Ada gua, Ra.

822 Words
Satu minggu kembali berlalu, ternyata kabar hubungan Aeera dan Bara cukup membuat heboh jurusannya. Walaupun keduanya tak memiliki hubungan, namun kedekatannya cukup membuat semua orang bertanya tanya. Ada apa sebenarnya. Bahkan beberapa base fakultas tak jarang memulai topik terkait Bara dan Aeera. Namun, tak kunjung mendapat jawaban. Aeera tak terbiasa dengan pemandangan seperti itu, ia sering kali menolak ajakan Bara untuk menghindari tatapan tak suka beberapa teman di jurusannya. Berbeda dengan Bara yang justru gencar mendekati Aeera di sela sela kesibukannya. Seperti halnya hari ini, Aeera tengah makan berdua bersama Zee di kantin fakultas. Atas paksaan Zee tentunya. Karena sejak namanya menjadi perbincangan, Aeera seolah menghindari manusia. "Gapapa kali Ra, lu ga salah apa-apa. Mereka cuma iri lu deket sama primadona kampus" "Gue gaada hubungan apa-apa Zee" "Ya mau hubungan lu apapun, coba liat belakang. Gimana orang ga mikir macem-macem" Ya terlihat dibelakang Aeera, Bara tengah membawa nampan berisi makanan menuju meja Aeera dan Zee. "Hi Ra, hi Zee" sapa Bara sembari menempati tempat duduknya tepat di samping Aeera "Hallo Bar" jawab Zee "Kenapa kesini Bar?" pertanyaan Aeera yang membuat Zee melongo "Eh ga boleh ya Ra, sorry sorry gua pindah ya" ucap Bara tak enak "Eh eh its oke kok Bar, duduk aja duduk. Aeera ngasal tanya aja itu" Zee menjelaskan karena tak enak dengan reaksi Bara. "Its oke gua disini Ra?" tanya Bara kembali memastikan. Aeera sangat tidak suka dengan tatapan orang-orang, namun akhirnya ia mengangguk membolehkan. --- Sore hari, Taman fakultas. Tak seperti hari hari biasanya yang ada Zee, hari ini jadwal kelas Aeera dan Zee berbeda. Begitu pula Bara yang sedang rapat bersama himpunan jurusannya, entah merapatkan apa. Bara berpesan agar Aeera menunggunya untuk pulang bersama. Akhirnya Aeera memilih untuk menunggu di taman fakultas, namun sepertinya pilihannya kali ini salah besar. Taman fakultas sedang terdapat kegiatan bazar, sehingga cukup ramai. Aeera duduk di salah satu bangku yang terdapat di taman tersebut dengan sebuah buku di tangannya. Niatnya agar fokusnya teralihkan. Namun, sepertinya orang-orang sengaja mengeraskan suaranya agar dapat di dengar Aeera. "Dia? ceweknya Bara?" "Lah begitu doang bentukan cewek Bara" "Mendingan Chelsea kemana mana anjai" "Dia anak apasi? keknya ga ikut organisasi apa apa dah" "Kek anak culun anjir kok si Bara mau si" "Di pelet apa ya si Bara" dan banyak cemoohan lainnya. Merasa mulai tak nyaman, Aeera melangkah untuk menuju tempat yang lebih sepi. Merasa tak menemukan tempat yang nyaman, Aeera melangkah menuju toilet yang berada cukup belakang dari gedung fakultasnya. Niatnya supaya ia tak bertemu banyak orang. Ia menghela nafas, keadaan toilet ini tak dapat ia sebut layak. Lantai yang kotor, bau khas toilet yang menyeruak. Namun, ia berpikir selagi masih ada lampu yang menerangi maka tak masalah. Ia takut kegelapan, sangat. Setelah selesai dengan urusannya dan akan membuka pintu toilet, terdapat hal yang janggal. Pintu toilet tak dapat ia buka dan lampu toilet mati tiba-tiba. Ia cukup panik, namun segera mengeluarkan ponselnya untuk memberi penerangan. Ia mulai panik, nafasnya tak karuan, ia memiliki kenangan buruk tentang hal gelap. Kenangan masa lalunya berputar di kepala. Rasanya ruangan itu menjadi semakin sempit dan seperti banyak pasang mata yang sedang memperhatikan. Disela paniknya, ponsel yang ia gunakan untuk menjadi penerang berbunyi. Nama Bara terpampang disana. "Ra, dimana? gua udah kelar nih" "Bar.." suara lemah Aeera "Ra? u okey? lu dimana?" Bara mulai merasa ada yang tidak beres dengan Aeera. "Baraaa tol-ong" "Tarik nafas ra, gua samperin lu dimana?" Bara semakin panik "Toilet" "Toilet banyak ra, pls spesifik dimana?" "Be-lakang" Nafas Aeera semakin tidak beraturan "Oke oke lu tenang gua jalan, lu bisa shareloc biar gua lebih bisa pastiin toilet belakang yang mana? Bisa Ra?" Maka, dengan tenaga yang tersisa Aeera mencoba untuk mengirim lokasinya kepada Bara. Tak lebih dari 10 menit, Bara sudah menemukan keberadaannya. "Ra? lu di dalem ra?" tak ada jawaban. Tanpa ragu Bara mendobrak pintu toilet, dengan beberapa kali percobaan pintu toilet terbuka. Disana, Aeera sedang mengatur nafasnya berada di sudut ujung toilet memeluk dirinya sendiri. Bara segera menghampirinya dan memeluk Aeera. "It's okee Ra, ada gua" Sekitar 5 menit berada di pelukan Bara, Aeera mulai merasa dapat bernafas dengan benar. Bara pun membimbing langkah Aeera menuju keluar toilet. Langit sudah mulai gelap, tanda bahwa sebentar lagi malam akan datang. Bara bergegas membawa Aeera menuju mobilnya. Dalam mobil, Bara segera menyerahkan jaket yang berada di jok belakang. Aeera masih enggan untuk berbicara. Ternyata kejadian tersebut karena toilet belakang fakultas memang akan ditutup pada pukul 5 sore. Aeera tak tahu informasi tersebut. Tadi, sebelum menuju mobil mereka bertemu dengan satpam yang bertugas dan beliau meminta maaf karena tidak mengecek terlebih dahulu. Mobil melaju hingga tiba di depan kosan Aeera. Aeera masih terdiam, Bara memperhatikan Aeera. "Ra, udah ngerasa baikan?" Tanya Bara Aeera mengangguk. "Makasih, Bar. Gue takut gelap, disana.." Aeera tak melanjutkan ucapannya "It's okey Ra, ga perlu lu ceritain. Abis ini istirahat ya" Aeera hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan mobil memasuki ruangannya. Bara sepertinya menyadari sesuatu, bahwa ada hal ganjal antara Aeera dan gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD