Twenty One

1766 Words

* * Rasa sakit itu semakin menjalar pada tubuh Alana. Kepalanya sudah pening hingga ia tak merasakan apapun. Matanya sudah buram oleh air mata, hingga ia tak mampu melihat wajah panik Raffi yang sejak tadi memanggil namanya agar tetap sadar. Pikiran Alana kosong, ia tak mampu memikirkan apapun. Rasa sakitnya tak ia pedulikan sama sekali ia hanya ingin bayinya, anaknya Oh Ya Tuhan bayinya. "Bayiku," bisik Alana pelan sekali hingga tak terdengar oleh siapapun. Tangannya mencoba bergerak menuju perutnya, tapi ia tak sanggup. Tangannya sudah kebas, perutnya sudah tidak merasakan apapun kecuali rasa nyeri yang amat meremukkan tubunya. "Bayiku," gumam Alana lagi, mencoba menyampaikan pada suaminya. Namun sekali lagi, Raffi tidak mendengar itu.   Pria yang selalu bersikap dingin itu terliha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD