4
Flozia POV
Aku membuang muka dan bersiap untuk meninggalkan ranjang, tidak mau digoda dan diledeki Raven lebih lanjut lagi.
Aku tahu Raven pasti menertawakanku di dalam hatinya karena mendapatiku masih perawan. Pasti terlihat jelas aku begitu minim pengalaman. Aku begitu pasif dan menerima semua cumbuan Raven yang sangat dominan.
Aku salah bila berpikir Raven akan membiarkanku berlalu begitu saja. Tanganku terasa ditarik dan dalam sedetik tubuhku terbaring di atas ranjang. Raven menyeringai membuat perutku seketika semakin terasa melilit.
“Buru-buru mau ke mana?” Raven menggoda. “Pagi ini masih panjang,” katanya sambil menunduk.
Wajahku memerah. Aku tahu maksudnya. Tapi belum sempat aku melakukan apa pun, Raven mencium bibirku. Aku ingin menolaknya, tapi sekali lagi, semua terjadi begitu cepat. Tahu-tahu aku hanya mendengar desah suaraku dan napas kami yang memburu yang bergema ke seluruh kamar.
***
Author POV
Raven menatap Flozia yang sedang sibuk membuat roti bakar untuknya. Setelah bercinta sepanjang malam dan berlanjut tadi pagi, siang ini ia terbangun dengan perut yang sangat lapar. Dan sepertinya Flozia tercipta untuk melayaninya.
Meski terlihat enggan dan keluar penolakan dari bibir sensual itu, sekarang Flozia sedang terjerat dengan mesin pemanggang roti tawar. Flozia membuat sarapan kesukaannya itu karena paksaan dan ancaman darinya.
Tentu saja ia mengambil kesempatan yang ada. Saat Flozia berkeras menolak permintaannya untuk membuat roti bakar, Raven mengancam akan memberitahu ibu Flozia, yang seketika membuat Flozia berang dan berakhir dengan membuat roti bakar tanpa kerelaan hati. Pastinya Flozia tidak mau diomeli ibunya.
Raven mengulum senyum, puas bisa mengejai Flozia. Siapa suruh Flozia mau menjadi istrinya? Coba saja dari awal Flozia juga menolak perjodohan ini, pastinya sekarang mereka tidak terikat dalam sebuah pernikahan yang tidak berlandaskan cinta ini.
Raven tidak menyangkal kalau ia tertarik pada Flozia. Flozia wanita yang sangat menarik dan menggairahkan. Apa lagi Flozia masih perawan saat tadi malam ia menggaulinya.
Sejujurnya Raven sangat terkejut. Ia tidak pernah berharap akan menjadi pria pertama untuk Flozia. Ia tidak pernah berhubungan dengan gadis perawan sebelumnya, dan mendapati istrinya masih perawan, memberinya kesenangan tersendiri. Ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Ia tersanjung.
“Ini,” kata Flozia sambil menghidangkan dua potong roti tawar bakar yang sudah dioles mentega dan gula.
Raven mengerut kening saat melihat dua potong roti bakar gosong yang Flozia hidangkan untuknya.
“Ini bukan roti bakar, Sayang. Ini roti arang. Kamu tidak lihat ini gosong?” Raven mulai kesal melihat ulah istrinya.
“Aku sudah bilang aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, kamu yang memaksaku.”
“Ini hanya pekerjaan mudah dan ringan, masa itu saja kamu tidak bisa?” tukas Raven kesal. Ia tahu Flozia pasti sengaja membiarkan rotinya gosong.
“Kalau mudah, kenapa tidak kerjakan sendiri?” balas Flozia. “Kamu bikin sendiri saja, aku lelah,” lanjutnya lagi tak acuh dan bersiap meninggalkan ruang makan.
Napas Raven memburu. Ia bangun dari kursi yang sudah sepuluh menit ini ia duduki. Secepat kilat ia menarik tangan Flozia.
“Lepaskan!” teriak Flozia dengan wajah merah padam.
Raven menyeringai. “Aku akan mengajarimu cara membuat roti bakar yang benar, Sayang,” Raven meraih tubuh Flozia dan mengempasnya ke meja makan.
Flozia menjerit dan berusaha melepaskan diri.
“Kamu kasar! Lepaskan!” Flozia mendorong d**a Raven yang sudah menunduk didekatnya.
“Istri yang menurut pada suami, memang harus dikasari dan diberi pelajaran!”
