Sejak hari itu, Aletha sudah tidak pernah lagi mengurung diri di kamar. Dia takut sosok Kafka ‘kemarin’ muncul lagi. Dia takut menghadapi Kafka yang seperti kemarin.
Saat ini untuk pertama kalinya, Aletha duduk di meja makan hanya berdua dengan Kafka. Suasana di meja makan sangat hening dan canggung. Aletha benci situasi semacam ini.
“Mira.” Aletha memanggil pelayan pribadinya yang berdiri tidak jauh dari meja makan.
“Ya, Non?”
“Tolong ambilkan ponselku di kamar. Kayaknya ada di atas nakas samping tempat tidur, coba kamu cari di sana,” pinta Aletha.
Mira baru akan mengiyakan perintah majikannya dengan sopan, namun dia kalah cepat dengan Kafka yang sudah lebih dulu menyerobot ucapannya.
“Kamu punya kaki, kan? Jalan juga masih bisa. Kenapa nggak ambil sendiri?” ujar pria itu sinis.
“Aku kan cuma minta tolong,” balas Aletha. “Lagipula ini kan memang tugasnya Mira. Salahku dimana?”
“Mira, apa posisimu di sini?” Kafka bertanya pada Mira—pelayan yang usianya sekitar 20-an. Pelayan di rumah ini memang relatif muda-muda, sangat berbeda dengan terakhir kali Kafka tinggal di rumah ini. Sepertinya sudah banyak pelayan yang diganti. Pelayan senior yang dulu dia kenal, kini sudah tidak tampak lagi.
“Saya pelayan pribadinya Non Aletha, Tuan.”
Kening Kafka berkerut bingung. “Pelayan pribadi? Untuk apa? Kenapa seorang pengangguran membutuhkan pelayan pribadi?” ucapnya tidak suka.
Kedua tangan Aletha terkepal erat di bawah meja. Pria itu memang paling pandai menyerang titik ‘terlemahnya’.
“Kakek yang mencarikan aku pelayan pribadi, dan itu nggak ada urusannya dengan Mas Kafka,” sela Aletha.
“Kakek sudah nggak ada. Sekarang aku yang mengambil alih semuanya, bahkan para pelayan di sini juga dibayar menggunakan hasil kerja kerasku di perusahaan.”
Aletha menatap pria itu marah. “Perusahaan itu hasil kerja keras Kakek! Mas Kafka cuma tinggal meneruskan perusahaan yang sudah stabil! Jadi jangan berlagak seolah-olah Mas Kafka yang paling berjasa atas perusahaan!”
Kafka terkekeh mendengar Aletha yang asal bicara. “Dengar, Aletha. Perusahaan yang kamu bangga-banggakan itu, saat ini sedang berada di ambang kehancuran. Ada banyak ‘tikus-tikus’ serakah di sana yang hampir membuat bisnis kakek kamu bangkrut. Aku bisa saja meninggalkan perusahaan yang hampir hancur itu, dan mencari peruntungan di luar sana. Banyak tawaran yang datang, tapi aku menolak semuanya.”
Kafka mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Aletha. Tangannya terulur meraih dagu ramping itu ‘lagi’. Posisi ini mengingatkan Aletha dengan kejadian kemarin. Hanya saja hari ini ada meja yang memisahkan mereka.
“Kamu tahu kenapa?” tanya pria itu, dengan tangan yang masih mencekal dagu Aletha.
“Karena aku masih menghormati kakek. Aku menerima permintaannya untuk mengurus perusahaan yang berada di ambang kehancuran, bahkan terpaksa menikahi cucunya yang nggak bisa apa-apa ini semata-mata sebagai bentuk balas budiku kepada beliau.”
“Jadi, berhenti bersikap seolah-olah kamu ini Tuan Putri. Bangun, Aletha. Hadapi dunia orang dewasa. Jangan tenggelam dalam dunia fantasimu yang nggak nyata itu.”
Aletha menatap pria di depannya gamang. Dia selalu dibuat tidak berdaya saat Kafka mengatakan hal-hal yang menyentuh titik terlemahnya.
***
Aletha sedang termenung seorang diri di dalam kamarnya. Rasanya dia malas keluar kamar, dia malas bertemu Kafka. Pria itu tidak menyukainya, bahkan saat Aletha tidak melakukan kesalahan pun pria itu tetap punya cara untuk mengatakan hal-hal yang menyesakkan dadaa.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Ada yang mengetuk pintu kamar Aletha.
“Itu pasti Mira,” pikir Aletha.
“Masuk,” titahnya tanpa pikir panjang.
Namun bukan Mira yang datang, melainkan pelayan lain yang seingatnya bertugas di bagian dapur.
“Kenapa kamu yang datang? Mira mana?”
“Saya… kurang tahu, Non. Saya di sini cuma mau melaksanakan tugas dari Tuan Kafka. Beliau meminta saya untuk membereskan kamar ini.”
Kening Aletha berkerut bingung. “Membereskan untuk apa?”
“Untuk dikosongkan, Non. Tuan Kafka mau Non Aletha pindah ke kamar utama,” jawab pelayan tersebut.
“Kamar utama?” Aletha bingung kamar utama mana yang dimaksud pelayan di depannya.
“Itu… kamar baru yang akan ditempati Non Aletha dan juga Tuan Kafka.”
Mata Aletha membelalak. Jadi, Kafka ingin mereka tidur di satu kamar?
“Aku nggak mau! Bilang ke Mas Kafka aku menolak satu kamar dengan dia. Aku sudah nyaman di kamar ini, aku nggak akan pindah kemana-mana!” tolak Aletha.
Pelayan tersebut terlihat bimbang. Dia sepertinya takut untuk menyampaikan hal ini pada tuannya. Tapi Aletha tidak peduli, apapun yang terjadi dia akan tetap pada pendiriannya.
“Aku sudah tahu kamu akan menolak.” Kafka tiba-tiba datang, membuat Aletha dan si pelayan tadi menatapnya kaget.
“Keluar. Biar saya yang urus ‘kucing liar’ ini,” titah Kafka pada pelayan yang menatapnya takut-takut.
Aletha melototkan matanya kesal. Dia tersinggung dengan sebutan ‘kucing liar’ yang disematkan untuknya.
“Baik, Tuan.” Si pelayan pergi, meninggalkan Aletha sendiri bersama pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan dingin.
“Jadi kamu ingin tetap di kamar ini?”
Mata elang Kafka mengamati setiap sudut kamar Aletha. Gadis itu benar-benar dibesarkan selayaknya ‘princess’. Lihat saja desain mewah di ruangan ini? Warna pink dan gold mendominasi ruangan, juga furniture mewah dan klasik yang sepertinya dipesankan Arnold khusus untuk cucu perempuannya.
“Aku mau tetap di sini. Kalau Mas Kafka mau tidur di kamar lain silakan aja, pokoknya aku mau tetap di sini,” ujar gadis itu keras kepala.
Kafka tersenyum kecil mendengar penuturan tidak masuk akal itu. “Tapi kita ini suami istri, Aletha. Sudah seharusnya suami istri tidur di kamar yang sama.”
“Itu untuk suami istri yang menikah karena cinta. Sedangkan kita nggak seperti itu! Kita menikah bukan karena cinta, tapi karena tuntutan keadaan.”
“Jadi mau kamu apa? Kamu mau berbuat sesukamu meski statusmu sudah berubah?”
Aletha menganggukkan kepalanya ragu. “Y-ya… Aku mau kita menjalani hidup dengan normal, sama seperti saat kita belum menikah.”
“Jadi apa nggak masalah kalau aku tidur dengan wanita lain?”
Aletha langsung menoleh ke arah Kafka. Wajahnya tampak keberatan. “Tentu aja nggak boleh. Mas Kafka nggak boleh selingkuh!”
“Kamu saja boleh melakukan apapun yang kamu mau, kenapa aku nggak boleh?”
Ucapan Kafka membuat Aletha terdiam. Sebenarnya Aletha sadar tindakannya ini salah. Hanya saja dia tidak siap—atau bahkan tidak pernah siap tidur satu kamar dengan Kafka. Makan satu meja dengan pria itu saja sudah cukup sulit baginya, apalagi sampai berbagi kamar?
“Sudah cukup, Tuan Putri. Seperti yang aku bilang di meja makan tadi, kehidupan ala princess yang kamu dapatkan sejak dulu, kini sudah resmi berakhir. Saat ini kamu menggantungkan hidupmu sepenuhnya padaku, itu artinya kamu harus siap dengan aturanku.”
“Untuk kali ini, aku akan turuti kemauan kamu. Kita akan tidur di kamar ini. Tapi aku terganggu dengan desain interiornya yang terlalu girly. Besok aku akan panggil jasa desain interior untuk merombak kamar ‘princess’-mu ini.”
Aletha ingin protes, tapi dia tidak punya keberanian untuk menyuarakan protesnya. Ucapan Kafka sudah cukup menohoknya. Saat ini dia memang sudah menikah dan menjadi seorang istri. Sudah selayaknya dia mematuhi apapun yang dikatakan suaminya, termasuk masalah kamar sekalipun.
***
Hati Aletha sesak saat mendapati kamarnya berubah menjadi ruangan yang sangat asing di matanya. Kamar yang tadinya terlihat cerah, kini tampak suram dengan warna hitam dan abu-abu yang mendominasi.
Kenapa Kafka tidak membicarakan masalah warna kepadanya dulu? Setidaknya jika bukan pink, mereka bisa memilih warna netral seperti cream atau putih?
Kenapa pria itu harus menjadikan kamar mereka terlampau maskulin? Padahal kamar ini bukan kamar pribadi Kafka, melainkan kamar mereka berdua. Tapi kenapa Kafka mengubah kamar ini sesuka hatinya tanpa ada diskusi dengan Aletha dulu?
Namun Aletha berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Toh ini hanya kamar. Aletha juga sadar saat ini dia sudah menjadi istri, dan menjadi istri memang harus memiliki stock sabar yang luar biasa.
Aletha berusaha keras menjadi istri yang baik. Dia ingin membuat Kafka berhenti memandang dirinya seolah dia tidak bisa apa-apa. Dia ingin dipandang baik oleh suaminya. Namun Aletha sadar, membuat Kafka ‘melihatnya’ itu bukanlah hal yang mudah. Contohnya seperti sekarang ini.
“Aku bawain teh buat Mas Kafka.” Aletha meletakkan teh buatannya di atas meja kerja Kafka. Saat ini pria itu sedang sibuk di ruang kerjanya dengan lembaran dokumen yang menumpuk. Aletha berinisiatif membawakan teh sebagai teman lembur Kafka.
“Pelayan yang buat?” Kafka menatap sinis secangkir teh yang dibawakan gadis itu.
“Bukan. Aku buat itu sendiri,” ucapnya dengan wajah sendu.
“Bawa keluar. Ngebedain gula sama garam aja kamu nggak bisa, malah sok-sokan bikinin aku teh. Aku udah bisa ngebayangin seaneh apa rasa teh buatan kamu ini. Aku nggak mau sakit perut gara-gara teh buatan kamu.”
Balasan menohok Kafka membuat Aletha sakit hati. Aletha sadar dia memang tidak mahir dalam urusan dapur. Tapi dia berusaha untuk terus belajar. Teh ini juga merupakan hasil kerja kerasnya. Seharian dia belajar membuat teh ini dari Mira.
“Aku belajar bikin teh ini dari Mira, aku jamin rasanya nggak aneh.”
Kafka melirik gadis di depannya kesal. “Aku bilang bawa keluar minuman ini. Sekarang.” Kafka menekankan kata demi kata, menandakan bahwa dia sangat serius dengan ucapannya saat ini.
“Rasanya nggak aneh kok. Kalau Mas Kafka nggak percaya, biar aku yang buktiin.” Aletha meraih cangkir tersebut dan meminumnya sedikit. Rasa hangat dan manis langsung terasa di indra perasanya. Tidak ada rasa ‘aneh’ seperti yang dituduhkan Kafka.
“Tuh, kan? Rasanya enak. Kalau nggak percaya minum aja sendiri.”
Aletha menyodorkan secangkir teh yang baru saja diminumnya pada Kafka. Pria itu hanya diam, sibuk memandangi cangkir di depannya dengan tatapan jijik.
“Aku semakin nggak mau minum itu.”
“Aku nggak sudi minum teh bekas mulut kamu. Itu menjijikkan.”
Ucapan kasar itu membuat bahu Aletha terkulai lemas. Ucapan Kafka membuat Aletha tersinggung. Memangnya ‘semenjijikkan’ apa sampai pria itu tega melontarkan kata-kata jahat seperti itu?
Aletha tahu menikah dengan Kafka memang tidak akan mudah. Namun Aletha tidak berpikir akan sesulit ini. Aletha tahu pria itu tidak pernah menyukainya, namun Aletha tidak pernah berpikir kalau pria itu akan dengan terang-terangan mengatakan kalau dirinya ‘jijik’ padanya.
Sekarang, harus dengan cara apalagi agar Kafka berhenti membencinya dan mulai ‘melihat’ keberadaannya dengan cara yang positif? Aletha berharap pernikahan ini tetap bisa berjalan baik meski tidak berlandaskan cinta. Minimal mereka bisa menjadi partner yang saling menghargai, bukannya saling membenci satu sama lain seperti sekarang ini.