Tak terasa, dunia perkuliahan sudah berada di ujung semester 1 ini. Aeera dan Bara yang sejak satu minggu yang lalu mengurangi interaksi karena sibuk dengan ujiannya masing-masing kini mulai kembali bercengkrama. Walaupun, tak banyak yang mereka lakukan. Hanya makan bersama.
"Lu mau balik jogja Ra?" Tanya Bara di sela makannya
"Hmm"
"Kapan?"
"2 minggu lagi. Kenapa Bar?"
"Besok dateng nonton gua nyanyi, mau?"
Aeera tampak berpikir. Ini bukan penawaran pertama Bara untuknya, Bara selalu mengajaknya kemana mana namun Aeera selalu menolak. Bukan karena apa, ia merasa bahwa dirinya bukan orang yang asik untuk diajak bermain bersama.
Bara sering mengajaknya, entah untuk mengikuti acara kampus, seminar kampus, menemaninya belajar di perpus, ke museum, ke taman kota, ke ragunan, ke dufan, dan banyak tempat lain yang Bara usulkan berakhir Aeera tolak.
Sejak 4 bulan kedekatannya, mungkin dapat dihitung jari kegiatan main bersama mereka. Aeera selalu memiliki cara untuk menolak ajakan Bara. Bukan ia tak menyukai tawaran Bara, hanya saja ia merasa tak pantas jika terus berdiri berdampingan terus dengan Bara terlebih di tempat yang ramai seperti dufan dan tempat lainnya.
Bara terlalu dapat menarik atensi orang lain dengan penampilannya yang sangat fashionable. Sedangkan Aeera, hanya gadis biasa. pikirnya. Setiap Bara mengajaknya keluar, ia selalu bingung dengan apa yang akan ia kenakan sehingga berakhir dengan beribu alasan agar kegiatannya dengan Bara tidak terjadi.
Biasanya mereka bersama hanya ketika akan makan, kelas dengan mata kuliah bersama, dan pulang bersama saja. Itu saja. Ini untuk pertama kalinya Aeera mengiyakan ajakan Bara. Saat ini Aeera tengah memandangi baju baju miliknya, ia membuka salah satu aplikasi rekomendasi outfit yang akan ia kenakan untuk menonton pertunjukan. Hingga berakhir dengan celana loosepants dan denim jacket dan rambut yang diikat. Cantik.
Bara sudah menunggu Aeera turun dari kosan nya, pertama kalinya ia melihat Aeera mengikat rambut. Bara terperangah hingga lupa berkedip dan menyapa Aeera yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
"Bar, gue aneh ya?"
"Cantik" ucap Bara tanpa melepas ulas senyumnya.
"Di iket gini rambutnya makin nambah cantik Ra" lanjut Bara.
Aeera hanya diam dengan pipi yang semakin memanas.
"Makasi ya Ra?"
"Eh makasi apa?"
"Makasi mau keluar ama gua hari ini"
Mendapat pertanyaan itu, Aeera merasa bersalah. Apakah selama ini ia sudah menyakiti Bara dengan penolakannya?
"Yuk masuk" Ajak Bara
Mobil Bara melaju bukan menuju tempat acara diadakan, tapi justru menuju taman kota yang cukup indah ternyata di malam hari. Aeera baru menyaksikannya setelah beberapa bulan berada di kota tersebut. Keduanya sama-sama diam sedari tadi, hingga Aeera membuka suara.
"Bar?"
"Ya Ra? eh btw kita keliling dulu ya, acaranya masih 2 jam-an lagi. Kapan lagi kan kita keliling gini" Jawab Bara tanpa mengalihkan fokus dari stirnya dan tanpa bermaksud kemana mana. Namun sepertinya ditangkap lain oleh Aeera. Ia semakin merasa bersalah kepada Bara.
"Bara?"
"Iya ra?" akhirnya Bara menoleh sebentar dan kembali melihat ke depan
"Gue jahat ya?"
Bara heran, apa maksud ucapan Aeera. Merasa sepertinya obrolan tersebut akan cukup memakan fokusnya, ia pun menepikan mobilnya. Ia pandang Aeera yang enggan untuk menatapnya balik.
"Kenapa Ra? sini coba tatap gua" Aeera pun menatap Bara
"Gue jahat kan Bar?"
"Jahat apa Ra?"
"Gue jahat ke lu kan Bar?"
"Apa yang jahat dari lu Ra? gaada"
"Gue jahat Bar. Lu berjuang sendirian"
"Maksudnya gimana Ra? can u explain?" pinta Bara
Aeera menghela nafasnya
"Dari awal, lu yang berjuang Bar. Gue hanya jadi beban lu aja. Kehidupan gue dan kehidupan lu sangat amat berbeda Bar. Gue hanya Mahasiswa biasa yang diajak keluar selalu ada aja alesannya. Gue sadar hari ini, setelah sekian lama lu selalu ngajak gue keluar ini adalah kebahagian pertama yang gue liat dari lu. Gue sulit banget ya Bar"
"Ra.."
"Bar, kita sangat berbeda. sangat. Lu udah capek kan dengan banyak kegiatan lu? jangan menambah beban lu dengan gue Bar"
"Ra siapa yang bilang lu beban gue ra? gaada"
"Tapi tanpa gue sadari lu selalu ada buat gue, sedangkan gue?"
"Ra.. dengerin gua. oke? Gua yang memilih untuk deket ama lu Ra. Gua gak pernah berharap dapet timbal balik apapun dari keberadaan lu, gua cuma minta lu untuk stay di samping gua. Itu aja. Gua ga pernah minta untuk lu berjuang, karena justru gua yang suka merjuangin lu. Oke?"
"Tapi Bar.."
"Ra, gua justru semakin suka sama lu. Lu salah kalo ngira gua tersakiti atau apalah sama sifat lu. enggak Ra, hari ini aja lu udah berjuang buat gua. Gua tau gak mudah untuk lu menghadapi orang-orang diluar sana, tapi u do it. Lu mau lakuin itu buat gua. Makasi yaa, tolong jangan mikir kayak gitu lagi. Gua hanya butuh hadirnya lu Ra"
Speechless. Aeera terdiam dengan jawaban Bara. Lagi.