Penolakan demi penolakan yang Kafka berikan membuat Aletha menyerah. Pria itu tidak bisa atau bahkan ‘tidak mau’ menghargai setiap usaha yang Aletha berikan. Aletha berusaha keras berdamai dengan pernikahan ini, dia ingin membangun rumah tangga yang harmonis meski tanpa cinta. Namun Kafka menolak segala usahanya.
Oleh karena itu, Aletha memutuskan untuk hidup semaunya saja. Mulai hari ini Aletha hanya akan fokus pada kebahagiaannya saja. Masa bodoh dengan Kafka dan rumah tangganya. Aletha sudah tidak peduli lagi.
Seharian belajar ini dan itu demi Kafka ternyata sangat melelahkan. Lebih lelah lagi begitu usahanya seharian ini tidak dihargai oleh suaminya sendiri. Aletha lelah, baik fisik maupun mental.
Perlahan, Aletha mulai terlelap. Perlakuan buruk Kafka hari ini, perlahan mulai hilang dari benaknya. Gadis itu sudah tertidur lelap di ranjang empuknya.
Di tengah tidurnya, Aletha merasakan ranjangnya berguncang. Namun rasa lelah di tubuhnya membuat Aletha enggan membuka matanya. Saat ini dia hanya ingin tidur tanpa mau memikirkan hal lain.
Namun, hembusan napas yang terasa di wajahnya membuat Aletha langsung membuka mata dengan penuh kewaspadaan.
“M-mas Kafka?” gumamnya panik.
Di atas tubuhnya saat ini ada Kafka yang sedang menatapnya entah dengan ekspresi seperti apa. Pencahayaan yang remang membuat Aletha tidak bisa melihat wajah pria di atasnya dengan jelas.
Aletha benar-benar bingung dengan situasi saat ini. Kafka baru saja mengatakan kalau dia jijik dengan Aletha. Pria itu terang-terangan merasa jijik dengan bekas mulut Aletha yang menempel di cangkirnya. Namun tidak lama setelahnya, pria itu justru menindih gadis yang baru saja dia sebut menjijikkan.
“M-Mas Kafka mau apa?” Tangan Aletha berusaha mendorong dadaa pria yang saat ini masih berada di atasnya.
“Aletha…”
“Apa kamu ingat aku?”
Dahi Aletha mengernyit, bingung dengan pertanyaan aneh yang keluar dari mulut Kafka.
“Apa… maksudnya?”
“Jangan pura-pura bodoh.”
Kernyitan di dahi Aletha semakin dalam. “T-tapi… aku bener-bener nggak ngerti apa maksud Mas Kafka.”
Aletha masih meletakkan tangannya di depan dadaa Kafka, sebagai pembatas antara dirinya dengan Kafka. Namun ‘pembatas’ itu nyatanya tidak berguna karena pria itu justru semakin mendekatkan tubuh dan wajahnya pada Aletha.
“Apa kehidupan mewah ini yang membuat kamu melupakan aku?” Ucapan melantur Kafka semakin membuat Aletha bingung.
Namun saat napas pria itu menerpa wajahnya dan dia bisa mencium aroma alkohol di sana, disitulah Aletha sadar kalau saat ini suaminya sedang mabuk.
“Mas Kafka mabuk?” Aletha berusaha memastikan.
“Jawab pertanyaanku.” Kafka masih bersikeras agar Aletha mau menjawab pertanyaannya yang membingungkan.
Aletha menjadi frustasi. “Aku harus jawab apa? Aku beneran nggak tahu apa maksud Mas Kafka.”
“Dan tolong jangan kayak gini! Mas Kafka bikin aku takut,” cicitnya sambil terus berusaha mendorong Kafka yang semakin menghimpitnya.
Namun tubuh pria itu tidak bergerak sedikitpun. Entah apa yang sedang dipikirkan Kafka saat ini, dan ekspresi seperti apa yang ditampilkannya saat ini. Pencahayaan ruangan yang minim membuat Aletha semakin gemetaran takut.
Tangan pria itu perlahan bergerak dan mengelus pipi Aletha lembut. Gerakannya memang lembut, namun kelembutan itu sama sekali tidak membuat ketakutan Aletha berkurang.
“Jadi, kamu benar-benar sudah melupakan aku?” gumam Kafka dengan nada yang terdengar seperti orang mabuk.
“Mungkin… ini bisa membuat kamu ingat.” Tanpa diduga, wajah Kafka bergerak cepat dan mencuri satu kecupan di pipi kiri Aletha. Tindakan Kafka yang tiba-tiba itu membuat Aletha semakin ketakutan dan memberontak lebih keras lagi.
“Masih belum ingat? Sepertinya kamu butuh sentuhan lebih agar bisa mengingatku lagi.” Satu tangan Kafka meraih dagu Aletha dan mencium paksa bibir merah muda itu. Satu tangannya lagi sibuk menahan kedua tangan Aletha agar tidak berontak.
Aletha menggeliat tidak nyaman. Kakinya berusaha menendang apa saja, namun lagi-lagi dia kalah tenaga. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Mau bagaimanapun, kekuatannya tetap tidak sebanding dengan Kafka.
Air mata Aletha mengalir membasahi pipinya. Dia menangisi nasibnya yang tidak berdaya di bawah kendali Kafka. Saat ini yang bisa Aletha lakukan hanyalah menunggu sampai pria itu ‘puas’ dengan bibirnya.
Akhirnya tiba saat dimana Kafka melepas pagutannya di bibir Aletha. Aletha lega bukan main. Namun satu kalimat yang keluar dari mulut pria itu membuat alarm bahaya di kepalanya kembali menyala.
“Aku mau lebih.” Itulah kalimat yang digumamkan Kafka.
Aletha sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur. Aletha sadar betul satu kalimat itu akan membawa malapetaka dalam hidupnya.
Namun gerak refleks Kafka lebih cepat, bahkan dalam keadaan mabuk pun Kafka masih bisa se-waspada ini. Tangannya dengan cepat menahan pundak Aletha agar tetap di tempat. Aletha menatap sendu wajah Kafka di atasnya.
“A-aku mohon jangan.” Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya Aletha memohon pada Kafka. Situasinya terjepit, dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain ‘memohon’.
Samar-samar Aletha bisa melihat sudut bibir pria itu yang naik membentuk seringai kejam. “Memohonlah untuk aku sentuh, jangan memohon untuk berhenti. Memintaku untuk berhenti di saat seperti ini adalah hal yang sia-sia.”
Jawaban menohok itu membuat air mata Aletha semakin deras. Isakan mulai lolos dari bibirnya. Dia takut. Sangat-sangat takut.
“Jangan menangis, Aletha. Simpan air matamu untuk nanti, kita bahkan belum sampai di kegiatan ‘inti’, ini masih terlalu awal untuk menangis.”
Ibu jari Kafka menghapus air mata di pipi Aletha dengan lembut. Namun lagi-lagi ‘kelembutan’ yang ditunjukkan Kafka tetap tidak menghilangkan ketakutan di diri Aletha. Jangankan hilang, berkurang saja tidak.
“Sekarang lepas kain nggak berguna ini.” Kafka melirik pada gaun tidur berenda yang dikenakan Aletha. Gaun lengan panjang dengan renda di bagian kerahnya benar-benar membuat Kafka sakit mata. Gaun ini kuno! Apa gadis ini berpikir dia hidup di zaman cinderella? Kenapa dia mengenakan pakaian aneh semacam ini?
“Cepat lepas!” titah Kafka tidak sabar.
Namun bukannya melepaskannya, Aletha justru menahan kerah gaun tidurnya dengan cara menggenggamnya erat-erat seolah tidak mengizinkan siapapun melepas gaun ini dari tubuhnya.
“Mau kamu lepas sendiri atau aku yang lepas?” Kafka memberikan penawaran.
Aletha tidak menjawab. Dia masih sibuk memegangi kerah gaunnya dengan air mata yang masih mengalir deras.
“Kamu tahu aku ini bukan orang yang sabar,” ujar Kafka—memberi peringatan.
Namun peringatan itu sama sekali tidak digubris Aletha. Gadis itu masih keras kepala memegangi gaunnya erat-erat.
“Sepertinya kamu memang lebih suka cara kasar.” Tanpa banyak bicara, Kafka langsung menarik paksa gaun tidur Aletha hingga kain kuno itu benar-benar terlepas dari tubuh Aletha.
Aletha sudah akan berteriak, namun bibirnya kembali disumpal dengan bibir Kafka. Semua terjadi dengan begitu cepat. Aletha bahkan belum sempat mencerna apa yang terjadi saat ini, yang diingatnya saat ini hanyalah rasa sakit, harga diri yang diinjak-injak, serta air mata yang tidak berkesudahan.
Orang bilang, malam pertama itu seperti surga dunia. Namun Aletha tidak setuju dengan anggapan itu. Ini bukan surga, tapi neraka. Tidak ada ‘kenikmatan’ seperti yang diagung-agungkan semua orang, yang ada hanyalah rasa sakit.
***
Kafka terbangun begitu merasakan dingin luar biasa di sekujur tubuhnya. Pria itu melirik ke arah bawah, dan mendesah saat mendapati tubuhnya yang telanjang. Pantas dia merasa kedinginan.
Matanya melirik ke arah samping. Di sana ada sesosok perempuan dengan punggung tanpa busana. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan Kafka sekarang—saat ini mereka sama-sama telanjang. Bedanya, pakaian Kafka masih dalam keadaan utuh, meski berserakan di atas lantai. Sedangkan Aletha, gaunnya sudah koyak tidak berbentuk akibat ulah Kafka semalam.
Samar-samar, Kafka mendengar isakan gadis itu yang sudah berlangsung sejak semalam. Punggung telanjang itu juga terlihat bergetar—menandakan bahwa saat ini dia sedang menangis ‘lagi’.
“Kamu mau menangis sampai kapan?” ujarnya tidak suka.
Aletha tidak menjawab. Gadis itu masih setia dengan posisinya yang memunggungi Kafka. Sikap diam Aletha membuat Kafka menghela napas kasar.
Semalam Kafka memang menyentuh Aletha dalam keadaan ‘sadar’. Dia memang sedikit mabuk karena alkohol yang sempat diminumnya di ruang kerja, namun dia masih sangat sadar dan mengingat apa yang terjadi semalam. Namun Kafka akui, dia memang agak lepas kontrol.
Kafka ingat saat gadis itu memohon padanya berkali-kali untuk ‘berhenti’, namun dia sama sekali tidak mempedulikannya. Kafka juga ingat saat gadis itu merintih kesakitan, namun lagi-lagi dia tidak menghiraukannya.
Kafka sadar semalam dia memang agak ‘kejam’. Dia benar-benar bertindak semaunya. Dia melakukannya lagi dan lagi hingga puas tanpa peduli bahwa gadis di bawahnya sudah tidak berdaya. Dia bahkan lupa kalau ini adalah ‘pengalaman pertama’ bagi Aletha. Alkohol membuatnya lupa akan segala hal.
***
Kafka turun ke ruang makan seorang diri. Aletha masih di kamarnya, bergelung di dalam selimut. Saat ini Gadis itu sedang melancarkan aksi mogok bicara.
Di ruang makan, Kafka bertemu kepala pelayan yang biasa bertugas di area dapur. Kafka duduk di salah satu kursi di meja makan dan pelayan tersebut dengan sigap menyiapkan sarapan yang lagi-lagi terkesan ‘berlebihan’ bagi Kafka.
“Menu hari ini ada hash brown potato, waffle with maple syrup, dan ada mushroom soup kesukaan Non Aletha.” Pelayan tadi menjelaskan dengan lengkap seolah rumah ini adalah hotel bintang lima.
“Apa Tuan Kafka mau disiapkan menu lain?”
Kafka buru-buru menolak, “Sudah cukup, Bi. Terima kasih.”
Ini saja rasanya sudah sangat berlebihan. Sepertinya para pelayan di sini terbiasa memasak dalam jumlah besar meski untuk sarapan sekalipun.
Pelayan di depannya ini adalah Bibi Maureen, beliau adalah kepala pelayan di rumah ini. Dulu Maureen adalah pelayan senior. Kafka mengenalnya sejak dirinya masih tinggal di rumah ini.
Di antara para pelayan yang lain, Kafka paling akrab dengan Bibi Maureen karena beliau yang paling lama bekerja di rumah ini.
“Baik, kalau begitu saya permisi.”
“Tunggu.”
“Ya, Tuan? Ada lagi yang bisa saya bantu?”
“Tolong bawakan makanan-makanan ini ke kamar saya. Terutama mushroom soup ini, Bibi bilang ini makanan kesukaan Aletha, kan?”
“Benar, Tuan.”
“Kalau begitu bawakan ini untuk Aletha. Dia sedang ada di kamar, dan kondisinya agak kurang baik. Jadi tolong bantu dia membersihkan diri, dan pastikan dia menghabiskan sarapannya.”
“Baik, Tuan. Ada lagi?”
“Itu saja.”
“Baik. Kalau begitu saya permisi,” pamit Maureen sambil menundukkan kepalanya sopan.
Sejujurnya Kafka agak menyesal dengan tindakannya semalam. Dia tidak menyesal karena ‘meniduri’ istrinya, dia hanya menyesal karena tindakannya semalam yang kelewat kasar. Andai dia tidak berada di bawah pengaruh alkohol, mungkin dia bisa melakukannya dengan sedikit lembut.