Haikal tersadar dan mengerjapkan matanya. Ia berusaha menahan sakit di tubuhnya. Ia melihat sekelilingnya dan tersadar bahwa ia sudah berada di dalam kamarnya sendiri, dahinya mengerut.
"Apa semalam itu mimpi?" bingung Haikal, namun ia melihat ia bertelanjang d**a dan beberapa perban membalut tubuhnya.
"Itu bukan mimpi? Kenapa aku bisa ada di kamarku sekarang?" ia bertanya-tanya dalam kebingungan. Ia ingat bahwa semalam ia di kamar yang asing dan seseorang yang tak ia kenali mengobati luka-lukanya, tapi ia tak bisa melihat wajah gadis itu.
Haikal menoleh ke meja tepat di samping tempat tidur, di sana sudah tersiap beberapa botol obat termasuk pereda nyeri untuk lukanya, membuat Haikal yakin bahwa semalam itu nyata.
"Siapa dia?" Haikal menyentuh lengannya yang sudah diperban rapi.
Klek
"Astaga Haikal!" kaget Jaya dan Bayu yang kini masuk dan menerobos kamar Haikal.
"Kukira kau sudah mati," khawatir Bayu.
"Aku baik-baik saja sekarang," ucap Haikal menunjukkan lukanya yang sudah diperban.
"Siapa yang merawatmu? Bagaimana bisa kau kembali ke sini? Timmu mencarimu semalam dan tak menemukanmu," tanya Bayu.
"Aku seperti bermimpi, seseorang yang entah siapa menyelamatkanku dan entah mengapa aku sudah berada di kamarku sekarang," jelas Haikal.
"Waww seperti di drama-drama," respon Jaya.
"Aku serius!" Kesal Haikal.
"Iya iya."
"Tapi sepertinya yang menyelamatkanmu itu seseorang yang memahami medis degan sangat baik, apakah dokter?" tanya Bayu melihat obat yang disiapkan di meja Haikal dan melihat perban yang dipasang dengan sangat profesional.
"Obat-obat ini cukup sulit didapatkan, dia luar biasa," timpal Jaya juga melihat obat-obatan itu .
"Aku tidak tahu dia siapa, aku juga penasaran mengapa ia menutup wajahnya," gumam Haikal.
"Sudahlah, lupakan. Lebih baik kau istrahat dulu. Bibi sedang membuatkanmu sarapan di bawah," saran Bayu, ia tak mau Haikal banyak fikiran sekarang dengan kondisi yang belum pulih, dan Haikal mengangguk setuju.
***
Freya menelusuri malam gelap yang sepi, di mana semua orang sudah beristirahat di rumah mereka masing-masing. Ia melewati gang sempit sambil tangan kanannya memegang perut dan tangan kiri berusaha memegang dinding beton pembatas gang sempit itu. Rasa sakit makin menjadi-jadi, ia harus menemukan orang yang bisa membantunya. Ia kebingungan karena ia hanya sendirian dan tak punya siapa-siapa. Dalam lubuk hatinya ia terus berdoa agar setidaknya bayinya bisa lahir dengan selamat. Ia tak mungkin ke rumah sakit, rekan mafia dalam kelompoknya akan sangat mudah menemukannya nanti. Saat ini saja ia harus sembunyi-sembunyi.
Peluh sudah membasahi tubuhnya, dan wajah putihnya semakin pucat, ia berusaha berjalan walau tertatih-tatih. Hingga ia memiliki setitik harapan melihat sebuah klinik dokter kandungan yang mulai tutup di depan sana, kalau di tempat klinik pribadi maka ia tak akan mudah untuk ditemukan. Freya berusaha berjalan ketika ia memiliki semangat dan harapan lagi, sebelum gerbang klinik itu tutup.
"Tolong," cegah Freya.
"Maaf, tapi dokter kami akan segera pulang," jelas salah seorang asisten dokter di klinik itu.
"Tolong aku," sendu Freya menahan tangannya, membuatnya iba namun ia bukanlah dokter yang bisa membantunya.
"Biarkan saja, itu kewajiban kita. Bawa ia masuk, kita akan menanganinya sekarang," sang dokter keluar karena melihat kejadian itu, Freya tersenyum lega di bibir pucatnya.
Waktu terus berlalu, dan semua berjalan dengan lancar hingga bayi laki-laki mungil milik Freya lahir dengan sehat dan sempurna. Freya tersenyum, memeluknya lembut saat semua prosedur selesai. Ia mulai merasa sakit pada tubuhnya setelah bayinya lahir. Namun ia bisa menahannya saat melihat bayi mungil itu dalam pelukannya, rasa bahagia Freya jauh lebih besar dari rasa sakit yang ia rasakan. Sang dokter dan asistennya tersenyum senang dan lega bahwa pasien dadakannya itu baik-baik saja.
"Terima kasih," senyum tulus Freya pada sang dokter.
"Itu sudah tugas dan pekerjaan kami, dan kau harus istirahat agar cepat pulih kembali," jelas sang dokter dan Freya mengangguk.
"Apakah aku perlu merujukmu ke rumah sakit? Mungkin kau ingin perawatan yang memadai," tawar sang dokter dan Freya menggeleng cepat.
"Tidak perlu dokter," jawabnya.
"Baiklah kalau begitu, istrahatlah. Aku akan memeriksamu kembali besok pagi," jelas sang dokter, lalu Freya mengiyakan. Setelahnya sang dokter juga asistennya keluar dari sana agar Freya bisa beristirahat bersama bayinya.
Waktu terus berlalu hingga larut malam kembali, entah mengapa perasaan Freya gelisah. Jam masih menunjukan pukul 03:00 dini hari, Freya merasa sedang diawasi dan kehadirannya di sana mulai diketahui. Dia berusaha bangun dan menahan rasa sakit dari sisa lahirannya.
Brakkkk
Freya dengan sigap menggendong bayinya saat pintu kamar klinik itu terbuka dengan kasar.
"Sudah kuduga kau menyembunyikan ini," ucap salah satu anggota mafia yang mencurigai dan mengikuti Freya.
"Akan ku pastikan seluruh anggota kelompok dan ketua kita akan mengetahui hubungan gelapmu itu, jadi menyerah saja," ujarnya mengarahkan senjata api ke arah Freya.
"Bagaimana kau tahu semua ini Dani?" tanya Freya dengan bibir pucatnya.
"Tentu saja aku tahu, dengan gerak gerikmu saja aku sudah tahu, tapi aku butuh bukti bahwa tanggapanku itu benar," jelasnya dengan senyum kemenangan ke arah Freya.
Prang!
Freya dengan cepat mengambil vas bunga di meja dengan satu tangannya dan melemparkannya ke arah Dani, sebelum rekannya itu menembak. Freya berusaha menghindar melewati jendela yang terbuka dan keluar dari sana. Ia menahan rasa sakitnya saat Dani mengejarnya. Freya berlari sambil menunduk menelusuri jalanan gelap, rasanya ia ingin menangis karena rasa sakit dari bagian bawah tubuhnya yang seolah membelah tubuhnya tapi rasa sayangnya pada bayi dalam rengkuhannya jauh lebih besar. Ia akan segera menyelamatkannya walau ia sendiri harus mati.
Dani terus mengarahkan peluru padanya, membuat Freya harus berpikir cepat untuk melakukan perlawanan. Ia terus mencari celah agar bisa selamat, bila seperti ini ia tak akan bisa bertahan karena tak bisa berlari lagi. Wajahnya makin pucat dan pandangannya hampir mengabur, namun ia menyadarkan dirinya dan memeluk erat sang bayi yang mungkin kedinginan dengan suhu malam.
Dani mengejar Freya sampai akhirnya Freya lari masuk ke dalam lorong gelap, ia terus mengejar namun saat ia masuk ke dalam lorong gelap itu ia tak menemukan Freya.
"Sial! Kemana dia?!" makinya saat tak menemukan Freya di sana.
Buakkkk
Dengan satu tangan, Freya memukul keras leher bagian belakang Dani, tentu dari arah belakang, sedangkan satu tangannya masih mengendong bayinya. Hal itu membuat Dani jatuh, merasa sakit di bagian vital lehernya, kesempatan itu tak Freya sia-siakan, ia merampas senjata api Dani dan mengarahkannya tepat pada Dani yang tersungkur di jalan dingin itu. Freya menatapnya dingin. Dia tak akan membiarkannya hidup dan membocorkan rahasianya, jadi ia putuskan untuk menembak Dani berkali-kali hingga benar-benar tewas.
"Dani, kau belum cukup kuat untuk melawanku," gumam Freya, lalu ia melirik bayinya yang terbangun karena bunyi senjata api, untungnya ia tak menangis, ia hanya membuka mata kecilnya melihat sang ibu yang tersenyum ke arahnya.
"Tidak apa-apa Gabriel, aku akan selalu melindungimu, walau ibumu ini mati sekalipun, aku akan tetap melindungimu," ucap Freya, saat bayinya kembali berusaha untuk tidur, ia mulai berjalan menelusuri malam.
Sampai akhirnya ia berada di depan rumah Haikal Dewangga, ia melihat beberapa cctv terpasang di rumah itu. Tetapi Freya adalah seorang anggota mafia yang sudah terbiasa menghindari cctv dengan mudah. Freya menatap bayinya dengan tatapan sedih. Sesungguhnya ia ingin merawatnya dan tak ingin meninggalkannya seperti ini, namun itu tak mungkin, yang ada bayinya akan terbunuh bila kelompok mafianya mengetahuinya. Ia sudah merasakan dibuang dan disia-siakan oleh seorang ibu dan ia tak ingin anaknya juga mengalami hal yang sama dengannya.
Rasanya terlalu sakit, hingga bibirnya bergetar dan air matanya jatuh menuruni pipi pucatnya.
"Gabriel, maaf," ucapnya sambil menahan kesedihan yang teramat sangat.
"Tapi Gabriel, kau tak perlu sedih. Walau tidak tinggal bersama. Ibumu ini akan selalu berada di sisimu, kau tak akan tumbuh tanpa seorang ibu. Mama akan tetap memelukmu, mendengar semua cerita dan kisahmu, menjagamu, menasehatimu, memarahimu ketika kau berbuat salah seperti Mama lainnya, kau akan tetap memiliki seorang Papa dan Mama," sedih Freya tersenyum di bibir pucatnya.
"Mama tidak akan pernah benar-benar meninggalkanmu," Freya memejamkan matanya, bibirnya bergetar hebat dan mulai menangis, rasanya terlalu berat meninggalkan anaknya.
"Gabriel, Mama berjanji selalu berada di sisimu."