01 - Tidak Ada Hubungan Darah
D-day
"Cantik."
Kedua manik mata Park Min Jee tidak akan pernah bisa lepas dari wanita yang sudah ia cintai sejak Min Jee mengenal rasa cinta didalam dadanya.
Lee Na Hyeon terlihat begitu cantik dengan balutan gaun yang ia rancang sendiri. Na Hyeon pintar membuat pakaian dengan otodidak, entah sudah berapa banyak potong baju yang ia buat juga untuk Min Jee dan adiknya, Park Min Ah. Gaun tersebut mendukung penampilan Na Hyeon di hari terbaik ini.
Tubuh Na Hyeon terbingkai sempurna walau ia terus-terusan berkaca dengan wajah yang cemas.
"Apa kau tuli? kau cantik!" ulang Min Jee sekali lagi, bagi Na Hyeon ucapan Min Jee tidak membuahkan perasaan apapun sebenarnya.
Na Hyeon membuka tangannya tiba-tiba, "Kau belum memelukku hari ini, aku butuh pelukanmu!"
Min Jee merasa dirinya panas, mau tidak mau ia melangkah dan membiarkan Na Hyeon mendaratkan pelukan dengan hangat. Hawa dingin rasanya terbirit-b***t pergi karena kehangatan ini yang selalu Na Hyeon berikan untuk Min Jee. Akankah kehangatan ini hilang setelah semuanya terlaksanakan?
Kehidupan pernikahan itu tidak ada yang bisa tebak.
"Terima kasih Min Jee-ah, tanpamu aku tidak bisa berada disini sekarang."
"Lagi dan lagi, berhenti menangis!" tukas Min Jee, ia tidak mau wajah cantik Na Hyeon hari ini rusak karena air matanya yang terus-terusan bergulir. Ia menghapusnya dengan ibu jari, seandainya ia boleh mengecup kening Na Hyeon.
Pintu ruangan pengantin terbuka dan petugas Wedding Organizer memanggil mereka untuk keluar karena waktu sudah menunjukkan saat yang tepat untuk melangsungkan pernikahan..
Telapak tangan Min Jee terbuka pada wanita cantik dihadapannya, "Kau siap?" tatapan Min Jee selembut sinar mentari sehabis hujan.
Ini rahasia, didalam hatinya yang sangat dalam. Min Jee berharap Na Hyeon menggelengkan kepalanya.
.
Bersandiwara bukan hal yang sulit bagi pria berumur 23 tahun ini. Ia tidak akan merusak hari terpenting bagi Lee Na Hyeon.
"Aku gugup Min-ah," bisik Na Hyeon seraya mengendurkan otot-otot pada bahunya. Ia kembali berusaha mengatur nafas.
"Aku sudah mulai mual mendengar omongan ini Noona."
Tatapan mereka bertemu dan Na Hyeon terlihat panik. Min Jee langsung mengusap punggung tangannya. Ia berharap bisa mengusir rasa cemas Na Hyeon. Lalu aba-aba pun diterima dan mereka dipersilahkan berjalan menuju altar yang sudah didekorasi dengan sangat indah.
Semua persis seperti mimpi Na Hyeon dulu. Min Jee yang paling tahu semuanya, ia begitu puas saat Na Hyeon kini mendapatkan kekuatannya lagi ketika langkah pertama mereka daratkan di karpet merah. Mereka berjalan disambut dengan para undangan, beberapa dari mereka diperbolehkan melempar kelopak bunga mawar merah sebagai sambutan.
Perlahan tapi pasti. Min Jee harus mengantarkan Na Hyeon menyambut tangan Nam Ha Joon yang dengan tegap berdiri. Ia siap mengambil alih Lee Na Hyeon dari adik tirinya yang selama ini menjadi cahaya bulan untuk Na Hyeon. Begitulah Na Hyeon selalu menggambarkan seorang Park Min Jee.
Pria rupawan bergaya nyentrik, terkesan sombong tapi hanya Na Hyeon yang tahu bahwa hati Min Jee seluas samudra. Ia tampan dengan bibir bulat merah dan bola matanya sangat indah. Senyuman Min Jee bisa membius perempuan-perempuan seumuran atau bahkan tante-tante girang. Karismanya tidak perlu diragukan lagi. Kemanapun Min Jee pergi pasti mata para perempuan sampai laki-laki pun melirik membuntutinya seakan melihat seorang artis.
Namun siapa yang sangka jika sekarang hati Min Jee meronta dibalik jasnya yang sudah disematkan bunga sesuai yang Na Hyeon mau. Wanita yang selama ini ia cintai tidak lagi menoleh, ia menatap sang pujaan hati yang sudah menawarkan planet lain untuk tinggal bersama. Mau tidak mau, suka tidak suka, Min Jee harus pergi dari belakang punggung mereka. Ia berdiri, berusaha tegar bergabung dengan deretan keluarga yang lain.
Pemandangan ini adalah mimpi Lee Na Hyeon tapi mimpi buruk bagi Park Min Jee. Seharusnya sejak lama ia mengusir rasa cintanya, harusnya sudah sejak lama Min Jee pergi dari hidup sang Kakak tiri. Kenapa kenyataan harus menamparnya lebih dulu.
Tangan perempuan disampingnya menggenggam tangan Min Jee, "Oppa, jangan menangis. Janji sucinya saja belum diucapkan." kata Park Min Ah, adik kandung Min Jee.
"ssshhh!' walau begitu, Min Jee menggenggam tangan Min Ah dengan sangat erat.
Kekhidmatan saat ini adalah pisau bagai Min Jee, mulai saat ini Park Min Jee memutuskan untuk menjadi pria sejati tanpa bayang-bayang Lee Na Hyeon!
---
D + 10 years later
"Sudah berapa kali aku bilang, aku punya pilihan sendiri!"
Perdebatan antara Kakek dan Park Min Jee selalu menjadi tontonan menyenangkan untuk Min Ah dan juga Na Hyeon. Pria itu sudah berumur 33 tahun dan belum sekalipun membawa wanita ke acara keluarga.
"Bawa kalau memang ada! Jangan sampai kau bawa pria kedepan mataku."
"Memangnya kenapa? Apa masalah untuk Kakek?"
Begitulah Min Jee, tidak berubah. Bukannya membuat amarah Kakek meredah justru malah memperkeruh air yang sedang menggolak. Na Hyeon langsung berusaha mengalihkan perhatian Kakek sebisa mungkin.
"Yak! Dasar anak nakal!" teriak Na Hyeon, pura-pura marah padahal matanya terus-terusan berkedip agar Min Jee memahami apa yang ia maksud, "Kakek, jangan dengarkan dia. Min Jee hanya belum mau terikat dengan siapapun."
Pria berumur 75 tahun itu terlihat lemas, ia meminum air putihnya dan duduk di sofa kesayangannya. Sudah dua tahun terakhir Kakek jadi uring-uringan karena Min Jee bersih keras tidak mau menikah atau dijodohkan. Sedangkan ia sudah dilangkahi oleh Min Ah, bahkan adiknya itu sedang hamil anak kedua.
"Kau itu sama saja seperti dia, mau sampai kapan kau tidak mau memiliki anak?" Ia langsung berpindah pada Na Hyeon, pikiran orang tua memang tidak bisa ditebak.
"Kakek!" Min Jee membentak Kakek.
Tapi Na Hyeon menoleh pada Min Jee dan melotot, ya begitu, Na Hyeon sangat menyayangi si Kakek tua.
"Ha Joon Oppa masih sibuk jadi kami masih belum memikirkan hal itu," jawab Na Hyeon dengan hati-hati.
Kakek berusaha mengatur nafasnya, ia melihat cucu-cucunya lagi, "Kalian semua membuatku cemas. Kau tidak mau punya anak, kau tidak mau menikah, sedangkan kau!" ia mulai menunjuk Min Ah, "Mau sampai kapan suamimu itu menghabiskan uangmu!"
"Kakek! Jangan bawa-bawa aku!" teriak Min Ah begitu suaminya kembali dibahas.
Bagi Kakek, cucunya itu menyebalkan sekarang. Kelucuan di wajah mereka sudah berganti dengan kecemasan yang beliau takutkan.
Semua sejak keluarga sang anak satu-satunya hancur berantakan. Ayah Min Jee itu tidak mau diatur hingga sekarang, dia memilih hidup di salah satu pulau private milik Kakek. Mau tidak mau, suka atau tidak Kakek harus mengurus ketiga cucunya.
Tidak ada yang dapat disalahkan, sudah lewat masa mengeluh kenapa Park Min Soo begitu tega pada anak-anaknya.
Perawat kembali masuk kedalam kamar Kakek dan meminta Kakek untuk beristirahat karena hari sudah agak siang. Sebelum ketiga cucunya pergi, Na Hyeon membawa Kakek merebahkan diri diatas ranjang.
"Hyeon-ah, hanya kau harapan Kakek. Bujuk suamimu dan lakukanlah yang terbaik sebagai istri."
Na Hyeon mengangguk, ia menyelimuti Kakek dan mengecup keningnya. Na Hyeon menitip beberapa pesan pada perawat dan keluar dari kamar Kakek.
Begitu Na Hyeon melewati ruang keluarga, Min Ah tetaplah Min Ah. Ia menatap Na Hyeon dengan sinis. Mereka berdua tidak akur sejak muda tapi Na Hyeon tidak pernah menganggap adiknya itu dengan serius.
"Kau mau buah?"
Min Ah mendengus kesal, "Kau harapan Kakek, apa sih yang kau berikan untuk Kakek? Aku yang sedang hamil malah disalahkan olehnya!"
Na Hyeon menghela nafas dan pergi ke dapur. Min Ah tetap menggerutu tapi mengikuti Na Hyeon. Ia mengambil apel dan pear. Pisau didalam laci dan piring putih.
"Suamimu juga, kenapa sih tidak mau punya anak? Child free, itu gila! Kau harusnya khawatir dengan suamimu itu."
Na Hyeon mengangguk, ucapan-ucapan seperti itu hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Lalu ia menangkap Min Jee yang sudah bersiap untuk pergi.
"Makanlah dulu," kata Na Hyeon agak keras agar Min Jee mendengarnya. "Aku sudah masak untuk kalian berdua."
Min Jee tidak pernah bisa menolak dan ia pun duduk disamping Min Ah yang sedang asik mengunyah sembari mengusap-usap perutnya.
"Harusnya jika kau memang memutuskan untuk tidak punya anak, tegaslah bicara dengan Kakek. Mulutnya semakin tidak karuan."
Na Hyeon hanya tersenyum merespon ucapan Min Jee. Dia selalu menjadi orang yang maju duluan ketika orang-orang mempertanyakan keputusan Na Hyeon dan Ha Joon untuk menunda memiliki anak hingga 10 tahun pernikahan mereka.
Semangkuk nasi diletakkan Na Hyeon, "Kalian tahu Kakek jadi jangan selalu diambil hati."
"Jelas kau tidak ambil hati, kau sudah percaya diri dapat warisan dari Kakek. Diakan menyayangimu sejak dulu."
Min Jee menoleh pada Min Ah, "Bisa tidak kau hentikan mulut kotormu, kau itu sedang hamil Park Min Ah!"
"Apa Oppa bilang?"
Na Hyeon menghela nafas melihat kedua adiknya selalu bertengkar, "Kalian harus berhenti dan makan saja! Tidak usah bicara apapun."
Min Jee menaruh kembali sumpitnya, mana bisa makan disamping adiknya yang menyebalkan ini, "Aku harus pergi!"
Na Hyeon melihat ke arah Min Ah dengan kesal.
"Apa? Bukan salahku!"
Dengan cepat Na Hyeon menyusul Min Jee hingga sampai didepan mobilnya Min Jee pun berhenti dan menghela nafas. Ia menaruh tangannya dipinggang dan Na Hyeon memberikan jasnya yang tertinggal.
"Berhenti mengurusi Kakek atau Min Ah!" ucap Min Jee dengan wajah yang serius.
Na Hyeon memakaikan jas untuk Min Jee, "Kalian itu bagian dari hidupku. Mana bisa aku tidak mengurusi kalian."
Min Jee menghalau tangan Na Hyeon yang ingin merapihkan jasnya, "Kecuali aku! Sudah sejak kau menikah, aku tidak mau kau mengurusiku jadi jangan berucap seakan kau tahu tentang aku."
"Memang tidak tapi kau tetap adikku dan aku menyayangimu Min Jee."
"Adik tiri dan tanpa hubungan darah. Bahkan orang tua kita juga bercerai! ingat itu Noona."
Hati Na Hyeon selalu nyeri setiap kali Min Jee enggan menganggapnya sebagai Kakak kandung. Pria itu sudah dewasa tapi dimata Na Hyeon kelakuannya masihlah seperti Min Jee berusia sepuluh tahun, usia pertama kali mereka bertemu dan Na Hyeon harus menganggapnya sebagai adik.
-
"Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku Park Min Jee?"
Min Jee menaruh pisau dan garpunya tanpa suara, ia meminum air putih dan menatap wanita didepannya. "Kau sudah tahu kalau aku pasti akan melakukan itu."
"Berapa umurmu sekarang? Masih memainkan hati wanita begini!"
"Aku tidak memainkan hatimu nona, sejak awal aku bilang padamu kalau aku tidak bisa," Min Jee tertawa kecil, "Menikah? itu hal yang menggelikan untukku."
Segelas air disiram ke wajah Park Min Jee begitu kalimat menyebalkan itu membuat wanita didepannya sudah hilang kesabaran.
"Bagaimana bisa pria tak punya hati sepertimu bekerja dibidang pendidikan. Kau sakit!"
Bagus. Min Jee menyeka wajahnya yang basah dengan tissue yang ia minta pada pelayan begitu wanita itu pergi. Ia hanya bisa tersenyum setiap kali ucapan itu terdengar.
Apa hubungannya kehidupan pribadi dengan usaha yang ia miliki? selama Min Jee bisa mengelola usahanya dengan baik, ia tidak peduli dengan apapun termasuk dengan kebiasaanya.
Dunia pendidikan adalah hal yang ia cintai. Ia memiliki beberapa sekolah yang sudah membuka cabang dibeberapa kota besar. Min Jee mencakup menjadi kepala sekolah di Sekolah pusat. Sekolah TK menjadi pilihannya.
Walau begitu, ia akui bahwa kebiasaannya yang tidak bisa mencintai satu perempuan pastilah menyebalkan. Ponselnya berbunyi. Hari sudah sore, haruskah ia mengurusi masalah sekolah lagi?
"Apa lagi?"
"Meeting mendadak Seonsangnim."
"Ya ya ya, aku akan sampai dua puluh menit lagi."
Begitu sampai dimobil, ia melihat sepasang baju ganti yang pasti Na Hyeon taruh disana.
"Na Hyeon menyebalkan!"
-