--- Pagi hari, Kampus.
Hari ini tepat seminggu sejak pertemuan mahasiswa baru diadakan, yang artinya tepat satu minggu perjanjian Bara dan Kai berjalan. Namun, sepertinya tak ada yang berjalan sesuai rencana Bara. Karena nyatanya selama satu minggu ini Bara sibuk dengan kehidupan ukm nya dan juga sebagai pengisi beberapa acara kampus.
"Lu ngisi event apalagi minggu ini Bar?" Tanya Aslan
"Free minggu ini" Jawab Bara
"Tumben banget anying, biasanya padet banget tuh idup. Pagi kuliah, sore seminar, malem manggung" timpal Kai
Saat ini ketiganya tengah berkumpul di kantin Fakultasnya, yaitu fakultas ekonomi dan bisnis. Leo dan Rei entah dimana keberadaannya.
"Hahah hiperbola lu anjir ga sesibuk itu juga" tawa Bara
"Emang nyatanya begitu Bar" Aslan menimpali
"Btw Bar, gagal yak challenge kitaaa. Udah seminggu nih"
"Challenge? apaan?" tanya Aslan penasaran
"Ini temen lu mo deketin si Aeera, kalo berhasil gua kasi PS5 punya gua"
"Parah men. Cewek bukan mainan"
"Bonusnya aja itu Lan" bela Bara
"Aslinya naksir lu?" Tanya Kai
Namun, Bara tak menjawab. Ia pun bingung. Satu minggu ini ia sibuk, tak sempat sekalipun mempertanyakan itu untuk dirinya sendiri. Sejak dari taman baca, ia tak pernah menghubungi Aeera sama sekali. Ia hanya berpapasan dengan Aeera beberapa kali karena berada di kelas yang sama.
"Aeleh paling si Bara mah naksir sesaat. Noh si Chelsea yang spek bidadari aja dia anggurin Lan" Timpal Kai
"Cinta mah mana tau Kai" ucap Aslan
"Yauda jawab Bar, naksir kaga lu?" tanya Kai memaksa mendapat jawaban Bara
"Engga elah" Jawab Bara akhirnya
"Nah kan" heboh Kai mengakhiri obrolan tersebut.
Dibalik obrolan ketiganya, tak jauh dari sana Aeera tengah memakan makan siangnya sembari menyimak obrolan mereka. Tak berniat menguping, namun ketika namanya disebut seolah telinganya menajam untuk mendengar lebih jelas. Ia mengulas senyum, seolah menerima. Lagian siapa manusia yang tertarik dengan gadis pendiam sepertinya, apalagi seseorang seperti Bara. pikirnya.
"Aeeraa maaf gue telat, tadi toilet dulu" teriak Zee dengan suara nyaringnya membuat beberapa orang menoleh. Termasuk ketiga pria tadi. Terlihat jelas di wajah ketiganya, mereka khawatir tentang perbincangan mereka sebelumnya.
"Its oke Zee. Tapi gue ke belakang dulu ya"
"Eh kemana?"
"Toilet" ucap Aeera melangkahkan kakinya menuju arah belakang kantin. Ternyata, tujuannya bukanlah toilet, namun sebuah taman yang sedang cukup sepi pengunjung.
Ia mendudukkan dirinya, jujur saja perbincangan ketiga pria tadi cukup membuatnya sakit hati. Pasalnya, mereka membicarakan tentang mempermainkan perasaan Aeera dengan sangat mudah.
Ditengah kesibukan Aeera dengan pikirannya, sebuah tangan memberikan ia tissue. Ia mendongak, ternyata orang yang tengah ia pikirkan itu sedang menatapnya.
"Nangis?" tanya Bara
Aeera menggeleng.
"Sorry" ucap Bara mendekat pada kursi disamping Aeera lalu mendudukinya. Aeera menoleh seolah bertanya 'buat apa?'
"Obrolan gua dan temen gua tadi. Lu pasti denger"
"Lu ga salah. Lu juga ga lakuin apapun"
"Gua salah punya niat buruk ke lu Ra"
"Gaada yang salah Bar, memang ditawari sesuatu yang kita suka bisa melupakan segalanya"
"Gua salah. Makanya, gua mau memulai semuanya dari awal, Ra. Bukan dengan cara salah seperti kemarin, tapi dengan cara gua"
"Maksud lu?" Aeera tak mengerti
"Gua belum suka lu Ra, tapi gua tertarik untuk selalu ada di samping lu. Cara gua mendekat dengan imbalan itu salah, makanya gua mau memulai semuanya dari awal. Izinin gua ya Ra?" mohon Bara
Aeera terdiam, ia tak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Entah mengapa, kesedihannya tadi hilang sirna entah kemana.
"Ra?" tanya Bara kembali
"Ya?"
"Gimana?"
"Silahkan Bar, tapi kalo mau pergi tolong kabari gue. Gue ga suka ditinggal tanpa pamitan"
"Maksud lu Ra?"
"Kita gaakan tau kedepan gimana kan Bar? Lu juga belum kenal gue seutuhnya. Lu orang baru di hidup gue, begitu pula gue. Akan selalu ada hal baru yang akan mengejutkan, mungkin lebih banyak dari gue. Jangan memaksakan diri kalo mau nyerah, gue gapapa tapi tolong pamitan karena lu dateng ke gue juga dengan izin" jelas Aeera.
Bara paham, sangat paham. Namun pikiran lain menghantuinya, ada apa dengan Aeera? apakah dia memiliki kisah menyakitkan tentang sebuah perpisahan?
"I'll do, Ra" ucap Bara meyakinkan.