2
Flozia POV
Seketika jantungku berdegup kencang tatkala menatap seisi ruangan. Ada banyak sekali gaun pengantin yang sangat indah dan memesona.
Apakah sebentar lagi aku akan mengenakannya? Aku dan Raven pasti akan menjadi pasangan pengantin yang paling serasi sejagat raya.
Aku menggeleng pelan kepalaku tanda kesal oleh pemikiranku yang mulai berlebihan. Apa aku mulai tidak waras dengan pikiran-pikiran yang mulai melantur ini?
Tanpa sadar aku mendongak untuk menatap wajah Raven yang memang tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Ternyata Raven juga sedang menatapku membuat wajahku seketika memanas.
“Coba gaun-gaun itu,” kata Raven tanpa emosi.
Ya. Kalau pun ada emosi yang bergejolak, sepertinya dia berhasil menyembunyikannya. Aku tidak bisa menemukan riak apa pun dalam nada suaranya.
Dengan seluruh tubuh yang terasa dingin dan—entah karena apa—kaki yang sedikit gemetar, aku melangkah mengikuti staff wanita tadi menuju kamar pas.
Kuraih gaun berwarna putih yang bahannya sangat halus dan lembut saat tersentuh oleh jemari tanganku.
Aku masuk ke dalam kamar pas dengan membawa gaun pengantin. Aku tahu, sebelum proses pengambilan foto, aku harus mencoba beberapa gaun yang akan kukenakan nanti, supaya dari pihak studio bisa memastikan kalau gaun itu cukup pas di tubuhku.
Aku melepaskan pakaian dan mulai mengenakan gaun yang tadi kubawa ke ruang pas. Dadaku berdegup kencang. Sungguh, ini akan menjadi awal panjang dalam perjalanan hidupku. Sebentar lagi aku akan menikah dengan pria yang selama ini hanya kukenal dari pembicaraan teman-temanku, yang kutahu, dia adalah playboy sejati.
***
Author POV
Raven menatap heran pada staf wanita yang sedang melangkah meninggalkan ruangan yang penuh dengan gaun pengantin ini. Ia mengerut kening. Mengapa wanita itu mninggalkan mereka? Bagaimana bila nanti Flozia membutuhkan bantuan untuk mengancingkan gaun pengantinnya?
Dan benar saja. Sedetik kemudian, suara Flozia terdengar memanggil staf studio foto. Raven mengumpat dalam hati. Flozia pasti sedang mengalami kendala dalam mengenakan gaunnya.
Dengan langkah berat Raven menuju kamar pas dan membuka pintu yang tidak terkunci.
Mata Raven membesar. Napasnya tiba-tiba saja memburu. Terlihat Flozia juga membesarkan matanya dalam pantulan bayangannya di cermin kamar pas.
Di depannya, Flozia terlihat sangat seksi dengan punggung terbuka, ia tampak sedang kesusahan mengancingkan gaunnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Flozia gugup dengan suara bergetar.
Seketika Raven tersadar. Secepat kilat ia menguasai diri dan bersikap datar.
“Hanya ingin membantumu mengancingkan gaun ini,” goda Raven.
Sungguh, bila melihat Flozia seseksi ini, akal sehatnya sepertinya tidak akan berada di tempatnya lagi. Ia menginginkan Flozia dalam dekapannya saat ini juga. Tubuh mulus itu benar-benar menggoda.
Tanpa komando, Raven melangkah maju, lalu menyentuh kancing gaun Flozia. Tak sengaja tangannya menyentuh kulit punggung Flozia. Seketika hatinya bergetar. Kulit Flozia sangat halus dan mulus, begitu licin membuat jari-jarinya hampir tergelincir. Dan Raven tahu, setelah ini jari-jarinya tidak akan bisa jauh lagi dari kulit Flozia. Dan sepertinya saat itu akan tiba sebentar lagi, saat ia bisa menggerayangi seluruh tubuh Flozia yang benar-benar memukau.
“Hentikan! Aku bisa melakukannya sendiri!”
Raven mengulum senyum. Ia tahu Flozia sedang gugup. “Bukankah tadi kamu minta bantuan? Aku akan dengan senang hati membantumu, Sayang.” Ia menatap wajah Flozia dari pantulan cermin. Flozia menatapnya dengan mata membesar dan wajah yang sudah merona seperti kepiting rebus.
Gairah primitif dalam diri Raven kembali naik ke permukaan. Ekspresi Flozia benar-benar masih alami. Flozia tidak seperti wanita-wanita yang sebelumnya pernah ia kencani. Dan ia tahu, ia akan sangat-sangat betah ditemani Flozia di atas ranjangnya.
Tanpa mengacuhkan ketidaknyamanan Flozia akan kehadirannya, Raven menunduk dan mengecup punggung telanjang Flozia, membuat Flozia menjerit kecil tanda protes.
Raven mengangkat wajah, tersenyum nakal saat menatap wajah Flozia yang sedang merah merona dan memikat.
“Kamu lancang!”
“Tubuh itu akan jadi milikku sebentar lagi, Sayang,” goda Raven dengan senyum lebar. Senang bisa membuat Flozia kesal dan gugup.
Sikap Flozia benar-benar sangat menantangnya dan ia akan dengan sangat senang hati menyambut tantangan itu. Ia akan menunggu saat Flozia akan menjadi miliknya.
Malam pengantin mereka akan menjelma tidak lama lagi.
***
Flozia POV
Raven Pratama...
Aku mendesah namanya dalam hati.
Kenangan saat bersamanya tadi bermain tanpa henti di benakku.
Aku mendesis kesal saat teringat sorot matanya yang nakal dan hangat, yang sejujurnya terasa sangat mengintimidasiku dan membuat dadaku berdebar tidak menentu.
Kecupannya di punggungku juga masih jelas kurasa. Meskipun aku sudah mandi dan membersihkan diri sebersih-bersihnya, tapi bibir cokelat yang sensual itu terasa masih melekat di punggungku, mengalirkan desiran-desiran aneh yang tidak kumengerti. Apa ini artinya aku mulai terpikat pada pesona playboy itu?
Tidak. Aku tidak boleh terpikat padanya. Dia playboy. Dan aku bisa patah hati bila sampai terpesona dan jatuh hati padanya. Aku harus menunjukkan padanya bahwa aku tidak akan takluk dalam pesonanya. Bahwa aku wanita yang sangat berbeda dengan wanita-wanita yang menjadi mainannya selama ini.
Tanpa kusadari aku menggerutu dalam hati.
Ah, Mami... kenapa Mami memilih dia untukku? Kenapa tidak mencari pria yang lebih baik? Yang bisa setia, yang walaupun tidak tampan tapi tidak akan membuatku menderita nantinya.
Memikirkan akan menikah dengan Raven saja, membuatku seperti bersama bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Playboy seperti Raven tidak mungkin bisa berubah menjadi suami yang setia, bukan? Ah ya, tentu saja tidak mungkin. Playboy tetaplah playboy, mungkin hanya ada satu dari seribu playboy yang bisa berubah menjadi setia.
***
Author POV
Raven duduk di sisi ranjang dan melepas jas berikut dasinya. Ia menatap bayangan Flozia dari pantulan cermin meja rias. Flozia terlihat sibuk menghapus makeup di wajah cantiknya.
Raven menyusuri wajah dan bentuk tubuh Flozia dengan matanya. Sejujurnya ia sangat kagum pada wajah cantik dan tubuh indah Flozia yang tercetak sempurna dalam balutan gaun pengantin dari Prancis itu.
Harus Raven akui, Flozia benar-benar wanita yang sangat seksi menggoda dengan d**a yang terlihat penuh dan b****g yang sempurna, yang seketika membuat api gairahnya yang tak pernah padam semakin menyala-nyala.
Raven yakin, ia tidak akan bisa menahan diri lebih lama lagi untuk bisa menyentuh tubuh indah itu. Ia sangat menginginkan tubuh itu menyatu dengan dirinya dan melebur menjadi satu dalam kepuasan.
Raven bertekad, terlepas dari Flozia rela atau tidak, tubuh cantik itu akan jadi miliknya malam ini. Ia akan membuat bibir sensual itu mendesah dalam pelukannya.
***
bersambung ...
Follow i********:: Evathink