5

1011 Words
5 Aku melempar kunci mobilku ke atas meja begitu saja. Dengan perasaan kesal, aku mengempaskan bokongku di sofa empuk ruang keluarga rumah orangtuaku. “Sama siapa pulang?” tanya Mami begitu melihatku. “Sendiri,” jawabku singkat dan kesal. Ini semua gara-gara Mami. Gara-gara Mami aku harus menikah dengan si playboy Raven. Kupikir Mami akan mencarikanku suami yang baik seperti Kak Ronald—suami kakakku. Tapi aku salah. Pilihan Mami jatuh pada playboy yang menyebalkan itu. Raven. Semua wanita bertekuk lutut di kakinya dan menginginkannya, karena dia terkenal tampan, anak orang kaya dan pastinya perayu ulung. Lihat saja tadi malam, dia berhasil menggauliku. Aku yang awalnya berusaha untuk menolak, akhirnya ambruk dalam pelukannya. Pria kaki wanita seperti Raven sangat tahu bagaimana cara menaklukkan wanita. Aku dibuat terbuai dalam bahtera kenikmatan. Dia membuatku merasakan nikmat yang selama ini belum pernah kucicipi. Aku melambung tinggi oleh cumbuannya. Penolakanku saat ia akan menyatukan tubuh kami hanyalah sebuah penolakan palsu, pura-pura! Aku begitu terlena dengan permainannya. Cumbuan demi cumbuan membuatku menjerit tertahan saat ia mengantarku meraih puncak kenikmatan. “Flo!” Lamunanku buyar mendengar suara Mami yang melengking. “Kamu itu... dari tadi Mami ngomong panjang lebar, tapi kamu malah melamun,” tegur Mami kesal. Aku menarik napas panjang. “Ada apa, Mi?” tanyaku malas. Aku duduk berselonjor di sofa. Papi terlihat sedang menonton TV tanpa mengacuhkan kami. “Kamu pulang ke sini, nanti dicari suamimu,” kata Mami lagi. Aku memejamkan mata, tak peduli dengan kata-kata Mami. Raven tidak mungkin mencariku, dia punya segudang wanita yang siap kapan saja untuk menemaninya. Bayangkan saja bagaimana aku tidak kesal dan memilih pulang ke rumah orangtuaku, setelah puas berkali-kali menggauliku, Raven pergi begitu saja tadi sore setelah mendapat panggilan di ponselnya dan meninggalkanku yang sedang terbaring lemas dengan tubuh polos di atas ranjang di kondominiumnya. Dasar semaunya! “Flozia.” Mendengar Mami memanggil nama lengkapku, aku tahu, Mami sedang kesal padaku. “Biar saja, Mi. Lagi pula dia juga sibuk,” aku beralasan. Aku bangun dan bersiap meninggalkan Mami untuk ke kamar. “Sebaiknya kamu pulang, Mami tidak mau nanti terdengar kalimat tidak enak dari ibu mertuamu.” Aku merengut tanda kesal. “Ibu mertua Flo tidak akan tahu, Mi. Kami kan tinggal di kondominium Raven.” Sudah pukul tujuh malam, sebentar lagi makan malam, tega sekali Mami mengusirku tanpa mengajakku makan lebih dulu. “Mami tahu. Nanti kalau Raven mengadu pada maminya bagaimana? Kamu tahu kan dia sangat dekat dengan maminya,” Oh Mami. Kenapa tidak bilang saja kalau sebenarnya Raven itu anak manja. Anak Mami! Umur sudah tiga puluh empat tahun, tapi kelakuan sangat jauh dari dewasa. Sesukanya dan diktator. Bikin satu gelas kopi atau masak mie instan pun dia tidak bisa dan memaksaku melayani semua kebutuhannya. “Sudah tahu dia anak manja, kenapa Mami nikahkan Flo sama dia!” “Kamu itu, ya, bukannya bersyukur Mami carikan suami kaya, malah menyalahkan Mami.” “Sudahlah. Untuk apa kalian bertengkar? Papi pusing mendengarnya,” tukas Papi kesal. Nah kan... Gara-gara Raven, satu rumah ribut. Papi yang biasanya tenang pun, jadi kesal. Aku bangun dan menghentakkan kaki, lalu