Bagian 6 - Facing Versaline (I)

1733 Words
"Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya membuat hatiku kembali teriris. Ah Gosse, betapa aku benar-benar tidak menyadari sedalam ini telah mencintaimu." ~Valerie Genneth. *** Pedro masih menggandeng Valerie dengan erat. Mengendap dengan berlari kecil setelah mereka keluar dari ruang basket beberapa menit lalu, Pedro mengiring Valerie untuk mengarah ke kawasan parkiran mobil. Menuju pada kendaraan roda empatnya yang bercat merah menyala, lelaki itu melepaskan gandengan tangan mereka dan meminta Valerie untuk naik ke kursi penumpang bagian depan. Hujan masih betah turun, meski kini tidak sederas tadi. Dan syukurnya, mobil milik Pedro kebagian atap parkiran hari ini, sedang beruntung lelaki itu. "Masuklah," Pedro memberi arahan. "Kita pergi dari sini." "Aku masih ada kelas!" tolak Valerie dengan kening menyipit. "Kita akan kabur?" Pedro berkacak pinggang. Lelaki itu berhenti tepat di bagian depan kap mobil, memandangi Valerie dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa seorang Valerie masih memikirkan kelasnya yang tersisa, saat dirinya sendiri saja terlihat amat kacau seperti ini. Celana basah, jaket yang kebesaran, rambut setengah kering, dan mata yang masih terlihat bengkak. "Kau ingin mengungkapkan pada seluruh kelas bahwa kau sedang patah hati?" cibir Pedro. Kini menggeleng, lelaki itu tampak benar-benar tak habis pikir. "Ah, sekalian ingin orang-orang berpikir bahwa kau berkencan denganku karena sekarang kau mengenakan jaket dengan namaku di belakangnya?" Valerie mengerjap. Apa sih yang dimaksud lelaki ini? "Apaan sih?" Menaikkan alis, Pedro menarik handle pintu pengemudi. Menahan pintu yang terbuka itu dengan sebelah lengannya, ia mengedikkan bahu. "Jaket itu," katanya. "Ada namaku yang tercetak besar-besar di belakang." Sontak menolehkan kepala ke belakang, Valerie berusaha mengkonfirmasi fakta yang dikatakan Pedro. Setengah tidak percaya, sebab tidak sekali dua kali Pedro mengerjainya dengan olok-olokan yang sama sekali tidak lucu. Tidak mampu melihat tulisan yang tertera di belakang punggung, yang juga tidak dia perhatikan saat mengenakan jaket itu tadi, Valerie kini berputar untuk memunggungi kaca jendela mobil sahabatnya. Menggertakkan gigi saat ternyata nama lelaki itu memang tercetak jelas di belakang sana, membuatnya menggeram kini. VISCOUT, PEDRO "Astaga, Pedro!" desisnya tertahan. "Kau ini!" "Kupikir kau memperhatikannya sebelum memakai itu," sahut Pedro cuek. Lelaki itu melemparkan tas selempang yang berada di pundak ke arah jok belakang, lantas membuka pintu mobilnya lebih lebar sebelum masuk ke dalam sana. "Ayo naik!" katanya mengajak. "Bolos sekali-kali tidak apa-apa, aku yang traktir!" Butuh beberapa detik hingga Valerie akhirnya mengembuskan napas dalam-dalam. Kelas yang akan dilewatkannya sore ini adalah kelas Mr. Bradley, dan tampaknya tidak terlalu sulit untuk menemui dosennya itu besok-besok untuk meminta izin. Jadilah Valerie juga menarik handle pintu di hadapannya, masuk ke dalam untuk duduk persis di sebelah Pedro yang kini sedang menarik sabuk pengaman. "Kursimu akan basah," gumam Valerie mengenakan sabuk miliknya. "Celanaku basah." Pedro menoleh. Menyalakan mesinnya dan mengaktifkan pemanas, lelaki itu memastikan mereka siap untuk beranjak dari kawasan kampus. "Tidak masalah," sahut Pedro. "Beberapa gadis juga basah di sana." Mengolok-olok, Valerie tahu ke arah mana maksud Pedro. "Kau memang pemain ulung, Ped," komentar Valerie. "Gadis mana lagi yang kau buat basah di sini, hah?" Kekehan Pedro mengudara selaras dengan mobil yang kini melaju dengan kecepatan sedang. "Tidak, aku hanya bercanda," balas lelaki itu. "Apa menurutmu aku sebrengsek itu, Val?" Valerie menaikkan bahu. Mengenal Pedro sejak kecil, tentulah ia mengetahui rentetan perempuan yang pernah hadir di kehidupan sahabatnya itu. Bahkan Pedro tidak jarang memamerkan foto perempuan yang sedang dekat dengannya, lantas meminta pendapat Valerie mengenai perempuan tersebut. Pernah suatu kali seorang gadis dari departemen Bahasa Rusia mendekati sang pemain basket. Pedro mendapati perempuan itu memang tertarik padanya, terlebih dengan banyaknya surat yang diselipkan di loker milik lelaki itu dari perempuan yang bernama Marsha. Tadinya Pedro berniat untuk mencoba menjalin hubungan dengan gadis Rusia itu, namun Valerie berkata gadis itu hanyalah gadis binal yang memang hobinya melemparkan tubuh pada pria-pria. "Dia tidak baik," ucap Valerie kala itu. "Dia juga mendekati Rossio, seniorku di klub memanah. Dia mengenakan rok super pendek dengan rambut yang disanggul, sengaja menampakkan bekas kissmark di sepanjang lehernya! Kau ingin berkencan dengan gadis seperti itu? Kalau aku sih, ogah!" Dan rentetan kalimat Valerie itu akhirnya membuat Pedro tidak jadi menerima Marsha. Meski lelaki itu harus kehilangan kesempatan menghabiskan malam panas bersama gadis secantik Marsha, namun baginya pendapat Valerie cukup penting juga. "Aku tidak berniat berkencan untuk saat ini," ujar Pedro akhirnya. Kembali melambatkan laju kendaraan untuk mengantri persis di belakang sebuah SUV berwarna hitam metalik, lelaki itu menolehkan kepala. "Dan kau? Sebaiknya kau benar-benar melupakan lelaki itu, Val." Valerie melirik Pedro. Menarik seulas senyum saat kini ia hanya bisa tertawa hambar. Melupakan Gosse? Tentulah tidak semudah itu, Ferguso. "Akan kulakulan," balas Valerie tidak ingin membahas lebih jauh. "Setidaknya, aku tahu aku tidak bisa berharap lagi." Pedro mengangguk kecil. Jika Valerie tidak ingin mengungkapkan identitas lelaki yang membuatnya terluka itu padanya, maka dia tidak akan memaksa. Pedro tahu Valerie memiliki hak penuh untuk mempertahankan privacy. Dan Pedro, sama sekali tidak keberatan untuk menerima itu. "Kau melakukan hal yang benar." Lampu di depan sana berubah menjadi hijau setelah kuning menyala, dan Pedro sudah melajukan kembali mobilnya. "Kini sebaiknya kita makan, lalu akan kuantar kau pulang. Kau mau makan apa?" Valerie setuju. Hal terakhir yang dia makan tadi adalah cemilan kecil bersama Gosse, yang kini tidak lagi membuatnya kenyang. Berhujan-hujanan membuat tenaganya cukup terkuras, dan makan adalah pilihan yang amat bijak. "Traktir aku pizza," pinta perempuan itu tanpa ragu. "Dengan ekstra keju dan makaroni, juga dengan paprika dan potongan daging yang banyak." Pedro tertawa kecil. "Ah, dan bir. Aku ingin sekali minum bir," sambung Valerie lagi. "Tiga kaleng." Tampaknya apa yang diminta Valerie ini tidak buruk juga, saat akhirnya Pedro mengangguk setuju. Mengeratkan pegangan tangannya di setir, ia menginjak gas lebih dalam. "Pegangan," bisiknya. "Kita menuju gerai pizzamu sekarang dengan kecepatan penuh!" Membuat Valerie tertawa senang, memegangi sabuk pengamannya erat dan memekik ketika Pedro menambah drastis laju kendaraannya. Tidak hanya mencintai tato, ada satu hal lagi yang Valerie ketahui disukai lelaki itu. Berbalapan. *** Mobil Pedro berhenti tepat di depan pagar tinggi kediaman keluarga Genneth, saat hari sudah melewati pukul delapan malam. Menghabiskan waktu dengan bercerita dan menenggak kaleng bir di gerai pizza yang mereka tuju, keduanya bahkan hampir melupakan waktu yang kian beranjak naik. Tidak mampir untuk menyapa orang tua Valerie, Pedro langsung tancap gas setelah siluet tubuh Valerie menghilang di sebalik pagar besar itu. Dan kini ketukan di pintu kamarnya membuat Valerie menolehkan kepala dari layar laptop yang menyala di atas ranjang, disusul dengan teriakan setengah keras. "Masuk!" Pintu itu terbuka perlahan. Seorang gadis yang terpaut beberapa tahun lebih tua dari Valerie menyembulkan kepala dari sebalik pintu. "Val, kau sudah tidur?" Versaline bertanya dengan amat lembut. Putri tertua keluarga Genneth itu mendorong pintu lebih dalam. "Boleh aku masuk?" Ada perasaan yang bercampur aduk, yang dirasakan oleh Valerie kini. Menghadapi Versaline tidak pernah membuatnya merasa sesak sebelum ini, namun kabar yang telah dia dengar dari Gosse tadi kini membuat hati Valerie lagi-lagi berdenyut nyeri. "Versa," sambut Valerie berusaha mempertahankan nada suaranya seperti biasa. "Masuklah, sini." Memperbaiki posisi tubuh yang tadinya sedang bertelungkup menghadap layar laptop, kini Valerie bangkit dan duduk tegak di atas ranjang. Meraih ikatan berwarna emas dan meraup rambutnya asal-asalan, manik Valerie memperhatikan langkah Versa yang mendekat. Mengambil posisi duduk di pinggiran ramjang sang adik, Versa mengulas senyum. "Kau diantar siapa tadi, Val?" tanyanya setengah menggoda. "Apa itu putra keluarga Viscout?" Versaline tentulah mengenal Pedro, sebab tidak sekali dua kali lelaki itu datang dan berkunjung ke kediaman mereka. Orang tua keduanya juga sudah saling mengenal dengan baik, terlebih ibu dari Versa dan Valerie mengklaim bahwa Nyonya Viscout adalah seorang lady yang amat baik hati dan luar biasa cantik. "Ah, itu Pedro," sahut Valerie. "Kau melihatnya?" Versaline tersenyum, menggoda. "Masih belum menyadari bahwa lelaki dan perempuan tidak bisa hanya sekedar bersahabat, Val?" tanya Versa to the point. Pertanyaan yang membuat Valerie terkekeh dengan tawa yang terpecah, memenuhi kamarnya karena rasa lucu yang terasa. "Versa, kau," gumam perempuan itu. "Sungguh, tidak ada apa-apa antara aku dan sang Viscout!" Versaline tampak mengangguk, namun jelas sekali raut wajahnya tidak menyatakan bahwa dia percaya. "Benar!" sambung Valerie lagi. "Ah, sudahlah, tidak usah membahas Pedro. Ada apa kau datang? Kau tidak sibuk?" Harus Valerie akui bahwa hubungannya dengan Versaline memang berkembang sebagaimana hubungan kakak adik pada umumnya. Namun tidak terlalu dekat lagi belakangan ini, sebab kini Versa sibuk dengan aktivitasnya belajar bisnis dan menyelesaikan kuliah yang hampir menuju akhir. "Sedang tidak," Versa menjawab dengan sebelah tangan yang mengusap lengan yang lainnya. Sorot mata perempuan itu tampak berubah serius, dengan surai cokelat yang tergerai hingga melewati bahu. "Aku ingin kau menjadi orang pertama yang tahu, Val," Versa bersuara. "Ibu mungkin belum memberitahu hal ini padamu, namun aku tidak ingin kau terkejut nantinya." Valerie menahan napas. Membiarkan iris kehijauan miliknya bertemu dengan iris biru safir sang kakak, dia berusaha sebisa mungkin mempertahankan wajah innocent kini. Pastilah ini hal yang siang tadi telah menggores hatinya. Pastilah sebentar lagi ada nama lelaki itu yang mengudara. "Ada apa?" Valerie hampir kehabisan napas untuk berpura-pura tidak tahu. Rasanya menghimpit di dalam sana, semakin lama ia menatap Versa. Berdehem, Versa akhirnya bersuara. "Aku akan menikah, Val," kata perempuan itu dengan suara pelan dan amat tenang. Memperhatikan setiap kecil perubahan di wajah adiknya, Versa menjeda. "Benarkah?" Valerie menaikkan nada suara, berharap reaksinya itu cukup untuk menggambarkan ekspresi terkejut. "Kau akan menikah?!" Demi apa pun, Valerie kini mulai berpikir untuk bergabung dengan klub teater saja. Anggukan Versa menguatkan semua. "Iya, Val, aku akan menikah." Binar mata Versa tampak menyiratkan secercah harapan, dan Valerie tahu sang kakak cukup senang dengan kabar ini. "Gosse Armour," ucap Versa jelas. Jelas sekali, hingga menyakiti hati Valerie bagai sebilah belati yang mengoyaknya tanpa ampun. "Dia anak tertua dari keluarga Armour," sambung Versa lagi. "Katanya dia berkuliah di kampus yang sama denganmu, apa kau kebetulan pernah mendengar namanya di suatu tempat?" Valerie terdiam. Membisu dengan lidah mengelu kuat, dia tidak tahu harus mengucapkan apa untuk membalas pertanyaan Versa. Apakah sebaiknya dia berpura-pura tidak mengenali Gosse? Atau apakah sebaiknya dia mengatakan semuanya bahwa dia dan Gosse berada di klub yang sama untuk dua tahun terakhir ini? Setiap hal yang akan keluar dari bibirnya pastilah membawa konsekuensi yang berbeda, hanya tinggal dia memilih mana kira-kira yang paling tidak membuatnya terluka. Versa masih menunggu. Berharap agar adiknya mengenal Gosse, hingga ia bisa mencari informasi mengenai pria yang akan menjadi suaminya itu tidak lama lagi. Menantikan Valerie menimang sejenak apa yang akan dia keluarkan dari bibirnya, saat Versa kini mengerjap pelan. Dan Valerie tahu, kedua pilihan itu akan tetap meninggalkan luka. "Aku mengenalnya," ucap Valerie akhirnya. "Dia adalah ... seniorku." ~Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD