Prolog
Aletha duduk di tepi ranjang dengan wajah bersimbah air mata. Usia pernikahannya dengan Kafka memang belum lama, namun Aletha sudah merasa lelah dan ingin menyerah.
Kafka terus membuat Aletha menderita, seolah pernikahan mereka adalah hukuman baginya. Aletha sudah berusaha bersabar menahan setiap perlakuan dingin dan sikap buruk Kafka yang jelas-jelas menunjukkan bahwa pria itu tidak menginginkan kehadirannya. Namun kini, kesabarannya sudah habis.
Kini, dia menyerah…
“Aku mau kita cerai.” Aletha mengucapkan kata ‘keramat’ itu dengan susah payah. Dia berusaha mengatakannya dengan jelas di sela-sela tangisannya.
Hari ini Aletha melihat Kafka berciuman dengan sekretarisnya dengan mata kepalanya sendiri. Aletha mungkin bisa memaklumi sikap dingin Kafka selama ini padanya, namun Aletha tidak bisa mentolerir perselingkuhan.
“Nggak akan ada perceraian di pernikahan kita,” balas Kafka dingin.
“Kenapa? Bukannya kamu nggak pernah mencintai aku?”
Kafka justru terkekeh. “Memang.”
“Lalu untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini?” ujar Aletha frustasi.
“Untuk membuat kamu menderita. Aku suka melihat kamu menangis. Air mata kamu seperti tetesan air hujan yang membuatku tenang. Menangislah, dengan begitu aku akan bahagia,” ucap Kafka dengan senyum miring di bibirnya.
Aletha menatap nanar wajah suaminya—tampak tidak percaya dengan alasan tidak masuk akal yang baru saja dia dengar dari mulut Kafka.
Pria itu benar-benar sudah gila!
“Kenapa? Kenapa kamu sebegitu bencinya sama aku? Salahku apa, Mas?”
Selama ini Aletha selalu bertanya-tanya kenapa suaminya begitu membencinya. Kenapa pria itu memperlakukannya seburuk ini? Apa salahnya?
Namun Kafka justru memberikan balasan misterius. “Cari tahu sendiri. Renungkan dengan otak kamu yang nggak seberapa itu, kenapa aku bisa berbuat sejauh ini.”
Setelah itu, Kafka meninggalkan Aletha seorang diri di kamar. Gadis itu kembali menangis terisak-isak. Dia sangat ingin terbebas dari ‘neraka’ ini. Dia ingin mengakhiri semuanya.
Namun sepertinya Kafka tidak akan melepasnya semudah itu. Entah harus sehancur apa lagi baru Kafka mau melepasnya. Apa Kafka ingin melihatnya mati dulu baru pria itu mau melepasnya?