bersiap menuju kamarku. Baru saja kakiku bergerak beberapa langkah, terdengar sebuah suara menyapa Mami dan Papi. Aku menoleh dan mendapati Raven berdiri di dekat pintu masuk. Wajah tampannya terlihat tegang. Sorot matanya yang tajam menusuk menatapku dingin hingga membuat dadaku berdebar. “Raven, datang jemput Flo, ya?” tanya Mami manis dan ramah. Aku menggerutu dalam hati. Sikap Mami seolah-olah bukan aku yang menjadi istri Raven, tapi Mami. “Iya, Mi,” Raven tersenyum sopan. Meski begitu, matanya memandangku dengan sorot tajam bagai busur panah dan memanah jantungku, membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Aku membuang muka. Di depan Mami saja sikapnya manis seperti gula. Padahal di belakang Mami, dia mengerjaiku. “Ayo masuk, kita makan malam bersama,” ajak Mami ramah. Tanpa peduli lagi pada Mami dan menantunya, aku berbalik dan melangkah menuju kamarku. Tubuhku terasa gerah. Mungkin bukan hanya tubuhku, hatiku juga. Sebaiknya aku mandi untuk mendinginkan hati dan tubuhku. Aku mendesis kesal dan menghilang di balik pintu kamar. *** Author POV “Siapa yang mengizinkanmu pulang ke rumah orangtuamu?” tanya Raven kesal sambil membuka pintu kondominiumnya. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah mertuanya hingga tiba di kondominium, tidak ada kata yang terucap dari bibirnya dan Flozia. “Aku tak perlu minta izin dari siapapun untuk ke mana-mana,” jawab Flozia acuh tak acuh sambil melempar tasnya begitu saja ke sofa ruang tamu. Amarah Raven tersulut. Sejak tadi ia sudah berusaha untuk bersabar saat pulang ke kondominiumnya dan mendapati Flozia sudah menghilang, hingga dengan sangat terpaksa ia ke rumah mertuanya, karena untuk menghubungi Flozia, ia sama sekali belum memiliki nomor ponselnya. “Kamu istriku, jadi kamu harus minta izin dariku ke manapun kamu akan pergi,” Raven menarik tangan Flozia yang akan berlalu ke kamar mereka. “Lepaskan!” Flozia menepis tangan Raven. Tangan Raven terlepas. Tapi sedetik kemudian Raven menarik pinggang Flozia hingga tubuh mereka menempel satu sama lain. “Lepaskan aku!” Flozia memukul d**a Raven. Raven menyeringai lebar. Amarahnya mulai berganti gairah. Entah mengapa, setiap kali melihat Flozia yang berontak dengan wajah merona seperti itu, kelelakiannya langsung bereaksi. “Aku tidak suka istri yang suka membangkang, Sayang,” bisik Raven pelan di telinga Flozia. Setelah itu, ia mengulum nakal telinga istrinya. Flozia menggeliat dan mendorong tubuhnya. Raven tergelak kecil. Ia kembali meraih Flozia yang baru saja selangkah lepas darinya. “Daripada kita bertengkar, bagaimana kalau kita bercinta, Sayang?” bisik Raven menggoda di pipi Flozia lalu mengecupnya pelan. Flozia mendorong wajahnya membuat gairah Raven makin tersulut. “Kamu m***m!” “Ah, kamu wanita munafik. Bukannya kamu juga suka, Sayangku?” Raven mendekatkan wajahnya pada Flozia. Mata Flozia membesar dan membuat Raven tersenyum dalam hati. “Kamu yang memaksaku,” tukas Flozia cepat dengan wajah makin memerah. Membela diri, gerutu Raven dalam hati. “Baik, mari kita lihat, apa ini yang namanya dipaksa?” Ia menunduk dan mengecup bibir Flozia. Flozia meronta mencoba melepaskan diri. Dan dipaksa yang Flozia maksud itu adalah mendesah dalam cumbuannya. *** Love, Evathink Follow i********:: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD