Udara pagi benar-benar membuat dua tubuh yang sekarang masih saling terlelap dalam dekapan selimut terusik, ketika suara alarm dari ponsel hitam di atas nakas bergetar mengganggu tidur lelapnya.
''Eung.'' Lenguh Alana terganggu dengan suara yang mengusik tidurnya. Tangannya terulur ke nakas sampingnya melihat apakah ponselnya yang bergetar, tetapi ponsel putihnya menunjukan layar gelap.
''Ah berisik,'' gerutu Alana lagi. Tangannya sudah terulur pada pria di sampingnya yang tampak tak terusik dengan suara alarm yang memekan telinganya.
''Raff, bangun dong. Ponsel kamu bunyi.'' Katanya sambil menepuk punggung tubuh Raffi yang tidur tengkurap dengan kepala miring kearahnya. Tapi tak ada pergerakan dari pria di sampingnya, membuat Alana semakin menggerutu sebal.
''Raffi, ya ampun bangun dong!'' ujar Alana lebih keras dengan tangan yang menepuk tubuh Raffi. Tetapi dasar kebo, pria satu itu tak kunjung bangun. Dengan sebal tangannya terulur melewati tubuh besar Raffi untuk meraih ponsel hitam untuk mematikan alarm yang kurang ajarnya sudah mebangunkan Alana di pagi buta seperti ini.
Sret
Hanya satu detik Alana mematikan alarm lengan kokoh itu sudah membuat tubuhnya kembali terlentang di atas kasur dengan tangan Raffi yang sudah memeluk tubuh Alana untuk kembali merapat pada d**a yang tertutup kaos tipis itu. Terkejut pasti, apalagi jantung Alana yang luar biasa berdentum tak karuan menerima sentuhan yang terlalu berani dan tiba-tiba dari pria yang mempunyai status suaminya itu.
''Raffi lepas.'' Katanya risih dengan lengan yang semakin membelit perut ratanya. Apalagi kain sutra tipis yang ia pakai membuat sentuhan itu semakin menyengat kulit perut Alana.
''Diamlah, saya perlu lima menit sebelum bangun.'' Lirih Raffi serak dengan kepala yang semakin tenggelam pada ceruk leher Alana yang tak nyaman dengan perlakuan suaminya itu.
Sejak tadi malam mereka sudah sepakat untuk memulai dan saling menerima pernikahan ini tanpa mengingat apa yang membuat mereka menjadi suami istri. Dan Alana setuju akan memulainya dan menerima Raffi sebagai suaminya seumur hidupnya. Ya, seumur hidup dengan imbalan Raffi akan menjadikannya wanita satu-satunya di hidup pria tampan itu.
Tapi sikap Raffi pagi ini terlalu cepat untuk saling skinsip seperti ini. Apalagi Alana belum siap menerima sentuhan yang entah mengapa membuat sengatan listrik dalam tubuhnya, hingga jantungnya berdebar keras sekali. Lima menit berlalu, dan benar saja Raffi melepaskan belitan tangannya pada perut Alana. Lalu dengan wajah yang masih sayu, Raffi sedikit menjauh dari leher jenjang Alana.
''Pagi.'' Sapa Raffi serak dengan tangan yang membekap mulutnya yang menguap lebar. Dan sepertinya pria itu memang membutuhkan istirahat lebih banyak. Jika diingat kembali bahwa mereka berdua baru tidur pukul setengah dua dini hari, dan sekarang masih pukul lima pagi suaminya itu sudah bangun.
''Pagi.'' Jawab Alana datar. Raffi melihatnya sekilas seakan tak terjadi apa-apa, lalu bangun dengan langkah gontai menuju kamar mandi.
Alana menghela nafas panjang, menetralkan debaran jantungnya. Bagaimana tidak berdebar, ketika kau baru saja dipeluk nyaman dengan seorang pria yang menjadi suamimu. Pipi Alana merona karena malu sendiri, dan menarik kembali selimut dan kembali bergelung dengan mimpinya yang sempat terhenti.
Belum sempat mata Alana tertutup, suara pintu kamar mandi kembali membuat mata Alana kembali terbuka. Dan saat itu juga, rasa kantuk Alana buyar karena pemandangan yang luar biasa dari suaminya.
''Oh, my God.'' Bisik Alana tak tertahan, ketika melihat bagaimana bentuk tubuh suaminya yang di luar ekspektasinya sedang berdiri tanpa baju dan hanya menggunakan celana piyama hitam. Bukan seperti bintang element yang memiliki enam lapisan datar di perutnya. Tetapi hanya empat lapisan dan itupun tak begitu kentara sudah membuat Alana panas dingin melihatnya.
''Kamu, kenapa?'' tanya Raffi yang sudah berkacak pinggang memergoki sang istri menikmati tubuhnya tanpa ijin.
Alana tergagap, matanya membulat dan mengerjap lalu dirinya menggeleng menyangkal jika matanya dengan kurang ajar menikmati bentuk tubuh suaminya sendiri. Ah Alana begok!!
''Eh tidak.'' Jawab Alana berbohong membuat Raffi hanya menggeleng pelan, menyembunyikan tawanya.
''Bangun dulu, sholat.''
''Apa?'' Kata Alana tak paham maksud suaminya. Wajahnya masih merona menahan malu, dan untungnya Raffi tidak menyadarinya atau memang menyadari tetapi membiarkannya saja.
''Sholat subuh, kamu sholat kan?'' Dan seperti orang linglung, Alana mengangguk saja. Sholat? Oh ya ampun, berapa bulan dirinya tak pernah mengerjakan kewajiban umat muslim itu.
''Ayo, cepetan!'' Seru Raffi tak sabar membuat Alana kembali menggerutu ketika wajah pria itu sudah menatap tajam padanya.
Setelah mengambil air wudhu yang untungnya masih diingat dikepalanya. Alana bergegas ke luar kamar mandi dan menemukan suaminya yang sudah memakai sarung dan baju koko putih. Melihat penampilan suaminya itu, Alana yakin penampilan ini jauh lebih menggiurkan dirinya, dari pada empat kotak perut suaminya tadi. Karena Alana dapat melihat jalan surga di wajah suaminya itu. Mimpilah terus, Alana, batin Alana.
''Ayo.'' Kata pria itu lagi, ketika menyadari Alana yang masih berdiri kikuk di depan kamar mandi.
Alana berdeham sebentar, melangkah mendekati suaminya yang sudah siap untuk melakukan sholat subuh. ''Aku gak bawa mukena.'' Kata Alana akhirnya merasa malu pada dirinya sendiri.
Raffi mengangguk mengerti, lalu tubuhnya berbalik dan keluar dari kamar. Lima menit Raffi kembali dengan membawa mukena putih di tangannya. ''Ini, pakai ini saja.''
''Punya, siapa?'' tanya Alana penasaran.
''Mama, sudah pakai cepetan.''
Alana mengambil mukena itu dan segera memakainya dengan cepat. Lalu mulai berdiri di belakang Raffi sebagai imamnya. Dan mulailah mereka berdua melakukan sholat subuh untuk pertama kalinya dalam hidup Alana, yang diimami langsung oleh suami sendiri. Entahlah, hati kecil Alana mulai merasa sedikit penasaran dengan suaminya ini.
Setelah melakukan sholat subuh, Alana merasa jika apa yang ia pikirkan tentang Raffi itu salah besar. Raffi bukan tipikal seorang flamboyan yang suka tebar pesona karena tampangnya yang tampan. Bukan juga seorang pria kaya yang melupakan Tuhannya.
''Kamu tidur lagi?'' tanya Alana ketika melihat Raffi sudah menaiki kasur king sizenya kembali dengan pakaian yang sudah ia ganti terlebih dahulu.
''Hmm, saya masih mengantuk.''
Alana tercengang mendengarnya. ''Tidak, kamu tidak boleh tidur. Demi apa, ini sudah pagi dan kamu kembali tidur!'' kata Alana sambil membuka kembali selimut suaminya yang membuat pria itu menggerutu tak suka.
''Lan, saya mengantuk jadi biarkan saya tidur.'' Katanya lagi, membuat Alana sebal dibuatnya.
Bagaimana tidak sebal, ketika pria itu sudah mandi dan tubuhnya pasti terasa segar. Dan sekarang Raffi ingin melanjutkan tidurnya kembali. Oh Alana sungguh ingin menggeplak pria ini sekrang juga. Apalagi Alana yang tak bisa tertidur kembali setelah dipaksa bangun oleh pria yang sekarang masih saja memejamkan matanya itu.
''Bangun Raffi, anterin aku ke pantai." Alana menarik tangan Raffi yang membuat mata pria yang tampak lelah itu akhirnya terbuka. Alana tersenyum dan tanpa diduga Raffi dengan beraninya menarik Alana duduk di pangkuannya. Wanita itu terkejut dan akan berteriak marah ketika Raffi mengeratkan pelukannya pada pinggang Alana.
''Kau terlalu keras kepala untuk tidak membantah saya, Alana.''
''Dan kamu terlalu pemaksa dan egois untuk melawanku Raffi Soeteja!'' jawab Alana tak kalah berani. Tetapi biarlah setidaknya pria di depannya itu harus tahu siapa Alana sebenarnya yang terlalu keras kepala.
''Dan sekarang kita berdua adalah pasangan suami istri.'' Kata Raffi sambil menatap tajam pada mata Alana yang juga membalasnya. Alana mendengus sinis dan menyingkirkan tangan Raffi yang akan membelai pipinya
''Ya sayangnya begitu, dan itu semua karenamu!''
Raffi mengangguk pelan dengan kepala mendekat kearah Alana yang menjauhkan kepalanya darinya. ''Kita sudah berjanji kan, Alana. Jika akan memulai semuanya dari awal. Jadi jangan pernah menolak, dan membantah saya lagi, Alana Soeteja.''
Setelah mengatakan itu penuh tekanan, bibir tipis Raffi sukses mendarat pada bibir sexy Alana yang akan protes kembali. Sebuah kecupan manis yang membuat Alana menyerah dan menikmati peran suaminya yang sudah mulai menggigit bibirnya agar terbuka.
Tangan Raffi mengelus pinggang Alana lembut, membuat wanita itu merinding dengan debar jantung yang semakin keras. Kecupan dua bibir yang menjadi lumatan menuntut yang diberikan Raffi, membuat kesadaran Alana kembali. Wanita cantik itu segera menghindar seketika, dengan menjauhkan kepalanya.
''Kau terlalu b******k dengan melakukan ini, Raffi!'' desis Alana marah dengan wajah yang masih terlalu dekat dengan wajah pria yang tersenyum mengejek padanya.
''Kau tahu, sepertinya saya mulai tertarik padamu yang keras kepala seperti ini.'' Perkataan Raffi itu, membuat Alana tercengang seketika. Mencerna jika pria itu benar-benar mengatakan sesuatu yang membuat hatinya tergelitik geli mendengarnya. Menyukainya yang keras kepala? Apa maksudnya?