3

1048 Words
3 Raven POV Resepsi pernikahan mereka telah dilangsungkan dengan sempurna dan mewah beberapa jam yang lalu. Dan sekarang, ia di sini, di kamar kondominiumnya bersama Flozia, wanita yang beberapa jam lalu telah resmi menjadi istrinya. Dalam satu minggu, ibunya sukses menyulap kamar kondominiumnya yang biasanya menjadi tempatnya berlayar asmara bersama wanita-wanita yang ia sukai, menjadi kamar pengantin yang indah dan romantis. Lihat saja, ada lemari pakaian yang sangat besar di sudut ruangan serta satu set meja rias mahal. Ranjang berukuran besar dengan seprei berwarna cokelat muda yang ditabur kelopak-kelopak bunga mawar di atasnya menghiasi tengah ruangan. Bunga mawar dan anggrek yang sangat segar terhias indah dalam pot mahal yang di pajang di atas nakas dan meja rias. Hanya TV LED yang menempel di dinding dan satu buah sofa mewah berukuran panjang, yang selama ini sudah menghias kamarnya yang masih bertahan, sisanya semua perabotan baru pilihan ibunya. “Aku ingin mandi, siapkan air bathtub,” kata Raven dengan nada angkuh sambil mulai melepas kancing kemejanya. Ya. Ia akan sedikit mengerjai Flozia agar Flozia sadar, menjadi istrinya tidaklah seindah kisah dongeng. Gara-gara Flozia menerima lamaran ibunya, ia harus melepas masa lajangnya secepat ini. Gara-gara Flozia, semua teman-temannya mengejeknya, karena playboy yang terkenal itu harus menikah hari ini. Nikah paksa! Sebenarnya ia memang tidak rugi menikahi Flozia mengingat betapa seksi dan cantiknya wanita itu. Tapi menikah adalah pilihan terakhir yang ada dalam hidupnya karena ia masih haus akan wanita-wanita untuk memuaskan gairahnya. Ia masih ingin bebas, dan tentu saja, masih bangga dengan predikat playboy itu. Flozia yang bergeming membuat Raven naik darah. “Flozia!” panggil Raven kesal karena perintahnya sama sekali tidak diacuhkan oleh Flozia. “Kamu kan punya tangan dan kaki, kerjakan saja sendiri!” Napas Raven memburu. Ia sangat tidak suka dibantah, apalagi oleh wanita yang sudah menjadi istrinya. “Sama suami jangan lancang!” kata Raven kesal sambil berjalan mendekati Flozia yang sedang melepas bulu mata palsunya. Raven segera merengkuh tubuh Flozia dan membopongnya, membuat Flozia berteriak. “Lepaskan! Apa yang kamu lakukan!” Flozia memukul d**a Raven. Raven menyeringai. Apa yang ia lakukan? Ia akan memberi pelajaran pada Flozia, wanita cantik yang sudah menjadi istrinya, yang tidak tahu adab dan sopan santun. Dengan kasar, Raven mengempas tubuh langsing Flozia ke atas ranjang. Gaun pengantin Flozia yang masih melekat indah di tubuhnya makin membuatnya terlihat seksi. “Kamu kasar!” teriak Flozia dengan wajah merah. “Wanita yang tidak tahu adab sepertimu memang harus dikasari,” Raven menyeringai. Ia membungkuk untuk meraih tubuh Flozia. Flozia yang berusaha untuk bangun, tiba-tiba menendangkan kakinya tepat mengenai dagunya, membuat Raven benar-benar naik darah. Selama ini wajah tampannya tidak pernah ditendang oleh satu wanita pun. Mata Raven menyala-nyala menandakan amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Ia menarik kaki Flozia yang terlihat mengesot mundur di atas ranjang. “Lepaskan! Jangan sentuh aku!” Flozia menendang-nendangkan kakinya yang berada dalam cengkeraman Raven. Raven menyeringai lebar. Ia sangat suka dengan penolakan Flozia. Selama ini wanita-wanita yang menjadi pasangannya tidak memberinya tantangan sedikitpun. Wanita-wanita itu terlalu haus belaian dan selalu menggodanya. Berbeda dengan Flozia. Flozia menolaknya, membuat gairahnya terus membara. Ia jadi penasaran, apa rasanya bercinta dengan wanita seperti Flozia? Pasti desahan Flozia seksi sekali. Raven tersenyum dalam hati melihat Flozia dan menendang-nendangkan kakinya. Raven menarik kuat kaki Flozia hingga Flozia tersentak dan terbaring di ranjang. Raven tertawa senang. Ia suka sekali melihat raut wajah Flozia yang memucat dengan rambut berwarna hitam gelap yang acak-acakan. Rambut yang tadi terjalin indah saat menjadi pengantin, sekarang sudah berantakan. Raven menggerutu dalam hati. Pastinya ini bukan malam pengantin seperti yang diimpikan semua pria. Ia seperti pria dengan otak m***m yang akan memperkosa seorang gadis perawan. Tapi ini semua terjadi juga karena Flozia tidak mau bekerja sama. Tentu saja ia akan menuntut haknya sebagai suami, walaupun mereka menikah karena paksaan orangtua, tapi mana mungkin ia menolak tubuh wanita cantik? “Lepaskan!” Mata Raven terpaku pada d**a Flozia yang turun naik dengan cepat. d**a itu tersembul indah menggoda dalam balutan gaun pengantin yang berleher rendah. Seketika kelelakian Raven menegang. Ia menjadi begitu ingin bercinta dengan Flozia saat ini juga. Tanpa peduli pada penolakan Flozia, Raven naik ke atas ranjang dan menindihnya. Ia mencium bibir Flozia dengan buas. Saat bibir sensual itu masih tidak mau terbuka, Raven menggigitnya pelan membuat Flozia memakinya. Raven menyeringai dan kembali memagut bibir istrinya. Semakin Flozia menolak, maka semakin terbakar gairahnya. Mendapat barang langka itu memang menyenangkan. Flozia sangat berbeda dengan wanita-wanitanya. Lihat saja! Ia akan membuat Flozia mendesah keenakan dan ketagihan dengan belaiannya! *** Flozia POV Aku menggerakkan badanku yang terasa linu. Malam yang cukup panjang baru saja kulewati. Kubuka sedikit mataku dan kembali memejamnya. Cahaya matahari pagi yang bersinar cemerlang menembusi gorden jendela kondominium, membuat seluruh ruangan menjadi terang benderang. Aku melenguh kecil saat merasa nyeri di pusat diriku. Kulirik pria yang tertidur lelap di sampingku, Raven Pratama, pria yang sudah resmi menjadi suamiku. Tadi malam ia telah mengambil haknya sebagai suami. Aku yang jelas-jelas menolak keinginannya, sama sekali tidak diacuhkan. Kusibak selimut, lalu bangun dan duduk tegak dengan pikiran yang berkelana ke sana kemari. Rasa perih yang semakin nyata kurasa membuatku meringis. Tadi malam adalah kali pertama untukku, Raven telah merenggut kegadisanku dan meninggalkan rasa sakit di sana, walau tidak kumungkiri, aku menikmatinya. Sensasi yang baru pertama kali kurasakan itu membuatku melayang tinggi. Raven mengantarku mencapai puncak demi puncak kenikmatan. Aku bukan wanita munafik, awalnya menolak tapi akhirnya mendamba. Aku wanita normal yang bisa tergoda. Raven begitu pintar mencumbuku, membuatku yang sangat minim pengalaman, tenggelam dalam badai cumbuannya. Membuatku lupa untuk mempertahankan kegadisanku. Tapi sebenarnya untuk apalagi aku mempertahankannya? Kami sudah menikah, dan Raven adalah suamiku, suka atau tidak, tubuhku sudah menjadi miliknya. Tiba-tiba Raven di sampingku bergerak membuat dadaku berdebar. Secepat kilat aku meraih selimut yang tadi kusibak untuk menutupi tubuh polosku. Dadaku semakin berdebar tatkala mata Raven terbuka dan menatapku. Senyum puas yang terukir di wajah tampannya membuat perutku seketika terasa melilit. Aku gugup. “Pagi, Sayang,” sapa Raven terdengar mesra tapi juga mengejek. Aku bergeming dengan jantung yang berdegup makin kencang. “Malam yang sangat indah,” kata Raven lagi sambil bangun dan duduk. Dengan sengaja ia membiarkan tubuh polosnya terbuka tanpa selimut. Aku menggerutu dalam hati. Jantungku berdegup berkali-kali lebih cepat tatkala melihat miliknya yang sudah sempurna dan seperti sengaja dipertontonkan kepadaku. *** bersambung ... Follow i********:: Evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD