Di atas ranjang besar, Aurelia bersandar dengan rambut kusut, tubuhnya masih terasa hangat dari malam sebelumnya. Damian duduk di sisi ranjang, jemarinya membelai punggung telanjang Aurelia dalam diam yang menenangkan. Aurelia menarik selimut hingga ke d**a, menyembunyikan rasa malu yang muncul tiba-tiba. Tatapan Damian terlalu dalam pagi ini. Seolah ia masih memuja sisa-sisa gairah semalam. “Aku masih ingin mengulang malam tadi,” bisik Damian lembut sambil mengecup bahu Aurelia. “Kau membuatku lupa bagaimana caranya bernapas tenang.” Aurelia tertawa pelan, menunduk, malu-malu tapi terhibur. “Kau tak lelah?” “Untukmu? Tidak akan pernah.” Suasana sejenak hening, hanya suara embusan napas mereka dan detak jam dinding. Lalu Damian meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Wajahnya

