Aletha berjalan menyusuri lorong rumah sakit di tengahnya malam. Hari ini dia akan menjaga kakeknya lagi seperti malam-malam sebelumnya. Beberapa hari ini, kondisi kesehatan Arnold—kakek Aletha, memang sedang menurun sehingga harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari ini.
Selama itu juga Aletha harus menjaga kakeknya selama dirawat di rumah sakit. Sebetulnya kakeknya selalu menolak setiap kali Aletha berniat untuk bermalam di rumah sakit demi menjaga beliau. Arnold termasuk lansia yang mandiri. Meski usianya sudah renta, dia tetap menganggap dirinya tak selemah itu sampai harus dijaga 24 jam.
“Sudah banyak suster dan dokter yang berjaga di sini, kamu bisa pulang dan tidur dengan nyaman di kamarmu sendiri. Jangan khawatirkan kakek.”
Itulah yang sering Arnold katakan pada cucu perempuannya. Tapi Aletha yang memang hatinya selembut sutra ini mana bisa tenang membiarkan kakeknya sendirian di ruang inap. Dia tidak akan bisa tidur dengan tenang jika tidak memastikan kondisi kakeknya dengan mata kepalanya sendiri.
Aletha sampai di depan ruang inap kakeknya. Tangannya memutar handle pintu dengan santai. “Kakek, ini Aletha bawain—”
Kata-katanya terputus. Langkahnya pun ikut terhenti begitu pandangannya jatuh pada sosok lain yang sedang duduk di samping tempat tidur kakeknya.
Senyum di wajahnya lenyap, digantikan wajah gugup. Terlebih saat dia mendapati tatapan tidak bersahabat yang dilayangkan pria itu padanya. Tatapan pria itu berhasil membuat Aletha merasa terintimidasi.
Pria itu adalah Kafka, pria 27 tahun yang dulu diadopsi kakeknya dari panti asuhan. Kafka dirawat kakeknya sejak usia 17 tahun. Sejak datang ke rumahnya, Kafka memang selalu menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat seperti sekarang ini, dan Aletha pun tidak tahu apa yang membuat Kafka terlihat begitu membencinya.
“Maaf, Aletha nggak tahu kalau kakek lagi ada tamu,” ucap Aletha tidak enak.
“Kamu ke sini lagi? Kakek kan udah bilang jangan ke sini. Tidur di rumah, jangan pikirkan kakek yang sudah terbiasa tidur di rumah sakit,” ucap Arnold pada cucunya.
“Tapi Aletha khawatir sama kakek,” cicit gadis itu.
Arnold menghela napas panjang, pria tua itu tampak lelah menghadapi cucunya yang sulit diberi tahu.
“K-kalau gitu… aku tunggu di luar dulu, ya? Kayaknya kakek masih sibuk,” ucap Aletha sambil melirik pria di samping kakeknya takut-takut.
Dia khawatir kedatangannya saat ini mengganggu obrolan penting antara kakeknya dengan Kafka. Lagipula Aletha memang ingin segera kabur dari sini. Sejujurnya dia mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan tajam yang dilayangkan Kafka padanya.
Aletha hampir melangkah keluar dari ruangan, namun langkah kakinya terhenti begitu suara lirih Arnold memanggilnya, “Tunggu dulu.”
Aletha menggeram dalam hati, “Ada apa lagi?!”
“Ya, Kek?” Aletha menoleh sambil memasang senyum palsunya.
“Ke sini sebentar, Aletha. Kebetulan ada yang ingin kakek bicarakan dengan kamu. Karena kamu sudah ada di sini, sekalian saja kakek sampaikan sekarang.” Arnold memberi isyarat agar Aletha mendekat ke arahnya.
Aletha mendekat dengan ragu. Tatapan tidak ramah pria di samping kakeknya membuat langkah kaki Aletha kian melambat.
Tatapan Kafka selalu seperti itu. Pria itu selalu menatapnya tajam seolah membenci kehadirannya. Anehnya, tatapan benci itu hanya ditujukan padanya, sedangkan kepada orang lain, pria itu selalu bersikap ramah. Pada kakek dan para pelayan di rumahnya, Kafka selalu menampilkan senyum hangat dan bersikap seolah dia ‘anak baik’. Namun begitu berhadapan dengan Aletha, sikapnya berubah 180 derajat.
Aletha tidak mengerti. Dia sangat bingung dengan sikap Kafka yang tidak konsisten. Namun Aletha tidak terlalu ambil pusing, toh mereka juga jarang bertemu. Mereka hanya akan sesekali berpapasan ketika pria itu datang menemui kakeknya untuk membicarakan masalah perusahaan—mengingat Kafka adalah orang yang dipercaya kakeknya untuk mengurus perusahaan selama beliau sakit.
“Ada apa, Kek?” tanya Aletha begitu sampai di samping Arnold.
“Berapa usia kamu, Aletha?” tanya pria yang memang sudah agak pikun itu.
Aletha mengerutkan dahinya bingung. “22 tahun,” jawab gadis itu.
Arnold mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkomentar singkat, “Masih sangat muda ternyata.”
“Kalau kamu, Kafka? Berapa usia kamu sekarang?” Arnold beralih pada Kafka—anak asuh yang diadopsinya dari panti asuhan sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu.
“Usia saya 27 tahun,” jawab pria itu singkat.
“Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin kakek lihat kamu pakai baju putih abu-abu, sekarang kamu sudah menjadi pria dewasa yang bisa diandalkan,” ucap Arnold dengan tatapan bangga.
“Ini semua berkat Anda. Kalau bukan karena Anda, saya tidak akan berada di posisi saya sekarang,” balas Kafka sambil menundukkan kepalanya sopan.
Arnold tersenyum lembut. Ingatan tentang masa lalu kembali menari-nari di benaknya. Dia ingat, dulu saat pertama kali membawa Kafka dari panti asuhan ke rumahnya, pemuda itu tampak begitu pendiam dan pemurung. Saat itu, Kafka baru berusia 17 tahun. Namun pemuda itu mampu beradaptasi dengan cepat, sehingga dalam waktu singkat ia sudah bisa berbaur dengan seluruh penghuni rumah Arnold.
Setelah menginjak usia 20 tahun, Kafka sudah Arnold percaya untuk ikut serta dalam mengurus bisnisnya. Tidak disangka, bakat bisnis Kafka ternyata sudah terlihat sejak usia muda. Sejak saat itu Kafka mendapat kepercayaan penuh dari Arnold, dan begitu lulus dari kuliah, Kafka memutuskan untuk hidup mandiri dengan menyewa apartemen dekat perusahaan untuk mempermudah mobilitasnya.
Di usia 27 tahun, pemuda itu semakin dipercaya oleh Arnold dalam mengurus perusahaan dan Kafka sendiri sudah mampu membeli apartemen sendiri dari gaji yang didapatkannya dari bekerja di perusahaan Arnold.
Arnold sangat mengagumi kerja keras Kafka. Pemuda itu ulet, jujur, dan tidak neko-neko. Kafka memiliki segala aspek yang dikagumi Arnold.
“Kamu tumbuh dengan baik,” puji Arnold.
“Ini semua berkat Anda,” jawab Kafka dengan seformal mungkin.
Secara hukum, Arnold memang kakek Kafka. Arnold mengangkat Kafka secara sah sebagai cucunya. Namun sejak awal, Kafka memang tidak dibesarkannya sebagai cucu, melainkan sebagai penerus perusahaan yang handal.
Aletha dibesarkan Arnold dengan kasih sayang, sedangkan Kafka dibesarkan dengan pola asuh yang ketat dan keras demi bisa menjadi pewaris perusahaan di masa depan. Itu sebabnya Kafka juga terbiasa menggunakan bahasa formal kepada Arnold karena sejak kecil Arnold memang selalu menekankan bahwa beliau bukanlah kakeknya, melainkan ‘mentor’ yang akan mendidiknya menjadi penerus perusahaan.
“Kafka, bagaimana pendapatmu tentang cucuku?”
Kafka dan Aletha sama-sama memasang wajah bingung. “Apa maksud Anda?” Kafka lebih dulu mempertanyakan maksud ucapannya.
“Apa Aletha cukup cantik di matamu?”
Pertanyaan Arnold membuat Aletha tidak nyaman hingga membuat gadis muda itu tak tahan untuk tidak menginterupsi ucapan sang kakek. “Kakek ini ngomong apa, sih?” ucapnya tidak nyaman.
“Kenapa? Kakek cuma mau tahu pendapat Kafka. Jadi gimana, Kafka? Apa pendapat kamu tentang cucu perempuanku?”
Aletha hanya bisa diam dengan wajah memerah. Pertanyaan kakeknya ini sungguh konyol dan memalukan!
“Cucu Anda cantik.” Jawaban tidak terduga itu langsung membuat Aletha mendongak menatap pria yang saat ini masih memasang wajah datar.
“Benarkah? Kalau begitu, apa kamu tertarik dengan cucuku?”
“Kakek!” tegur gadis itu lagi. Wajah Aletha semakin memanas. Kakeknya ingin mempermalukannya sampai sejauh apa lagi? Kenapa kakeknya tiba-tiba menanyakan hal memalukan dan tidak penting seperti ini?
“Cucu Anda memang cantik, tapi saya punya kriteria sendiri,” ucap Kafka sambil tersenyum sopan. Secara tidak langsung pria itu mengatakan kalau Aletha bukanlah tipenya.
“Jadi maksudmu, Aletha tidak masuk kriteriamu?” tanya Arnold.
Kafka segera menundukkan kepalanya sebagai bentuk permintaan maaf. “Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung,” ucapnya dengan sehati-hati mungkin.
“Padahal aku berniat untuk menikahkan kalian berdua.”
Aletha dan Kafka kompak menatap Arnold dengan tatapan kaget bercampur bingung. Keduanya tampak shock dengan ucapan tiba-tiba Arnold.
“Kakek, jangan bercanda!” kata Aletha dengan tampang ngeri.
“Apa wajah kakek kelihatan bercanda?”
Tidak.
Saat ini kakeknya jelas sedang tidak bercanda. Wajahnya tampak serius. Tapi menikah dengan Kafka? Kenapa tiba-tiba sekali?
“Kakek sudah tua. Kesehatan kakek juga sudah semakin menurun. Kakek ingin pergi dengan tenang, tapi kakek nggak akan pernah bisa tenang selama kamu masih belum menikah,” kata Arnold sambil menatap lembut cucu perempuan satu-satunya.
“Kakek ngomong apa, sih? Kakek nggak akan kemana-mana! Nggak lama lagi kakek pasti sembuh dan bisa segera pulang ke rumah. Jangan ngomong sembarangan lagi, Aletha nggak suka!” ujar Aletha dengan mata berkaca-kaca.
Saat ini Aletha hanya punya kakeknya. Tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya bahwa kakeknya akan pergi meninggalkannya seorang diri di dunia ini. Hanya kakeknya yang dia punya saat ini. Kalau kakeknya pergi, Aletha harus hidup dengan siapa? Dia belum siap hidup sebatang kara.
“Kita harus realistis, Aletha. Usia kakek sudah tua, fisik kakek juga semakin renta, kesehatan kakek sudah semakin menurun. Kita harus mempersiapkan kemungkinan terburuk. Untuk urusan perusahaan, kakek sudah tidak lagi khawatir karena ada Kafka yang akan mengurus segalanya. Tapi kakek nggak bisa meninggalkan kamu tanpa seorang suami. Kakek ingin melihat kamu menikah sebelum kakek meninggal.”
Aletha hanya bisa diam. Gadis itu sibuk menahan tangis yang sudah mendesak ingin keluar. Dia benci ketika kakeknya mengatakan hal-hal semacam ini. Kakeknya benar, kita memang harus mempersiapkan kemungkinan terburuk. Tapi sejujurnya, Aletha tidak siap dengan kemungkinan terburuk itu.
Atau bahkan, tidak akan pernah siap!
“Kafka, selama ini kamu nggak pernah mengecewakan kakek. Kamu selalu menjalankan semua perintah kakek dengan sangat baik. Kali ini kamu juga akan menjalankan perintah kakek dengan baik, kan?” tanya Arnold dengan wajah penuh harap.
Diam-diam Aletha melirik ke arah Kafka yang tampak bimbang.
Pria itu pasti akan menolak.
Aletha sadar betapa pria itu sangat membencinya. Dia yakin Kafka tidak akan menerima perjodohan ini karena pria itu tidak akan mau menikah dengan wanita yang jelas-jelas tidak menarik untuknya.
***
Suasana di dalam mobil terasa hening dan canggung. Aletha melirik ke arah Kafka yang fokus menyetir di sampingnya. Sedari tadi Kafka sibuk menatap jalanan di depannya, pria itu tampak menikmati keheningan yang tercipta di antara keduanya, berbeda dengan Aletha yang tampak tersiksa.
Gadis itu menghela napas panjang. Seharusnya dia menolak lebih keras saat kakeknya memaksanya untuk pulang bersama Kafka. Andai dia bisa sedikit keras kepala, mungkin dia tidak akan terjebak dalam situasi canggung semacam ini.
Aletha tidak nyaman dengan keheningan yang tercipta di antara mereka. Dia tipe orang yang suka bercerita. Jadi setelah bermenit-menit terjebak dalam keheningan, Aletha pun memberanikan diri memulai percakapan.
“Mas Kafka.”
Sayangnya, pria itu tidak menjawab.
Aletha menelan ludahnya gugup. Dia melirik takut ke arah Kafka yang masih setia dengan wajah datarnya. Apa pria itu berniat untuk mengabaikannya?
“Mas!” panggilnya sekali lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih tinggi.
Pria itu berdecak, namun pada akhirnya mau menanggapi panggilannya. “Kenapa?” jawabnya dengan wajah tidak ramah.
“Mas Kafka nggak akan menerima permintaan kakek barusan, kan?” Sejak tadi mulut Aletha sudah gatal ingin menanyakan hal tersebut.
Pria itu tersenyum miring. “Kenapa? Kamu penasaran?”
Tentu saja Aletha penasaran, karena jawaban Kafka nantinya akan sangat menentukan nasibnya di masa depan.
“Aku harap Mas Kafka menolak permintaan kakek. Anggep aja Mas Kafka nggak pernah dengar permintaan konyol itu.”
Senyum miring di wajah Kafka mendadak sirna, tergantikan wajah datar dengan raut tidak bersahabat. “Kamu pikir kamu siapa?”
Alis Aletha menyatu, menunjukkan kebingungan yang tampak jelas di wajahnya. “Apa?” tanyanya tidak mengerti.
“Apa kamu menganggap aku ini pesuruh yang bisa kamu perintah seenaknya?”
Wajah Aletha berubah panik. “B-bukan begitu maksudku. Aku…”
“Kamu salah kalau berpikir aku orang yang bisa kamu kendalikan sesukamu. Dengar Aletha, kamu mungkin bisa mendapatkan apapun yang kamu mau, mengatur semuanya sesuka hatimu, tapi nggak denganku.”
“Wake up, Princess. This world is not your fairy tale. Nggak semua yang kamu mau bisa kamu dapatkan,” sindir Kafka dengan seringai di bibirnya.
Aletha menatap Kafka dengan raut wajah bingung. Kenapa Kafka selalu bersikap sinis kepadanya? Kenapa pria itu selalu menganggap seolah dia ini tokoh jahat dalam hidupnya?
Mereka bahkan tidak kenal dekat, bicara juga hampir tidak pernah. Tapi kenapa pria itu menilai Aletha seenaknya? Kenapa Kafka bersikap seolah paling mengenal Aletha? Kenapa pria itu begitu ‘sok tahu’ terhadap dirinya?!