Dalam sekedip mata ia menarik tali kimono yang Flozia kenakan saat selesai mandi tadi. Kimono terbuka dan mempertontonkan tubuh putih mulus Flozia dengan sempurna.
Raven menelan ludah. Seketika napasnya memburu karena gairah.
“Lepaskan. Aku tidak mau!” Flozia menendang-nendangkan kakinya.
Raven menyeringai. Ia memegang kedua kaki Flozia dan meletakkannya pada kedua bahunya. Setelah itu, ia menunduk di pangkal paha Flozia.
Desah dan rontaan Flozia menyatu menjadi satu membuat Raven semakin b*******h. Perutnya yang tadi lapar tiba-tiba saja kenyang. Yang ia butuhkan sekarang bukan lagi roti bakar dengan olesan mentega gula, tapi kehangatan dan kenikmatan dari tubuh Flozia.
***
Flozia POV
Inikah yang namanya hari semanis madu bagi pengantin baru?
Apa manis namanya, jika dengan kaki gemetar karena sepanjang malam hingga menjelang siang terus diajak berhubungan intim, lalu dipaksa memasak mie instan?
Raven memang keterlaluan. Kenapa tidak memesan makanan dari restoran siap saji saja, tapi lebih memilih merepotkanku? Untuk kali ini aku tidak berani lagi menolak permintaannya. Kejadian tadi siang masih membekas kuat di ingatanku. Bagaimana saat Raven memaksaku untuk membuat roti bakar dan aku mengerjainya dengan sengaja memanggang rotinya hingga gosong, justru mendapat balasan dengan percintaan di atas meja makan.
Sepertinya Raven sangat senang bisa mengerjaiku. Lihat saja ekspresi wajahnya saat ini. Meski sedang sibuk di dapur, aku masih bisa melihatnya sedang tersenyum senang sambil duduk manis menonton TV di ruang tamu. Dia pasti puas sekali bisa membuatku berdiri di dapur dengan kaki gemetar seperti ini dan pastinya karena dia bisa menggauliku dan membuatku menjerit lupa diri oleh ledakan badai kenikmatan.
“Istri yang manis,” goda Raven saat aku menghidangkan mie goreng untuknya.
Aku mencibir kesal. Raven tergelak membuatku makin naik darah.
Aku meninggalkannya dan duduk di ruang makan, menyantap setengah piring mie instan yang baru saja kumasak.
Baru saja aku makan beberapa suap, Raven datang menghampiriku dan berdiri tidak jauh dari meja makan.
Tiba-tiba saja dadaku berdebar. Sebisa mungkin aku berusaha untuk menghentikan debar di d**a dengan berpura-pura sangat menikmati mie goreng yang sedang kumakan.
“Ngomong-ngomong, kamu hebat sekali, Sayang.”
Sendok di tanganku menggantung di udara. Aku yang akan menyuap mie goreng ke dalam mulut jadi terpaku.
Kuletakkan kembali sendok ke atas piring dan memandang Raven dengan wajah memanas.
“Aku tidak butuh pujian,” ketusku. Aku tahu Raven sedang mengejekku. Hebat? Aku tahu maksudnya adalah bukan hebat memasak mie instan, tapi hebat di atas ranjang. Hebat dari mana jika pengalaman pertamaku adalah bersama dirinya tadi malam? Raven sengaja mengejekku!
“Tapi sebagai suami yang sangat mencintai istrinya, aku ingin memujimu, Sayang.”
Wajahku semakin memanas. Rasanya semua makanan yang sudah masuk ke dalam perutku hampir keluar lagi. Aku mau muntah mendengar kalimat Raven yang sangat berlebihan. Cinta? Uff, berlebihan sekali! Aku baru tahu, selain playboy, dia juga suka mengejek dan menggoda.
Tanpa peduli pada Raven, aku berdiri dan melangkah ke dapur. Membawa piring yang sebenarnya masih berisi mie yang belum habis kumakan.
Raven terdengar tergelak membuat wajahku makin memanas. Aku tahu ia sangat puas bisa menggodaku.
“Siap-siap sebentar lagi kita berlayar, Sayang.”
Darahku kembali naik ke wajah. Rasanya aku ingin membanting apa saja ke wajahnya yang pastinya sedang menatapku sambil berdiri di dekat meja makan sana.
Berlayar? Pasti maksudnya berhubungan intim. Dapat tenaga dari mana dia? Dasar nafsuan!
***
Love,
Evathink
Follow i********:: evathink