jauh karena ledakan besar itu, untungnya ia sempat keluar walau harus kritis seperti ini. Pandangannya mulai mengabur, ia terbaring di tanah yang dingin. Langit juga masih gelap dan udara dingin masih ia rasakan. Ia merasa tubuhnya terasa sakit dan ia yakin ia punya banyak luka hingga ia tak bisa bergerak. Ia bisa mencium bau darahnya sendiri yang terus mengalir dari setiap lukanya. "Akkhhh," ringisnya menahan sakit. Ia berusaha bergerak tapi tak bisa karna rasanya terlalu menyakitkan. Freya melihat sekelilingnya sambil bersembunyi melihat para anggota polisi sudah dievakuasi oleh tim penyelamat mereka, beberapa juga masih tinggal mencari sang letnan. Freya mundur, ia berusaha mencari jejak Haikal yang kemungkinan bisa terseret jauh karena ledakan tadi. Ia tak percaya bila Haikal berada di dalam pabrik yang terbakar itu. "Letnan," panggil Freya menelusuri jalan setapak yang sepi di tengah gelapnya malam. "Letnan Haikal!" panggilnya lagi, tak terlalu keras memang, ia takut bila menarik perhatian polisi lain yang juga bertugas mencari sang letnan. "Letnan Haikal Dewangga!" panggilnya berulang-ulang menelusuri jalan setapak itu. Kanan kirinya terdapat rumput ilalang yang tinggi. Sesekali ia melihat setiap semak rumput itu berharap ia bisa menemukan Haikal di sana. Haikal yang hampir memejamkan matanya pasrah, samar-samar bisa mendengar suara lembut dan indah memanggil namanya. "Apa itu suara malaikat yang mau menjemputku?" batinnya tersenyum miris, ia merasa mungkin ia akan mati sekarang. "Letnan Haikal!" Haikal mendengarnya semakin jelas, namun matanya perlahan tertutup akibat rasa sakit yang teramat sangat ia rasaka, hingga akhirnya matanya terpejam. Namun ia masih bisa mendengar suara lembut itu semakin mendekatinya. Sampai akhirnya Freya menemukan Haikal yang tak sadarkan diri, penuh luka dan darah yang membuatnya sangat panik. "Letnan!" Freya berjalan cepat ke arah Haikal dan mengecek keadaannya, Freya lega walau tak sadarkan diri tapi detak jantung dan nafas Haikal masih normal. "Siapa?" Freya kaget karena ternyata Haikal masih bisa bicara. Haikal berusaha membuka mata walau penglihatannya masih samar-samar. Ia bisa melihat seorang gadis cantik sedang menatapnya. Ia hanya bisa melihat bola mata indah itu karena sebagian wajah Freya tertutup pelindung mulut dan hidung mancungnya. "Jangan memaksakan diri, kau harus segera diobati!" ucap Freya berusaha membuat Haikal berdiri. Haikal berusaha berdiri walau kembali memejamkan mata. Ia tak mau membuang banyak energi dengan memaksakan diri membuka matanya. Freya membantunya jalan perlahan dan pergi dari sana. Freya membaringkan Haikal di tempat tidur apartemen pribadinya. Di dalam sana memang peralatan medisnya saat ini cukup memadai untuk mengobati luka-luka Haikal. Haikal hanya pasrah, toh matanya berat terbuka karena rasa sakitnya. Freya membuka seluruh pakaian Haikal dan mulai mengobatinya. Sebenarnya ia bisa saja membawa Haikal ke rumah sakit, namun ia bisa dicurigai saat ini bila tiba-tiba membawa seorang letnan. Rekan Haikal pasti akan menyelidikinya. Di sisi lain Freya ingin menyelamatkan pria tampan itu. Tak ada pilihan lain baginya, jadi ia akan melakukannya sendiri. Freya fokus pada setiap luka yang ada di sana, dan menjahit luka-luka yang terbuka lebar, ia juga mencoba menghentikan setiap pendarahan di luka-luka Haikal. Butuh waktu yang lama baginya karena luka-luka itu begitu banyak, sampai akhirnya ia berada di tahap menutup setiap luka itu dengan perban. Freya bernafas lega saat semua selesai dan Haikal masih bernafas normal. Ia juga menyuntikkan penghilang rasa nyeri pada Haikal agar pria itu tak merasakan sakit. "Kau siapa?" tanya Haikal berusaha kembali membuka matanya, ia bisa melihat seorang gadis yang kini memerban lukanya dalam diam. Walau matanya masih sayu tapi ia bisa melihat bola mata indah itu lagi. "Kenapa kau menutup sebagian wajahmu? Kau siapa?" tanya Haikal dengan nada suara rendah karena baru sadarkan diri, Freya tak menjawab. Matanya malah meneteskan air mata sambil memberi perban pada luka di lengan kanan Haikal, sungguh hatinya teriris perih mengingat bahwa ia tak akan pernah bisa menunjukkan diri seutuhnya pada sosok yang ia cintai. Ia cukup sadar diri bahwa ia adalah orang jahat yang harusnya ditangkap oleh sang letnan yang mustahil menerima dirinya. Lebih baik dia tetap mencintai dalam diam bukan? Freya menarik tangan kanan Haikal dengan pelan lalu mengarahkan ke perutnya hingga Haikal bisa merasakan perut itu, ia juga merasakan ada tendangan kecil di dalam sana. "Kau hamil?" tanya Haikal pelan, masih sulit untuk berbicara. "Kau harus menjaganya, apapun yang terjadi kau harus menjaganya, aku mohon," ucap Freya dengan suara bergetar. Air mata tak henti-hentinya menetes dari matanya yang indah. Haikal masih tak mampu berfikir jauh, ia masih merasa berhalusinasi karena pengaruh obat dan kembali memejamkan matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD