06. Kilas Balik Masa Lalu

1786 Words
7 tahun yang lalu… “Kafka, kamu hanya akan tinggal di sini sementara. Setelah semuanya membaik, Paman akan jemput kamu lagi.” Anak berusia 14 tahun itu hanya bisa menganggukkan kepalanya patuh, meski sebenarnya hatinya resah. Kafka kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu akibat kecelakaan mobil. Sejak saat itu, dia tinggal bersama pamannya—adik ayahnya. Setelah berdamai dengan duka selama setahun lamanya, Kafka pikir semuanya akan kembali membaik. Nyatanya semua tidak berjalan seperti keinginannya. Setelah ayahnya meninggal, situasi perusahaan menjadi tidak kondusif. Banyak rival perusahaan yang berusaha menghancurkan bisnis keluarganya. Situasi sulit itu membuat Ferdinan—paman Kafka membutuhkan fokus lebih. Selain itu, dia juga takut keselamatan Kafka terancam akibat konflik ini. Saat itu Ferdinan juga masih terlalu muda. Dia tidak tahu bagaimana harus merawat seorang anak, terlebih dalam situasi yang sulit seperti sekarang ini. Batinnya bergejolak, hingga pria itu sampai pada satu keputusan, yaitu membawa Kafka ke panti asuhan. “Paman beneran bakal jemput aku lagi, kan?” Keponakannya itu menatap Ferdinan dengan wajah penuh harap. Ferdinan terdiam lama. Lagi-lagi batinnya bergejolak. “Ya.” Kafka tersenyum. Senyuman itu membuat Ferdinan tertegun. Nyatanya, jawaban singkat itu sudah cukup membuat anak itu senang. Kalimat singkat itu bagaikan ‘janji’ yang akan terus Kafka ingat selama hidupnya. “Kamu harus jadi anak yang baik. Nurut sama para pengurus di sini. Belajar yang benar,” nasihat Ferdinan pada keponakannya. Kafka menganggukkan kepalanya patuh. “Kalau begitu, Paman pergi dulu. Jaga diri baik-baik.” Kafka menatap sendu sosok Ferdinan yang perlahan menjauh. Kafka tahu dia harus mempercayai ‘janji’ itu. Pamannya sudah berjanji akan menjemputnya, seharusnya dia sudah bisa tenang, tapi kenapa hatinya masih saja gelisah? *** Bulan demi bulan berlalu, dan Ferdinan tidak juga kembali. Ketakutan Kafka benar-benar terjadi. Ferdinan mengingkari janjinya. Nyatanya, pria itu tidak pernah datang lagi ke panti asuhan. Kafka sadar, dirinya telah dibuang oleh pamannya sendiri. Sejak saat itu, Kafka berubah menjadi sosok yang tertutup. Dia menutup hatinya rapat-rapat, tak ingin lagi percaya pada siapa pun. Di usia 14 tahun, Kafka mulai terbiasa menjalani harinya seorang diri. Dia lebih memilih bermain tanpa teman, karena baginya, kesendirian adalah tempat yang paling aman. “Kak Kafka, kan?” Saat Kafka sedang asyik menyendiri di bawah pohon, tiba-tiba datang seorang gadis kecil berambut panjang dengan bando merah mudanya. “Ngapain sendirian di sini?” Tanpa takut, gadis itu mengambil duduk di samping Kafka. “Nggak mau main? Di sana banyak temennya, lho. Pasti seru kalau main bareng.” Gadis itu terus mengoceh sambil menunjuk ke arah sekumpulan anak panti yang sedang asyik bermain sepak bola. “Kamu siapa? Memangnya kita saling kenal?” ujar Kafka sinis. Namun bukannya takut, gadis itu justru dengan riang menyodorkan tangan kanannya. “Kita belum kenalan, ya? Aku Aletha.” Kafka hanya melirik tangan itu tanpa minat. Wajahnya terlihat tidak bersahabat, namun Aletha masih tidak terpengaruh dengan tatapan tajam itu. “Kakak terkenal banget di panti ini, temen-temen di sini nyebut kakak ‘Kafka si Mata Serigala, katanya mata kakak kayak serigala,” lanjut Aletha sambil tersenyum kecil. Gadis itu tidak ada takut-takutnya, sudah tahu Kafka terlihat seperti serigala, lalu kenapa tidak kabur? “Aku juga tahu kakak nggak suka ngobrol sama temen-temen di sini,” ujar gadis itu lagi. Namun, Kafka tetap tak bereaksi. Sorot matanya tetap dingin. Tiba-tiba Aletha menatapnya dalam. Gadis itu semakin menggeser tubuhnya ke arah Kafka hingga membuat bocah laki-laki itu berdecak sebal. “Setelah aku lihat-lihat, mata kakak memang kayak serigala. Mata kakak kelihatan… tajem banget,” komentarnya dengan begitu polosnya. Aletha tidak terlihat takut sama sekali, suaranya tetap ceria meski sadar akan sikap dingin yang Kafka tunjukkan padanya. “Udah tahu aku kayak serigala, kenapa kamu malah di sini? Kenapa nggak pergi aja?” Kafka akhirnya buka suara. Suaranya rendah dan datar, tapi cukup tajam untuk membuat orang-orang di sekitarnya mundur. Namun tidak dengan Aletha. Bukannya takut, gadis itu justru dengan berani menyuarakan keinginannya pada Kafka. “Karena aku mau temenan sama kakak. Kakak tahu, nggak? Binatang favoritku itu serigala.” Dasar bocah sinting! “Aku nggak tertarik temenan sama anak kecil,” ujar Kafka dingin, membuat senyum di wajah Aletha perlahan memudar. Jarak usia Kafka dengan Aletha memang cukup jauh. Aletha masih duduk di bangku kelas 3 SD, dan Kafka sudah 2 SMP. Selain karena jarak usia yang jauh, Kafka memang tidak tertarik berteman dengan siapapun terutama dengan bocah sinting di sampingnya ini. Kafka pikir, penolakannya hari ini akan menyurutkan niat gadis itu dengan sendirinya. Nyatanya, Aletha lebih keras kepala dari dugaannya. Gadis itu terus mendekatinya tanpa henti, dan entah bagaimana ceritanya, Kafka akhirnya luluh dan mereka berteman sejak saat itu. Bisa dibilang, Aletha adalah satu-satunya teman yang dia miliki. *** Tidak terasa, satu tahun sudah Kafka menjalin pertemanan dengan gadis yang usianya 5 tahun di bawahnya. Kafka pikir, pertemanan mereka akan berlangsung selamanya. Kafka terlena dengan kebahagiaan sesaat ini, hingga lupa jika tidak ada yang abadi di dunia ini… Termasuk kebahagiaan. “Ada yang mau adopsi aku.” Kafka merasakan jantungnya berdetak tidak keruan. Ada rasa kecewa di sudut hatinya, namun Kafka berusaha terlihat tegar. Lagipula, ini kabar baik. Bukankah seharusnya dia ikut senang? “Selamat,” ucapnya singkat. Kafka pikir, Aletha memberitahukan hal ini untuk merayakan berita baik ini. Namun wajah Aletha menunjukkan ekspresi yang berbeda. Bukannya senang, wajah gadis itu justru tampak sedih. “Kenapa kamu kelihatan sedih? Bukannya ini kabar baik? Kamu akan punya keluarga baru. Bukannya ini yang kamu harapkan?” Kafka sudah mendengar kisah hidup Aletha dari gadis itu langsung. Bisa dibilang, kehidupan Aletha lebih menyedihkan dibanding Kafka. Aletha kehilangan kedua orang tua dan sanak saudaranya akibat bencana alam yang melanda kotanya. Saat itu Aletha masih berusia 2 tahun. Dia ditemukan di bongkahan reruntuhan dan diselamatkan oleh para relawan. Aletha dirawat oleh para relawan dan akhirnya dibawa ke panti ini. Kisah hidup Aletha membuat Kafka lebih mensyukuri hidupnya. Meski kini dia yatim piatu, namun setidaknya dia pernah melihat wajah kedua orang tuanya dan memiliki momen indah bersama. Berbeda dengan Aletha yang sudah ditinggal kedua orang tuanya di saat gadis itu masih balita. “Aku nggak mau pergi dari sini.” Jawaban Aletha membuat dahi Kafka mengernyit. “Kenapa?” tanya Kafka. “Karena aku nggak mau jauh dari kakak. Aku mau tetap di sini sama kakak.” Jawaban jujur itu membuat Kafka tertegun. Sejujurnya, dia senang karena Aletha punya pemikiran yang sama dengannya. Kalau boleh jujur, Kafka juga ingin Aletha tetap di sini bersamanya. Namun dia sadar, dia tidak boleh egois. Aletha harus menerima tawaran ini karena ini adalah kesempatan agar gadis itu bisa hidup dengan layak. “Kamu harus terima tawaran itu,” kata Kafka dengan wajah seriusnya. Aletha menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Turuti kata-kataku, Aletha!” sentak Kafka hingga membuat Aletha tanpa sadar menangis karena ketakutan. Aletha mungkin terbiasa dengan nada dingin Kafka, namun dia tidak pernah sampai dibentak seperti ini. “Kesempatan semacam ini nggak datang dua kali. Kamu nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini.” “T-tapi… Kak Kafka nanti gimana?” “Jangan pikirkan aku.” Air mata Aletha semakin deras. “Jangan nangis. Kita kan masih tinggal di satu kota. Kamu masih bisa main-main ke sini. Kita masih bisa ketemu.” Kata-kata penghibur itu akhirnya berhasil membuat tangis Aletha mereda. Kafka baru akan menghela napas lega, namun urung saat Aletha kembali mengejutkannya dengan tindakannya yang tiba-tiba. Bocah SD itu mencium pipinya! “Apa-apaan itu tadi?!” seru Kafka dengan wajah memerah. Kafka sendiri tidak tahu kenapa wajahnya bisa semerah ini, mungkin karena saking marahnya atau karena… Malu? Berbeda dengan Kafka yang tampak salah tingkah, Aletha justru tersenyum kesenangan. “Itu tanda,” ucapnya dengan nada ceria. Jawaban absurd Aletha membuat kening Kafka berkerut bingung. “Tanda apa?” “Tanda kalau aku bakal balik ke sini lagi. Aku udah cium kakak, jadi kalau kita sudah besar nanti, kakak harus nikahin aku. Kita harus nikah karena orang yang menikah itu diikat sama Tuhan. Itu artinya kita nggak akan terpisahkan, cuma maut yang bisa memisahkan kita!” ujar Aletha yang tampak menggebu-gebu. Kafka melongo mendengar penjelasan absurd itu. “Teori dari mana itu?” tanyanya tidak habis pikir. Dia baru tahu kalau pikiran anak SD ternyata se-absurd ini! “Dari buku dongeng yang aku baca.” Kafka menghela napas kasar. Gadis itu terlalu terobsesi dengan dongeng princess dan pangeran. Padahal jelas-jelas cerita itu tidak nyata! “Aku janji bakal sering-sering main ke sini. Aku nggak akan lupa sama Kak Kafka.” Ucapan tulus itu membuat Kafka senang dan takut secara bersamaan. “Jangan mudah membuat janji. Aku paling benci sama orang yang nggak bisa menepati janjinya,” ujar Kafka dengan wajah mengeras. Kafka trauma dengan ‘janji’ semacam ini, namun Aletha terus meyakinkannya kalau gadis itu tidak akan melupakannya. Aletha juga dengan yakin mengatakan jika dirinya akan sering-sering berkunjung dan menemui Kafka di sini. “Pastikan kamu menepati janji itu. Kalau kamu sampai ingkar janji, aku nggak akan pernah maafin kamu,” ujar Kafka dengan wajah dinginnya. Aletha tersenyum dengan lebar, seolah ancaman itu bukanlah apa-apa. “Kakak nggak usah khawatir, aku nggak akan ingkar janji. Lagian aku nggak bisa kalau sehari aja nggak ketemu kakak.” Hari itu, Kafka memutuskan untuk mempercayai ucapan Aletha. Dia berusaha meyakinkan dirinya kalau Aletha berbeda dari pamannya. Aletha tidak akan ingkar janji sebagaimana pamannya yang mengingkari janjinya pada Kafka. Namun, harapan tinggal harapan. Lagi-lagi Kafka kembali dibohongi. Seperti pamannya, gadis itu juga tidak pernah kembali. Setiap hari Kafka menunggu, namun penantian itu berakhir sia-sia. Aletha tidak pernah kembali. Gadis itu tampaknya sudah bahagia dengan kehidupan barunya hingga melupakan Kafka dan kehidupan lamanya di panti ini. Satu tahun kemudian, ada pria tua yang berniat mengadopsi Kafka. Lucunya, pria tua itu adalah orang yang sama dengan orang yang mengadopsi Aletha. Terkadang, takdir memang selucu itu. Ada perasaan membuncah di hati Kafka. Akhirnya dia bisa bertemu dengan Aletha lagi. Tidak hanya bertemu, mereka juga akan disatukan dalam keluarga yang sama. Baginya, tak ada yang lebih membahagiakan dari itu. Namun, kebahagiaannya tidak bertahan lama begitu Kafka menyadari bahwa Aletha bukan lagi sosok yang dikenalnya. Gadis itu bukan lagi sosok yang sama… Tatapan ramah yang dulu menghangatkannya kini berubah menjadi dingin dan penuh kehati-hatian. Gadis itu memperlakukannya seperti orang asing, seolah tidak pernah ada memori indah yang mereka buat bersama. Kenyataan pahit itu membuat Kafka terluka. Dia kecewa karena Aletha dengan mudah melupakannya. Gadis itu tidak mengingatnya, atau mungkin… Pura-pura tidak mengingatnya. Apakah mengenal Kafka adalah aib baginya? Apa gadis itu tidak ingin orang-orang tahu jika dia pernah berteman dengan anak yatim piatu seperti dirinya? Satu tahun sudah mengubah Aletha begitu banyak. Bagi Kafka, Aletha tidak lebih dari gadis sombong dan pembohong. Janji yang dulu mereka buat, kini terasa seperti kenangan kosong. Tanpa sadar, rasa benci itu Kafka bawa hingga mereka dewasa. Kini di matanya, Aletha hanyalah seorang pengkhianat kecil!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD