02. Pernikahan Dadakan

2190 Words
Matahari masih belum tampak sepenuhnya, dan Aletha masih bergelung di balik selimut sambil sesekali menggeliat mencari kehangatan. Namun, tidurnya yang damai tidak bertahan lama. Paginya yang tenang tiba-tiba terusik oleh seorang pria yang masuk ke kamarnya tanpa izin. Pria itu menarik selimut Aletha hingga membuat gadis itu memekik histeris. “M-mas Kafka? Kamu ngapain di sini? Kenapa masuk ke kamarku tanpa izin?!” ucap gadis itu marah. Tangan Aletha sibuk menutupi bagian tubuhnya yang lumayan terekspos mengingat saat ini dia hanya mengenakan gaun tidur yang agak terbuka. Belum lagi dia memang suka tidur tanpa mengenakan braa di balik gaun tidurnya. “Aku beri waktu 5 menit untuk siap-siap. Kita harus segera ke rumah sakit sekarang.” Aletha masih terduduk di ranjang sambil menatap Kafka bingung. “A-apa? Tapi kenapa? Kenapa buru-buru begini?” “Bisa nggak kamu turuti ucapanku tanpa harus banyak bertanya?” balas pria itu sinis. “Tapi aku perlu tahu. Aku bingung kalau tiba-tiba disuruh ini itu tanpa tahu masalahnya apa,” kata Aletha yang tidak gentar menatap mata elang Kafka. Jangan dipikir dia takut dengan tatapan tajam itu. Dia ini bukan gadis lemah yang mau-mau saja disuruh ini itu. “Kakek kritis, dan sebelum kritis beliau sudah menyampaikan permintaan terakhirnya pada sekretarisnya. Dia mau kita menikah. Sekarang. Di rumah sakit.” Kafka menekankan setiap bagian penting di akhir kalimatnya. “Penghulu sudah menunggu kita di rumah sakit, jadi kita harus cepat. Aku beri waktu lima menit. Kalau dalam waktu lima menit kamu masih belum siap juga, aku bakal seret kamu keluar dari kamar ini meski dalam keadaan tanpa busana sekalipun,” ancam Kafka sambil berlalu meninggalkan Aletha seorang diri di kamar. Aletha sudah tidak terlalu memperdulikan ancaman yang diberikan pria itu padanya, begitupun dengan rencana pernikahan mendadak yang baru saja Kafka sampaikan padanya. Fokusnya saat ini hanya pada kakeknya. Saat ini satu-satunya keluarga yang dia punya sedang kritis! Aletha segera bergerak menuju lemari pakaian. Dia hanya mencuci muka seadanya dan mengganti gaun tidurnya dengan pakaian yang diambilnya asal dengan secepat kilat. Kakek, tolong bertahan demi Aletha! Jangan tinggalin Aletha sendirian di sini! *** Aletha berlari bersama Kafka menyusuri lorong rumah sakit. Sesampainya di ruangan kakeknya, kondisi kakeknya sedang kritis—persis seperti yang dikatakan Kafka padanya saat di rumah tadi. Di samping bangsal kakeknya, ada Pak Robert—sekretaris sekaligus orang kepercayaan kakeknya yang usianya hampir mencapai kepala lima. Di samping Pak Robert, berdiri seseorang dengan wajah yang tampak asing di mata Aletha. “Penghulunya sudah siap. Kita lakukan ijab kabulnya sekarang,” titah Pak Robert. Jadi, laki-laki di samping Pak Robert ini adalah penghulu? “Tu-tunggu! Menikah? Aku harus menikah sama Mas Kafka? Sekarang?” Aletha tampak tidak siap. Menikah dengan Kafka saja sudah cukup membuatnya ngeri, dan ini dia diharuskan menikah saat ini juga tanpa adanya persiapan mental yang cukup. “Saya sudah siap. Kita mulai saja sekarang,” serobot Kafka—tampak tidak peduli dengan ketidaksiapan Aletha. “Tapi, Mas…” “Sudah nggak ada waktu lagi!” potong Kafka cepat. “Apa kamu mau kakek meninggal dengan membawa penyesalan?” Ucapan menohok Kafka membuat air mata Aletha mulai luruh. Sejak tadi dia masih terlalu bingung memahami semua ini, dan saat kata ‘meninggal’ keluar dari mulut Kafka, Aletha baru sadar kalau saat ini kakeknya sedang berada di ambang kematian. Namun lagi-lagi Kafka tidak mempedulikan tangis Aletha. Pria itu kembali berbicara pada penghulu, “Kita lakukan sekarang.” Proses ijab kabul berlangsung dengan cepat. Dan begitu kata ‘SAH’ memenuhi ruangan, saat itu juga suara monitor di samping bangsal kakeknya mulai terdengar memekakan telinga. Para dokter mulai melakukan tindakan semampunya, dan seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, kakeknya menghembuskan napas terakhir tepat setelah ijab kabul dilakukan. “Pasien atas nama Arnold Adhitama meninggal dunia pada pukul delapan lewat dua belas menit akibat henti jantung,” ujar dokter itu setelah memberikan tindakan semaksimal mungkin. Aletha langsung menangis sejadi-jadinya. Gadis muda itu memeluk tubuh ringkih kakeknya yang sudah terasa dingin. “Kakek!” Tangisnya semakin pecah. “Kakek kan udah janji bakal sembuh! Katanya mau pulang ke rumah bareng Aletha. Kenapa malah pergi?! Sekarang Aletha sama siapa? Aletha nggak mau sendirian di sini,” isaknya, terdengar memilukan. Semua orang di sana hanya bisa mengamati gadis muda itu yang begitu larut dalam kesedihan. Mereka tidak ingin mengganggu Aletha. Mereka hanya ingin memberinya ruang untuk meredakan rasa sedih dan kehilangan. “Pak Robert, saya titip Aletha sebentar. Saya mau urus administrasi sekaligus persiapan kepulangan jenazah ke rumah duka.” Robert menganggukkan kepalanya singkat sambil menepuk pundak pemuda itu pelan. “Kamu yang kuat, ya,” ucapnya pada Kafka. Robert berharap sebaris kalimat sederhana itu mampu membuat Kafka kuat menghadapi semua ini. Meski di luar Kafka tampak tegar, namun Robert yakin sebenarnya Kafka juga sama terpukulnya. Hati pemuda itu pasti sama hancurnya seperti Aletha. Kafka sudah diasuh Arnold sejak pria itu masih remaja. Meski terlihat tidak dekat, namun sebenarnya Arnold memiliki peran besar di hidup Kafka. Bagi Kafka, Arnold sudah seperti penyelamat sekaligus sosok paling penting dalam hidupnya. Namun hidup harus tetap berjalan. Tidak ada waktu untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Banyak yang harus diurus, mulai dari pemakaman, hingga urusan perusahaan yang sudah menanti di depan. “Pemimpin Adhitama Group tidak boleh lemah. Banyak yang mengincar posisi kamu. Jadi apapun yang terjadi, kamu harus selalu berdiri dengan kepala tegak. Jangan biarkan musuh melihat kelemahanmu.” Nasihat Arnold terus terngiang-ngiang di ingatan Kafka. Arnold memintanya untuk tidak lemah. Dunia ini kejam, jadi dia harus kuat atau setidaknya ‘terlihat’ kuat. Arnold sudah mempercayakan posisi penting ini padanya, jadi Kafka juga harus mampu menjadi sosok yang Arnold harapkan. *** Sudah seminggu sejak kepergian Arnold, dan selama itu pula Aletha telah resmi menjadi istri Kafka, baik secara agama maupun hukum. Dan sejak saat itu juga Aletha menolak keluar kamar. Dia masih berduka. Kafka mencoba sabar dengan membiarkan Aletha melakukan apapun yang diinginkannya. Dia mencoba menghormati keadaan gadis itu yang masih berduka. Sebagai seorang suami, Kafka bahkan membiarkan Aletha tidur di kamar yang berbeda darinya. Aletha tidur di kamar pribadinya, dan Kafka tidur di bekas kamarnya dulu saat masih tinggal di sini. Namun satu minggu sudah cukup untuk masa berkabung. Batas toleransi Kafka hanya untuk satu minggu. Dan hari ini adalah hari ke-8 meninggalnya Arnold, sekaligus menjadi hari terakhir Aletha mengurung diri di kamar. “Aletha masih di kamarnya?” Kafka bertanya pada pelayan yang menyiapkan makanan di hadapannya. “Iya, Tuan. Hari ini Non Aletha mengurung diri di kamar lagi.” “Suruh dia keluar,” ujar Kafka dengan wajah dingin. Pelayan itu melirik ragu ke salah satu rekan sejawatnya. Di ruang makan ada beberapa pelayan yang sibuk menghidangkan makanan. Ada total sepuluh pelayan di rumah ini, jumlah yang cukup banyak menurut Kafka karena yang dilayani pun juga hanya dua orang. Kafka berpikir untuk mengurangi jumlah pelayan di sini. 10 orang itu berlebihan, sepertinya dia perlu memangkas setengah dari jumlah pelayan di sini. “Kenapa diam? Saya kan nyuruh kamu manggil Aletha.” “I-iya, Tuan. Saya permisi dulu.” Pelayan berusia 20-an itu berlalu dari hadapan Kafka. Kafka menikmati makanannya dalam diam. Setelah sekian tahun meninggalkan rumah ini demi hidup mandiri, akhirnya hari ini dia menginjakkan kakinya di rumah ini lagi. Sejujurnya, Kafka tidak nyaman berada di sini. Kehidupan rumah ini terlalu glamour untuknya. Terlalu berlebihan. Serta terlalu tidak nyata. Kafka lebih suka kehidupan yang sederhana, dan ‘menantang’. Hidup di sini membuatnya tidak bisa berkembang. Itu sebabnya dia memutuskan untuk hidup mandiri begitu dia mampu menghasilkan uang sendiri. Andai dia memutuskan untuk tetap tinggal di sini, mungkin dia akan berakhir menjadi orang yang tidak bisa apa-apa, contohnya seperti Aletha—cucu perempuan Arnold yang terlampau manja dan tidak bisa apa-apa. “Maaf, Tuan. Tapi… Non Aletha nggak mau keluar. Saya sudah berusaha membujuk, tapi tetap nggak berhasil.” Kafka meletakkan sendok serta garpunya ke atas piring hingga menimbulkan suara berdenting. Kalau para pelayan ini tidak bisa membuat Aletha keluar dari kamarnya, maka Kafka yang akan mengeluarkan gadis itu dari kamarnya—entah itu dengan cara lembut atau keras sekalipun. Sudah cukup bermanja-manjanya. Saat ini Aletha sudah tidak lagi hidup bersama kakeknya, melainkan dengan Kafka—suaminya, maka gadis itu juga harus mau hidup dengan aturan Kafka. Perusahaan kini ada di bawah kendalinya. Jadi jika gadis itu masih mau hidup nyaman dengan segala kemewahan ini, maka dia harus mau mengikuti aturan yang ditetapkan Kafka di rumah ini. “Buka pintunya.” Kafka mengetuk pintu kamar Aletha yang disambut dengan penolakan gadis itu. “Pergi!” “Mau keluar sendiri atau aku yang seret kamu keluar?” ancam Kafka. Hening setelahnya. Aletha mengabaikan ancamannya, dan hal itu mulai menyulut emosi Kafka. Gadis itu terang-terangan mengabaikan perintahnya, bagaimana dia tidak kesal? Tanpa banyak bicara lagi, Kafka langsung menerobos masuk ke kamar gadis itu. Di situ dia melihat Aletha yang sedang meringkuk di atas kasur dengan punggung bergetar. Gadis itu menangis… “Turun. Kita makan malam di bawah,” titahnya pada gadis yang masih sibuk menangis di atas tempat tidurnya. Namun lagi-lagi Aletha mengabaikan perintah Kafka. Pria itu menggeram kesal. Gadis manja ini benar-benar menguji kesabarannya. “Sampai kapan kamu mau terus begini? Kamu pikir menangis bisa membuat kakek kamu hidup kembali?” Pertanyaan menohok itu membuat Aletha menghentikan tangisannya seketika. Gadis itu langsung menatap nyalang Kafka. “Jaga mulut kamu,” desisnya menahan marah. Aletha tidak suka Kafka berbicara sembarangan apalagi sampai membawa-bawa mendiang kakeknya. Namun bukannya menyesal, Kafka justru semakin menyulut emosi Aletha. “Kakek kamu pasti menyesal punya cucu perempuan nggak berguna seperti kamu. Dia pasti kecewa melihat kamu yang nggak berdaya tanpa beliau.” “Diam!!” Kemarahan Aletha membuat Kafka semakin merasa di atas angin. “Akui saja, Aletha. Tanpa beliau, kamu nggak bisa apa-apa. Selama ini kamu selalu bergantung ke kakek kamu. Beliau bahkan sampai memintaku menikahi kamu. Kamu tahu kenapa?” Kafka bertanya dengan wajah mengejek. Aletha hanya diam sambil menatap geram wajah menyebalkan itu. “Itu karena kamu nggak bisa mengandalkan diri kamu sendiri. Kamu butuh seseorang untuk bisa menunjang hidup kamu, dan untuk saat ini orang itu adalah aku,” kata Kafka dengan seringai penuh kemenangan. “Mas Kafka…” Aletha memanggil nama pria itu dengan nada getir. “Saat ini aku masih berduka, dan kamu masih sempat-sempatnya mengejekku? Kamu ini punya hati nggak, sih?” ucap gadis itu nanar. Seringai di wajah Kafka lenyap, tergantikan dengan wajah datar tanpa senyum. Pria itu menatap gadis di depannya lekat dengan ekspresi yang sulit diartikan. Kafka berjalan menuju ranjang Aletha. Perlahan, dia mulai merangkak naik. Aletha panik dan tanpa sadar terus memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak kepala ranjang. Kini dia sudah terjepit! Kafka sudah berada tepat di depannya, dengan posisi yang membuatnya takut setengah mati. Tangan besar Kafka meraih dagu ramping Aletha, dan memaksa gadis itu mendongak ke arahnya. Kafka tersenyum melihat wajah takut Aletha. Ketakutan gadis itu layaknya hiburan yang menarik di matanya. “Apa kamu pikir dunia hanya berputar di sekitarmu? Kamu pikir cuma kamu yang berduka?” Aletha hanya diam. Tatapan Kafka saat ini tampak menakutkan. Pria itu tersenyum, namun senyumnya tampak mengerikan. Dengan tangan gemetar, Aletha berusaha menyingkirkan tangan Kafka dari dagunya. Namun tidak berhasil. “Lepas,” cicitnya dengan wajah menahan sakit. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang diucapkan Kafka padanya, saat ini dia hanya ingin pria itu melepaskannya. Dia ingin Kafka segera pergi dari kamarnya. Berada satu ruangan dengan pria itu terlebih dengan posisi seperti ini membuat Aletha merasa tidak aman. “Kamu mau aku melepaskan cekalan di dagu kamu?” bisik Kafka tepat di depan wajah Aletha. Aletha semakin meringkuk ketakutan. Namun bukannya merasa iba, Kafka justru terlihat menikmati ketakutan di wajah gadis itu. Ekspresi takut gadis itu bagaikan hiburan baginya, rasanya seperti melihat kucing kecil yang tidak berdaya. “Jawab, Aletha.” Genta mengeratkan cengkraman di dagu gadis itu hingga membuatnya meringis kesakitan. Seharusnya Aletha melawan. Dia harus mendorong atau paling tidak menampar wajah kurang ajar pria ini. Namun dia tidak bisa melakukannya. Tubuhnya tidak mampu bergerak. Tatapan Kafka terlalu mengintimidasi, hingga untuk sekedar bergerak saja tubuhnya tidak mampu. “I-iya… tolong lepas. Daguku sakit,” cicitnya. Kafka tersenyum semakin lebar. “Kalau begitu memohonlah.” Ya, Kafka ingin ‘kucing kecil’ ini memohon kepadanya. Aletha menatap pria itu bingung. “Memohonlah untuk aku lepaskan,” ujar pria itu lagi. “Katakan dengan mulut kecilmu ini kalau kamu ingin aku lepaskan.” Tatapan Kafka beralih pada bibir Aletha yang setengah terbuka. Tatapannya semakin intens di sana. Ibu jarinya tanpa sadar bergerak menyentuh bibir setengah terbuka itu. Sentuhan tiba-tiba itu membuat Aletha berjingkat dan langsung memberontak. “Hanya sentuhan kecil, tapi kamu sudah setakut ini? Lalu, apa jadinya kalau aku melakukan hal yang lebih dari ini?” Aletha merasakan lelehan air mata yang mulai membasahi pipinya. Kali ini bukan air mata duka, melainkan air mata karena rasa takut yang luar biasa. “Kamu ini sudah menjadi istriku, jadi kamu harus belajar untuk terbiasa dengan sentuhanku. Kamu mengerti?” Kafka melepas genggamannya di dagu Aletha dan keluar begitu saja dari kamar gadis itu dengan perasaan yang sulit diartikan. Di sisi lain, ada Aletha yang semakin meringkuk di tempatnya sambil menatap takut ke arah Kafka yang semakin menjauh. Mulai hari ini, Aletha akan menandai Kafka sebagai sosok ‘berbahaya’ yang wajib dihindarinya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD